
"Siapa juga yang nangis. Ini itu cuma kelilipan doang Sinta." ucap Bellanca mengalihkan pembicaraan.
Gelak tawa Sinta melihat Bellanca gugup."Sejak kapan sih? sahabat ku ini bisa nervous? udah akui saja."
Bellanca mulai salah tingkah memilih keluar kamar Sinta mengikuti Bellanca."Aku pulang dulu ya Bell. Jangan lupa bayi besar mu dijaga dengan baik yah. Untuk obat dan vitaminnya aku taruh dimeja tadi." ejek Sinta.
"Ih apaan sih Sin. Nggak usah ngaco. Orang aku belum punya anak juga." ucap Bellanca dengan muka bersemu merah muda.
Saat Sinta keluar apartemen dia bertemu dengan Monica."Permisi, dokter dari apartemen Andri? dia sakit??" tanya Monica. Monica mengetahui Sinta dokter dari jas putihnya. Karena buru-buru dari Rumah sakit tidak sengaja ke pakai.
"Maaf anda siapa ya? ini privasi, hanya keluarga orang terdekat yang boleh tau." tegas Sinta.
"Saya tunangannya dok. Seharusnya tadi didalam sana saya yang merawatnya. Malah wanita jahat yang merebut dan merayu tunangan saya dok. Agar bisa meninggalkan saya. Murahan sekali wanita." Monica berakting menangis.
Sinta tidak begitu percaya dengan perkataan Monica menyuruh monica untuk masuk saja."Nona kan tunangannya masuk saja. Atau Nona tidak tau pasword apartemen tunangan anda? atau Nona yakin? jika Nona tunangannya?"
Monica hanya diam saja pergi meninggalkan Sinta. Sinta mengambil ponselnya mengirimi pesan Bellanca.
BELLANCA
Aku di depan apartemen bertemu seseorang yang mengaku-aku tunangannya Andri. Menurut mu gimana?
Bellanca membaca pesan dari Sinta merasa geram."Monica lagi Monica lagi cari masalah banget!" batin Bellanca. Bellanca membalas pesan Sinta.
SINTA
Nggak usah di pikirin Sin. Lihat saja nanti musnah dengan sendirinya. gue santet online!!
Sinta menbaca pesan dari Bellanca hanya menggelengkan kepala."Bisa-bisanya wanita tadi mengajak ribut Bellanca. Sama saja membangunkan macan tidur." batin Sinta.
Bellanca duduk ditepi ranjang saat ingin berdiri tanggan Bellanca di cekal Andri."Mendekatlah," ucap Andri dengan lembut.
Bellanca duduk di samping Andri,"biarkan tetap begini." Andri tidur di pangkuan Bellanca.
Diusap-usap kepala Andri,"setelah minum obat suhu badan mu udah turun Dri." Bellanca mulai tenang.
"Jangan tinggalin aku sendirian." pinta Andri.
Tanpa di sadari mereka berdua tidur bersama. Saat mereka sedang asik tertidur Andri memeluk Bellanca tanpa ingin melepaskan.
" Aaaaaaaa!!!!!" suara teriakan Monica melihat Andri dan Bellanca tertidur satu ranjang.
Andri menguap,"Kamu kenapa bisa masuk! pasti papa yang memberi tahu paswordnya?!"
Bellanca mendengar Monica berteriak langsung bangun."Ternyata ada nenek sihir di sini sayang?" ejek Bellanca.
"Apa kamu bilang! nenek sihir! " teriak Monica.
Andri bangun dari ranjang menarik Monica keluar dari apartemennya. Saat di depan pintu,"Dri, aku itu tunangan kamu! kamu lupa?! hubungan kita dari kecil?! bisa-bisanya kamu mau ngusir aku dari sini. Yang seharusnya pergi itu dia!" Monica menunjuk Bellanca.
"Tapi aku tidak pernah setuju dengan perjodohan kita! sana pergi!" teriak Andri.
Andri menutup pintu apartemen,"Sayang maafkan aku. Jika aku sudah sembuh kita temui papa ku. Kita perjelas hubungan kita. Jangan pernah tinggalin aku." Andri memeluk Bellanca.
Bellanca hanya mengganggukan kepala,"Istirahatlah, ini waktunya makan siang. Akan ku masakan sesuatu untuk kita makan."
"Cie calon istri yang baik. Nyonya Andri semangat ya." goda Andri sambil mengacak-acak rambut Bellanca.
Saat Bellanca asik memasak tiba-tiba Andri memeluknya dari belakang. Aroma wangi tumbuh Andri membuat Bellanca sangat menyukainya."Aku udah bilang. Istirahat dulu sana. Nanti kalo udah kelar masak. Aku panggil deh." Bukannya Andri pergi makin erat Andri memeluk Bellanca.
"Aku pengen kaya gini sebentar aja." Bisik Andri di telinga Bellanca.
Selesai makan siang,"Kamu sekarang udah agak mendingan. Aku pulang aja ya?" ucap Bellanca.
"Nggak mau Nona harus temenin aku di sini sampai Randi menjemput Nona?!" ucapan Andri begitu manja.
Saat Bellanca melangkah arah pintu alih-alih Andri menggendong Bellanca ala bridal style."Andri!! turunkan." Teriak Bellanca sambil memukul-mukul dada Andri.
Andri membawanya ke kamar."Nggak usah aneh-aneh ya! kamu itu sakit tapi kaya nggak sakit sih?!"
Bellanca melihat Andri merajuk merasa bersalah."Iya, maafin aku."
"Sejak kapan Nona minta maaf? waw luar biasa sekali." batin Andri.
Andri berdiri dan memegang tangan Bellanca."Ayo kita duduk di sofa. Sambil nunggu Randi jemput Nona."
Hampir satu jam Bellanca menunggu Randi menjemput. Dan akhirnya bunyi bell berbunyi,"itu pasti Randi." Ucap Bellanca dengan antusias.
"Sorry telat banyak kerjaan tadi. Memangnya kak Andri sudah sembuh? kalo belum sembuh ini macan betina aku tinggal disini aja. Biar tenang aku dimansion." ucap Randi penuh dengan gelak tawa.
Bellanca menoyor kepala Randi,"kalo ngomong pakek otak! kamu mau kakak mu di sini lama-lama bisa di apa-apain. Nanti kalo badan ilang separo gimana? tega ya kamu."
"Lah bukannya udah," dengan kepolosan Randi menjawab. Bellanca menatap tajam Randi rasanya ingin memakannya hidup-hidup.
"Salah lagi kayanya gue," batin Randi.
"Sebelum pulang nggak mau peluk aku dulu? biar aku semangat." goda Andri.
Bellanca hanya melirik Andri dari kejauhan."Tidak terimakasih. aku pulang dulu ya. Jangan lupa obatnya diminum. Bye." Saat Bellanca melangkah tangan di cekal Andri.
"Yaudah aku yang peluk Nona," Andri memeluk Bellanca dan mencium keningnya.
"Dasar manusia nggak ada akhlak! kalian telah mengotori mata ku!" teriak Randi dengan kesal.
****
"Nganterin kak Bellanca pulang ke mansion udah. Terus kenapa sih tu dua kunyuk ngajak ketemu. Nggak tau apa kalo gue ini capek pulang ngantor." Randi bermonolog.
Sampai dibasemant Randi keluar dari mobil."Lama banget sih! mana lo ke acara ultah adek gue pakek baju kantor lagi?! jangan bilang kalo lo nggak baca pesan gue?" ucap Dimas.
"Mana sempet baca pesan lo kunyuk! kenapa lo ngasih taunya dadakan sih. gue nggak bawa kado lagi. Yaudah nanti lo kirim lokasi pestanya di restoran apa? gue cari pakaian dulu sama kado buat intan." ucap Randi.
"Sorry bro, waktu kita diclub kemaren lupa ngasih tau. Yaudah nanti aku kirim nama Restorannya." Dimas dan Thomas pergi meninggalkan Randi.
Saat Randi memilih liontin begitu cantik tanpa di sadari tangan Randi dan Renita saling bertemu memegang liontin yang sama."Eh, ketemu om lagi. Gue duluan tau om! jangan sentuh liontin itu!" ucap Renata.
"Mata lo buta! pria setampan gue sekeren gue, lo panggil om! umur gue baru dua lima tahun!" pembelaan Randi.
"Gadis gila!! kenapa harus ketemu di sini sih!" batin Randi.
Mereka berdua berebut liontin dan akhirnya liontin rusak."Tu kan om rusak. Om sih?! nggak mau ngalah." ucap Renita dengan muka masam.
"Sudah gue bilang! jangan panggil gue om!! lo tuli ya. tenang cuma liotin murah kaya gini doang bisa ku ganti! emangnya lo miskin." ucap Randi penuh emosi.
"Matilah, uang gue mulai menipis. Telepon macan betina mana mau bantuin? mana mahal lagi liotinnya. Sial banget ketemu ini bocil." batin Randi.
Randi berpikir keras minta bantuan kepada ke dua sahabatnya tidak mungkin. Karena dua Kunyuk itu belum bekerja setelah lulus kuliah S2nya. Tiba-tiba Randi punya ide untuk mengirimi Andri pesan.
*******
Kira-kira di bantuin nggak y guys?
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu