Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 53



"Dia muka tembok Re. Mau di hina kaya apa. Nggak bakal sadar," gerutu Bellanca.


"Oh jadi gitu," jawab Renita dengan polos.


"Yuk masuk ke dalam. Tempat kita perawatan," ajak Bellanca.


"Bentar kak, mau ke toilet dulu ya." Renita tersenyum lalu pamit pergi.


Saat Renita keluar dari kamar mandi, ia ingin mencuci tangannya di westafel. Tiba-tiba ada yang mendorong tubuhnya hampir terhuyung.


"Mampus kamu." Sonya tertawa.


"Apaan si kak!" teriak Renita dengan emosi.


"Kamu pikir, kamu siapa? berani melawan ku," tanya Sonya sambil berkacak pinggang.


"Aku Renita calon istri Randi Hendriwan," jawab Renita dengan bangga.


"Ngimpi kamu. Randi saja tidak bilang apa-apa pada ku." Sonya menyilangkan ke dua tangannya di dada.


"Aku tidak butuh pengakuan mu. Walau pun kamu tidak mengakui hubungan ku dengan om Randi. Tidaklah penting." Renita tak gentar melawan Sonya.


Bellanca yang dari tadi berdiri di belakang Sonya hanya ingin tertawa. Rasa muak yang Bellanca rasakan, ia berjalan mendekati Sonya.


"Berani sekali kamu. Menyutuh calon adik ipar ku," ancam Bellanca.


Sonya terjingkat kaget mendengar ucapan Bellanca di belakang dirinya.


"Kakak salah paham. Dia tadi mendorong ku terlebih dahulu," kilah Sonya.


"Dasar parasit," cicit Bellanca sambil menarik tangan Renita.


Saat Renita melewati Sonya, Renita menjulurkan lidahnya seperti anak kecil. Sonya menatap Renita begitu sengit, ingin ia cakar-cakar wajah Renita.


"Sial banget sih hari ini," gerutu Sonya sambil mencuci tangannya di westafel.


******


Sinta lagi menangani pasien, tiba-tiba ponselnya bergetar. Saat pasien keluar ruangan, Sinta membuka ponselnya ternyata mendapatkan pesan.


+628123xxxx


Save ya, Romeo.


^^^Sinta^^^


^^^Ok siap^^^


Romeo mendapatkan pesan dari Sinta hanya senyum-senyum sendiri. Saat di buka wajah Romeo berubah menjadi masam.


"Ya ampun, cuek banget ini orang," gerutu Romeo sambil menaruh ponselnya di saku jasnya.


*******


Sinta berjalan menuju kamar inap Winata untuk mengecek ke adaan Winata. Saat ingin masuk ke dalam ruangan Sinta melihat Sisi sedang duduk termenung sendiri.


"Halo Kak," sapa Sinta.


"Iya Sin." Sisi berdiri mendekati Sinta.


"Aku mau periksa Tuan Winata dahulu. Nanti kita bicara di ruangan aku ya kak." titah Sinta.


"Oke, aku mau keluar dulu ya." pamit Sisi.


Selesai memeriksa Winata entah kenapa Sinta teringat soal Romeo. Sinta mengambil ponselnya kembali mengirimi Romeo pesan.


Sinta


Sibuk nggak? malem keluar yuk.


Karena Romeo sedang sibuk, ia tidak membalas pesan Sinta cukup waktu yang lama, sangat membuat Sinta uring-uringan. Tiba-tiba bunyi suara ketukan pintu terdengar.


"Masuk!" teriak Sinta.


"Kamu kenapa Sin?" tanya Sisi sambil membawakan kopi hitam panas untuk Sinta.


"Wah, kak Sisi mah pengertian banget sama aku. Lelah gini di bawain kopi hitam panas. Langsung melek ini mata," ucap Sinta sambil meminum kopinya.


"Kamu kenapa Sinta?" Sisi mengulang pertanyaannya.


"Romeo nggak bales pesan aku kak. Bete tau." Sinta keceplosan langsung menutup mulutnya.


"Oh my god. Ini mulut kenapa nggak bisa di kontrol si. Aduh malu," gerutu Sinta dalam hati.


"Kamu kenal Romeo?" selidik Sisi.


Sinta hanya tersenyum kaku karena malu, Sinta lupa kalau Sisi adalah kakak ipar Romeo.


"Iya di kenalin dari Bellanca kak."


Tiba-tiba perawat masuk memberi tahukan jika Winata sudah sadar. Sinta langsung berlari menemui Winata di ikuti oleh perawat di belakangnya. Tanpa sadar Sisi ikut berlari tak ingat jika Sisi sedang hamil muda.


"Kakak!" teriak Bellanca syok berlari memeluk Sisi.


"Papa bangun kak." Bellanca menangis terharu.


Banyak darah yang mengalir di kakinya Sisi, Bellanca yang melihat langsung berteriak memanggil perawat. Perawat pun keluar ke dari kamar inap Winata.


"Ada apa Nona?" tanya Perawat.


"Darah di kaki kak Sisi," ucap Bellanca penuh kepanikkan.


Dengan sigap perawat berlari mengambil kursi roda untuk membawa Sisi. Tak menunggu lama perawat membawa Sisi ke UGD untuk di periksa.


"Re." Bellanca menangis penuh kepanikkan.


"Kakak tenang ya, jangan nangis. Kita telepon kak Andri ya." Renita mencoba menenangkan Bellanca.


Bellanca menyeka air matanya lalu mengambil ponselnya menelepon Andri.


Andri ๐Ÿ“ž"Halo sayang, kenapa? kangen ya." tanya Andri.


Bellanca ๐Ÿ“ž"Ada kabar bahagia dan buruk." Bellanca dengan suara seraknya yang habis menangis.


Andri ๐Ÿ“ž"Jangan buat aku penasaran yank. Coba ngomong pelan-pelan. Kamu abis nangis ya?" Andri sedikit curiga.


Bellanca ๐Ÿ“ž"Kamu buruan ke rumah sakit ya. Papa udah sadar. Tapi." ucapan Bellanca terhenti lalu menangis kembali.


Andri ๐Ÿ“ž"Sayang kamu kenapa?" suara Andri mulai panik.


Renita merebut ponsel yang di pegang Bellanca , Bellanca sulit sekali untuk bicara karena menangis.


Renita ๐Ÿ“ž"Halo kak, ini Renita. Buruan ke rumah sakit. Kasih tau kak Robin jika Kak Sisi pendarahan lagi. Sekarang kakak Sisi lagi di ruang UGD."


Renita mematikan ponselnya mencoba menghibur Bellanca. Sinta keluar dari ruangan Winata binggung melihat Bellanca menangis.


"Ada apa Bell?" tanya Sinta tampak binggung.


Bellanca tetap enggan bicara karena masih sulit untuk bicara.


"Loh, kak Sisi mana?" tanya Sinta lagi.


"Di UGD kak." sahut Renita.


"Loh kok bisa Re?" raut wajah Sinta berubah butuh penjelasan.


"Nggak tau kak." Renita mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Yaudah ayo, kita ke UGD liat keadaan kak Sisi," ajak Sinta.


Renita dan Bellanca berjalan bergandengan mengikuti Sinta dari belakang. Sampai di depan pintu UGD hanya Sinta yang boleh masuk. Renita dan Bellanca menunggu di luar ruangan, ternyata Robin dan Andri datang bersamaan.


"Gimana keadaan Sisi, Bell?" wajah Robin terlihat panik.


"Masih di periksa di dalam kak," jawab Bellanca dengan sendu.


Penantian agak cukup lama 1 jam kemudian, Sinta keluar dari UGD.


"Kita temui kak Sisi di ruangan aja nanti ya. Dia lagi ga sadarkan diri karena obat." Sinta memberi penjelasan.


Mereka semua pun berjalan ke ruangan Sisi yang sudah di pindahkan.


"Gimana keadaan Sisi dan anak ku Sin?" Robin mulai kacau.


"Tadi dokter Intan memeriksa kak Sisi. Kata dia semuanya baik-baik saja, tapi," ucapan Sintan terpotong Robin.


"Tapi apa?!" Robin mulai gusar.


"Sabar kak." Andri mencoba menenangkan Robin.


Robin menghembuskan napasnya dengan kasar, Robin hampir saja terbawa emosi.


Sinta melanjutkan ucapannya."Kandungan kak Sisi sangat lemah. Tolong kak Sisi jangan sampai banyak tekanan, kak."


Robin hanya terdiam tak bergeming, Robin berjalan mendekati Sisi. Robin mencium kening sang istri dengan lembut.


"Sayang, kamu harus kuat," gumam Robin menatap sang istri masih terlelap dalam mimpinya.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku โคโคโค


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu



yuhuu yang ikut promo dm akuโค


kita punya grup pemersatu๐Ÿคฃ