
Dipagi hari Renita membantu maid mempersiapkan makanan."Sok rajin banget sih. Bangun pagi?" ejek Randi.
Renita mengusap-usap dadanya,"sabar-sabar. Angep aja nggak ada Om-Om tua gila!" batin Renita.
Bellanca turun dari tangga mendengar Renita diejek Randi."Pagi Om, jangan lupa makan yang banyak ya Om." ejek Bellanca.
Renita yang mendengar perkataan Bellanca tertawa lepas. Randi menatap Renita ingin memakan hidup-hidup."Ada yang lucu?!"
Renita cepat-cepat menutup mulatnya."Aku akan pergi kekantor!" Randi meninggalkan meja makan.
"Sudah tidak apa-apa. Ayo kita makan tidak usah pedulikan dia." ajak Bellanca.
Didalam mobil menuju kantor,"sebenarnya adiknya siapa sih?! hah! kakak selalu membelanya! Randi bermonolog sambil memukul-mukul stir mobil.
******
"Randi itu udah tua tapi tetap aja manja. Kakak pusing mikirin dia Ren." Bellanca termenung.
Renita menggegam tangan Bellanca,"suatu saat nanti pasti ada yang bisa merubahnya kak."
Bellanca memeluk Renita,"kamu berpikiran dewasa sekali si?!" mencubit pipi Renita.
*******
Diruangan kerjanya Bellanca duduk dengan menundukan kepala dan disangga tangannya.
"Are you ok honey?" tanya Andri.
Bellanca mendongakkan kepalanya melihat Andri dengan muka masam. Muka Bellanca asam udah kaya rujak aja, enak nih dimakan disiang hari.
"Gimana keadaan Monica, Dri?" tanya Bellanca khawatir.
"Nanti setelah kerja kita jengukin Monica ya? aku juga belum tau keadaan dia lagi. Biar kamu tenang nanti kita kesana" Andri menenangkan Bellanca.
Bellanca hanya mengganguk dan melanjutkan kerjanya. Tiba-tiba Andri mencium keningnya meninggalkan Bellanca dimeja kerja.
Bellanca tersenyum smirk,"Apa aku jahat? merebut Andri dari Monica? tapi masa depan ku sudah hancur?" Bellanca mengacak-acak rambutnya selesai bermonolog.
Suara ketukan pintu terdengar,"Masuk" ucapnya. Andri berdiri memandang Bellanca penuh cinta tersenyum tanpa henti membuat Bellanca salah tingkah.
"Senyum dong sayang. Kita pasti bisa ngelewatin ini semua. Percaya sama aku." Andri mengandeng Bellanca keluar kantor.
Monica yang masih belum mau makan karna menunggu Andri datang menjenguk."Kemaren kamu nggak mati aja sih! biar aku nggak repot kaya gini." celetuk Sisi yang geram.
Monica melirik Sisi tidak suka."Kenapa nggak suka?!" teriak Sisi.
"Ini orang ngapain sih?! dateng kesini? mana ngoceh-ngoceh nggak jelas. Nyuruh aku mati lagi! semalam kan cuma akting." batin Monica.
Melihat Andri membuka pintu Monica berpura-pura menangis histeris melihat Bellanca."Sana kamu pergi! aku tidak mau melihat diri mu disini!" teriak Monica. Cari perhatian bener ini orang emang minta di santet online.
Bellanca mendengar teriakan Monica langsung menghentikan langkahnya. Rasa takut amat sangat dirasakan Bellanca. Takut Monica melakukan hal seperti tadi malam.
Andri melihat Monica histeris langsung menghampiri dan memeluknya. Rasa simpatik yang Andri rasakan membuat hati Bellanca terbakar api cemburu. Awas, bentar lagi Bellanca gosong ini.
"Sialan Monica. Mencari kesempatan dalam kesempitan. Oke, jika dia bermain drama. Aku juga bisa! liat aja nanti." batin Bellanca sambil meremas roknya.
"Aaauuuu, sakit perut ku?!" Bellanca membungkuk memegangi perutnya.
"Kenapa sayang?" Andri cemas."Perut mu kenapa?" Andri mulai khawatir.
"Perut ku kram, Dri. Mungkin anak kita kelelahan ikut aku berkerja." Bellanca mengusap-usap perutnya sendiri.
Andri baru menyadari jika Bellanca hanya akting. Andri memasang muka jail ikut mengoda Bellanca. Tangan Andri ikut mengusap-usap perut Bellanca."Oke, nanti kita buat yang beneran ya? kita mampir ke hotel." bisik Andri ditelinga Bellanca.
Monica melihat Andri begitu perhatian kepada Bellanca menatap tajam mereka berdua. Udah mau copot tuh mata. Liatlah bentar lagi matanya ngegelinding.
Sisi yang ikut melihat drama Bellanca hanya menahan tawa. Tapi dalam hatinya bahagia bisa membuat Monica marah padam.
"Udah Dri sana bawa Bellanca ke dokter kandungan. Biar kakak jaga Monica." perintah Sisi.
Andri membawa Bellanca keluar ruangan."Lepasin udah nggak ada Monica kali." ujar Bellanca.
"Loh kok gitu? kamu tau nggak? anak kita minta dijengukin ayahnya. Kita cari hotel jangan dokter kandungan seharusnya." hoda Andri
Bellanca langsung memukul bahu Andri."Nggak usah gila."
"Lah kan kamu tadi yang drama?" tanya Andri.
"Aku nggak suka ya! kamu peluk-peluk Monica!" tegas Bellanca. Berjalan meninggal Andri masih mematung.
"T-tunggu sayang." Andri berlari mengejar Bellanca.
*****
Pintu mobil Bellanca terbuka dan keluar dari mobil. Melambai-lambaikan tangannya ke Andri yang sudah menjauh bersama mobilnya.
"Manis sekali? lagi nungguin kakak pulang?" tanya Bellanca.
"Males banget nungguin kakak." ujar Randi.
"Kamu!" Randi dipukul Bellanca.
"Sakit kak! bisa nggak sih cewe itu nggak dikit-dikit mukul ketawa mukul?" ucap Randi. Bellanca hanya tertawa melihat tinggakah Randi yang merajuk.
"Terus ngapain kamu disini?"
"Cari udara segar aja kak. Kenapa nggak boleh?"
"Terserahlah kakak capek mau istirahat." Saat Bellanca mau melangkahkan kakinya.
"Bocil kenapa jam segini belum pulang kak?" tanya Randi.
"Tumben perhatian banget? itu liat disana ada orangnya. Tanya orangnya aja." Bellanca meninggal randi sendirian dipintu utama.
"Ehem," deheman Randi sambil memainkan ponsel berpura-pura tidak melihat Renita.
"Malam Om," sapa Renita.
"Ini bocil suka amat buat gue naik darah!" batin Randi menatap Renita tidak suka.
"Kamu itu gadis pulang malam-malam. Kalo dijalan ada apa-apa gimana?" tanya Randi.
"Uluh-uluh Om perhatian amat? kaya nggak ada kerjaan aja?" Renita tersenyum.
"Kamu mikir nggak? Kalo kamu ada apa-apa saya yang susah! kan kamu tinggal disini." tegas Randi.
"Maaf Om kalo nyusahin." suara Renita melemah.
"Kaya cewe nggak bener aja pulang malam-malam." ejek Randi.
Renita mendengar perkataan Randi rasanya sangat panas ditubuhnya kepala mau meledak. Boom kali ah, meledak.
"Om saya pulang telat itu karna saya kerja dicafe! otak om tolong dilaudry deh! apa mau aku yang cuci? saya juga butuh bayar kuliah kali Om." ujar Renita.
Deg, hati Randi terasa tereyuh mendengarnya."Tumben kamu ngomong nya aku kamu?"
"Nggak sopan aja Om kalo lo gue." Renita menundukan kepala karena tak tahan ingin pergi.
"Om-om tua introgasi mulu?! nggak capek apa? sok yes banget. Ah, nggak penting." batin Renita.
"Aku tau kamu pasti menundukkan kepala sambil komat-kamitkan?" ejek Randi.
Renita mendongakkan kepala memandang Randi dengan tajam." Bisa nggak si Om ga buat saya marah!" teriak Renita meninggalkan Randi.
Baru berjalan beberapa langkah Randi mencekal tangan Renita."Tunggu!" teriak Randi.
"Eh, ada yang ketinggalan." bisik Randi.
"Apaan om?"
"Bayangan kamu." goda Randi berlari meninggalkan Renita.
"Dasar Om gila!" umpat Renita.
Renita menaiki tangga dengan cepat dia berlari memasuki kamarnya agar tidak diganggu Randi lagi.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu