Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Bab 6



Andrew mengejar Bellanca yang sedang berlari dengan Andri. "Bell stop, Bell. Tolong kasih aku kesempatan buat mengenalmu lebih dekat lagi." Andrew menarik tangan Bellanca hingga hampir terjatuh, untung Andri sigap menarik tangan Bellanca hingga tidak terjatuh.


"Lepaskan Andrew, jangan pernah sentuh aku! Sering kali kukatakan, aku tidak mau bertunangan dengan mu! Kamu tidak pantas untukku!" Bellanca menatap sinis Andrew.


"Apa salahku, Bell? Kamu tidak mau bertunangan denganku? Apa aku masih kurang tampan? Atau kaya? Sampai-sampai kamu tidak mau memberiku kesempatan?" ucap Andrew dengan mengiba.


Bellanca tanpa menjawab pertanyaan Andrew, memilih untuk pergi dengan Andri. Di dalam mobil Bellanca hanya menyandarkan kepala di kursi mobil sambil memijat pelipis kepalanya merasa pusing tiba-tiba.


"Nona, baik-baik saja?" tanya Andri sambil memegangi kening Bellanca. Tanpa sengaja mereka berdua beradu tatapan beberapa detik, menjadi canggung.


"Aku sedikit pusing. Kamu punya rumah? Tolong bawa aku ke tempat tinggalmu. Aku mau istirahat sebentar, bolehkan?" tanya bellanca. Menatap Andri dengan ekspresi memelas.


"Saya hanya tinggal sendirian di apartemen, Nona," terang Andri sambil melajukan mobilnya.


Andrew yang diacuhkan oleh Bellanca tanpa sadar tercipta kepalan tangan. "Lihat saja kamu, Bellanca. Akanku pastikan kamu akan menyesal. Atas perbuatanmu ini, yang telah menolakku." Andrew mulai geram.


****


Randi duduk santai sambil memainkan ponselnya. Ia sedang menunggu kedua sahabatnya datang, mereka bertiga berjanji untuk berkumpul. Randi lama-kelamaan ia kesal karena Dimas dan Thomas lama sekali datangnya.


"Sorry, lama," ucap Dimas sambil cengengesan, lalu diikuti oleh Thomas mereka berdua langsung duduk.


"Hem." Hanya berdehem saja jawaban Randi. Membuat Dimas dan Thomas merasa bersalah.


"Tumben lo, Ran. Ngajak gue nongkrong?" tanya Dimas sambil membolak-balikkan buku pesanan.


"Senin gue udah kerja di perusahaan Bokap. Gara-gara kejadian gue nolak kado dari Macan Betina. Dapet hukuman jadi karyawan biasa plus enggak dapet uang jajan. Miskin gue sekarang miskin! Kaya lo orang. Males bener ketemu Macan Betina! Hampir 24 jam buat gue frustasi. Dia sekarang lagi sakit gue tinggal," umpat Randi yang mengeluarkan isi hatinya.


"Parah lo, Ran. Menghina kita miskin. Memang iya sih." Thomas terkekeh. "Kakak lo tinggal sendirian di rumah? Kalo kenapa-kenapa gimana coba? Tahu sendiri Kakak lo marah, ngeri-ngeri," ucap Thomas bergidik ngeri membayangkan Bellanca marah.


"Tenang, gue titipin ke sekretarisnya, jadi aman," ucap Randi dengan santai tanpa berdosa. Entah apa yang dipikirkan Randi merasa tertekan.


****


Sampai di apartemen Andri, Bellanca ingin keluar dari mobil. Ternyata Andri cepat-cepat membukakan pintu mobilnya lalu Andri ingin membantu Bellanca keluar dari mobil. Namun, Bellanca menolaknya.


"Saya bisa jalan sendiri, Dri." Bellanca sambil mengamati apartemen Andri yang begitu mewah membuat Bellanca terpukau.


Ini orang dapet duit dari mana coba? Apartemen semewah ini, mana mampu Andri beli? jangan-jangan open BO lg, itu orang, batin Bellanca bergidik ngeri.


"Nona," panggil Andri.


"Emb, iya," jawab Bellanca sedikit terkejut.


"Ayo, kita masuk ke dalam, Nona," ajak Andri, Bellanca pun mengikuti Andri masuk ke dalam Apartemennya.


"Nona, bisa beristirahat di ruang tamu. Jika Nona butuh sesuatu bisa panggil saya, saya akan menunggu di luar, Nona," ucap Andri sambil tersenyum lalu melangkahkan kakinya membukakan pintu kamar tamu untuk Bellanca.


Bellanca duduk tepi ranjang, "Kamu tinggal di sini, sendirian? Memangnya pacar kamu weekend tidak datang menemuimu?" Bellanca memberondong pertanyaan, Bellanca sambil mengamati seluruh ruangan yang bercat warna biru muda penuh dengan barang-barang estetik.


"Saya tinggal sendiri Nona, saya masih single. Saya tidak mencari pacar, Nona. Yang saya butuhkan adalah istri, Nona. Tapi, mana mungkin ada yang mau, sama laki-laki seperti saya ini?" ucap Andri, entah mengapa Bellanca mendengar pernyataan Andri hatinya merasa tenang.


"Tinggalkan saya di sini sendirian, Dri. Kamu bisa keluar untuk beristirahat juga," usir Bellanca. Andri pun menuruti kemauan Bellanca.


Waktu terus berputar dengan cepat, pukul 12.00 menunjukkan waktunya untuk makan siang. Andri mencoba mengetuk pintu kamar yang ditempati Bellanca, beberapa kali Andri mengetuk tidak ada jawaban. Akhirnya Andri masuk ke kamar Bellanca, yang ternyata tidak di kunci olehnya. Andri mendekati Bellanca sambil mengamati setiap inci wajah ayu Bellanca begitu mempesona menurut Andri. "Cantik," lirih Andri, Bellanca yang mendengar suara Andri ia langsung membuka matanya. Saat mata terbuka mereka berdua saling bertatapan, membuat Andri canggung langsung kembali ke posisi semula lalu sedikit menjauhi Bellanca.


"Maaf, Nona. Saya telah lancang, saya hanya ingin membangunkan Nona saja, ini sudah waktunya makan siang," ucap Andri sambil mencoba menenangkan jantungnya seperti ingin meledak.


"Ok, tunggu saya di luar. Saya mau membersihkan wajahku terlebih dahulu." Bellanca bergegas masuk kamar mandi. Sedangkan Andri pergi menyiapkan makan siang untuk Bellanca, hasil masakannya sendiri.


"Emb, enak," cicit Bellanca.


"Saya masak sendiri, Nona."


"Seriously, ini benar kamu yang masak, Dri? Benar-benar suami idaman," puji Bellanca sambil mengunyah makanannya.


"Andai saja ada wanita yang bisa menerima saya apa adanya, Nona. Dengan umur saya yang segini, seharusnya saya sudah menikah," ucap Andri. Bellanca hanya bisa terdiam menanggapi Andri, ia binggung harus berbicara apa.


Selesai makan Bellanca membantu Andri membereskan meja makan. "Saya sudah cocok jadi istri belum, Dri?" tanya Bellanca, spontan mengangetkan Andri.


"S-sudah, Nona," jawab Andri dengan gugup. "Nona, akan memilih Tuan Andrew atau Tuan Reyno?" tanya Andri penasaran.


"Nggak pa-pa, Nona. Hanya ingin tahu saja," ucap Andri.


Bellanca bukannya menjawab malah pergi meninggalkan Andri yang berada di meja makan. Bellanca menuju wastafel untuk mencuci piring. Saat berjalan ia berpikir keras untuk memilih siapa yang akan ia pilih.


"Belum ada yang bisa meyakinkanku, Dri." Terlihat wajah Bellanca tadinya berseri menjadi murung.


Andai aku bisa meyakinkanmu, Nona. Aku ingin sekali bersamamu selamanya. Membuatmu bahagia bersama anak-anak kita, gumam Andri di dalam hatinya.


Andri mendekati lalu memegang kedua lengan Bellanca, ia berkata. "Pasti akan ada orang yang mencintaimu, Nona," ucap Andri seraya menenangkan hati Bellanca.


Kenapa jantung ini, harus berdetak lebih cepat, Tuhan? Perasaan apa ini, batin Bellanca mulai bertanya-tanya, Bellanca sedikit gugup menghadapi Andri.


****


Sampai di rumah, Randi bertanya kepada asisten rumah tangga. "Macan Betina lagi apa, Bik?" tanya Randi sambil berjalan.


"Nona muda tidak di rumah, Tuan. Tadi Nona pergi bersama Tuan Andri," jawab Bik Nurmi. Randi yang yang penasaran dengan ucapan Bik Nurmi ia langsung mengirim pesan kepada Andri, untuk menanyakan keadaan Bellanca.


Andri


Kak, kamu bawa ke mana Macan Betina? Apa dia sudah sembuh dari sakitnya?


Pesan pun terkirim Randi sedikit khawatir dengan sang kakak. Andri yang sedang asik menonton televisi tidak mendengar bunyi notifikasi. Randi di rumah hanya berjalan ke sana kemari, sambil menunggu balasan dari Andri yang membuatnya uring-uringan.


"Lama banget sih, Kak Andri ini, kalo menelepon, nanti ketahuan Macan Betina, kan gengsi." Randi bermonolog. Beberapa jam kemudian baru Andri membalas pesan Randi.


Andri


Nona baik-baik saja Tuan, dia sedang asik menonton televisi. Nona sedang berada di apartemen saya Tuan.


Kemudian Randi yang sedang duduk di sofa, ia membaca pesan dari Andri terkejut. "Ngapain mereka berdua di apartemen? Jangan-jangan, kenapa otakku ini terlalu kotor sih! Mana mungkin Macan Betina mau sama sekretarisnya." Randi bermonolog.


****


Andri mendekati Bellanca. "Nona, Tuan Randi mencari Anda, ia menanyakan keadaan Anda?"


Bellanca langsung pindah posisi tidur di sofa. Rasanya ia enggan menanggapi Andri, rasa nyaman ia rasakan di tempat Andri.


"Saya ingin bermalam di sini, sangat nyaman rasanya." Bellanca melihat ponselnya, apakah Randi menghubunginya. Dan ternyata tidak, sama sekali tidak ada pesan atau telepon.


"Kalo saya khilaf bagaimana, Nona? Kita hanya berdua loh, atau Nona mau jadi istri saya? Bolehlah tinggal di sini," canda Andri sambil tertawa, membuat Bellanca merinding.


Bellanca yang tadinya tidur langsung terbangun duduk. "Antar saya pulang sekarang!" Wajah Bellanca terlihat jengah.


Saat berjalan menuju lift, sampai di depan pintu lift. Pintu terbuka di dalam sana ada seorang wanita menyapa Andri. "Hay Dri, sekarang aku tinggal di sini, kita akan sering bertemu," ucap Monica melingkarkan tangannya di lengan Andri.


Andri dengan cepat menghempaskan tangan Monica, lalu ia berkata. "Kamu nggak liat, di samping saya, ada pacar saya." Tanpa persetujuan Bellanca, Andri meraih pinggang Bellanca agar selalu di dekatnya yang sengaja membuat Monica cemburu.


Bellanca yang mengerti kemauan Andri, ia langsung berkata. "Kenalin saya, Bellanca. Pacar dari, Tuan Andri Rahardian." Bellanca mengulurkan tangannya kepada monica. Bahkan monica bukannya membalas uluran tangan Bellanca. Malah meninggalkan Bellanca ketika pintu lift terbuka.


Bellanca bukannya marah malah terkekeh melihat tingkah Monica yang kesal kepadanya. "Gimana tadi aktingku? Meyakinkan nggak? Sepertinya kalian berdua kenal dekat?" tanya Bellanca dengan memberondong banyak pertanyaan.


"Hanya teman saja, Nona. Nggak lebih dari itu, maaf tadi saya lancang mengaku-ngaku menjadi pacar Anda," ucap Andri sambil menatap Bellanca.


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu