Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 31



"Kevin!" teriak Renita. Mendorong tubuh Kevin agar menjauh. Kevin memegang bahu Renita.


"Kamu kenapa? tadi aku melihat mu didepan club. Kamu menangis? ada masalah? cerita kepada ku Re," Kevin menatap iba.


Dari kejahuan Randi melihat adegan yang barusan terjadi. Ia memukul stir kemudi. Randi memilih untuk keluar mobil menarik tangan Renita."Jangan pernah kamu sentuh Renita! sehelai rambut yang kamu sentuh. Aku pun tak rela!"


Kevin yang masih tak rela melepaskan tangan Renita. Masih memegangnya dengan erat."Kamu 'kan cuma omnya kenapa begitu khawatir!" sahut Kevin tak mau kalah.


"Saya calon suaminya. Lepaskan!" Randi membawa Renita masuk ke dalam mobil.


Kevin hanya mematung melihat Renita pergi. Dadanya terasa sakit seperti ditusuk pedang jepang. Sayangnya bukan ninu-ninu guys.


"Masuk," ucap Randi dengan tegas.


Renita bergegas masuk ke dalam mobil. Melihat aura Randi seperti orang kesetanan. Membuatnya bulu kuduknya berdiri. Ingin menatap Randi saja tak berani Renita hanya menundukkan kepala. Randi meraih tangan Renita dan menggenggamnya.


"Maafin aku ya. Untuk kejadian diclub malam itu hanya salah paham. Maaf jika aku kasar. Dan menuduh mu yang tidak-tidak. Kita pulang ya?" Renita menepis tangan Randi.


"Kenapa? ada yang salah?" tanya Randi.


"Cari tempat lain. Untuk berbicara empat mata."


Renita menghembuskan napas dengan kasar. Dan Randi membawa ke suatu tempat yang benar-benar rahasia. Sampai keluarganya tidak tau jika Randi membeli apartemen mewah.


"Dimana kita? kenapa harus kesini?" tanya Renita.


"Tadi mintanya yang rahasiakan? ayo turun. Nanti juga tau," ajak Randi.


Saat memasuki Apartemen Randi. Renita sangat terpukau mewah dan bersih. Seorang anak laki-laki sangat perfeksionis. Renita menyusuri setiap ruangan sangat bersih tanpa ada debu sama sekali.


"Om rajin amat om? nggak ada debu sama sekali?" pertanyaan konyol yang terlontar dari Renita.


Randi hanya smirk,"Tadi kamu bilang mau ngomong serius? apaan? buruan."


Renita memukul kepalanya."Bodoh! bodoh!" ulangnya."Kenapa bisa lupa? tadi masih ngambek. Renita bodoh," batinnya.


"Jangan mukul kepala sendiri sakit. Mau aku bantu?" goda Randi. Menaruh tangan Renita ke bawah.


"Om!" menatap Randi dengan tajam."Jadi gini om. Maksud om tadi ngomong sama Kevin. Apa maksudnya? Dan om tau saya bukan wanita murahan! seperti om kira. Aku terpaksa bekerja disana untuk bayar kuliah saja." tanya Renita.


"Kenapa kamu tidak bilang aku bisa membantu mu. untuk Kevin yang mana? aku lupa? " elak Randi. Berpura-pura lupa untuk mengoda Renita.


"Ih, om. Jangan pura-pura lupa deh. Om yang mengaku-ngaku jadi calon suami ku. Om gila ya? aku tidak ingin merepotkan om lagi. Sudah cukup saya diberi tempat tinggal sudah berterimakasih." Renita berjalan perlahan menyudutkan Randi didinding.


"Maaf kan aku Re. Sudah salah paham kepada mu. Wah, kamu mulai berani ya? mengancam saya?" Randi menaik- turunkan alisnya.


Renita melihat Randi malah berbidik ngeri. Secara perlahan Renita memundurkan badannya. Diikuti Randi maju secara perlahan. Hingga kaki Renita terbentur sofa dan jatuh ke dalam sofa. Tanpa sadar tangan Renita menarik dasi Randi jadi ikut terjatuh.


"Aaaaa!" teriak Renita.


Randi langsung menutup mulut Renita dengan tangannya."Jangan teriak-teriak. Nanti tetangga salah paham."


Renita mendorong tubuh Randi."Jangan macem-macem ya om."


"Hei, kamu yang menarik dasi ku. Hingga terjatuh," ucap Randi.


"Udah ah, pulang aja yuk. Om lama!" Renita menarik tangan Randi.


"Belum dimulai. Udah pulang. Tidur disini aja." Randi duduk disofa."Nggak usah takut. Aku nggak bakal ngapain-ngapain kamu."


"Tapi om." Renita melirik Randi yang sibuk dengan ponselnya.


"Kamu nggak duduk? atau mau berdiri sampai pagi? sebegitu menakutkan kah? aku dimata mu." Randi memberondong banyak pertanyaan.


Renita duduk dengan manis disofa. Tiba-tiba perutnya berbunyi membuat Randi tertawa."Om, nggak ada yang lucu." Renita memukul bahu Randi.


Randi melihat kulkas masih ada stok makanan atau tidak. Ternyata kulkas kosong Randi beralih ke dalam lemari. Mengecek ke dalamnya hanya tersisa mie instan dan beberapa telur. Randi mencoba berkutat didapur.


Randi membawa namban ditaruh dimeja makan." Tara. Spesial buat kamu."


Renita hanya menganga melihat mie kuah dengan 2 telur yang sudah siap disantap."Orang kaya ngasihnya cuma mie," batin Renita.


"Ada masalah Re?" Randi menatap Renita dengan binggung.


"Nggak ada kok om," Renita buru-buru menyatap makanannya.


Selesai makan Renita dan Randi duduk didepan televisi. Mereka saling menatap enggan untuk berbicara. Dan akhirnya Randi membuka suara.


"Re, sebenarnya aku," Randi terdiam. Sulit sekali keluar dari mulut Randi.


"Apaan si om? aneh banget," Renita menopang dagunya.


"Sebenarnya kamu ada hubungan apa dengan Kevin? aku tidak suka jika kamu dekat-dekat dengannya."


"Aku cuma temenan kok Om. Namanya juga dia Bos ku Om. Ya, pasti ketemulah Om. Satu kampus pula." Renita duduk menjauh.


"Besok kamu nggak usah kerja disana. Akan ku carikan kerjaan yang lebih bagus sesuai jurusan mu. Masalah uang kuliah mu yang kurang. Akan aku transfer rekening yang kemarin. Nanti kamu bisa nyicil setelah gajian." Randi menatap Renita.


"T-tapi Om," Renita mengiba.


"Nggak usah membantah. Turuti mau ku. Aku nggak suka ditolak." Randi meraih tangan Renita.


Sebelum Randi meraih tangan Renita. Renita bergegas berdiri meninggalkan Randi. Masuk dalam kamar tamu. Randi coba mengetuk kamar tamu Renita tidak menjawab.


"Cepat sekali anak itu tidur?" batin Randi.


Didalam kamar Renita merebahkan tubuhnya. Dan melihat ke langit-langit kamar."Apa yang harus aku lakukan? kenapa Om Randi begitu care sama aku? atau aku ikut dia aja ya? jika semua dibantu keluarga Hendriwan. Gimana balas budinya," Renita mengacak-acak rambutnya.


Dipagi hari Renita bangun lebih awal jam menunjukkan pukul 05.00 pagi. Renita masuk ke dalam kamar mandi lalu mencuci mukanya."Pagi ini masak apa ya? mana nggak ada bahan makanan lagi. Atau ke pasar aja ya?" Renita bermonolog.


Keluar dari kamar mandi Renita bergegas keluar apatemen. Pergi menuju pasar lumayan dekat jika naik taksi. Saat dipintu lift ingin turun ke bawah apartemen. Renita melihat wanita sangat cantik dan elegan."Gila, cantik banget kaya model," batin Renita tanpa berkedip melihat Sonya.


"Mau turun lantai berapa Nona?" tanya Sonya.


"Lantai 1 Nona," Renita tersenyum.


Saat diluar Renita menunggu taksi tak ada satu pun yang lewat. Hanya melihat ke kiri ke kanan. Tiba-tiba ada mobil sport yang berhenti didepan Renita.


"Mau kemana pagi-pagi seperti ini?" tanya Sonya.


"Mau ke pasar tradisional kak."


"Ayo, masuk aku lewat sana. Disini pagi nggak ada taksi lewat. Nanti majikan kamu marah lo."


"Hah, majikan? begitu buruk kah penampilan ku," batin Renita.


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu