Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 29



Ferdinan, Riana dan Winata saling berpelukan atas hamilnya Bellanca. Menurut Ferdinan adalah kabar bahagia.


"Nona, jaga baik-baik kandungannya. Karena masih masa awal kehamilan harus dijaga. Tuan Andri harus jadi ayah siaga," goda dokter Rachel.


Diluar ruangan obgyn, diruang tunggu Sisi sangat khawatir. Takut terjadi masalah didalam hanya bisa modar-mandir berjalan diluar ruangan."Kenapa kak? panik? pasti aku yang akan menang," ucap Monica.


Sisi menatap Monica,"jangan sok tahu kamu! Bellanca saja belum keluar ruangan."


Tidak jauh dari sana Randi dan Renita menatap binggung. Kenapa Sisi dan Monica bertengkar. suami Sisi mencoba melerai. Saat pintu terbuka Andri berlari memeluk Sisi. Andri berbisik ditelingan Sisi,"kak aku akan jadi ayah."


Flashback on


Saat Bellanca berpamitan ingin istirahat dikamarnya. Dia berjalan kemeja riasnya melihat kalender ada tangal yang ia lingkari."Seharusny, minggu lalu aku datang bulan. Tapi sekarang belum datang bulan," batin Bellanca.


Bellanca mencari ponselnya. ia searching ke dunia maya. Tanda-tanda yang dia rasakan."Apa benar aku hamil?" Bellanca bermonolog.


Bellanca memesan alat test kehamilan melalui aplikasi online. 30 menit kemudian pelayan mengetuk pintu dan memberikan pesanannya. Tangannya merasa bergetar saat membawa kekamar mandi. Bellanca mencoba memasukkan alat test kehamilan kewadah kecil. Ia tunggu.


satu menit


dua menit


tiga menit


Enggan membuka mata, rasanya berat sekali saat matanya terbuka. Jedar, rasanya seperti tersambar petir saat matanya terbuka. Ya, hasilnya positif. Bellanca binggung harus bahagia atau bersedih.


Flasback off


"Seriously?!" teriak Sisi penuh kebahagian menanggis dan terharu.


Monica mendengar pernyataan Andri melemas dan terjatuh terduduk."Tidak mungkin! kamu bayar berapa dokter itu Bellanca!" teriak Monica yang sangat marah.


Orang-orang yang berada diruang tunggu semua berdiri melihat Monica sedang histeris. Winata coba membangunkan Monica untuk berdiri. Winata berpikir jika Monica terlalu terobsesi kepada putranya.


Andri cepat membawa Bellanca pergi dari sana. Ia takut nanti Bellanca bisa stres dan mengganggu calon buah hatinya. Yang lainnya juga ikut pergi kecuali Sisi, Robin dan Winata."Udah deh, enggak usah drama! apa perlu aku bawa kamu ke RSJ? agar tidak mengganggu hidup kami." Tanpa menunggu jawaban Monica. Sisi memilih pergi dengan Robin. Hanya dengan Winata, Monica dirumah sakit.


"Papa sudah bilang tadi dimansion. Jangan buat masalah. Jika sudah terjadi seperti mau gimana lagi? kamu harus iklaskan Andri," ucap Winata penuh perintah.


Monica tetap tidak terima jika Andri bersama Bellanca."Aku akan bunuh bayi itu!" batin Monica dengan mata nyalang melihat sekeliling.


Diluar sana didalam mobil perjalanan pulang. Andri menggemgam tangan Bellanca rasanya tidak ingin berpisah."Aku merasakan seperti mimpi." Bellanca menoleh menghadap Andri.


"Kamu bahagia?" tanya Andri.


"Jangan ditanyakan lagi, pasti aku bahagia. Pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi," ucap Bellanca.


"Kenapa sayang? kamu rindu tidur bersama ku?" goda Andri. Bellanca langsung memukul bahu Andri."Ngaco kamu," Bellanca tersipu malu.


"Tuh liat muka mu. Udah memerah gitu. Hayo ngaku?"


"Apaan sih." Bellanca keluar dari mobil. Ferdinan dan Riana sudah menunggu didepan pintu utama. Untuk menyambut Bellanca dan Andri. Ferdinan rasanya ingin memberondong pertanyaan. Kenapa bisa terjadi seperti ini, hamil diluar nikah rasa penasaran menyelimuti.


"Tuan, saya ingin pamit pulang. Karena sudah malam," ucap Andri.


"Kenapa buru-buru? saya ingin mengobrol dengan mu. Ayo,kita masuk. Jangan panggil saya tuan lagi. Papa saja sama seperti Bellanca," Ferdinan tadinya ingin memaki-maki Andri tapi tidak tega.


Semua masuk ke dalam mansion. Berkumpul diruang keluarga."Ehem," Ferdinan membuka suara."Sebenarnya saya ingin berbicara penting. Kepada kalian, kenapa kalian bisa seperti ini? lepas kendali sampai hamil diluar nikah?"


Bellanca dan Andri hanya bisa menelan ludahnya masing-masing. Andri ingin menjawab binggung mulai dari mana. Karena meraka pun tidak berpacaran.


"E-anu pa, e-anu," Bellanca tergagap ikut binggung mau mulai dari mana.


Ferdinan hanya bisa menggangguk mendengar penjelasan Randi."Sudah malam saya pamit pulang Tuan," pamit Andri.


"Kamu tidak ingin menginap disini? sudah malam, takut dijalan ada apa-apa," rayu Ferdinan.


Andri menolak. Tetap ingin pulang Bellanca melihat dari kejauhan dengan wajah masam."Aku antar Andri keluar ya pa," Bellanca dan Andri berjalan beriringan.


"Kenapa enggak tinggal menginap saja," rayu Bellanca.


"Wah, nona ku ini. Sudah pandai merayu ternyata?" goda Andri. sekilas Bellanca memukul dada Andri. Andri mencium kening Bellanca. Masuk kedalam mobil dan pergi. Saat berbalik Randi menunggu dipintu utama.


"Ngapain? ada sesuatu?" tanya Bellanca.


"Enggak ada kak," tiba-tiba tangan Randi mengusap perut Bellanca."Maafin om ya dek. Gara-gara om kamu hadir diantara kita."


Bellanca menepis tangan Randi."Gila kamu ya? mana dia ngerti?"


"Kakak. Aku mencoba bertelepati dengan calon keponakan ku."


Bellanca pergi meninggalkan Randi."Dasar aneh. Jangan kamu tiru om mu ya sayang." Bellanca mengusap-usap perutnya.


Dipagi hari Riana mengetuk pintu kamar Bellanca. Tidak ada jawaban, akhirnya masuk dalam kamar Bellanca. Riana melihat Bellanca tertidur pulas sampai tidak bangun bergerak pun tidak.


"Sayang bangun. Ini udah pagi nanti kamu kesiangan? ini sudah pukul 07.00 pagi," Riana menggoyang-goyangkan badan Bellanca.


"Aku masih ngantuk ma. Tadi pagi aku mual-mual dari pukul 05.00 pagi sampai sekarang. Ini baru selesai ma." Bellanca mengusap-usap matanya.


"Mama buatin teh hangat ya? agar lebih enakan diperut. Atau wedang jahe?" tanya Riana.


"Terserah mama aja. Aku istirahat sambil nunggu minumannya. Pusing sekali ma," ucap Bellanca.


Riana keluar kamar dan bertemu Renita."Mau kemana sayang? sudah rapih gitu?"


"Mau kuliah tan. Eh ma," Renita menggaruk tengkuknya tidak gatal.


Tiba-tiba Randi keluar dari kamarnya merangkul bahu Renita."Ayo, sarapan pagi. Nanti berangkat ke kampus kita sama-sama," perintah Randi.


Randi meninggalkan Renita tanpa menunggu jawaban. Renita menatap Randi dengan cengo."Itu orang kesurupan apaan si? mau nganter ke kampus," batin Renita.


"Sayang," panggil Riana.


"a-apa ma?" Renita tergagap.


"Kamu ngelamun apa sayang? mama panggil-panggil enggak denger?" Riana memegang bahu Renita.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu