
Didalam mobil begitu canggung yang dirasakan Renita. Didalam mobil bersama dua sejoli yang masih terdiam yang satu fokus dikemudi yang satu asik main ponsel. Renita menepuk keningnya secara sekilas. Renita berdehem mencoba mencairkan suasana dan membuka pembicaraan.
"Kak, bukannya kita ke butik ya? kenapa lewat sini?" tanya Renita.
"Jemput Randi." sahut Andri dengan singkat.
"Ini orang pelit banget sih ama suaranya. Jawabnya singkat banget. Kenapa kak Bellanca bisa jatuh cinta sama kak Andri yang kaya kulkas gini? kaya nggak ada pria lain aja." batin Renita sambil menatap muka Andri lewat spion tengah.
"Ada masalah?" tanya Andri sadar jika Renita memperhatikannya.
"T-tidak kak." Renita gugup ketahuan memperhatikan Andri.
Bellanca tertawa melihat tingkah Renita."Kenapa gugup sayang? pasti aneh ya Andri?"
"Kakak kenapa sih bisa jatuh cinta sama kak Andri?" Renita mendekati Bellanca yang duduk dikursi depan sambil berbisik ditelinganya."Kaya kulkas dingin banget." Renita dan Bellanca langsung melirik Andri.
"Saya dengar Renita." sahut Andri.
Gelak tawa Bellanca memenuhi seisi mobil. Yang menurut Bellanca sangat lucu."Kamu ya Re. Lucu banget." Bellanca sambil menutupi mulutnya ingin menahan tawanya.
Tanpa sadar Andri tersenyum baginya melihat Bellanca bisa tertawa lepas seperti ini adalah momen penting. Yang biasa Andri lihat adalah Bellanca hanya marah-marah jika diperusahaan. Banyak perkerjaan tidak beres diperusahaan.
"Kenapa kak Andri tersenyum melihat kak Bellanca?" tanya Renita tampak binggung.
"Makasih ya." jawab Andri.
"Hah." Renita menautkan kedua alisnya tambah binggung."Maksud kakak apa?" tanya lagi.
"Semenjak ada kamu marah-marahnya berkurang." Andri menahan tawanya.
"Andri!" teriak Bellanca memukul pundak Andri lalu merajuk.
"Oh, gitu." Renita dengan polosnya.
******
Diapartemen Randi baru saja selesai mandi hanya mengenakan kimono saja. Suara bell terus berbunyi menandakan ada tamu menunggu diluar sana. Dengan entengnya Randi melangkah ke depan membuka pintunya tanpa mengintip siapa yang datang. Randi kira adalah Renita yang datang ternyata adalah Sonya. Randi kaget dengan kedatangan Sonya yang menemuinya.
"Hai, Ran." sapa Sonya.
"Masuk So. Ada apa kamu ke sini?" tanya Randi berpura-pura tidak tau. Jelas ke datangan Sonya adalah membawa masakan.
"Aku masak sesuatu untuk kamu makan. Aku lihat pembantu kamu tidak ada pagi ini. Untuk berbelanja." ucap Sonya dengan berjalan menuju meja makan.
Sedikit geram Randi mendengar Renita disamakan dengan pembantu. Walau penampilan Renita sederhana tidak seglamour Sonya. Tapi menurut Randi Renita cukup menarik dimatanya. Gadis unik , dewasa kadang tingkahnya polos saat berbicara. Terlalu jujur saat berbicara tanpa dilebih-lebihkan.
"Kenapa kamu berpikir gadis yang kemarin itu pembantu? Apa karena penampilannya? atau ada hal lain yang membuat mu berpikir seperti itu?" Randi mencecar beberapa pertanyaan untuk Sonya.
Sonya hanya bisa menelan ludahnya melihat ekspresi Randi rahangnya mulai mengeras."Bukan begitu Ran. Gadis itu kemarin yang berbicara seperti itu pada ku. Jadi aku nggak salah kan." Sonya berbohong agar Randi tidak marah dengannya.
Sonya mencoba berjalan mendekati Randi ternyata dirinya terbelesit pikiran licik untuk menggoda Randi. Yang sedang memakai kimono begitu seksi dimata Sonya. Drama pun dimulai Sonya berpura-pura tersandung. Dengan sigap Randi menangkap tubuh Sonya. Dan ternyata tubuh Randi oleng mereka berdua terjatuh. Sonya diatas tubuh Randi dan apa yang terjadi ....
*******
"Loh kok kita ke apartemen om Randi?" tanya Renita lagi.
"Saya sudah bilang tadi Re." tegas Andri.
"Iya-iya kak maaf." Renita merasa tak enak hati.
"Sudah-sudah ayo kita masuk." Bellanca menarik tangan Renita Andri mengikuti mereka dari belakang.
Keluar dari lift."Kamu tau password apartemen Randi sayang?" tanya Bellanca.
"Tau kak."
"RANDI!!!" teriak Bellanca dengan tegas.
Renita melemas hampir terjatuh dan meneteskan air matanya. Ya, melihat Sonya diatas tubuh Randi tanpa ba-bi-bu Renita lari meninggalkan tempat. Randi mendengar teriakan Bellanca lansung mendorong Sonya hingga terjatuh. Sonya meringgis kesakitan lalu berdiri mendekati Bellanca.
"Apa yang kalian lakukan Randi! kamu sudah gila ya?!" ujar Bellanca.
"Kakak salah paham. Aku dan Sonya tidak melakukan apapun. Tadi hanya..." Randi belum sempat melanjutkan perkataannya.
Renita masuk ke dalam apartemen lagi dan mengatakan."Kita tidak jadi menikah!" teriak Renita lalu pergi lagi.
Randi mencoba mengejar Renita sampai diluar pintu apartemen. Randi ingat memakai kimono masuk lagi ke dalam apartemen. Melawati Bellanca, Andri dan Sonya dengan muka garangnya Randi masuk ke kamarnya membanting pintu dengan keras.
"Sonya." ujar Bellanca."Sonya." ulangnya sambil memutari Sonya.
Bellanca menyangga dagunya."Kamu berharap sekali ingin bersama Randi. Apa kamu sudah lupa?! jika papa mu sudah berbuat curang kepada keluarga Hendriwan?! Aku tidak sudi punya adik ipar seperti mu."
Bellanca menarik tangan Andri."Ayo sayang." Bellanca pergi meninggalkan Sonya diruang tengah.
"Sialan banget sih bisa ketemu kak Bellanca. Dia adalah penghalang hubuhangan ku dengan Randi. Harus disingkirkan. Apa lagi tadi. Apa calon istri Andri seperti pembantu tidak layak sekali." batin Sonya dengan meremas blousenya.
Pintu terbuka kamar Randi terbuka. Randi yang sudah Rapih ingin mencari keberadaan Renita. Randi berjalan melewati Sonya tanpa menyapa.
"Ran." ujar Sonya.
Randi tak menoleh dan menjawab Randi terus berjalan tanpa melihat Sonya. Sonya meraih tangan Randi,"ran maafin aku. Karena aku ini semua terjadi." Sonya memohon.
Karena otak Randi sedang kalut tangan Sonya dihempaskan."Aku mau pergi. Jika tidak ada lagi kamu boleh pergi."
******
Di dalam mobil Bellanca sibuk menelepon Renita berulang kali Bellanca mencoba menghubungi Renita tidak ada jawaban.
"Dri, Renita ke mana ya? telepon nggak diangkat." Bellanca mulai panik.
"Jangan panik sayang. Mungkin Renita masih menenangkan dirinya disuatu tempat." Andri mencoba menenangkan calon istrinya. Diusap-usap perut Bellanca agar dia ingat dengan calon buah hati mereka.
Bellanca mencoba mengirimi Renita pesan.
Renita
Re, kamu dimana? kakak binggung mencari mu. Kabarin kakak ya kamu dimana? biar kakak jemput kamu.
Pesan pun terkirim, ponsel Renita pun bergetar tapi enggan membuka pesan atau mengngangkat telepon dari Bellanca mau pun Randi. Renita memeluk Intan dan menangis sesegukan.
"Re, cerita Re. Kalo kamu nangis terus aku binggung harus apa? kenapa?" Intan menggoncang-goncangkan tubuh Renita."Atau om setiawan mati? atau siska kecelakaan? atau siapa itu adik siska aku lupa." Intan memberondong banyak pertanyaan.
Bersambung......
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu