Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 32



"Hei, kok melamun?" Sonya menepuk pundak Renita."Ayo, masuk." Sonya membukakan pintu untuk Renita.


"Makasih, kak." Renita masuk ke dalam mobil.


"Oia, kenalin aku Sonya."


"Aku Renita kak. Terimakasih sudah ngasih aku tumpangan ke pasar," Renita tersenyum tulus.


Flashback On


"Siapa itu? keluar dari apartemen Randi? Penampilan sederhana banget. Atau mungkin pembantunya Randi," batin Sonya.


Sonya mencoba mengikuti Renita sampai ke bawah. Rasa penasaran Sonya begitu besar. Karena selama ini Sonya tidak pernah diajak berkunjung ke apartemen Randi. Sonya adalah sahabat waktu zaman SMA. Dari dulu Sonya menyimpan perasaannya dengan Randi. Karena Randi hanya mengganggap Sonya sahabat.


Sonya melihat Renita celingukkan kesempatan untuk mendekati Renita.


Flashback Off


"Memang majikan kamu menyuruh kamu ke pasar pagi-pagi buta begini?" tanya Sonya.


"Inisiatif aja kok kak. Tadi Om Randi lagi tidur," ucap Renita dengan polos.


Mobil Sonya pun terhenti karena sudah sampai pasar. Belum sempat menanyai Renita lebih lanjut. Renita sudah berpamitan dengan Sonya.


"Makasih ya kak. Atas tumpangannya."


Sonya pun melihat punggung Renita menjauh dan menghilang dari hadapannya. Renita memilih sayur-sayuran segar, ikan, daging, buah-buahan. Sampai kualahan Renita membawa pulang ke apartemen. Sampai didepan pintu apartemen Renita membunyikan bell berulang kali. Tapi Randi tak kunjung membukakan pintu. Menunggu ada 15 menit baru pintu terbuka.


"Ya ampun Om. Lama banget si bukanya. Capek tau berdiri disini. Itu dibawa masuk ke dalam belanjaannya!" Renita meninggalkan Randi.


"Ini orang belanja banyak banget mau buka rumah makan?" Randi bermonolog.


Didalam apartemen Randi menaruh barang belanjaan didepan kulkas."Re, kamu mau buka rumah makan? banyak bener belanjanya. Kan kita cuma sehari disini? sayang tau kalo nggak ke makan."


"Om pulang aja. Biar aku jagain apartemennya," canda Renita.


"Nikah dulu baru boleh tinggal disini."


Renita mendengar perkataan Randi pun terkekeh."Om mah ngaco!"


Randi mendekati Renita sampai muka Randi hampir menyentuh wajah Renita. Renita hanya menelan ludah."Om jagan bercanda. Nggak lucu tau," Renita mulai gugup mendorong tubuh Randi.


Bukannya Randi pergi menjauh. Randi malah mempeerat memegang pinggang Renita. Jantung Renita hampir copot. Entah Randi mendengar detak jantung Renita atau tidak. Renita merasakan ke gugupan begitu dalam. Rasanya ingin pingsan saja. Randi menatapnya penuh cinta membuat dirinya tak karuan.


"I love you," bisik Randi ditelinga Renita.


Renita mendengarnya hanya bisa mematung. Lidahnya terasa kelu tak mampu bicara. Randi yang gemas melihat tingkah Renita yang gugup. Tiba-tiba mengecup bibir Renita dan meninggalkannya.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi Renita tersadar dan mengangkat telepon dari Bellanca.


"Halo, kak."


"Kamu dimana Re? kakak khawatir kamu nggak pulang."


Renita terdiam mau jujur atau bohong.


"e-eee."


"Re, kamu kenapa? cepet kamu dimana? biar kakak jemput."


Belum menjawab ponsel Renita direbut Randi.


"Tenang aja kak. Renita bersama ku di apartemen. Jangan khawatir dia tidak akan lecet sedikit pun."


Bellanca belum menjawab sudah dimatikan teleponnya.


"Anak kurang ngajar. Telepon dimatiin. Awas aja nanti kalo pulang," gerutu Bellanca.


"Kenapa sayang? pagi-pagi udah badmood. Kasian si kecil nanti ikut marah-marah," Riana mengusap perut Bellanca.


"Mama juga baru tau Bell, jika Randi membeli apartemen," Riana mulai penasaran dengan anak laki-lakinya.


"Apa lagi ini? pagi-pagi udah heboh dimansion," tanya Ferdinan.


"Randi punya apartemen pa. Sekarang dia sudah berani bawa Renita kesana," ucap Bellanca.


"Baguslah, dia sudah dewasa. Bisa beli apartemen sendiri. Masalah wanita nanti kita bicarakan lagi. Jika Randi sudah pulang. Sudah jangan dipikirkan. Ayo, kita makan," ucap Ferdinan dengan santai.


Diapartemen Renita sedang memasak untuk sarapan pagi. Randi duduk dimeja makan dengan menopang dagu. Randi memperhatikan Renita tanpa berkedip. Renita menaruh masakkannya diatas meja.


"Om ngelamunin apa si? dari tadi aku liatin. Om liatin kulkas?"


"Hadeh, liatin kamu lah. Dasar nggak peka!"


"Aku? aku kenapa? ada yang aneh om?" Renita mulai binggung.


Randi hanya menepuk jidatnya dan menggelengkan kepala."Renita kenapa kamu kadang pinter dan terkadang polos banget Re," batin Randi.


"Udah buruan kamu makan. Nanti kita pulang ke mansion."


"Om, boleh nggak ya? kalo aku tinggal disini aja. Beberapa hari lagi kak Bellanca kan nikah. Canggung aja gitu tinggal bareng pengantin baru," ucap Renita sambil menopang dagu menatap Randi dengan rasa iba.


Randi hanya smirk dan mengabaikan Renita. Randi berdiri meninggalkan Renita yang masih terpaku dengan sarapan paginya.


"Ish, sialan dicuekin," gerutu Renita.


Renita kaget kepala Randi disamping kepalanya dan membisikkan sesuatu."Jadi istri ku ya."


Renita mematung dan menoleh kearah Randi. Menatap dengan penuh perasaan. Renita tiba-tiba memejamkan mata. Ia pikir Randi akan menciumnya. Lama Renita tunggu tidak ada pergerakan. Randi hanya tertawa melihat tingkah Renita.


"Nungguin apa Re? sampe mata merem gitu," goda Randi.


Renita yang mendengarnya langsung membuka mata lebar-lebar. Merubah wajahnya menjadi masam. Mendorong kursi kebelakang ia berdiri meninggalkan Randi.


Didalam kamar Renita membereskan barang-barangnya yang akan dibawa pulang ke mansion."Bodoh! sangat memalukan." Renita mengacak-acak rambutnya.


Tiba-tiba Randi memeluk Renita dari belakang. Renita mencium aroma parfum rasa Mint dari tubuh Randi. Jantung Renita tak karuan.


"Kenapa, rambutnya diacak-acak atau ada masalah?" ucap Randi dengan lembut.


"Nggak kok om. Nggak ada apa-apa jangan khawatir. Aku tadi cuma gatel aja kepalanya."


Renita melepaskan tangan Randi dari pinggangnya. Memutar badannya dan menghadap Randi. Dengan sigap Randi merapihkan rambut Renita yang berantakan dengan tangan.


"Tuh kan cantik. Kalo rapih gini."


"Om, bisa nggak jangan kaya gini. Buat aku salah paham. Perhatian om itu berlebihan," Renita menundukkan kepalanya.


Tangan Randi menyentuh dagu Renita agar bisa mendongak ke atas. Mata mereka saling bertatapan. Randi mengecup bibir Renita. Melihat Renita tidak marah apa yang dilakukan Randi. Langsung bibir mereka saling bertemu. Rasa yang membara membuat mereka lupa akan pulang ke mansion. Suara bell pun berbunyi membuat mereka tersadar. Randi melangkah keluar dari kamar tamu.


"Sialan siapa sih tamunya! nganggu banget," gerutu Randi.


Saat pintu terbuka Randi kaget tamu yang datang.


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu