
"Kalian bawa kue tart, siapa yang ulang tahun?" tanya Renita.
"Randi lah," ucap Dimas dengan santainya.
Renita menatap Randi dengan jengah, Dimas dan Thomas masuk ke dalam apartemen.
"Kok Om dari tadi nggak ngomong sama aku." Renita sedikit kesal.
"Harus ya," goda Randi.
"Ih Om nyebelin," gerutu Renita.
"Ya udah kita masuk dulu, nanti kita bicara lagi. Nggak enak kalo kita bertengkar di dengerin dua kunyuk itu." Randi menggandeng tangan Renita.
******
Bellanca membuka matanya, melihat suaminya sedang tertidur pulas. Bellanca merasa gemas melihat Andri begitu tampan di matanya. Bellanca menghujani Andri dengan ciuman di wajahnya.
"I love you," bisik Bellanca ditelinga Andri.
Lalu Bellanca turun dari ranjangnya, pergi ke kamar mandi untuk mandi pagi.
"Ih, kaya mimpi," gumam Andri masih terasa kantuk.
Bellanca keluar dari kamar dengan aroma sabun sangat menyengat di hidung Andri.
"Udah bangun sayang?" tanya Andri sibuk mengusap-usap matanya.
"Nih, orang emang bener-bener ya, buat aku emosi. Pertanyaan apaan begitu. Udah jelas aku udah mandi, pakek tanya lagi," gerutu Bellanca dalam hati.
"Hem." Bellanca hanya bergumam tanpa melihat Andri tetap fokus dengan dirinya di depan cermin.
Andri turun dari ranjang, lalu mendekati Bellanca memeluknya dari belakang.
"Cuek banget si, istri aku," cicit Andri.
"Orang tanya juga gada faedahnya Mas ini," jawab Bellanca dengan memakai skincare.
"Coba dong ulang lagi, kata-kata terakhirnya," rayu Andri.
"Yang mana Mas?" tanya Bellanca lalu memutar badannya berhadapan dengan Andri.
"Aku suka itu, sayang." Andri mencium kening Bellanca.
"Ah, nggak jelas Mas ini." Bellanca pergi menuju walk on closed, tetap tak mengerti apa yang dimaksud suaminya.
****
"Pagi Papa, Mama," sapa Bellanca.
"Iya sayang," jawab Riana.
"Udah rapi aja Mama ini, mau kemana?"
"Mama sama Papa mau jengukin, Tuan Winata," jelas Riana.
"Kita juga mau ke sana Ma, kenapa nggak bareng aja," tawar Bellanca.
"Boleh, beda mobil aja. Papa sore ini sama Mama mu mau ke Korea lagi," sahut Ferdinan.
"Kenapa Papa buru-buru si?" tanya Bellanca.
"Papa harus cek anak cabang kita di sana. Papa akan pulang lagi, nanti tunggu cucu Papa lahir," terang Ferdinan.
Sampai dirumah sakit, Romeo dan Sinta tidur di sofa. Sampai-sampai Winata ingin membangunkan mereka berdua tak tega. Karena mereka berdua begadang semalaman mengurusi Winata semalam. Hingga kepala Sinta tidur di pangkuan Romeo, mereka terlihat mesra seperti pasangan kekasih.
"Hem." Suara Bellanca membangunkan mereka berdua sedang asik dalam mimpinya.
Sinta langsung duduk sambil mengusap-usap matanya.
"Enak ya berduaan," ejek Bellanca.
"Apaan si Bell," ucap Sinta sambil menguap.z
"Nggak malu apa di liatin Oma Opa tuh," sindir Bellanca sambil memandang Ferdinan dan Riana.
"Eh, Om sama Tante," ucap Sinta tersipu malu.
"Udah enakin aja, Tante pernah muda kok," ejek Riana.
Riana mendekati Winata menyapa dan menanyakan keadaannya. Ferdinan sedikit sedih melihat besannya sakit tak kunjung sembuh. Mereka bertiga bersama gurau membicarakan bisnis mereka masing-masing.
"Pa, Bellanca keluar sebentar ya. Mau cari Andri," pamit Bellanca.
Bellanca keluar dari ruangan Winata, di susul oleh Sinta dan Romeo berjalan di belakang Bellanca.
"Waduh, pasangan sejoli yang lagi kasmaran," ejek Bellanca.
"Apa si Bell, malu ah," gerutu Sinta sambil tersipu malu.
"Kalian pacaran," selidik Bellanca.
Sinta tak memberi jawaban, karena jika ia salah menjawab pasti akan menyakiti hati Romeo.
"Do'akan saja," jawab Romeo.
"Doa apa ini," sahut Sinta pura-pura tidak mengerti.
Jantung Sinta mendengar pertanyaan Romeo, entah kenapa berdetak lebih cepat dari biasanya. Mungkin Sinta merasakan jatuh cinta atau dia sakit jantung? otor hanya menerka-nerka saja. Sampai di depan ruangan Sisi, mereka bertiga masuk ke dalam.
"Pelan-pelan makannya," ucap Andri sambil menyuapi Sisi dengan telaten.
"Aku cemburu."
Bellanca berjalan mendekati Andri lalu memeluknya. Semuanya tertawa tak melainkan Bellanca juga ikut tertawa.
"Kamu manis banget si." Bellanca mencubit kedua pipi suaminya.
"Aduh, kalian berdua mencemari mata ku, aku keluar saja. " cicit Sinta lalu pergi dari kamar Sisi.
Sinta pun berjalan menuju parkiran, karena ia ingin pulang ke rumah. Saat mobil akan melaju tiba-tiba Romeo menghadang mobil Sinta.
"Aaa!" teriak Sinta dengan dramatis.
"Ya Tuhan, Romeo."
Sinta turun dari mobilnya, lalu menghampiri Romeo dengan panik.
"Kamu ngapain di sana, Romeo."
Romeo tersenyum,"Aku ikut ya."
"Aku mau pulang Romeo," jelas Sinta.
"Ikut." Romeo sedikit memaksa.
"Apa kamu nggak punya tempat tinggal?" tanya Sinta dengan kesal.
"Ada rumah, ya udah anter aku pulang ya." Romeo sedikit memohon.
Akhirnya Sinta menuruti Romeo, mengantarkan ia pulang kerumahnya. Walau pun sedikit kesal Sinta menurutinya, Romeo masuk ke dalam mobil tapi ia duduk bukan di kursi penumpang melainkan kursi pengemudi. Raut wajah Sinta makin kesal dibuatnya.
"Ini orang maunya apa si?" Sinta bertanya-tanya di dalam hatinya.
Sinta masih mematung di luar mobil, karena terlalu lama berdiri akhirnya Romeo membunyikan klakson mobilnya.
Tin...
Tin...
"Iya sabar," gerutu Sinta.
Sinta pun masuk ke dalam mobilnya, dengan muka juteknya.
"Kenapa mukanya di tekuk gitu?" tanya Romeo penasaran.
"Nggak pa-pa mungkin, Karena capek aja, Me."
Romeo bergegas melajukan mobilnya dengan cepat, agar cepat sampai rumahnya. Di perjalanan Sinta sampai tertidur di dalam mobil. Sampai di rumah Romeo pun Sinta masih asik dengan mimpinya.
Akhirnya Romeo mengangkat tubuh Sinta membawanya ke dalam rumah. Untung banyak pelayan di rumah Romeo begitu besar yang ia tinggali sendiri. Romeo menaruh tubuh Sinta di kamar tamu, meletakkan dengan perlahan agar Sinta tidak bangun.
"Bik," panggil Romeo.
"Iya Tuan," jawab Bik Nurmi.
"Tolong Bik, carikan baju wanita yang cantik untuk wanita yang ku bawa tadi," titah Romeo.
"Itu pacar Tuan?"
"Bukan Bik, calon istri," jawab Romeo.
"Iya kalo Sinta menerima ku," lanjutnya dalam hati.
Romeo masuk ke dalam kamar mandi, berendam dalam bathtub dengan air hangat. Sampai ia tertidur dalam bathtub cukup lama.
Bik Nurmi masuk ke dalam kamar tamu, tempat yang Sinta tiduri. Bik Nurmi menaruh paperbag di meja rias di kamar tersebut. Ternyata Sinta terbangun dari tidurnya.
"Kamu siapa?" tanya Sinta kebingungan.
"Saya Bik Nurmi, Nona," jawabnya.
"Saya dimana?" tanyanya lagi.
"Dirumah Tuan Romeo, Nona," jelas Bik Nurmi.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤