
Saat Sisi membuka matanya semua tersenyum bahagia, Sisi nampak binggung melihat ekspresi wajah Robin sang suami.
"Sayang." panggil Robin dan memeluk Sisi.
"Kamu kenapa sayang?" Sisi tampak merasakan ke anehan dengan sikap sang suami.
"Selamat ya kamu akan jadi ibu." ucap Robin sambil menangkup wajah Sisi.
Air mata Sisi membasahi pipinya Robin menyekanya. Sisi merasakan sangat bahagia setelah ia kekeguguran 3 tahun lalu. Membuatnya putus asa, sebenarnya tidak sepenuhnya salah monica tapi Sisi sudah terlalu membenci Monica.
Flashback On
"Ada keributan apa sih diluar?" tanya Sisi kepada shela sang sekertarisnya.
"Saya tidak tau Nona." jawab Shela dengan gugup.
"Cepat cari tahu." titah Sisi.
Shela pergi mencari tahu ke ributan apa yang telah terjadi. Shela sudah mendapat informasi langsung menemui Sisi dan melaporkan kejadian tersebut.
"Maaf, Nona." ucap Shela.
"Hemm." gumam Sisi tetap fokus dengan laptopnya.
"Di luar nona Monica membuat keributan. Karena tuan Andri sedang bercicang dengan calon klien kita Nona. Jadi nona Monica salah paham. Mengira klien telah mengoda tuan Andri." penjelasan shela sedikit ragu karena info ia dengar dari karyawan lain.
"Astaga Monica." Sisi membanting berkas ia pegang lalu berdiri untuk menemui biang keributan.
Karena Sisi sedang hamil mungkin emosinya juga sedikit tidak stabil. Sisi menghampiri biang ke ributan melihat dari ke jauhan membuat Sisi merasa geram langsung mendekati.
"Monica! hentikan. Apa yang kamu lakukan." Sisi mencoba melerai.
Alih-alih bukannya Monica mendengarkan perkataan Sisi malah narik rambut klien. Hingga Sisi lupa ia sedang hamil mencoba melerai mereka berdua. Dan Akhirnya Sisi terhuyung ke samping hasil dorongan tangan Monica tak sengaja.
"Aaaaaak!" teriak Sisi.
Andri melihat di bawah kaki Sisi ada darah yang mengalir langsung mengangkatnya dan membawa Sisi ke rumah sakit. Monica melihat kejadian itu langsung bungkam dan mematung rasanya tubuhnya tiba-tiba lemas dan terjatuh. Situ lah awal mula Andri tak menerima perjodohan dengan Monica memilih kabur dari rumah. Dan bekerja di perusahaan Bellanca mungkin takdir sudah menakdirkan mereka bersama. Untuk Sisi ingatan ini adalah mimpi terburuk untuknya mencoba untuk bangkit memang sulit untungnya Robin selalu mendukungnya.
Flashback Off
Di kediaman Renita, semua orang lagi asik makan siang di meja makan.
"Habis makan siang mama papa pulang ya Re." ucap Riana.
"Buru-buru banget ma? nggak nunggu makan malam saja." tawar Renita.
"Mama sibuk sayang harus ke butik. Dan masih banyak perkerjaan mama. Yang masih tertunda." jawab Riana.
"Oke, ma." Renita sambil menunjukkan jarinya.
"Mama pulang sama pak Dirman aja ya ma." ujar Randi tiba-tiba.
"Pak Dirman di mansion. Memang kamu mau ke mana?" selidik Riana.
"Nggak kok ma. Pak Dirman udah di luar. Aku mau temenin Renita sebentar." Randi tersenyum manis.
"Dasar kamu." ucap Riana.
Renita dan Randi mengantar Riana dan Farhan ke depan mansion. Lalu Riana masuk ke dalam mobil di bukakan oleh pak Dirman. Yang selalu siap jika di mintai bantuan oleh Randi. Bekerja dari Randi kecil walaupun sudah tua beliau tetap energik. Riana melambai tangannya dan pergi menjauh dari mansion Renita.
"Kenapa om di sini?" tanya Renita.
"Kan tadi udah bilang sayang aku di sini nemenin kamu." jawab Randi.
"Aku nggak perlu ditemenin. Ada pelayan banyak di mansion ini. Jadi jangan khawatir." nada Renita dengan penuh penekanan.
"Kamu kenapa si Re. Semenjak dari semalam kamu dingin banget sama aku." tanya Randi penasaran mengikuti Renita dari belakang.
Renita tak memperdulikan Randi terus saja berjalan hingga menaiki tangga menuju kamarnya.
"Om itu kenapa ngikutin aku ke kamar. Kan aku sudah bilang Om pulang saja oke. Oia satu lagi jangan sentuh aku berlebihan seperti tadi malam. Aku tidak suka Om. Kita belum sah." terang Renita.
"Oke-oke." Randi mengamati sekeliling kamar Renita penuh warna biru dan pink.
"Udah Om cepet keluar." Renita sambil menarik tangan Randi.
"Aku ingin berbicara serius dengan mu." Randi malah menarik tangan Renita ganti menuju ranjang.
"Kamu itu mikir apa sih? orang aku cuma ngobrol sama kamu." Randi mendudukan Renita di pangkuannya.
"Tapi nggak gini juga kali Om." Renita membuang muka karena malu.
"Gimana ceritanya kamu bisa kembali ke rumah ini?" tanya Randi penasaran.
"Oh, itu. Cerita gini Om. Waktu aku kabur lewat pintu belakang supermarket. Aku binggung mau ke mana. Tanpa nggak di sengaja ketemu pengacara Alm papa. Lalu aku di ajak ke mansion ini. Kata beliau karena aku sudah 18 tahun. Aku boleh tinggal di sini dan mulai belajar kerja di kantor punya keluarga ku." terang Renita.
"Bukannya masih di pimpin Om Setiawan ya?" Randi tambah binggung.
"Nanti pengacara yang ngomong sama Om Setiawan, Om." Renita menatap lekat Randi.
Entah setan apa yang lewat bisa-bisanya Renita mengecup bibir Randi. Renita langsung berdiri siap berlari karena malu. Randi mencekal tangan Renita dengan lembut.
"Kamu mau ke mana? nggak tanggung jawab."
"Nggak Om. Tadi hilaf." Renita menginjak kaki Randi lalu kabur secepat kilat.
"Aaauu!" teriak Randi ke sakitan.
*****
"Sayang, yuk kita cek kandungan kamu." titah Andri.
"Ide yang bagus suami ku." ucap Bellanca dengan malu-malu.
"Coba ulangi sekali lagi." bisik Andri telinga Bellanca.
"Ih malu ih. Ada Kak Sisi dan Kak Robin." Bellanca berujar sambil mencubit pinggang suaminya.
"Aaauu. Sakit tau yank." Andri mengelus-elus perutnya Andri merajuk.
"Iya maaf suami ku." ucap Bellanca merasa bersalah.
Andri hanya menahan tawanya hanya bisa tersenyum smirk saat Bellanca menundukkan kepalanya. Andri mendongkan wajah Bellanca dengan jari telunjuknya. Lalu mengecup bibirnya dengan cepat tanpa di sadari banyak mata menyoroti mereka berdua.
"Emang susah ya kalo pengantin baru. Nggak tau tempat." cibir Sisi dengan kekehan.
"Ah, kamu kaya nggak pernah sayang." sahut Robin.
"Tu kan Dri." Bellanca menutupi mukanya karena malu.
"Kak aku pamit dulu ya. Jika papa sudah sadar telepon aku. Aku ingin mengecek kandungan Bellanca." pamit Andri.
"Siap tuan Andri Rahardian." cibir Sisi.
Andri dan Bellanca pun pergi ke bagian Spesalis kadungan dan mendaftar untuk mengecek kamdungan.
"Silakan Antri ya Bu. Ini no antrian Anda." ujar Perawat.
"Ayo, sayang kita duduk disana." Andri menggandeng tangan Bellanca.
Bellanca tersenyum, ia merasakan begitu bahagianya Bellanca. Beruntung mendapatkan suami seperti Andri yang sabar dan telaten mengurusnya.
"Kamu senyum-senyum sendiri kenapa?" Andri heran menatap istrinya tersenyum sendiri.
Hay kakak coba mampir ke karya ku yang ini, iseng-iseng ikut lomba berbagi cinta. Sudah mengirim email, doa kan saja bisa mengikuti lomba. Menang kalah urusan terakhir😁
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu