Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 57



"Saya dimana?" tanyanya lagi.


"Dirumah Tuan Romeo, Nona," jelas Bik Nurmi.


"Dimana dia?" tanyanya lagi.


"Tuan berada di kamarnya Nona. Oia, ini di dalam paperbag ada baju ganti. Nona bisa mandi," terang Bik Nurmi lalu pamit pergi dari kamar tamu.


"Aduh, Kenapa pakek ketiduran segala sih," Sinta bermonolog.


Sinta masuk ke dalam kamar mandi, selesai ritualnya ia keluar kamar mencari keberadaan Romeo. Sinta mencoba mengetuk pintu kamarnya tak ada jawaban. Ia membuka pintunya, ternyata tidak ada Romeo saat menyembulkan kepalanya. Lalu Sinta ingin menutup pintunya, Romeo keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk dan telanjang dada. Membuat Sinta terjingkat kaget. Sinta langsung menutup pintu kamar Romeo dengan cepat.


"Ya Tuhan, rezeki dapet pemandangan indah," gumam Sinta dengan pelan lalu turun kebawah.


Beberapa saat kemudian Romeo menghampiri Sinta yang sedang duduk di meja makan. Terlihat di wajah ayunya Sinta sedikit gugup.


"Maaf soal tadi, nggak sopan buka pintu kamarnya. Soalnya aku ketuk nggak ada jawaban," ucap Sinta merasa tidak enak.


"Santai aja kali Sin, kaya apa aja," jawab Romeo.


******


Suara ketukan terdengar di telinga Renita, tapi ia enggan membuka matanya. Pelayan masuk ke dalam kamarnya untuk membangunkannya.


"Nona, ada tamu," ucapnya dengan hati-hati.


"Ya ampun Bik, jam berapa ini? masih terlalu pagi untuk aku bangun," jawab Renita sambil menaikkan selimutnya lalu menutupi wajahnya.


Akhirnya pelayan keluar dari kamar lalu menemui tamu Renita.


"Maaf Tuan, Nona tidak mau bangun dari tidurnya," terang Pelayan.


"Ya udah biar saya saja yang membangunkannya," jawab Randi santai.


Randi masuk ke dalam kamar Renita mencoba membangunkannya, ia tarik selimut dengan pelan. Randi sedikit tercengang melihat tubuh seksi di balik selimut.


"Re," panggil Randi.


Renita tak bergeming sama sekali hanya menggeliat di atas ranjang. Randi mencoba menyentuh pipi Renita yang halus dengan lembut. Lalu Randi mendekatkan wajahnya ke wajah Renita. Tiba-tiba Renita membuka mata lalu mendorong tubuh Randi.


"Astaga Om!" teriak Renita sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


Randi hanya bisa tersenyum melihat Renita gugup seperti itu. Semakin Renita jaga image, semakin Randi ingin menjahilinya. Randi duduk di tepi ranjang dengan perlahan mendekati Renita.


"Om! jangan aneh-aneh ya, aku teriak nih," ancam Renita.


"Aku hanya ingin di peluk Re," jawab Randi dengan tidak bersemangat.


"Ya udah, nanti ku peluk, kalo udah mandi. Pergi sana dari kamar aku," titah Renita.


"Oke, aku keluar. Dandan yang cantik ya, ikut aku ke suatu tempat," ajak Randi.


30 menit kemudian Renita sudah cantik menghampiri Randi sendang sibuk dengan ponselnya. Sehingga tidak menyadari jika Renita sudah di belakangnya. Renita memeluk Randi dari belakang dengan manja.


"Teleponan Ama siapa si?" Renita sedikit curiga, sebenarnya Randi mempunyai kejutan untuk Renita.


"Selly telepon, ada urusan kerjaan katanya," kilah Randi.


"Oh jadi begitu." Renita menganggukkan kepalanya.


"Yuk." Randi mengandeng tangan Renita dengan posesif.


Dengan tingkah Randi yang posesif, membuat Renita sedikit aneh menurutnya. Lalu Randi membukakan pintu mobil, Renita masuk ke dalamnya duduk dengan anggun.


"Mau kemana si Om, kayanya rahasia banget." Renita pura-pura tidak tahu.


"Ke suatu tempat, yang nggak bakalan kamu bisa lupain seumur hidup kamu," ucap Randi penuh keyakinan.


"Masa sih, jadi nggak penasaran," goda Renita.


Randi menggenggam tangan Renita dengan lembut, tangan satunya memegang stir mobil. Randi terkadang curi-curi pandang, karena sedang mengemudi.


"Jangan pernah tinggalin aku ya," ucap Randi sedikit melow.


"Apaan si Om, orang aku disini nggak kemana-mana juga," canda Renita.


Tidak terasa mereka berdua sudah sampai di tempat tujuan. Di sebuah villa dengan pemandangan tepi pantai. Pukul 18.30 ternyata cukup jauh perjalanan mereka. Randi turun dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Renita.


"Silakan turun Tuan Puteri," ucap Randi.


"Terimakasih Pangeran ku," ejek Renita.


Mereka berdua pun tertawa bahagia saat berjalan masuk ke halaman belakang villa. Sampai di belakang villa Randi tercengang saat melihat tulisan happy birthday.


"Loh bukan ini konsepnya," gerutu Randi.


Tiba-tiba terdengar lantunan lagu.


Happy birthday to you (Happy birthday)


Happy birthday to you (Happy birthday)


Tiup lilinnya


Tiup lilinnya


Sekarang juga


Bellanca mendekati Randi sambil membawa kue tart.


"Ayo, mike a wish. Sebelum tiup lilinnya," titah Bellanca.


Randi menuruti perintah Bellanca, ia panjatkan doa yang terbaik untuk dirinya sendiri.


"Tuhan, harapan ku. Aku bisa bahagia bersama keluarga ku, dan mampu membangun keluarga sendiri."


Lalu Randi meniup lilin yang berada dihadapannya. Randi memotong kue pertama untuk Renita, wanita pujaan hatinya.


"Sayang terima kasih, untuk kejutannya." Randi memberikan kue.


"Aku punya hadiah buat Om," ucap Renita.


Tiba-tiba Dimas dan Thomas membawa sebuah kotak kecil diberikan kepada Renita. Lalu Renita membuka kotak tersebut.


"Will you marry me," ucap Renita dengan lembut.


Randi tercengang dengan perkataan Renita baru saja, ia katakan.


"No." Randi merebut kotak kecil yang berisi sepasang cincin di tangan Renita.


Seketika wajah Renita berubah drastis, terlihat dimatanya menahan tangis.


"Seharusnya, aku yang bilang. Will you marry me?" tanya Randi sambil berlutut.


Air mata mengalir deras Renita sangat terharu, hanya memberikan jawaban dengan anggukan. Randi lalu memeluk Renita dengan bahagia. Semua yang berkumpul bersorak-sorai, karena bahagia dengan pertunjukan yang telah Randi dan Renita berikan.


"Romantis ya, Mas. Tapi sayang aku nggak ngerasain seperti itu menikah dengan mu," sindir Bellanca kepada Andri.


"Kamu mau sayang?" tanya Andri.


"Ah, udah telat," gerutu Bellanca.


"Jangan ngambek dong, nanti cantiknya ilang loh," goda Andri sambil mengusap perut istrinya.


Dimas dan Thomas dan tak pula Intan lagi di pojokan mereka bertiga, lagi asik dengan makanannya.


"Bang, kapan lo kaya gitu?" tanya Intan.


"Pacar aja Abang lo aja nggak punya Tan," sahut Thomas.


"Ih, nggak laku kali ya?" ejek Intan


"Sialan lo orang pada gue gini mantan playboy. Tapi sekarang masih ingin menikmati kesendirian," kilah Dimas


"Au' ah gelap." Intan pergi meninggalkan Dimas dan Thomas.


***


"Acara udah selesai, tinggal menunggu peresmian pertunangan kita sayang," ucap Randi dengan menggandeng tangan Renita.


Suasana sangat romantis, Randi dan Renita berjalan menyusuri tepi pantai. Jalan bergandengan angin malam menerpanya dengan jelas. Membuat mereka merasakan kedinginan, tiba-tiba langkah Renita terhenti saat melihat terangnya rembulan.


"Kenapa sayang?" tanya Randi.


"Mama, Papa pasti bahagia di sana." Renita duduk di pasir.


"Pastilah, apa lagi liat anak gadisnya bahagia," ucap Randi sambil mencolek dagu Renita.


"Ih genit, main colek- colek," goda Renita.


Randi meraih tengkuk Renita, lalu menciumnya dengan lembut.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤