Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 50



"Heh! wanita sialan! Enak lo ya sekarang tinggal di sini sekarang." teriak Siska sangat geram.


"Lalu masalah mu apa? ini mansion peninggalan ke dua orang tua ku. Ingat bukan punya keluarga mu. Dan satu lagi. Aku akan merebut perusahaan yang ada di tangan keluarga mu." sahut Renita denga cepat dan lugas.


Renita pergi menjauh dari Siska, rasanya percuma jika ia marah-marah sama orang tidak tau diri.


"Usir dia dari sini!" teriak Renita dari kejauhan.


Renita melangkah menaiki anak tangga hingga di depan pintu kamar. Renita merasa pusing hampir saja pingsan di depan kamar. Renita membuka pintu lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pikirannya melayang-layang memikirkan bagaimana cara untuk menjatuhkan perusahaan Setiawan.


"Siapa yang akan membantu ku untuk akusisi perusahaan Setiawan." gumam Renita dengan mijat-mijat pelipisnya.


Tiba-tiba ide pun datang menghampirinya,"aha, kenapa nggak minta bantuan kak Bellanca saja. Untuk membalas dendam ku. Aku harus bisa menghadapi semua ini." Renita langsung duduk mengambil ponselnya.


Mencari nama Bellanca di kontak ponselnya lalu meneleponnya.


Bellanca πŸ“ž"Hallo sayang?"


Andri melirik tajam ke arah Bellanca, saat Bellanca mengucapkan kata sayang.


"Ih, kamu. Renita loh bukan yang lain." ucap Bellanca tak enak hati dengan Andri.


"Oh, aku kira siapa. Coba loud speaker." ucap Andri datar.


"Astaga, ini orang cemburu?" batin Bellanca langsung loud speaker ponselnya di hidup kan.


Bellanca πŸ“ž"Maaf sayang agak ribet. Ada yang cemburu." cibir Bellanca.


Andri langsung membuang mukanya, Bellanca menunjuk-nunjuk muka Andri dengan jari dengan memainkannya.


Renita πŸ“ž"Nggak papa kok. Kakak ada waktu besok?"


BellancaπŸ“ž"Buat kamu pasti ada. Kakak besok akan di perusahaan. Kamu ke sana ya. Ada hal penting kah?"


RenitaπŸ“ž"Renita ingin meminta bantuan kakak." ucapnya sedikit ragu.


BellancaπŸ“ž"Oke, kakak tunggu ya."


Bellanca mematikan teleponnya langsung melihat suaminya sudah tidur di pangkuannya sambil memejamkan matanya tapi belum tidur.


"Menurut kamu gimana?" tanya Bellanca ragu.


"Apanya yang gimana?" tanya Andri balik.


"Renita lah."


"Nggak usah di pikirin. Besok kita cari solusi bersama. Besok biar aku yang menyelesaikan masalah itu." ucap Andri menenangkan Bellanca.


"Aku ngantuk. Maunya di gendong." ucap Bellanca sambil mengerucutkan bibirnya.


"Siap Bos." Andri langsung berdiri meraih tubuh Bellanca, menggendongnya ala bridal style.


Dengan hati-hati Andri mengendong Bellanca dan menurunkannya. Ia kecup kening sang istri,"good night."


Lalu menyelimuti tubuh Bellanca,"kamu mau ke mana?" selidik Bellanca tau suami mau pergi.


"Aku akan pergi ke rumah sakit sayang. Jagain papa. Boleh?" Andri meminta izin sang istri.


"Boleh lah. Hati-hati di jalan ya. Nanti sampai di rumah sakit jangan lupa telepon aku." Bellanca tersenyum.


Andri menuruni anak tangga lalu masuk ke mobilnya bergegas melajukan mobilnya menuju Rumah sakit. Saat sampai di rumah sakit Andri menuju ruangan Winata. Andri gelisah melihat sang papa belum juga sadarkan diri.


"Ya, tuhan apa yang harus aku laku kan. Papa bisa sampai sekarang belum sadar kan diri." batin Andri, memilih duduk di sofa kamar sambil menopang kepalanya pandangannya ke lantai.


Tiba-tiba pintu terbuka perawat mengontrol kondisi Winata 2 jam sekali. Di belakang perawat Ada Sisi masuk ke dalam bersama Robin.


"Kakak ngapain ke sini?" tanya Andri.


"Nungguin papa lah." ketus Sisi.


"Kakak pulang. Biar aku dan kak Robin di sini nungguin papa. Kakak itu hamil muda. Nggak boleh capek." Andri berdiri memegang tangan Sisi."Please." ucap Andri dengan lembut.


"Susah di bilangin Dri. Aku udah ngomong berulang kali sama kakak mu ini." sahut Robin.


"Kak, jangan menyalah kan diri sendiri. Kamu berhak bahagia. Semua ini takdir." ucap Andri sambil memeluk Sisi, hatinya terasa sakit melihat sang kakak sedikit frustasi.


"Oke, kakak pulang."


"Kak Robin antar kakak Sisi dulu aja. Biar aku di sini nungguin papa." titah Andri.


Andri yang asik dengan macbook-nya memeriksa email perusahaan Rahardian. Yang sekarang di ambil alih kepadanya, Sisi sudah istirahat karena Andri sudah mau mengurusnya. Tiba-tiba ponsel Andri bergetar ia kira istrinya kangen baru saja di tinggal pergi. Ternyata Romeo yang meneleponnya, mimik wajah Andri heran tumben sekali Romeo mencoba menghubunginya.


Andri πŸ“ž"Halo, Me."


Romeo πŸ“ž"Halo, juga bro." sahut Romeo dengan cepat.


Romeo πŸ“ž"Lagi dimana kamu? nggak ganggu kan?"


Andri πŸ“ž"Lagi dirumah sakit nungguin papa. Kenapa memangnya?"


Romeo πŸ“ž"Tolong kirimkan no handphone Sinta ya. Tadi aku lupa minta." ucap Romeo sambil senyam-senyum sendiri tanpa Andri tau.


Andri πŸ“ž"Ya elah, kaya apa aja. Oke, nanti aku kirimin. Jangan senyum-senyum nanti di kira gila sama pasien kamu." ejek Andri sok mengetahui apa yang di lakukan Romeo.


Romeo πŸ“ž"Sok cenayang kamu ya." Romeo terkekeh.


Andri πŸ“ž"Apa si yang nggak gue tau." Andri ikut terkekeh.


Romeo πŸ“ž"Thank's ya." telepon ditutup oleh Romeo.


*******


Di pagi hari Bellanca merasakan mual pada perutnya.


Hoek....


Hoek....


Randi mendengar Bellanca muntah-muntah masuk ke dalam kamarnya. Randi mencari ke beradaan Bellanca langsung menuju kamar mandi.


"Kakak masih mual?" tanya Randi mulai memahami ibu hamil.


"Udah agak mendingan kok Ran." Bellanca berjalan hampir terhuyung ke depan.


"Pelan-pelan kak. Kalo kakak jatuh gimana." Randi menuntun Bellanca untuk duduk di ranjang.


"Iya bawel." ucap Bellanca sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku ke bawah ya kak. Aku buatin susu anget." ucap Randi pergi dari kamar Bellanca.


"Sweet banget sih adek ku ini." Bellanca terkekeh sendiri.


Saat Randi melewati meja makan, Riana dan Ferdinan tampak binggung melihat anak laki-lakinya menuju dapur dengan menggunakan jas rapih yang akan pergi ke kantor.


"Kenapa anak itu ma?" tanya Ferdinan.


"Entah pah. Mama juga tau." jawab Riana santai.


Beberapa menit kemudian Randi kembali melewati Riana dan Ferdinan tanpa berkata apa-apa.


"Tumben minum susu." cibir Riana.


"Bukan buat aku ma. Tapi buat kakak. Aku kasian liatnya dari pagi mual terus." jawab Randi sedikit panik.


"Kan ada suaminya. Kenapa kamu repot-repot." sahut Ferdinan.


"Kak Andri ke rumah sakit pa. Aku tau semalam perginya." ucap Randi lalu pergi atas.


"Tumben akur." cibir Riana.


"Astaga mama. Liat anaknya makmur kok malah gitu." Ferdinan terlihat heran.


Randi membuka pintu dengan pelan melihat Bellanca sudah rapih seperti ingin pergi ke kantor langsung menyergitkan dahinya.


"Kakak mau ke mana?" tanya Randi sambil memberikan susu hangatnya.


"Ikut ya." ucap Bellanca dengan manja.


"Mau ngapain?" selidik Randi.


"Kakak kangen aja mau main ke kantor." Bellanca bergelayut di tangan Randi.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❀❀❀


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu