
Andri tertawa melihat Bellanca yang salah tingkah.
"Kamu gila ya! bilang aku hamil! jika ketahuan aku nggak hamil gimana coba?!" Bellanca memijat-mijat kepalanya.
Bellanca merajuk memilih duduk ditepi ranjang memalingkan mukanya. Suara ketukan pintu menyadarkan Andri."Masuk!" teriak Andri.
Sisi mendekati Bellanca dan memeluknya."Maafin kakak yah. Semua ini rencana kakak sayang. Kakak ingin kalian cepat menikah. Soal kehamilan nanti kita pikirkan lagi setelah kalian menikah. Hanya ini jalan satu-satunya agar papa menyetujuinya." Sisi mencoba menenangkan Bellanca.
"Jika setelah menikah aku tidak hamil bagaimana kak?" Bellanca menundukkan kepalanya menutupi dengan tangan merasa frustasi.
"Tenang sayang kita coba tiap malam," bisik Andri ditelinga Bellanca.
Bellanca mendongakkan kepalanya menginjak kaki Andri." Dasar mesum!" berteriak tanpa sadar.
Sisi tertawa melihat sang adik ditindas,"Kamu tau Bell? selama ini tidak ada yang berani dengan Andri begitu kejamnya dia sama wanita. Kamu wanita pertama yang membuat Andri K.O. Apa lagi diasangat kejam jika bersama monica."
"Sakit sayang." rintih Andri.
"Ih manja banget! jijik liatnya. Ayo sayang kita keluar." Sisi menarik tangan Robin.
"Kak tunggu. Aku takut sendirian dirumah ini." ucap Bellanca melihat Sisi sudah menghilang dibalik pintu. Bellanca menelan salivanya,"Mati aku jika berdua dengan Andri."
Bellanca menarik tangan Andri,"ayo,kita keluar."
Bellanca mulai gugup karena tatapan Andri begitu tajam seperti mau memakannya hidup-hidup. Matanya tiba-tiba menjadi genit ia kedipkan membuat bulu kuduk Bellanca berdiri.
Tiba-tiba bibir mereka saling bertemu lama-kelamaan merubah menjadi gairah. Dasar Bellanca ngomongnya nggak dinikmati juga ciuman dari Andri.
Suara ketukan pintu menyadarkan mereka berdua."Tuan Nona Monica ingin bunuh diri!" teriak maid dibalik pintu. Oh my god Monica drama lagi.
Bellanca dan Andri saling menatap,"cepatlah selamatkan dia!" teriak Bellanca. Tumben banget Bellanca peduli? ini taruhannya nyawa, seharusnya Monica mati aja kali yah.
"Biar aja mati." ucap Andri dengan santai. Kali ini Andri benar. Biar saja Monica mati. Masuk neraka sudah selesai. Eh,tidak boleh jahat.
Bellanca berlari menghampiri Monica yang ingin bunuh diri dengan memegang pisau ditangannya. Begitu tragis nasip Monica.
"Jangan mendekat! atau pisau ini menusuk perut ku!" teriak Monica.
"Ah buang-buang waktu!" Sisi meninggalkan tempat. Ngeri banget yak sisi.
"Apa kamu sudah gila Monica!" teriak Andri.
"Jika aku tidak bisa bersama mu. Aku lebih baik mati saja!" Monica mendekatkan pisau dipergelangan tangan." Kau! tidak pantas bersama Bellanca! hanya aku yang pantas bersama mu!" Monica menangis.
Bellanca terdiam tidak tau harus apa yang ia harus lakukan. Berpikir keras untuk menghadapi Monica.
"Kamu mau mati gitu aja?! Begitu cintanya kamu sama Andri?! itu bukan cinta tapi obsesi Monica! kamu menyia-nyiakan hidup kamu demi pria yang nggak peduli sama kamu? tragis sekali hidup mu? diluar sana masih banyak pria bisa mencintai mu dengan tulus ingat itu! coba kamu berpikir jernih?" alih-alih bukan mendengarkan Bellanca berbicara Monica malah mendekatkan pisaunya ke wajah Bellanca.
"Semua ini gara-gara kamu! tau nggak sih! aku benci kamu! mati kau!" teriak monica.
Tangan monica mengayunkan pisau ke wajah Bellanca."Aaaaaaaa!" teriak Bellanca sambil memejamkan mata. Dengan sigap Andri menendang tangan monica."Tring," pisau terjatuh. Dan Andri berlari mengambil pisaunya.
"Gila ya kamu!" teriak Andri.
Winata mendengar gegaduhan di kamar Monica mendatanginya."Ada apa ini?!"
"e-anu pa,e-anu pa." Ulang Andri dengan gugup.
Winata melihat Monica sudah tergeletak dilantai."Monica mencoba bunuh diri pa." ujar Andri.
"Telepon ambulan kirim Monica ke Rumah sakit." ucap Winata dengan memegangi dadanya.
Monica tergeletak pingsan setelah Andri pukul bahunya. Karena akan menyakiti Bellanca.Winata istirahat dikamar.
"Antar Bellanca pulang Dri. Biar kakak urus Monica dirumah sakit." Perintah Sisi.
"Kamu! udah numpang pulang jam sebelas malam lagi! kamu tau nggak ?! kamu itu perempuan!" teriak Randi melihat Renita baru pulang kerja dari cave. Randi mah khawatir marah- marah mulu.
Renita yang mematung mendengar teriakan Randi. Membalikan badan melihat Randi dengan tajam."Bukan urusan lo!"
Renita meninggalkan Randi diruang utama mansion. Randi mengejar Renita menaiki tangga. Sampai diatas Renita ditarik tangannya hampir saja terjatuh. Untung dengan sigap Randi memegang pinggang Renita hampir jatuh ketangga. Randi saling tatap dengan Renita mata mereka saling mengunci. Tiba-tiba ada suara yang mengagetkan mereka. Randi melepas tangan dipinggang Renita sudah berdiri tegap.
"Kalian sedang apa?" tanya Bellanca dibawah.
"t-tadi Renita mau jatuh kak." ucap Randi gagap.
Randi lalu meninggalkan Renita dan Bellanca memilih untuk masuk kekamarnya.
"Kamu pasti capek pulang kerja?" tanya Bellanca.
"Udah biasa kak. aku kan wanita tangguh kuat. Jangan khawatir kak." Renita tersenyum lebar.
Bellanca masuk ke dalam kamarnya. Renita yang harus melewati kamar Randi jika ingin masuk ke kamarnya. Tiba-tiba pintu terbuka ditarik tangan Renita masuk ke dalam kamar Randi.
"Lo mau ngapain! jangan macem-macem yah. gue triak nih! biar seisi mansion denger!" ancam Renita.
"Teriak aja. Kamar ini kedap suara. So, mau seberapa lo teriak nggak bakalan denger!" goda Randi.
Muka panik yang Renita tunjukan membuat Randi semakin gemas ingin mengodanya sekali lagi. Randi mah minta digaruk kali atau dicangkul.
Randi melangkah demi langkah untuk mendekati Renita. Hingga Renita berjalan mundur sampai tubuhnya terbentur tembok.
"Lo gila ya?!" Renita melototi Randi.
"Kamu sedang menggodaku?" goda Randi.
"Bodoh atau apa si ini orang? gue pelototin bukannya takut malah gue dikira mengoda dirinya? gila ini orang gila." batin Renita.
"Kamu lagi mengutuk ku dalam hatikan?" tanya Randi.
"Udah deh nggak usah sok akrab Om kamu-kamu. Biasanya juga lo gue." sindir Renita.
Renita mendorong dada Randi lalu berjalan beberapa langkah tangannya dicekal Randi. Renita memutar badan,"Apa lagi si Om. Sakit tau!" tegas Renita.
saat Renita mundur ternyata terbelit kakinya. Tangan Renita dengan sigap menarik tangan Randi agar tidak terjatuh. Apa daya Randi yang tidak sigap ikut terjatuh diatas ranjang. Dan akhirnya bibir mereka bertemu. Mereka berdua beberapa detik bersitatap. Renita mendorong Randi hingga tejungkal dibawah ranjang.
"Om mah jahat! itu kan ciuman pertama ku!" teriak Renita berlari meninggalkan Randi.
Randi masih mematung ia sentuh bibirnya dengan tangan."Apa? kenapa jantung ku rasanya ingin meledak? hah, bosil? bisa buat aku begini? tidak mungkin," ulangnya , "tidak mungkin." Randi mengacak-acak rambutnya.
Dikamar Renita mengutuki dirinya, kebodohan telah dia perbuat. Dia melakukan kesalahan kenapa menyalahkan Randi."Aku malu! bodoh-bodoh! gimana besok pagi bertemu Om-Om tua itu!" Renita bermonolog.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadia.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu