Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 34



Randi yang masih mematung melihat Bellanca menghilang dibalik pintu kamarnya."Jadi Renita cemburu? jadi dia juga menyukai ku." Randi tersenyum dan bersemangat.


Randi mencoba mengetuk pintu kamar Renita 3 kali. Tidak ada jawaban lalu Randi memegang handle pintu ternyata terkunci. Dengan tidak sabarnya Randi berlari menuruni tangga cepat-cepat menemui pelayan. Untuk meminta kunci cadangan."Cepat carikan saya kunci cadangan kamar Renita, Susi!" teriak Randi.


"I-iiya Tuan, tunggu sebentar." Susi tergagap takut melihat Randi penuh emosi.


"Lama sekali kamu Susi." Randi menatap dengan tajam.


"I-ini Tuan." Susi memberikan kunci cadangan kepada Randi.


Randi langsung berlari menuju kamar Renita. Randi memasukan kunci ke handle pintu. Akhirnya pintu terbuka Randi dengan pelan membuka pintu. Renita terlihat sedang asik dengan laptopnya mengerjakan tugas kuliahnya.


"Om kenapa kesini? ganggu aku ngerjain tugas aja. Aku lagi nggak pengen liat Om. Udah sana pergi." usir Renita tanpa berpaling dari laptopnya.


Randi mengunci pintu kamar Renita dan mendekatinya secara perlahan." Re, maafin aku."


"Memang Om salah apa? kenapa minta maaf?"


Deg, jantung Randi terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Tanpa disadari Randi mengakui kesalahannya. Lidahnya terasa kelu sulit sekali ingin bicara."Salah kayanya gue. Ngomong kaya gini." batin Randi.


"Kenapa kamu marah sama ku?" Randi mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Pikir aja sendiri!" Renita tetap diterpaku dengan laptopnya.


"Re, aku bukan cenayang. Yang harus tau apa kamu pikirkan." Randi berpura-pura tidak tahu kesalahannya.


Renita langsung menutup laptopnya turun dari ranjang lalu mendekati Randi."Om seneng kan tadi suap-suapan sama kakak cantik." Renita Sambil menunjuk-nunjuk muka Randi.


"Oh, jadi kamu cemburu dengan Sonya?" Randi menaik turunkan alisnya.


"Untung ni Bocil ngomong duluan. Kalo nggak, nggak bakalan kelar urusan. Nggak perlu malu gue." batin Randi.


"Apaan si Om naik turunin alis. Nggak usah mesum ya!" teriak Renita agak menjauh dari Randi.


Randi pun mengikuti Renita pergi,"apaan si Om ngikut mulu." Renita mendorong tubuh Randi agar menjauh.


Randi memeluk tubuh Renita,"aku janji nggak akan selingkuh. Atau berbuat mesra dengan wanita lain seperti tadi."


"Bentar-bentar," Renita melepas pelukan Randi."Kenapa Om janji? aku kan bukan siapa-siapa Om kali." Renita mencoba memperjelas hubungan mereka.


"Aku nggak mau kita pacaran."


Jedar, seperti tersambar petir Renita yang rasakan."Yaudah terus ngapain Om peluk-peluk aku. Sana pergi!" Renita membalikan tubuhnya.


"Pacaran nggak mau. Malah peluk-peluk emangnya gue perempuan gambangan." batin Renita.


Rasanya Randi ingin tertawa melihat tingkah Renita yang ngambek tidak jadi pacaran. Randi membalikan tubuh Renita agar menghadapnya. Randi merangkup wajah Renita.


"Kamu akan jadi istri ku. Nanti aku akan bicara dengan papa. Soal hubungan kita."


Tanpa aba-aba Randi mencium Renita dengan lembut. Hati Renita begitu tenang mendengar pernyataan Randi. Sentuhan lembut yang Randi berikan membuat Renita menuntut lebih. Ketika Randi ingin berbuat lebih suara ketukan pintu berbunyi. Menghentikan aktifitas mereka yang mulai memanas.


"Iya, mbak Susi." teriak Renita.


"Maaf, Non. Dipanggil Nyonya dan Tuan untuk makan siang bersama." sahut Susi.


"Sialan, Susi ganggu orang mau ***-***." batin Randi mulai tak bersemangat.


"Ayo Om, kita turun kebawah. Nggak enak ditunggu sama semua orang nunggu kita." Renita menarik tangan Randi.


Saat Renita dan Randi keluar dari kamar. Bellanca sudah didepan pintu."A-aaa." teriak Renita kaget.


"Kakak itu ngapain? didepan pintu." ucap Randi dengan santai.


Bellanca menjewer telinga Randi."Kamu sendiri ngapain? dikamar anak gadis?"


"Sakit kak!" teriak Randi sambil mengusap-usap telinganya.


Renita menutup mulutnya hampir tertawa melihat Randi ditindas Bellanca.


"Ketawa aja, nggak usah ditahan Re." ucap Bellanca.


Renita langsung menengok ke arah Randi dengan tidak enak hati. Memilih buru-buru turun ke bawah.


"Lah, malah kabur itu anak. Bukan belain aku." sahut Randi.


"Sialan, selalu jadi bahan ejekan kak Bellanca." Randi bermonolog.


Randi berjalan dengan menundukkan kepalanya tanda tak bersemangat makan siang. Dimeja makan Randi hanya diam saja.


"Ehem," suara deheman Ferdinan.


Tapi Randi tetap tak menjawabnya tetap diam."Ran." ulang Ferdinan. Tetap sama tidak ada tanggapan hanya mengaduk-aduk sayurnya."Randi Hendriwan!" teriak Ferdinan.


"Apa sih pa. Teriak-teriak." sahut Randi.


"Papa panggil dari tadi apa kamu tidak mendengarkannya?" tanya Ferdinan.


"Lagi nggak bersemangat, lagi males." Randi berdiri meninggalkan meja makan.


Semua orang yang dimeja makan binggung dengan tingkah Randi yang kekanak-kanakkan.


Ferdinan menaikkan alisnya sebelah menatap perginya Randi.


"Sudah pa, ayo makan. Nggak usah ngurusin Randi. Biar Renita membawakan makan siang untuk Randi. Mungkin Randi lagi nggak enak badan." Bellanca mencoba mencairkan suasa canggung.


Riana mengusap tangan Ferdinan."Iya pa, ayo sayang kita makan saja."


Bellanca menaikkan turunkan alisnya dan tersenyum. Maksud dari itu Bellanca memberi kode. Jika Renita harus menuruti katanya tadi. Renita hanya menelan ludah rasanya berat masuk kamar Randi. Seperti masuk kadang buaya takut akan buaian kata-katanya.


Bellanca menepuk pundak Renita,"Gimana Re?"


Renita hanya menggukkan kepala rasa enggan menjawab Bellanca. Bellanca langsung tersenyum,"Makasih, tante."


"Kamu kenapa sayang?" tanya Riana.


Renita hanya menggelengkan kepala kepada Bellanca. Itu tanda kode jangan beritahu yang lain tetang rahasianya dengan Randi.


"Ah, mama. Belum saatnya tau. Ini urusan anak muda." Bellanca tertawa.


Riana berdiri membelai rambut sang puteri,"mama bahagia sayang melihat mu tertawa seperti ini."


"Memang kak Bellanca tidak pernah tertawa ma?" tanya Renita dengan polosnya.


"Ya, pernahlah Re. Cuma aku jarang." sahut Bellanca.


"Kakak mu ini juteknya minta ampun. Dia itu mau tertawa jika membully Randi. Pasti ini ada sangkutannya dengan Randi. Hayo ngaku?" Riana mulai curiga.


"Udah ah ma, Bellanca mau istirahat ke atas."


"Sayang, kamu harus jaga kesehatan mu 3 hari lagi hari pernikahan mu." sahut Riana.


Bellanca pergi menaiki tangga untuk ke atas. Riana dan Ferdinan asik berbincang. Renita mempersiapkan makan siang Randi untuk dibawa ke kamarnya. Saat menaiki tangga Renita sedikit gugup.


"Kenapa aku gugup gini ya? bukan pertama kalinya aku masuk kamar om Randi." batin Renita.


Di ketuk pintu kamar Randi.


Tok! tok! tok!


"Siapa!" teriak Randi.


Bersambung...


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu