
"Tuhan, kenapa pikiran ku tertuju sama om Randi? Apa mungkin dia menyukai ku? Aneh sekali hari ini" batin Renita.
Tok! tok! tok!
Suara ketukan pintu terdengar membuat Renita tersadar dari lamunannya."Sebentar!" teriak Renita.
Renita berjalan menuju pintu dan membukanya."Wah, kakak cantik sekali." Mata Renita berbinar-binar melihatnya.
"Kamu kok belum dandan Re? mandi gih. Kan malam ini acara makan malam spesial. Apa kamu lupa?" tanya Bellanca.
"Enggak kok kak, cuma enggak ada gaun kak. Jadi aku enggak usah ikut ya?" Renita mengiba.
Bellanca melihat jam diponselnya."Masih ada waktu 45 menit buat kamu siap-siap. Ayo, ke kamar kakak," Bellanca menarik tangan Renita.
"T-tapi kak," Renita tergagap karena kaget tangannya ditarik.
"Saya tidak suka penolakkan," tegas Bellanca.
Renita akhirnya mengikuti Bellanca masuk ke kamarnya. Renita bersiap-siap, memakai gaun yang Bellanca siapkan. Bellanca sangat menyayangi Renita seperti adiknya sendiri.
"Kamu cantik sekali Re," ucap Bellanca dengan kagum.
"Masih cantikan kakaklah. Aku cuma." Tiba-tiba terhenti langsung dijawab Bellanca."Cuma apa? udah ah. Ayo, kita keluar. Pasti semua orang sudah menunggu kita dibawah."
Saat berjalan turun kebawah, dari tangga Bellanca melihat Monica ikut datang ke acara jamuan makan malam. Ia meremas gaunnya mata nyalang memandang monica dari kejauhan."Ngapain sih. Wanita ular ikut datang ke acara jamuan makan malam!" Bellanca was-was takut acara rusak karena Monica.
Bellanca sudah dibawah dan duduk dimeja makan. Renita yang duduk disambing Randi. Randi yang gemas melihat Renita begitu membuatnya terpesona. Randi menyenggol kaki Renita dua kali. Renita langsung menoleh ke arah Randi dengan menatap tajam."Ini om-om dari tadi di cave sampai sekarang mengetes kesabaran ku mulai habis," batin Renita.
Renita membalas senggolan kaki dari Randi. Tapi bukan senggolan yang didapat melainkan injakan kaki yang didapat."A-au!" teriak Randi.
Semua orang yang dimeja makan melihatnya. Randi langsung gugup melihat Bellanca menatapnya seoalah ingin memakannya."Maaf tadi ke injek semut," ucap Randi. Krik-krik garing banget Ran.
Riana membuka suara,"Ayo dimakan, baru nanti kita berbincang-bincang kembali.
"Iya, tuan Winata dimakan dahalu. Ini semua Bellanca yang memasak," ucap Ferdinan.
"Tumben banget biasanya juga koki yang masak," Randi menggerutu sangat keras hingga semua orang meja mendengar. Bellanca menatap nyalang Randi."Mati aku," batin Randi dengan menundukkan kepalanya.
Renita mencubit paha Randi itu kode jagan banyak bicara. Randi hanya bisa senyum terpaksa menahan sakit. Akhirnya Andri membuka suara jika dirinya ingin membicarakan pernikahan.
"Tuan dan nyonya saya ingin meminta izin kalian untuk menikahi nona Bellanca," ucap Andri dengan tegas.
Bellanca tersenyum hatinya berdebar-debar saat Andri meminta izin kepada orang tuanya. Ferdinan menyambut Andri dengan tangan terbuka."Saya percaya kamu pasti akan membuat anak saya bahagia. Kalian kan sudah lama saling kenal," ujar Ferdinan.
Monica menatap Bellanca dengan tidak suka. Mereka saling bertatapan saling berhadapan dimeja makan. Seolah-olah mata mereka saling berbicara.
"Saya ikut bahagia jika mereka bahagia tuan Ferdinan," ucap Winata dengan terkekeh. Saat mereka bersenda gurau. Monica menggerutu sampai terdengar oleh Ferdinan.
"Apa hamil?!" ujar Ferdinan."Bellanca apa itu benar!" teriak Ferdinan.
"Mampus! akhirnya papa tau," batin Bellanca.
Saat Bellanca ingin berbicara. Sudah didahului oleh Monica."Tapi tenang tuan Ferdinan. Mereka hanya berpura-pura. Agar bisa mendapatkan restu dari papa. Jangan khawatir pernikahan ini pasti gagal." Monica tersenyum smirk.
Tangan Bellanca mengepal dibawah meja dan menatap nyalang Monica."Kamu tau dari mana? jika aku berpura-pura? jangan asal kamu! jika tidak bukti." ucap Bellanca dengan geram.
"Jika tidak percaya. Ayo, kita buktikan dirumah sakit." Bellanca menantang."Jika aku salah. Aku akan meninggalkan Andri. Jika kamu yang salah. Kamu harus pergi jauh dari keluarga Rahardian!" ucap Bellanca.
Suasa mulai memanas Sisi mulai bicara."Ayo, semua kita semua rumah sakit terdekat. Kita buktikan bersama-sama."
Didalam hatinya Sisi sangat khawatir. Dia mencoba mencari cara untuk menggagalkan rencana ke rumah sakit. Dalam perjalanan Andri membawa mobil."Kamu bisa-bisanya berbicara seperti itu! aku tidak mau kehilangan mu Bellanca putri!" teriak Andri sangat cemas.
Bellanca memegang tangan Andri yang masih memegang kemudi mobil. Ia raih sebelah tangan Andri."Percayalah pada ku. Semua akan baik-baik saja,"
Sampai diparkiran rumah sakit."Bisa-bisa kamu tersenyum. Aku khawatir tidak mau pisah dengan mu Nona." ucap Andri. Alih-alih bukan menjawab Andri. Bellanca mengecup bib*r Andri dan keluar dari mobil. Andri hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Bellanca sudah selesai mendaftar ditemani Andri. Semua keluarga sudah menuggu ditempat tunggu pasien. Bellanca gugup tangan terasa dingin. Andri mencoba menenangkan Bellanca dengan merangkul bahunya. Ponselnya bergetar suara notifikasi pesan masuk. Dibacalah pesan masuk itu ternyata dari Sisi.
Kak sisi
Maaf sayang, kakak telah berbuat masalah lebih besar. Kakak punya ide untuk menggagalkan pemeriksaan dokter.
Bellanca membalas.
Kak, jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja percayalah pada ku, pesan sudah terkirim.
Andri melihat Bellanca membalas pesan dari sang kakak sedikit curiga. Sudah menunggu hampir satu jam. Kini giliran Bellanca masuk ruangan Obgyn. Untuk diperiksa oleh dokter kandungan. Ferdinan, Riana dan Winata ikut masuk untuk mengikuti Bellanca dan Andri.
"Selamat malam ibu, ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Rachel.
"Saya ingin memeriksakan kandungan saya dok," ucap Bellanca.
"Nona sudah telat berapa hari? dan sudah dicek pakai test kehamilan?" tanya dokter Rachel.
"Sudah telat sekitar 1 minggu dok. Ini dok alat test kehamilan saya hasilnya positif," ucap Bellanca. Menaruh alat test kehamilan diatas meja. Andri melihat Bellanca menaruh alat test kehamilan. Ia tidak percaya jika Bellanca benar-benar hamil.
"Ok, kita akan coba Usg ya. Kita lihat bayinya. silakan nona berbaring," perintah dokter Rachel.
Bellanca mencoba berbaring dibed dibantu oleh Andri. Dibukalah gaun Bellanca keatas sedikit oleh perawat. Perutnya diolesi gell lalu transducer ditempelkan diperut. Dan hasil membuat semua tercenggang.
"Selamat nona Bellanca. Atas kehamilannya," ucap dokter Rachel.
Bellanca menangis ia sangat terharu dan tidak percaya itu benar-benar terjadi didirinya. Andri memeluk Bellanca."Terimakasih," bisik Andri ditelinga Bellanca.
Bersambung...
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu