
Bukan hanya jantung Randi yang ingin meledak. Renita menatap randi rasanya ingin memasukan kepalanya dalam sesuatu benda untuk menutupinya. Malu yang dirasakan Renita tadi berlari untuk menghidari Randi. Kini malah digendong bau harum dari tubuh Randi membuat Renita begitu tenang dan nyaman.
Renita diturunkan diatas ranjang,"Kamu istirahat besok kita ke rumah sakit jika belum sembuh." Randi meninggalkan Renita.
Saat Randi didepan pintu kamar,"Makasih ya om!" teriak Renita. Randi hanya tersenyum meninggalkan Renita.
Diapartemen
Bellanca menyandarkan kepalanya dibahu Andri."Aku merindukan mu?" Andri menatap Bellanca mendekatkan wajahnya. Tadinya bersandar wajah Bellanca dirangkup oleh Andri.
"Apa?" tanya Bellanca. Andri gemas dengan jawaban Bellanca tanpa aba-aba langsung mengecup bibir Bellanca. Ditatapnya lagi wajah Bellanca beberapa detik dan dipeluk erat rasanya tak ingin berpisah. Inget Dri belum sah udah nyosor aja.
Tangan Andri yang sudah berkelana tanpa perintah menjelajahi tubuh Bellanca."Andri! " teriak Bellanca. Sebenarnya Bellanca sangat menikmati tangan nakal Andri membuat yang dibawah berdenyut minta disetrum.
"Tunggu akhir bulan apa kamu tak sanggup?" Bellanca memohon."Besok papa dan mama datang ke Indonesia. Untuk membicarakan pernikahan kita." Bellanca memalingkan wajahnya. Bellanca orang sangat sensitif ditambah banyak masalah semakin emosionalnya tak terkendali.
Andri memegang tangan Bellanca,"oke, aku akan sabar menunggu." wajah Andri muram. Sudah dipucuk tapi ditolak. Rasanya odading mang oleh. Ok skip.
"Kepala ku pusing," Bellanca lari ke dalam kamar mandi."Huek-huek," Andri was-was.
"Kamu kenapa sayang?" menuntun Bellanca bersadar diatas ranjang.
"Ah tidak apa-apa Dri. Mungkin tadi pagi tidak sarapan jadi masuk angin." Bellanca memijat-mijat pelipisnya.
"Nggak usah pulang ya? istirahat disini. Besok kita jemput papa mama dari sini." Andri mengusap-usap rambut Bellanca.
Bellanca hanya mengangguk dan berbaring ditempat tidur. Matanya terpejam memikirkan apa benar dia masuk angin? atau yang lain. Jika benar hamil ini kabar bahagia Bellanca tak perlu berbohong lagi.
Di mansion.
Randi khawatir kakaknya belum pulang pukul menunjukkan jam 01.00 dini hari. Mondar-mandir dan akhirnya mengambil ponsel menelepon Bellanca ponselnya tak aktif. Makin cemas yang dirasakan Randi.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi membangunkan dari lamunannya."Hallo iya kak, oh oke." jawab Randi untuk seseorang diseberang sana.
"Kak bellanca sakit? telat makan? perasaan tiap pagi wajib untuk dirinya sarapan. Mana mungkin dia telat makan. Macan betina itu makannya banyak." Randi bergumam sendiri.
Randi menuju kamarnya membuka pintu kamar. Selesai berganti pakaian untuk tidur cuma pakai celana pendek rasanya malas randi memakai baju.
Dipagi hari Renita mendapat pesan dari Bellanca.
Kakak cantik
Re, tolong bangunin Randi ya. Papa mama nanti pagi-pagi sudah sampai mansion. Jika Randi belum siap menyambut, takut papa marah.
Renita membaca membalas pesan Bellanca.
Kakak cantik
Siap bos. 😊
Pesan sudah terkirim, Renita sudah selesai mandi bergegas menemui Randi dikamarnya. Diketuknya kamar Randi tidak ada jawaban. Mencoba memegang handle pintu ternyata tidak kunci. Renita membuka pintu dengan pelan-pelan melihat ke kiri ke kanan. Ternyata Randi masih dibalik selimut. Renita mendekati Randi digoyang-goyang pundaknya.
"Om bangun om udah pagi! " teriak Renita.
"Berisik banget kamu bocil." dengan suara Randi serak khas bangun tidur. Hanya berpindah posisi menjadi terlentang selimut jadi ikut pindah posisi.
"Udah liatnya, itu ilernya mau netes" goda Randi dengan menggesek-gesek matanya. Dengan bodohnya Renita mengusap pipinya yang tidak basah. Secara tidak langsung Renita mengakui telah melihat tubuh Randi. Yaiyalah orang didepan mata pasti liat lah.
Renita sadar dengan perkataan Randi langsung membalikkan badan. Ingin lari secepat mungkin dan meninggalkan Randi. Belum sempat lari tangan Renita sudah dicekal. Otomatis Renita jatuh ke ranjang duduk dipangkuan Randi. Renita menatap Randi menelan salivanya.
"Bangun tidur aja cakep banget." batin Renita.
"Kenapa diem aja? enak ya dipangku." tanya Randi.
Renita tersadar jika duduk dipangkuan Randi bergegas berdiri."Maaf om, papa mama om pagi ini pulang." Renita langsung berlari meninggalkan Randi karna malu.
"Dasar bocil, lucu juga menggodanya." gumam Randi.
Dikamar Renita mengatur napasnya tak beraturan karena Randi telah membuat jantungnya mau copot."Kenapa aku harus begini? kenapa harus malu? berpura-pura tidak terjadi sesuatu pun tak masalah." Renita bermonolog.
****
Bellanca bangun tidur memijat-mijat pelipisnya rasanya pusing sekali. Melihat sekitar seperti ada dua bayangan. Melihat Andri tidur sofa hanya bisa membuatnya tersenyum kaku. Tiba-tiba perut Bellanca terasa ada yang mengaduk-aduk mual rasanya. Bellanca berlari menuju kamar mandi muntahlah hanya air yang keluar. Andri mendengar Bellanca muntah-muntah langsung terbangun dan menghampiri Bellanca.
"Are you ok?" Andri memijat tengkuk Bellanca. Bellanca hanya mengangguk memilih duduk diclosed."Tinggalkan aku sendiri. Aku mau mandi." Andri meninggalkan Bellanca.
Keluar kamar mandi Bellanca hanya memakai kimono mandi. Membuat Andri mendekati Bellanca dan mencium aroma shampo. Bellanca mengerti gerak-gerik Andri langsung memundurkan badannya."Nanti telat jemput mama papa." Bellanca berlari tanganya menyambar paper bag disofa lalu memasuki ruang ganti. Pintu dia kunci lalu berganti pakaian.
"Belum diapa-apain udah kabur." Wajah Andri berubah masam.
Bellanca keluar dari kamar ganti dengan santainya berpura-pura tidak terjadi apa pun."Kamu nggak mandi Dri?" dengan polosnya.
"Nona makanannya sudah siap dimeja makan." Andri tak menjawab pertanyaan Bellanca memilih pergi ke kamar mandi.
"Ish, apa-apaan si Andri. Buat badmood aja!" Bellanca bermonolog. Duduk sendirian dimeja makan sendirian sarapan pagi tak semangat."Lama banget si Andri. Mandi atau tidur si didalam kamar mandi." Bellanca menggerutu dimeja makan.
Andri keluar dari kamarnya sudah rapi dan wangi Bellanca suka sekali aroma Andri sehabis mandi membuatnya candu. Bellanca menghampiri Andri rasanya ingin mendekapnya dengan erat. Andri berjalan menjauh melewati Bellanca mengagap tidak ada. Bellanca melihat tingkah Andri hanya menghentak-hentakkan kaki.
Andri duduk dimeja makan,"ayo makan Nona." goda Andri hanya melirik Bellanca. Tatapan tajam Bellanca mampu menusuk-nusuk Andri sedang berpura-pura tidak ada apa-apa."Kok nggak mau makan? Nona mau saya suapin?" Andri dengan lembut. Nasi goreng yang tak bersalah hanya diaduk-aduk seperti hati Bellanca yang sedang diaduk-aduk Andri dengan sikap dingin.
"Bisa berhenti nggak?! jangan panggil aku Nona!" teriak Bellanca yang sudah tersulut emosi.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu