Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 18



Andri membuka mata terasa kantuknya masih menyerang rasanya ingin tidur lagi. Ponselnya bergetar bunyi notifikasi pesan. Andri mengambil ponselnya dan membaca pesan.


RANDI


Kak bantu aku, pinjami aku uang. Tolong kak πŸ˜ΏπŸ˜”


Andri membaca pesan dari Randi langsung mentrasfernya tanpa bertanya berapa yang dibutuhkan. Andri memberi tahu Randi agar tidak usah dipulangkan uang ia berikan.


"Luar biasa sekali calon kakak ipar ku ini. Memberikan uang dua puluh lima juta dengan cuma-cuma. Mana nggak usah di pulangin lagi. Ini namanya rezeki anak soleh." batin Randi dengan senyum smirk.


"Hey om, jangan ngelamun dong!! buruan itu di bayar dikasir." ucap Renita menggoyang-goyangkan lengan Randi.


"Iya bawel! dasar Bocil! jangan sentuh gue." Randi meninggalkan Renita.


"Kado udah dapet. Siap ke pesta ultah intan." Randi bermonolog.


Saat memasuki acara bertemu dengan Intan menyapanya tanpa di duga Randi bertemu seseorang."Hei bocil sialan?! ketemu lo lagi. Ngapain lo disini?" Randi menatap Renita.


"Kamu kenal ta?" tanya Intan.


"Nggak kenal kok, om mungkin salah orang." ucap Renita.


Gelak tawa Thomas dan Dimas mengalihkan pandangan kearah Randi menatap mereka dengan tajam.


"Apa ada yang lucu kalian tertawa?!" Randi mulai geram.


Dimas dan Thomas langsung terdiam,"lucu aja gitu. Lo di panggil om. Maklum lo udah lulus S2 belum nikah." Dimas tertawa kembali.


"Tau diri dikit kita itu sama!" teriak Randi.


Acara demi acara pun selesai. Randi memilih untuk meninggalkan sahabatnya lalu pulang ke mansion.


****


"Hei anak manja. udah berapa ini baru pulang?!" Bellanca duduk di sofa diruang utama mansion.


"Kak umur ku dua puluh lima tahun bukan anak kecil yang harus di kontrol terus menerus." rajuk Randi


"Tadi papa telepon. Jika besok pagi ada keponakan sahabat papa di titipkan di sini. Karena ke dua orang tuanya sudah tiada. Jadi kamu harus baik-baik. Buat dia betah dirumah." ucap Bellanca sambil membolak-balikan majalah.


"Nggak penting kak. Terserah aku mau tidur aku lelah." ucap Randi sambil pergi menaiki tangga.


Bellanca mendengar ucapan randi hanya menggelengkan kepala."Dasar bocah tua. Kapan kamu bisa berubah dan gantiin posisi kakak Ran?"


Di meja makan Bellanca menunggu sarapan datang."Nona, ini keponakan sahabat tuan ferdinan sudah datang." ucap pak Dirman.


"hallo salam kenal kak a-kkuu Renita." ucap Renita dengan gugup.


"Kenapa nervous sayang. Santai aja kenalin nama kakak Bellanca. Kamu masih sekolah atau kuliah? oia, Nanti akan ada turun ikut sarapan pagi bersama kita itu Randi adik kakak." ucapan Bellanca dengan lembut.


Randi buru-buru turun ke bawah ingin sarapan."Lama banget si Ran. Kamu sih begadang mulu. Untung nggak telat bangun. Nih, kenalin Renita keponakan sahabat papa. Yang semalam kakak ceritain." ucap Bellanca.


Randi dan Renita saling pandang."Eh om, tinggal disini juga ternyata." Renita tersenyum manis.


"Kalian sudah kenal?" tanya Bellanca.


"Nggak kenal ama anak ingusan ini kak." ucap Randi dengan datar.


"what!!! ini Bocil tinggal disini. Sial nasib gue ketemu ini Bocil." batin Randi.


Saat Randi berpamitan untuk pergi ke kantor terlebih dahulu. Acuh saat melihat Renita. Tiba-tiba Renita menyela Randi yang sedang berbicara dengan Bellanca."Om,boleh nebeng sampek halte depan? aku buru-buru mau ke kampus." tanya Renita.


Alih-alih bukannya menjawab Randi memilih meninggalkan Bellanca dan Renita."Sudah biarin aja Re. jangan khawatir nanti kita berangkat bersama. Kakak anterin ya." Bellanca memegang tangan Renita.


Renita mendekati bellanca dan memeluknya."Kakak baik sekali. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini. Aku tidak punya saudara kandung. Hanya punya saudara sepupu yang begitu menyebalkan. Merasakan hal ini aku sangat bahagia. Terimakasih kak atas perhatiannya." ujar Renita.


"Kamu bisa anggap kakak ini seperti kakak kamu sendiri." ujar Bellanca."Seru juga jika punya adik perempuan." batin Bellanca.


Renita melepas pelukkannya masuk ke dalam mobil. Andri sudah datang menjemput Bellanca melirik Renita mengisyaratkan bertanya."Itu keponakan sahabat papa Dri. Renita namanya. Kita antar dia ke kampus dulu ya." Andri hanya menganggukan kepala.


"Salam kenal kak Andri. Aku Renita maaf merepotkan."


Andri hanya tersenyum. Setibanya dikampus."Terimakasih ya kak. Padahal tadi cuma pengen nebeng sampai halte depan. oia kak,nanti malam aku pulang agak telat soalnya aku juga kerja diresto sahabat ku kak." ucap Renita.


"Nggak kok kak. Kan cuma kerja part time. Selesai kuliah juga kerjanya. Jadi nggak bakal nganggu kuliah kok."


Bellanca pergi menuju kantor.


Bellanca memandangi Andri tanpa berkedip,"aku tau, aku tampan Nona. Awas jatuh cinta." goda Andri.


Pipi Bellaca bersemu merah muda karena,"oh ya? kok bisa ya aku jatuh cinta sama kamu?" gelak tawa Bellanca memenuhi mobil.


Ditarik hidung mancung Bellanca secara perlahan."Nanti malam kak sisi mengundang kita makan malam dimansion Rahardian. Nona dandan yang cantik ya? biar papa terpana melihat calon mantunya." goda Andri.


"is-is, gombalan kamu nggak mempan Dri." Bellanca menghadap jendela kaca mobil melihat keluar karena malu.


Sampai dikantor para karyawan melihat Bellanca menundukan kepala. Bellanca menuju lift,"Aku pengen ngomong serius dengan mu nanti diruang kerja." ujar Bellanca.


Andri hanya diam saja tanpa sepatah kata pun tapi tetap mengekori Bellanca sampai ke dalam ruang kerja Bellanca.


"Nona mau ngomong apa? ada hal serius apa?" Andri dan Bellanca saling tatap.


"Jika kita menikah. Aku ingin berhenti kerja. Dan aku ingin mengurus kamu dan anak kita nanti. Menurut kamu gimana? kamu kecewa?"


Andri mendekatkan wajahnya menatap Bellanca lebih dekat,"cie yang mau jadi nyonya Rahardian." goda Andri.


Saat Bellanca ingin mengalihkan wajahnya. Andri menangkup wajah Bellanca. Bibir mereka saling bertemu hawa ***** telah membuat Andri hampir lepas kendali. Tangan Andri sudah menjelajahi tubuh Bellanca.


Ditepislah tangan Andri. Bellanca melepaskan ciumannya."No no no," Bellanca segera berdiri membenarkan bajunya. Duduk ditempat singgasananya.


"Maaf," ucap Andri menundukan kepala merasa bersalah. Andri memilih meninggalkan Bellanca sendirian. Bellanca tidak menanggapi Andri berpura-pura marah.


"Nggak tega tapi mau gimana lagi?! kalo sampe hamil duluan kan malu." Bellanca bermonolog.


Bellanca merogoh ponselnya dikantong jasnya. Ingin menelepon Randi agar cepat keruangannya."Ini bocah lama banget angkat teleponnya!" gumam Bellanca. Akhirnya Bellanca memilih mengirimi pesan.


RANDI


Cepat keruangan kakak! sekarang !


Empat jam kemudian Randi baru membaca pesan dari sang kakak."Matilah aku. Ini macan betina pakek kirim pesan. Mana banyak banget panggilan tak terjawab lagi. Ada hal penting apa ya?!" Randi bergumam.


Saat didepan pintu ruangan Bellanca. Randi ragu ingin masuk. Andri dibelakang Randi menepuk pundaknya."Ayo masuk," sapa Andri.


Keduanya masuk keruangan,"Kenapa dianterin? udah gede juga minta dianterin?!" ejek Bellanca.


"Kakak cari aku ada perlu apa?" tanya Randi.


Bellanca menatap tajam Randi,"kamu kenapa begitu nggak sukanya sama Renita? ada yang salah? ngomong jangan jutek gitu. Renita itu tamu dirumah kita yang sopan dikit Ran. Kamu bukan anak kecil lagi kan? yang apa-apa perlu kakak kasih tau. Beri satu alasan kenapa kamu nggak suka sama Renita? awas kamu nanti jatuh cinta lo."


"Aku nggak suka aja!! perlu alasan kak. Amit-amit deh suka sama bocil gitu." Randi meninggalkan Bellanca belum sampai depan pintu.


"Awas nanti beneran jatuh cinta lo." ulang Andri.


"Ih amit-amit gue suka ama bocil." Randi sambil menutup pintu.


"Macan betina sama bocil baik bener. Keburu sama gue kaya anak tiri. Padahal gue adiknya. Pilih kasih amat nasib-nasib!" batin Randi.


Bersambung.....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❀❀❀


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu