Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 45



"Mana Renita?" tanya Riana dengan ketus.


"Di dalam ma. Mau tidur katanya." ujar Randi dengan pelan.


Riana nerobos masuk ke dalam kamar," sayang? " panggil Riana.


"Ma sudah ma." ujar Ferdinan mengikuti Riana.


Riana berlari memeluk Renita,"Kamu kenapa sayang? kenapa wajah mu pucat sekali."


Riana langsung menatap Randi seolah bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi.


"Kamu tidur sama papa mu sana." usir Riana.


Randi melihat Renita seperti orang ketakutan, Randi merasa bersalah.


"Are you oke?" tanya Randi lalu mendekati Renita.


Renita hanya membalas dengan tatapan sinis dan memilih menarik selimut lalu tidur.


"Kamu apa kan anak gadis mama." tanya Riana menepuk bahu Randi.


"Apaan si ma. Orang Randi nggak ngapa-ngapain kok tadi." Randi berdusta."Ayo pa kita ke kamar kita tidur." Randi menarik tangan Ferdinan.


Randi menghindari Riana jika ia di sana terus-terusan akan habis dimarahi sang mama.


****


Di pagi hari Andri merasa tubuhnya terasa berat , ia mengerjapkan matanya sambil melihat sekeliling. Ternyata Andri lupa jika ia sudah menikah dengan boss cantiknya.


"Sayang." panggil Bellanca sambil memandangi wajah Andri.


"Hem." Andri mengecup bibir Bellanca.


Bellanca malah menyergitkan dahinya,"aneh rasanya." Bellanca bergumam dengan pelan.


Bellanca akan mulai bangun dari ranjang tangan Andri menarik pinggang Bellanca.


"Temani aku sebentar lagi." rayu Andri.


"Andri! aku lapar." ujar Bellanca datar.


"Ya tuhan, punya istri dinginnya kaya freezer." batin Andri sambil memeluk erat Bellanca.


"Trus maunya gimana?" tanya Andri dengan polos.


"Ya makanlah Dri. Mau apa lagi? berenang." ujar Bellanca turun dari ranjang menuju kamar mandi.


"Aku ikut." ujar Andri mengekori Bellanca.


"Astaga Dri. Aku mau mandi." Bellanca mendorong tubuh Andri agar cepat keluar dari kamar mandi.


Andri hanya menghembuskan napasnya dengan kasar lalu pergi meninggalkan Bellanca di kamar mandi.


"Suami sendiri di usir. Nasib-nasib." gerutu Andri dengan pelan, Bellanca sebenarnya mendengarkan ucapan Andri hanya ia pura-pura bodoh.


Andri duduk di sofa dengan wajah sangat kecut sambil menatap Bellanca. Bellanca hanya menyergitkan dahinya menatap Andri ganti lalu berubah tersenyum.


"Maafin aku Dri." Bellanca sambil memegangi lengan Andri.


"Emangnya kamu salah apa? kenapa minta maaf." nada Andri sedikit ketus.


Bellanca mengedip-kedipkan matanya lalu tersenyum manis."Maaf ya." ucapnya sekali lagi."Kamu tau aku jadi wanita terlalu dingin. Jadi aku harus banyak-banyak belajar menjadi yang kamu mau."


Andri menghembuskan napas dengan kasar,"sabar Dri sabar." batin Andri hanya senyum devil.


"Kamu jangan senyum devil gitu dong. Aku takut." lirihnya dengan memalingkan muka.


Andri berjalan mendekati hingga Bellanca jalan mundur dan menabrak tembok. Andri menaruh tangan di dinding hingga mereka saling mengunci pandangan. Andri mendekatkan bibirnya ke wajah Bellanca, hingga Bellanca memejamkan mata. Andri pelan-pelan meninggalkan Bellanca memilih masuk kamar mandi.


"Andri!" teriak Bellanca kesal tidak jadi berciuman.


Di dalam kamar mandi Andri tertawa bahagia berhasil mengerjai istri arogan itu.


*****


Di kediaman keluarga Rahardian, winata dengan asik meminum kopinya di taman belakang.


"Pelayan tolong panggilkan Sisi kemari. Jika ia bertanya saya ingin berbicara penting." titah Winata.


"Siap Tuan." ujar Pelayan, pergi dari hadapan Winata.


Beberapa menit kemudian Sisi datang,"ada apa pa?" tanya Sisi dengan penasaran.


"Kamu sembunyikan di mana Monica? papa tidak melihatnya setelah ijab kobul." selidik Winata.


"Apa peduli ku pa. Tentang anak itu. Mau ada atau tidak." jawab Sisi meninggalkan Winata.


"Kenapa sih? papa selalu peduli sama Monica." gerutu Sisi sambil berjalan pergi.


Akhirnya Winata mencoba menghubungi kepercayaannya untuk mencari keberadaan Monica. Dua jam kemudian orang kepercayaan Winata datang ke mansion Rahardian.


"Iya, gimana sudah dapat informasinya tentang Monica." ujar Winata dengan datar.


"Sudah Tuan. Nona monika sekarang di penjara. Polres xxxx." jawab Andi.


"Apa!" teriak Winata sambil memegangi dadanya.


"Papa!" teriak Sisi dari kejauhan mulai panik.


Robin langsung menghubungi Romeo agar cepat ke mansion untuk memeriksa keadaan Winata.


"Udah sayang, jangan panik. Papa nggak kenapa-kenapa kok." ucap Robin memeluk sang istri.


Romeo datang menemui Robin dan Sisi,"kenapa jatung tuan Winata bisa kambuh kak?" tanya Romeo.


"Monica masuk penjara." lugas Sisi dengan datar.


"Kok bisa? dia berbuat masalah apa?" tanya Romeo lagi.


"Udah kamu periksa papa dulu. Nanti kakak ceritakan." titah Robin.


Romeo masuk ke dalam kamar Winata,"selamat siang Tuan." sapa Romeo.


Winata hanya menganggukkan kepala saja dan Romeo menempelkan alat stetoskop ke dada Winata. Lalu mengecek tekanan darah Winata lumayan tinggi.


"Gimana Romeo? apa perlu kita ke rumah sakit." tanya Sisi panik.


"Nggak perlu kak. Tapi jika tekanan darah tuan Winata tidak turun. Bisa kita bawa ke rumah sakit. Tuan Winata hanya syok saja. Banyak-banyak istirahat. Tuan jangan banyak pikiran ya." titah Romeo.


"Nggak ada resep baru Romeo?" tanya Sisi.


"Nggak perlu kak. Pakai obat yang biasanya aja. Sebenarnya ada apa kak?" selidik Romeo.


"Monica kakak penjarain. Karena berbuat jahat saat pernikahan Andri kemarin." ucap Sisi memijat keningnya.


"Ya tuhan! gadis itu." Romeo berbidik ngeri.


******


"Ran." panggil Riana."Randi!" teriak Riana.


Randi hanya menggeliat di atas ranjang,"sudah ma. Sudah."Kenapa mama marah-marah sayang?" Ferdinan mencoba menenangkan Riana.


"Ada yang aneh dengan Renita pa. Dari semalam murung sekali Renita." sungut Riana.


"Yaudah biarin Randi tidur. Semalam dia pulang pagi." titah Ferdinan.


"Pergi kemana bocah kurang ajar ini pa?" tanya Riana.


"Pergi bersama teman-temannya lah mau apa lagi ma." jawab Ferdinan.


"ya sudah kita pulang ke rumah saja pa." ajak Riana.


Ferdinan mengikuti kemauan sang istri akhirnya mereka pulang. Sampai di depan pintu lift mereka bertemu Renita bersiap-siap pulang.


"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Riana penasaran.


"Pulang ma." Renita senyum kaku.


"Yaudah kita bareng saja Re." ajak Riana.


"Kan kita beda arah ma. Jadi biar Renita pulang sendiri saja." Renita menolak halus.


"Tapi mama boleh kan sama papa main ke sana?" rayu Riana.


"Pasti ma. Yuk." Renita menggandeng tangan Riana di ikuti oleh Ferdinan.


"Aduh, kenapa jadi begini sih. Kenapa mama papa jadi ke ikut mansion." batin Renita.


"Re." panggil Riana.


Renita tak menjawab,"Re." ulang Riana sambil menepuk pundak Renita.


"I-iya ma. Kenapa?" suara Renita terbata.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu