
"Nggak papa ma. Ayo, ma kita turun," ajak Renita.
"Jangan-jangan kamu terpesona sama Randi ya? Randi anaknya baik lo Re. Perhatian, apa kamu enggak tertarik sama dia?" goda Riana.
Renita binggung mau menjawab apa. Hanya bisa tersenyum kaku."Apaan si ma,"
Dimeja makan Ferdinan melihat sang istri bergandengan dengan Renita. Ferdinan tampak berpikir. Kenapa Randi tidak dijodohkan dengan Renita saja. Tapi Ferdinan takut Randi tak setuju.
"Ma, mana Bellanca? kenapa tidak turun?" Ferdinan tampak khawatir.
"Biasalah pa, hamil muda pasti morning sickness. Yaudah kalian sarapan dulu. Mama mau buatin minuman hangat buat Bellanca," Riana pergi ke dapur.
"Pagi-pagi udah rapih Re?" tanya Ferdinan basa-basi.
"Iya pa, ada jadwal ngampus hari ini."
"Tenang pa, Renita nanti berangkat bersama Randi. Randi antar sampai ke dalam kampus," Randi terkekeh.
"Kamu itu Bercanda terus Ran."
"Hidup itu jangan dibuat serius mulu pa. Ngurusin perusahaan buat aku pusing. Jika dirumah harus tegang lama-lama aku bisa gila," sahut Randi.
Ferdinan hanya menggelengkan kepala. Renita mencium punggung tangan Ferdinan pamit pergi ke kampus. Randi enggan berpamitan dengan Ferdinan memilih menunggu dalam mobil. Didalam mobil,"om ih. Nggak sopan sama papa. Pamitan itu cium tanggan orang tua tau. Bukan nyelonong aja." Randi mengacak-acak rambut Renita.
"Kamu gemesin banget si Re."
"Om, nggak tau si rasanya nggak punya orang tua lagi." Renita menundukkan kepala."Kok aku jadi baper gini?" batin Renita.
Deg, Randi merasa bersalah."Maafin aku ya. Lain kali janji nggak gitu lagi." Randi memberikan senyuman yang sangat manis.
Ranita malah menjadi canggung dan menautkan kedua alisnya."Om kenapa si? mulai dari tadi pagi. Om itu aneh banget. Apa cuma perasaan ku aja? Om jangan-jangan." Renita membrondong pertanyaan.
"Cuma perasaan kamu Cil. Orang aku nggak kenapa-kenapa. Apa coba yang beda? jangan-jangan apa?" Randi asik dengan kemudinya.
Tak bergeming. Renita malah asik dengan lamunannya."Bentar lagi bayar semester. Masih kurang 2 juta. Duet dari mana aku coba? atau aku cari kerja tambahan? Bukannya ke kamaren intan bilang club malam langganannya. Butuh orang buat kerja. Uang kemaren malam diberikan Om Randi masih kurang."
"Cil," panggil Randi."Cil! udah sampek Cil," ulangnya.
"Ok om. Makasih ya." Renita tersenyum sambil membuka pintu.
"Mau kemana kamu?"
"Turunlah om. Mau ngampus." sahut Renita.
"Tukan kamu nggak sopan. Pamit nggak cium tangan," goda Randi.
Renita menggaruk tengkuknya tidak gatal. Meraih punggung tangan Randi dan diciumnya. Renita pergi masuk ke dalam kampus. Intan sudah berdecak pinggang. Siap-siap ingin memberondong pertanyaan tentang Randi.
"Sini aku mau ngomong sama kamu. Sekarang kamu main rahasia-rahasian sama aku," ucap Intan dengan wajah masam.
"Aku binggung mau mulai dari mana tan. Aku lagi pusing juga nih. Bayaran semester kurang. Gimana tawaran kamu kemaren masih berlaku nggak? yang kerja diclub malam. Langganan kamu?" Renita menopang dagu duduk dikelas.
"Oh, mau kerja diclub malam? siap nanti malam aku kenalin sama bosnya. Kak Randi gimana?" tanya Intan.
"Aku nggak ada hubungan apa-apa kok. Cuma orang tuanya ngasih tempat tinggal dimansion. Tau sendiri om ku nggak bisa belain aku didepan anak-anaknya. Tapi aku bersyukur ditolong keluarga Hendriwan. Jika tidak, mungkin aku sekarang masih seperti upik abu dimansion Setiawan."
Intan hanya manggut-manggut mendengarkan cerita Renita."Ok, nanti aku temenin ke club malam.
Dimalam hari Renita dan Intan sudah bersiap ke club malam. Sampai diclub malam walaupun bukan pertama kali Renita diclub malam tapi baginya bekerja diclub malam sangat merepotkan."Gimana aku diterima nggak? kerja disini," tanya Renita.
Intan memberikan baju pelayan begitu seksi kepada Renita. Renita berganti baju ditoilet. Ia berkaca memandangi tubuhnya sangat seksi."Tuhan, mudahkan lah pekerjaan ku ini," batin Renita. Sambil berbidik ngeri.
Intan sudah menunggu diluar."Tugasku sudah selesai. Kamu sendiri disini nggak apa-apakan? aku mau pulang. Kalo ada masalah kamu telepon aku ya."
Renita hanya menggangguk melihat Intan menghilang dibalik pintu."Re, kamu antar minuman ke ruangan 111. Hati-hati kamu. Disana banyak orang-orang besar. Jangan buat kesalahan," ucap Manajer club.
"Siap, pak."
Renita menuju bar mengambil minuman. Ia bawa ke ruangan yang memesannya. Saat membuka pintu tangan langsung bergetar. Karena ada sorot mata menatapnya begitu tajam. Seperti ingin menerkam dirinya.
"Sini minumannya. Tuangkan saya," ucap Remon.
"Baik, tuan," Renita menundukkan kepala karena takut Randi melihatnya dengan tajam.
"Jangan cuman Remon dong yang dituangkan minuman. Aku juga mau," goda Randi.
Saat Renita selesai menuangkan minuman. Ia ingin pergi tapi Randi menarik tangannya hingga Renita duduk dipangkuannya."Maaf tuan aku," tiba-tiba terhenti. Bibir Renita sudah diterkam Randi. Renita hanya mematung melihat Randi sedang asik memainkan bibirnya. Renita berdiri dan mendorong tubuh Randi."Om jangan kurang ajar ya!" teriak Renita.
"Loh 'kan begitu cara menghibur laki-laki diclub malam. Berapa uang yang kamu butuhkan?" tanya Randi.
Renita menampar pipi Randi. Semua orang diruangan itu melihat drama dibuat Randi. Renita berlari keruang ganti untuk berganti baju. Manager datang keruangan Randi mendengar disana ada keributan.
"Maaf tuan Randi. Tadi itu karyawan kami baru saja berkerja. Jika ada kesalahan tolong dimaafkan."
Randi mendengar pernyataan dari manajer. Rasa bersalah apa yang ia lakukan kepada Renita. Pikiran jahat sangat menghantui.
"Mon, bisnis kita bahas besok saja," ujar Randi.
Randi berlari mencari Renita tapi tidak ketemu. Seluruh ruangan diclub malam sudah dicari. Randi mencoba menghubungi Renita tidak aktif ponselnya. Semakin galau tak karuan hati Randi.
Akhirnya Randi memilih pulang."Pasti Bocil pulang kerumah. Maafin aku Cil. Aku salah. Maki aku. Pukul sesuka mu!" batin Randi sambil memukul stir mobil.
"Bang turun disini aja," ucap Renita kepada tukang ojek.
"Non, uangnya kelebihan."
"Udah buat abang aja."
Renita berhenti di depan gang Perumahan elit. Agak jauh dari mansion Hendriwan. Dengan mata sembab ia berjalan menuju mansion Hendriwan. Saat hampir sampai tiba-tiba ada sorot lampu mobil menyorot dirinya. Renita silau karena lampu ia tutupi matanya dengan tangan. Terdengar ada seseorang keluar dari mobil. Berlari dan memeluk Renita dengan erat. Dari aroma parfum Renita sudah menyadari aroma siapa itu.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu