Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 26



"Terus mau dipanggil apa? Nona?" goda Andri. Bellanca berdiri meninggalkan Andri sendirian sedang duduk dimeja makan. Bellanca keluar dari apartemen Andri sampai berlari mengejar Bellanca. Bellanca sudah masuk lift hanya bisa mengumpat melihat tingkah laku pacarnya yang dingin.


"Bisa-bisanya Andri giniin aku! liat saja nanti. Apa yang akan aku laku kan." Bellanca bermonolog.


Andri melihat pintu lift masih dilantai bawah begitu lama rasanya jika menunggu diatas. Andri memilih tangga darurat untuk turun ke bawah mengejar Bellanca. Untung cuma lantai 5 coba kalo dilantai 20 Andri bisa patah itu kaki Andri.


Saat Andri dibawah badan agak membukuk memegangi lututnya. Napas yang ngos-ngosan membuatnya ingin pingsan. Laki kok lemah (batin otor).


Bellanca hanya melirik Andri. Andri memandang Bellanca dengan mengiba. Agar dimaafkan tapi apa daya Bellanca malah pergi masuk mobil. Cepat-cepat Andri masuk dalam mobil. Bellanca melirik dengan tajam Andri."Sayang, maafkan aku." Andri memegang tangan Bellanca. Alih-alih bukan menjawab Bellanca memalingkan wajah."Jalan pak dirman."


"Udah dong ngambeknya? aku sedih nih?" sambil tarikin ujung kemeja Bellanca. Andri sudah kaya anak TK kalau minta maaf.


"Hem," jawab Bellanca tanpa memalingkan wajah ke Andri.


"Liat aku," Andri mencoba ternyum manis.


"Bodo amat mau senyum kek nggak kek ah!" batin Bellanca. Jika sudah terluka sembuhnya susah.


Andri berpura-pura memegang perutnya."A-au!" teriak Andri.


Dengan wajah panik Bellanca mengusap-usap perut Andri."Are you ok honey?"


"Nah dari tadi kek, kaya gitu. Udah capek-capek turun tangga dicuekin. Akhirnya drama juga." batin Andri menahan tawa dalam hati.


"Sakit, tadi belum sempet sarapan." Suara manja Andri membuat Bellanca jijik mendengarkannya.


"Yaudah, nanti dibandara kita cari makan ya." rayu Bellanca. Andri hanya menggangguk saat Bellanca menghadap ke depan. Andri tersenyum lebar penuh dengan ke menangan.


Dibandara Riana dan Ferdinan berjalan membawa koper masing-masing. Bellanca melihatnya dari ke jauhan sedikit berlari kecil memeluk sang papa.


"Aku merindukan mu pa." Bellanca berganti memeluk Riana.


"Jadi kamu nggak kangen sama mama?" tanya Riana.


"Ya, kangenlah ma. Ayo, kita ke mobil." ujar Bellanca.


Mereka berjalan menuju mobil Ferdinan membuka suara."Siapa calon suami mu? kenapa kamu tidak mengajaknya menjemput papa?" dengan suara begitu berat dan tegas.


Deg, jantung Bellanca tiba-tiba terasa mau copot."E-e anu pa e-e anu." Tiba-tiba Bellanca tergagap sulit rasanya menjawab pertanyaan Ferdinan. Bellanca lupa jika belum memberi tahu Ferdinan jika dia akan menikah dengan Andri. Mana berpura-pura hamil duluan. Jika Ferdinan tahu matilah Bellanca pasti akan diceramahi 7 hari 7 malam.


"Sudahlah pa, nanti malam undang calon mu makan dimansion ya. Biar mama papa tau." ujar Riana dengan menggelayut dipundak suaminya agar tidak banyak bertanya.


Sampai dimansion, pelayan mengetok pintu kamar Randi agar cepat keluar."Ok, aku ke bawah." ujar Randi.


Renita ikut ke bawah menyabut Ferdinan dan Riana telah kembali dari korea."Dia siapa?" tanya Riana tampak binggung dengan orang asing.


"Maaf, papa lupa memberitahu mama. Dia ke ponakan dari setiawan yang dititipkan ke papa." ucap Ferdinan dengan lembut kepada sang istri.


"Mama kira pacar Randi." ujar Riana. Semua mendengar tertawa kecuali Renita dan Randi yang tersenyum terpaksa. Sifat ke ibuan Riana sangat hangat dan murah hati. Bellanca itu pasti nurun sifat Ferdinan yang hampir 98 persen.


"Salam om tante, saya Renita. Terimakasih sudah mau nampung saya." Renita yang terlihat sedih berbicara sedikit serak. Rasanya ingin menangis kencang. Riana mendekati Renita memeluknya dengan erat seperti ibu dan anak.


"Jangan sedih sayang. Angap saja tante dan om. Seperti mama papa mu." ujar Riana. Renita mendengar perkataan Riana sangat terharu. Jatuhlah air mata dipipi Renita.


"Ih, bocil cinggeng ih. Kaya anak Tk." goda Randi dengan menjulurkan lidahnya. Randi pergi menuju meja makan.


"Dasar anak manja! udah tua kelakuan kaya bocah!" ucap Bellanca gemas melihat tingkah adiknya sampai-sampai ingin memakannya hidup-hidup.


Renita melihat ke hangatan keluarga Hendriwan sangat terpukau. Walau melihat Bellanca dan Randi seperti kucing dan anjing tapi mereka saling mencintai. Rasa iri begitu dalam, jika mengingat keluarga Setiawan.


flashback on


"Hei, Renita! kamu ini gimana sih! kemaren aku suruh nyuci kemeja ku. Ini apa hah!" teriak Siska.


"Memang ada apa kak?" tanya Renita tangannya bergetar memegang sapu.


"Mata kamu buta! ini kelunturan!" ucap Siska dengan menunjuk-nunjuk noda dikemejanya. Siska sangat geram melihat kemeja ke sayangannya rusak. Siska mendorong Renita hingga ke sakitan.


"M-maaf kak. Aku tidak sengaja.Tolong maafkan aku." ucap Renita menitihkan air mata.


Siska mendengar Renita meminta tolong agar dimaafkan bukannya dimaafkan malah melemparkan kemeja."Saya tidak mau tau! ganti kemeja ku dengan yang baru! ini kemeja mahal." titah Siska. Maya adik siska dan ibunya Mira mengompor-ngompori,"hukum aja kak hukum."


"Siska! " teriak Setiawan yang membela Renita.


Siska menatap tajam Renita dan memilih meninggalkan Renita dan Setiawan diikuti Maya dan Mira. Setiawan melihat perilaku Siska miris rasanya. Melihat sang keponakan hampir setiap hari disuruh-suruh oleh anak-anaknya dan istrinya. Ingin menangis karena tak tega akhirnya Setiawan menitipkan Renita kepada ferdinan agar tetap aman.


flashback off


"Cil" tak ada jawaban dari Renita."Cil" ulang Randi menepuk pundak Renita."Hah" Renita dengan cengo.


"Kamu nih, ditanyain mama juga malah ngelamun. Kamu itu mikirin apaan si?" ucap Randi.


"M-maaf tante, eh mama maksudnya." Ucap Renita sedikit canggung.


"Udah Re, nantikan terbiasa kalo sering ngobrol. Andai saja dulu mama ngelahirin anak perempuan pasti aku bahagia. Ada yang diajak shopping. Malah yang keluar anak manja, alay lagi. Bentar lagi mau jadi pemimpin perusahaan bisa nggak? bijaksana dikit tingkah laku kaya ABG" ucap Bellanca dengan gemas.


"Apa si kak! pagi-pagi ngajak ribut." Randi memandang dengan tajam.


"Sudah-sudah, kalian itu kalo ketemu pasti kaya kucing sama anjing ribut terus. Mama pusing liat kalian." Riana mencoba melerai ke dua anaknya yang saling sindir.


"Ma, aku ke kantor dulu ya." pamit Randi mencium pipi Riana dan mencium tangan Ferdinan. Sebelum pergi meninggalkan meja makan Randi dengan iseng mengacak-acak rambut Renita terus berlari.


"Om!" teriak Renita dengan geram.


"Itu-tu pa, yang kaya gitu. Umur 25 tahun masih suka ngisengin orang lain." ucap Bellanca.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu