Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 46



"Buruan naik sayang. Kenapa? kamu mikirin apa? hayo." goda Riana.


Renita hanya tersenyum jengah melihat dirinya suka melamun tidak jelas. Pikirannya melayang-layang entah kemana. Saat Renita duduk di kursi depan pak Dirman akan melanjukan mobil ia kemudi. Tiba-tiba Randi berlari menghadang mobil mereka hendak berjalan.


"Aaaa!" teriak Renita kaget.


"Kamu nggak papa sayang." tanya Riana panik.


Renita hanya menggelengkan kepalanya saja, lalu Randi menghampiri pak Dirman.


"Pak keluar pak." Randi mengetuk jendala mobil.


Pak Dirman pun membuka pintu mobil dan keluar Randi mengantikan berkemudi.


"Bapak bawa mobil saya pulang. Biar mama papa saya yang anter." titah Randi.


"Siap tuan." Pak Dirman pun berlalu pergi.


Randi langsung masuk ke dalam mobil tersenyum sangat manis di depan Renita. Renita hanya diam tak membalas senyum Randi.


"Salah aku apa? kenapa Renita begitu dingin kepada ku." batin Randi.


"Ma kita pulang kan?" tanya Randi.


"Kamu itu ngapain ikut segala. Udah tidur sana. Semalam abis kumpul bersama teman-teman mu di club bukan? pasti banyak ditemani wanita cantik disana. Iya kan pa?" tanya Riana sambil menyindir Randi.


Ferdinan pura-pura tidak mendengar Riana bicara yang asik memainkan ponselnya. Sebenarnya Riana ingin melihat ekspresi apa yang Renita tunjukan kepada anak laki-lakinya. Dan ternyata berhasil membuat Renita terbakar api cemburu, Renita menatap Randi dengan lekat tanpa berkedip.


"Mama nih ngaco. Orang aku cuma sama Dimas dan Thomas aja kok." sungut Randi kepada Riana."Sayang beneran aku nggak aneh-aneh kok." Randi sambil memegangi tangan Renita.


Renita pun tak bergeming hanya membalikkan muka ke luar jendela.


"Buruan kita ke mansion Renita. Kamu pegang-pegang tangan anak gadis mama, Randi." cibir Riana sambil melepaskan tangan Randi dari tangan Renita.


"Ih mama apa-apaan si." sungut Randi."Atau mama ingin pegang-pegangan tangan juga? tu kan ada papa." goda Randi.


Randi melihat ke belakang menatap wajah sang ayah langsung panas dingin. Aura Ferdinan terlalu gelap rasanya bulu kuduk Randi langsung meremang. Randi langsung melepas tangannya ditangan Renita. Memilih tancap gas bergegas ke mansion Renita. Saat di depan pintu utama mansion Renita, Riana lumayan kagum melihat ke mewahan terpapang jelas.


"Ayo, ma turun." Renita membukakan pintu mobil.


"Kamu anak tunggal kan, sayang?" tanya Riana, semua berjalan menuju dalam mansion.


"Sebenarnya aku punya kakak ma tapi." Renita berhenti berbicara dan menangis.


Randi menghampiri Renita dan memeluknya," alah kamu tu Ran. Bisa aja nyari kesempatan dalam kesimpatan." cibir Riana.


"Atau mama mau papa peluk? sini-sini." ejek Ferdinan.


"Apaan sih papa." ujar Riana dengan sewot.


Randi melepaskan pelukkannya,"makasih." ucap Renita dengan pelan.


"Kakak sudah tiada ma. Waktu aku belum lahir karena sakit keras. Yuk ma, masuk ke dalam kita berkeliling."


Saat Riana melihat foto ke dua orang tua Renita langsung syok.


"Ada apa ma." Ferdinan binggung melihat ekspresi Riana.


"I-itu pa." Riana terbata sambil menunjuk foto ke dua orang tua Renita.


"Dito, Resa." gumam Ferdinan dengan pelan.


Riana mendekati Renita dan memeluknya dengan erat dan menangis. Randi dan Renita binggung melihat Riana menanggis tersedu-sedu. Renita mengusap air Riana dengan lembut dan merapikan ramput Riana sedikit berantakan.


"Mama, kenapa menangis?" tanya Renita dengan binggung.


"Kamu tau sayang?" tanya Riana, Renita hanya menggelengkan kepala."Papa Dito dan mama Resa itu sahabat Mama."


Wajah Renita langsung berubah syok mendengar pernyataan Riana.


"Seriously?" ucap Renita tak percaya.


"Boleh mama cerita?" tanya Riana.


"Pasti ma. Renita penasaran dengan cerita mama tau." ucap Renita.


Semua duduk di ruang tengah Renita sedikit tegang mendengarkan cerita Riana.


"Ya tuhan pa. Mama rasanya ga tahan liat ke uwuwan mereka." cibir Riana.


"Pah pegang tangan tangan mama pa. Dari tadi ke banyak komentar." ejek Randi terkekeh.


Renita pun melepas tangannya dari gegaman Randi. Bukan terlepas Randi memegang lebih kuat Renita hanya bisa melototi Randi. Randi hanya mengedipkan matanya kode jika Randi tidak mau melepas gegamannya.


"Bik!" teriak Renita.


"Iya Nona." Art Renita datang dengan tergopoh-gopoh.


"Tolong ya bik. Buatin minuman dan cemilan bawa kemari."


"Siap Nona." Art Renita pun pergi.


"Sebenarnya Renita mau buatin sendiri ma minumannya. Tapi liat tangan ini." Renita menunjukkan tangannya di genggam oleh Randi.


*****


Di kediaman keluarga Rahardian, Winata mencoba bertanya kepada sang anak. Rasa penasarannya sangat tinggi kenapa Monica di penjara.


"Papa istirahat aja jangan ke mana-mana." titah Sisi.


Winata mencoba duduk bersandar diranjang,"sebenarnya apa yang terjadi Si? kenapa Monica di penjara." tanya Winata tampak penasaran.


"Pa, untung saja Monica tidak ku masukkan ke dalam rumah sakit jiwa." lugas Sisi.


"Kenapa kamu sangat membencinya sayang?" Winata menitihkan air matanya.


"Papa mau tau kan. Kenapa Monica masuk penjara!" teriak Sisi.


Robin sang suami langsung mendekati Sisi dan memegang tangan Sisi lalu menggelengkan kepalanya. Itu kode agar Sisi tidak bercerita ke benarannya.


Emosi telah mengguasai Sisi tanpa sengaja ia berucap kebenarannya.


"Monica telah berbuat jahat pa. Dia menculik penghulu yang akan menikahkan Andri dan Bellanca." sungut Sisi."Papa mau tau kenapa aku sangat membenci Monica? dia telah membunuh anak ku. Selama ini aku hanya diam saja pa. Aku ingin rasanya mengusir Monica dari rumah ini. Apa daya ku pa. Papa pasti akan membela Monica." Sisi jatuh terduduk di lantai sambil menangis mengingat kejadian masa lalunya.


"Kenapa kamu tidak bercerita selama ini?"


"Karena Robin melarang ku pa. Takut papa terkena serangan jantung." lugas Sisi.


Winata langsung memegang dadanya rasanya begitu sakit. Sisi panik menangis sambil memeluk Winata. Robin langsung memanggil ambulans agar cepat ke mansion untuk membawa Winata ke rumah sakit.


"Pa bertahan pa. Maafin Sisi."


Untung rumah sakit dekat dengan mansion tak perlu waktu lama 10 menit ambulans datang. Winata di bawa ke rumah sakit xxxx di dalam ambulans Sisi tetap menitikan air matanya.


"Ya tuhan, lindungi papa. Jangan ambil dia dari ku." batin Sisi, Robin memeluk Sisi dengan erat.


"Tenang sayang. Papa pasti terselamatkan." ucap Robin mencoba menenangkan sang istri.


*****


Bellanca duduk di sofa dengan wajah masamnya melihat Andri.


"Masih marah?" tanya Andri.


"Nggak." ucap Bellanca dengan singkat.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu