Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 19



Andri mendekat menarik tangan Bellanca."Ayo kita pulang?" Andri menggandeng Bellanca.


"Aku pulang dijemput pak dirman Dri."


"Loh kenapa?" tanya Andri.


Bellanca menatap Andri ia rangkup wajah Andri,"Biar hemat waktu sayang. Nggak usah maju-maju itu muka. Jelek tau." Bellanca melepas wajah Andri. Dirangkup wajah Bellanca bersemu merah muda.


"Suruh siapa menggoda ku." bibir Andri mengecup bibir Bellanca. Keluar dari ruang kerja Bellanca senyum-senyum sendiri melihat perilaku Andri yang romantis. Digandeng tangan Bellanca para karyawan yang melihatnya sangat terkejut semua mata tertuju kepada mereka.


Didepan pintu lobi pak dirman sudah menunggu Andri membukakan pintu."Silakan masuk Tuan putri." Senyum Andri begitu menawan.


Sampai dimasion Bellanca bergegas kekamarnya. Langsung masuk kekamar mandi. Bellanca mandi dengan ritual begitu merepotkan bunga tujuh rupa udah kaya mau ngedukun kali padahal cuma pengen wangi didepan Andri.


Bellanca dandan dengan gaya natural memilih liptik merah menyala biar keliatan antagonis agar tidak ditindas monica diacara makan malam nanti.


Suara ketukan pintu menyadar Bellanca dari lamunannya. Maid berkata jika Andri sudah datang. Andri menyadarkan tubuhnya dimobil saat melihat Bellanca dipintu utama berjalan menghampirinya."Sangat mempesona." Tanpa sadar terucap dari bibir Andri.


"Silakan masuk tuan putri," Andri membukakan pintu.


Bellanca menyambut Andri,"Siap pangeran ku."


Didalam mobil Andri sering sekali melirik Bellanca."Malam ini Nona benar-benar sangat cantik sayang." Tangan Andri menggegam tangan Bellanca.


"Dari dulu aku memang cantik. Apa kamu baru menyadarinya!" ujar bellanca kesal. Andri mengusap-usap kepala Bellanca karena gemas dengan perkataannya.


Sampai dimansion calon mertua membuat Bellanca berdegup kencang jantungnya. Andri menggandeng tangan Bellanca. Dipegang erat lengan Andri.


Dimeja makan semua mata tertuju menatap Bellanca karena sangat mempesona dan terlihat anggun. Apa lagi matanya Monica melotot udah kaya mau copot."Sialan kenapa dia malam ini begitu cantik dan mempesona." batin Monica. Tangan Monica meremas sendok yang sedang ia pegang.


"Halo sayang," sapa Sisi sambil cium pipi kanan kiri Bellanca.


"Baik kak." Bellanca tersenyum.


"Pah kenalin dia calon istri Andri." tegas Andri. Sorot mata Andri tidak bersahabat takut winata berkata kasar menyakiti sang kekasih. Sepeninggalan ibunya meninggal Andri tidak akrab seperti ibunya semasih hidup. Pertengkaran masalah sepele tiap kali membuat mereka renggang. Sisi sang kakak satu-satunya untuk Andri mencoba mendekatkannya. Sedih rasanya Sisi melihat keluarga terpecah karena sang adik tidak mau dijodohkan dengan Monica. Tidak ada yang mengalah saling keras kepala ditambah lagi sekarang dihadapan winata ada Bellanca tersenyum.


"Hemm," ucap Winata.


Andri melihat tanggapan sang ayah hanya deheman yang keluar. Ia langsung menggenggam tangan Bellanca dibawah meja agar Bellanca tetap tenang.


"Makan yuk sayang. jangan sungkan-sungkan yang banyak ya?" Sisi dengan lembut.


Monica terus menatap Bellanca tanpa berkedip membuat Sisi geram."Bisa nggak kalo liat orang itu yang sopan?! nggak usah mau copot gitu matanya? biaya rumah sakit mahal apa lagi operasi mata." gelak tawa Sisi memenuhi ruang makan.


"Sisi!" ucap Winata geram.


"Belain terus parasit ini pah!" ucap Sisi berapi-api. Robin memegang tangan Sisi agar tidak terbawa emosi.


"Selesaikan makan malam kalian baru nanti kita bicara." Winata meninggalkan meja makan.


Di ruang utama mansion semua sedang berkumpul. Bellanca menatap Monica tidak suka ingin sekali dia memakan monica hidup-hidup dikira makanan kali.


Belum ada yang berani berkata sepatah kata pun masih menunggu Winata berbicara.


"Kamu pikir papa akan setuju melihat kamu menikah dengan wanita selain Monica?!" tanya Winata.


"Papa mau setuju atau nggak?! Andri tetap akan menikah dengan Bellanca. Sekarang dia sedang mengandung anak Andri pah! papa tega. Liat cucu papa nggak punya ayah. Itu yang papa mau?" teriak Andri dengan menggebu-gebu.


"Apa!" teriak Winata memegang dada sebelah kiri rasanya jantungnya ingin copot.


"Papa!" Teriak Sisi. Robin bergegas menelepon dokter keluarga agar cepat kerumah. Winata dibawa masuk ke dalam kamarnya. Lima belas menit kemudian dokter datang memeriksa Winata.


"Tidak apa-apa, Om Winata hanya syok saja kak. Jagan lupa obat rutinnya harus di minum terus." tegas Romeo Fernando dia adalah adik dari suami Sisi, Robin Fernando.


Bellanca yang diluar kamar hanya was-was akan terjadi sesuatu kepada sang calon mertua. Monica datang menghampiri Bellanca mendorongnya hingga hampir terjatuh. Untung Romeo lewat dengan sigap menangkap tubuh Bellanca.


"Monica! kamu gila ya kamu ingin membunuh anak saya yang masih di dalam perut Bellanca!" teriak Andri dengan geram.


"Ini semua gara-gara Bellanca! saya tidak percaya jika dia hamil! dia harus di periksakan ke dokter!" Monica mengebu-gebu.


"Tenang saja aku sudah membawakan hasil lapnya jangan khawatir." Andri dengan sombongnya.


"Andri sudah gila drama apa yang dia buat malam ini!" batin Bellanca yang masih dipojokan sama Romeo nyemilin batako goreng.


Monica membacanya lemas kakinya dan terjatuh."Ini tidak mungkin! ini tidak mungkin!" ulangnya.


"Sayang ayo masuk kamar papa? papa ingin berbicara dengan kita. Jangan takut aku pasti melidungi mu." tangan Bellanca di tarik Andri.


Terbaring lemah Winata melambaikan tangan agar Bellanca mendekat. Winata memegang tangan Bellanca "Kamu yakin? kamu hamil?" tanyanya dengan lemah.


Bellanca seketika memandang Andri dari kejauhan. Dari mata Bellanca ngode batin harus bohong atau nggak tapi tanggung udah di ujung. Andri hanya menggelengkan kepala mengisyaratkan agar Bellanca mengiyakan. Dosa kali Dri bohongin orang tua belum kena azab kali.


Bellanca menjawab pertanyaan Winata hanya menggangukan kepala. Menetes air mata Winata pedih rasanya kaya dicabein matanya.


"Kapan kalian akan menikah? soal Monica nanti papa bicara dengannya."


Andri berlari memeluk Winata,"terimakasih pah. Secepat mungkin pah satu bulan lagi sudah harus selesai acara yang akan dipersiapkan."


"Jika kamu sudah menikah kembalilah ke perusahaan. Pimpinlah perusahaan papa. Papa mu ini sudah tua." ucap Winata.


"Tenang pa perusahaan akan aku pimpin. Papa istirahat dulu. Aku akan antar Bellanca pulang." ujar Andri.


"Jaga kandungan mu nak. itu cucu ku yang kedua. Setelah Sisi mengalami keguguran. " ujar Winata dengan kaku kaya kanebo kering minta di kasih air bayangin aja guys.


"Iya Om,"


"Kok Om, Papa dong," sambung Winata.


"Iya pa-papa," Bellanca terbata.


Saat diluar Bellanca ditarik Andri masuk ke kamarnya. Bellanca berjalan mengelilingi kamar super besar udah kaya lapangan bola. Dengan cat berwarna silver terlihat elegan.


"Nggak usah macem-macem!" teriak Bellanca.


"Kan ama calon istri ini boleh lah nyicip lagi?" goda Andri. Emang makanan dicicip-cicip.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu