Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 38



Pov Dimas


"Aduh enak bener pijitan lo tan." puji Dimas.


"Yaelah lo bang. Sama gue diksa mulu. Suruh mijitin lo mulu." sungut Intan.


Intan dan dimas asik bercengkrama tiba-tiba Renita datang dengan menangis.


"Intan he'-e'-e'-e'." Renita sesegukan.


Intan berdiri mendekati Renita dan memeluknya."Are you ok? coba pelan-pelan ceritanya."


Dimas melihat Renita pun tak tega melihatnya. Dimas jadi teringat dengan Renita jika terjadi masalah selalu pergi mansionnya. Renita mulai bercerita tentang Randi dan Dimas menguping dibalik pintu.


"Kamu tau nggak si Tan. Aku diselingkuhin." Renita menangis.


"Masak sih? Kak Randi bisa begitu? soalnya aku kurang paham dengan wanita-wanitanya. Ada yang aku tau Vira dan Sonya. Cantik-cantik seksi pula." ujar Intan.


"Intan!" teriak Renita. Tambah menangis.


"Apa sih? memang benar kali Re. Kamu itu harus berubah seperti mereka dandan cantik."


"Kamu itu sahabat aku bukan sih?! malah belain mereka dari pada aku." Renita tambah merajuk.


"Kamu tau om Randi tadi waktu aku masuk ke apartemennya. Sonya udah di atas tubuh om Randi. Mana om Randi pakek kimono doang. Aku kesel. Aku kesel Tan." sungut Renita.


"Biar kamu tenang aku buatin minuman dulu ya Re. Tunggu disini. Jangan kemana-mana." Intan pergi keluar kamar. Didepan pintu Intan kaget ada Dimas menguping pembicaraannya dengan Renita. Intan akan berteriak mulutnya cepat dibungkam oleh Dimas.


"Nggak usah teriak-teriak nanti Renita denger malu tau." bisik Dimas ditelinga Intan.


"His." Intan pergi dengan muka masam.


"Untung abang gue. Kalo nggak gue pites lu." gerutu Intan berjalan Arah dapur.


Dimas mengetuk pintu kamar Intan."Masuk!" teriak Renita.


Renita mencoba menghapus air matanya dengan tangan tapi tetap saja menetes.


"Kamu kenapa Re. Ada masalah apa?" tanya Dimas.


"Nggak papa bang." Renita senyum pepsodent.


"Kamu ada hubungan apa dengan Randi?"


"Loh kok abang tau? jangan-jangan dari tadi abang nguping ya? hayo ngaku." selidik Renita.


"Ngapain kurang kerjaan. Udah nggak usah nangis. Rugi nangisin laki-laki." Dimas memberikan tisue.


Saat ingin pergi tangan dimas dicekal Renita."Makasih ya bang."


Ya, Renita hanya mengagap Dimas seperti kakaknya tidak lebih. Karena Renita tidak mempunyai saudara kandung. Beda dirasakan Dimas rasa peduli karena tertarikkan lawan jenis. Kasian Dimas sini sama otor aja.


Tiba-tiba Intan masuk ke dalam kamar datang membawa minum untuk Renita. Melihat Renita dan Dimas bercengkrama tidak berfikir aneh karena semenjak mereka bersahabatan keduanya sudah dekat.


"Re, diminum dulu ya. Oia mbak inah udah aku suruh masak kesukaan mu dibawah. Ayok." Intan menarik tangan Renita.


"Sabar napa. Lagi minum ini. Makasih ya Tan. Kamu memang yang terbaik." Renita memeluk Intan.


"Yaelah, sekali-sekali kalian itu meluk abangnya gitu." sahut Dimas.


"Huuuu, ngarep banget bang!" teriak Intan dan Renita dengan kompak.


Meraka mendorong tubuh Dimas hingga terjatuh."Sialan! adik nggak tau diri pada!" umpatan Dimas.


Pov selesai


Renita tetap tidak mau membukakan pintunya. Tapi Randi pantang menyerah turun kebawah menemui Intan.


"Kunci cadangan mana." ujar Randi.


"Biasa aja kali kak. Renita juga butuh waktu sendiri." Intan tidak mau memberi kunci cadangan.


Randi menatap tajam Intan seperti akan melahapnya hidup-hidup.


"Dim, no rekening kamu nggak gantikan?"


"Tentu saja tidak. Tugas siap dilaksanakan." Dimas berlari ke kamar ibunya mencari kunci cadangan. Hem, dasar dimas mata duitan.


Intan mengepalkan tangannya melihat kakaknya begitu antusias jika membahas uang. Di tambah lagi Randi seperti ketua geng di pertemanan mereka.


"Kak Randi ih. Parah bener." gerutu Intan.


Randi hanya senyum smirk akhirnya dia menang dari Intan. Dimas datang lalu mendekati Randi memberikan kunci cadangan kamar Intan.


"Cek rekening sudah ku kirim." Randi berjalan ke kamar Intan.


"Malu gue punya abang kaya lo. Nggak ada harga dirinya." cibir Intan.


"Heh, lo kira kalo lo butuh tambahan jajan dari mana? kalo bukan dari gue." Dimas pergi meninggalkan Intan.


Didepan pintu kamar Intan Randi memasukkan kunci cadangan mencoba membuka karena banyak sekali kunci cadangan yang Randi bawa.


"Sialan, banyak banget kunci cadangannya." gerutu Randi.


Didalam kamar Renita menghadap jendela kaca sambil melamun. Renita tak sadar jika Randi memasuki kamar Intan. Randi mendekat dan memeluk Renita dari belakang. Renita kaget dan mencoba memberontak agar Randi melepas pelukkannya.


"Om, lepas!" teriak Renita.


"Bentar aja. Aku masih kangen."


"Sana peluk Sonia aja. Jangan aku!" sungut Renita.


"Aku nggak bakal lepas pelukan ini kalo kamu nggak mau maafin aku dulu. Berjam-jam juga papa."


Renita membalikkan badan mendongakkan kepalanya ke atas ia tatap muka Randi. Randi mempeerat pelukannya hampir mencium bibir Renita tapi menghindar.


"Kenapa?" Randi tampak binggung.


"Bukannya aku sudah bilang om. Kita nggak akan bersama lagi."


Tiba-tiba Randi melemas dan melepas pelukkannya. Renita meninggalkan Randi sendirian di kamar Intan.


"Kamu mau kemana Re?" tanya Intan.


"Nanti aku akan kabari kamu ya. Aku waktunya kerja."


Randi lesu keluar dari kamar Intan."Cie, yang dikacangin. Enak tuh kalo dikasih sate." Intan tertawa.


Randi mendekati ke arah Intan menarik bajunya."Intan cantik banget sih Tan." rayu Randi.


"Cuih, nggak mempan kak." Intan tetap tertawa.


Randi memilih disofa dengan menopang dagunya mengarah ke arah Intan memasang muka iba.


"Aduh, kak aku pusing. Renita sulit kalo udah kecewa." seolah-olah Intan tau maksud Randi.


"Kamu minta apa aja. Akan ku kabulkan." rayu Randi lagi.


"Biar aku pikir-pikir dulu ya." Intan sok jual mahal.


"woy, harga diri woy!" teriak Dimas di telinga Intan.


"Berisik bang." keluh Intan."Gue juga punya kebutuhan." sungut Intan.


Randi hanya menggelengkan kepala melihat kakak adik bertengkar.


*****


Renita sampai dicave disambut oleh Kevin.


"Naik apa Re?"


"Naik taxi online Vin."


"Kamu kenapa? kenapa mata mu bengkak?. Kamu abis nangis ya?" Kevin tampak curiga ditambah tadi Randi sempat datang ke cave mencari Renita.


"Nggak ada apa-apa Vin." Renita buru-buru pergi menuju loker kerjanya.


Saat Renita menutup loker Kevin tiba-tiba datang. Renita membalikkan badan menatap Kevin dengan binggung.


"Apa lagi Vin."


Kevin mendorong tubuh Renita sampai membentur loker."Jujur sama aku? apa yang terjadi." tatapan mereka terkunci Renita menelan ludahnya.


Bersambung......


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu