
"Kamu senyum-senyum sendiri kenapa?" Andri heran menatap istrinya tersenyum sendiri.
Bellanca hanya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum sangat manis. Membuat Andri ingin menghujani ciuman di pipi istrinya. Jika tidak di rumah sakit mungkin Bellanca sudah habis di balik selimut. Tiba-tiba suara perawat memanggil mereka untuk masuk menemui dokter.
"Selamat Siang Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Intan.
"Selamat siang juga dok. Saya ingin memperiksakan kandungan, saya." ucap Bellanca.
"Ibu baru pertama kali periksa kandungan? atau sebelumnya sudah pernah?" tanya dokter Intan lagi.
"Ini yang ke dua dok."
"Ibu sudah mempunyai buku periksa sebelumnya? jika sudah ada saya ingin melihatnya."
Bellanca hanya menggelengkan kepala, karena waktu pertama kali periksa beda dokter.
"Oke, ibu saya akan memberikan buku baru. Nanti setiap periksa. Tolong di bawa ya." ucap Dokter Intan tersenyum.
"Baik, dokter."
"Kita langsung USG ya bu. Tolong berbaring di sana." titah Dokter Intan.
Bellanca berbaring di bantu oleh perawat, dokter Intan memberi gel diperut Bellanca. Lalu transduser di naikkan ke atas dan ke bawah untuk mencari ke beradaan sang janin berada.
"Lihat bu, pak janinnya sudah terlihat ya. ukuran janin kira-kira sudah sebesar buah anggur dengan berat sekitar 28 gram dan panjangnya sekitar 2,54 sentimeter. Sekarang ibu sudah hamil 9 minggu. Habis ini, ibu memasuki semester ke dua. Semoga tidak mual muntah lagi." terang dokter Intan.
Bellanca langsung menerbitkan senyumnya,"terimakasih dokter." ucap nya dengan sangat tulus.
"Ini saya resepkan vitamin untuk ibu, nanti bisa di ambil di apotek. Terimakasih kembali ibu." dokter Intan mengulurkan tangannya.
Di ruang tunggu Bellanca tak sengaja duduk sendirian sambil menunggu vitamin dari dokter. Andri izin ke toilet sebentar tiba-tiba dari belakang ada yang memeluknya. Bellanca pun tampak kaget perutnya di usap-usap dengan orang tersebut.
"Halo, baby. Mama mu habis mengunjungi mu ya." ucap Sinta.
"Ih, kamu nih. Ngangetin aku aja tau Sin." Bellanca menepuk bahu Sinta.
"Kok sendirian bu? suami mana suami?" tanya Sinta sambil mengejek Bellanca.
"Ke toilet." ucap Bellanca santai.
Sinta mengidahkan pandangannya ke depan,"cakep banget." gumam Sinta.
"Lelaki ku memang ganteng Sin. Nggak usah di perjelas." jawaban Bellanca, pandangannya yang sibuk ke ponsel.
"Bukan laki lu. Tapi yang sama dia." terang Sinta.
Bellanca langsung mendongakkan kepalanya dan melihat Andri dengan siapa.
"Oh, Romeo." Bellanca tetap sibuk dengan ponselnya.
"Siapa dia? kenalin dong." tanya Sinta penasaran.
"Ih, gatel." gumam Bellanca melirik Sinta.
"Apa yang gatel sayang?" sahut Andri.
"Eh, t-tangan aku my hubby." jawab Bellanca sedikit terbata.
Bellanca tak enak hati ingin berkata jujur jika Sinta ingin berkenalan dengan Romeo.
"Ih, bucin ya setelah nikah?" mencibir Bellanca.
"Hey, jomblo keluarkan pesona mu." ledek Bellanca sambil mengedipkan mata ke arah Andri jika itu kode.
"Oia, kenalin Sin. Ini Romeo adik kak Robin suami kakak ku." Andri mencoba peka.
"Sinta." ucap Sinta sambil mengulurkan tangannya.
"Romeo." jawab Romeo sambil menerima uluran tangan Sinta.
"Udah jangan lama-lama. Bukan muhrim." celoteh Bellanca.
Sinta melepaskan tangannya lalu memundur ke belakang ternyata terbelit kakinya hingga hampir jatuh. Dengan sigap Romeo menarik tangan Sinta dan meraih pinggangnya. Mereka berdua pun saling menatap sama lain.
"Hem, drama queen banget." celetuk Bellanca.
Otomatis Romeo langsung melepaskan tangannya di pinggang Sinta. Untuk memecah keheningan mereka Romeo pun membuka suara.
"Gimana kita makan di luar." tanya Romeo.
"Vitaminnya sudah sayang?" Andri mengusap bahu Bellanca.
"Udah kok, pas kamu pergi tadi udah di panggil." jawab Bellanca.
"Oke. Yuk kita makan di luar." titah Andri.
Akhirnya mereka berempat pergi ke sebuah restoran, yang bernuansa alam yang membuat Bellanca mengulum senyum. Sedikit terhibur karena sesak dengan hiruk pikuk perkotaan.
"Me, kamu tau aja aku lagi badmood bawaannya. Di bawa ke tempat kaya gini buat aku bersemangat." ucap Bellanca.
"Maklum ibu hamil gitu Bell, jadi sensitif. Jadi yang sabar ya pak." jawab Romeo menepuk bahu Andri.
"Dri, kamu apa nggak tiap hari kena oceh tuan puteri?" cibir Sinta.
"Parah kamu ya. Temen sendiri giniin aku. Bukan nusuk dari belakang tapi dari depan." celoteh Bellanca sambil terkekeh.
Akhirnya mereka berempat selesai makan, Bellanca dan Andri pamit pulang terlebih dahulu. Karena bumil sudah ingin beristirahat katanya. Sedangkan Romeo dan Sinta pastinya masih di restoran masih berbincang-bincang manja. Romeo bersuara menembus keheningan di antara mereka berdua.
"Mau aku antar pulang Sin?" basi-basi Romeo.
"Nggak usah, aku balik lagi le rumah sakit. Tapi kalo kamu maksa aku mau." Sinta mengedip-kedipkan matanya.
Romeo terkekeh melihat Sinta sangat lucu dan imut di matanya."Memangnya kamu ngapain disana?" tanya Romeo, mereka berjalan keluar restoran.
"Aku kerja di sana."
"Kamu dokter?" selidik Romeo.
"Yup. 100 buat kamu." ucap Sinta lalu terkekeh.
"Wah, kita sama. Siapa tau bisa juga jd jodoh." goda Romeo.
Sinta tak bergeming hanya diam saja, karena binggung mau menjawab apa. Tak lama kemudian Sinta menjawab perkataan Romeo.
"Amin..." gumam Sinta dengan pelan, matanya melirik Romeo begitu tampan jika sedang fokus mengemudi.
"Makasih ya." jawab Romeo.
"Buat?" Sinta memasang wajah heran.
"Karena sudah mengamininya." sekilas Romeo memandang Sinta dan tersenyum sangat manis membuat Sinta meleleh.
"Ya tuhan, apa aku terlalu lama jomblo sampai-sampai gombalan receh kaya gini aja seneng banget." batin Sinta.
Romeo telah sampai di depan rumah sakit, Sinta pun turun dan pergi masuk ke dalam. Tanpa sadar Romeo baru menyadari jika ia telah lupa minta nomor telepon Sinta.
"Bodoh, sekali Me. Kenapa pakai lupa minta nomor teleponnya sih!" gerutu Romeo.
Dari pandangan pertama Romeo sangat menyukai Sinta. Karena orang yang friendly dan humoris yang menurutnya sangat cocok dengannya. Sama-sama humoris saat mereka ngobrol nyambung membuat Romeo klik dengan Sinta.
******
"Yaudah, aku pulang dulu yah." Randi mengusap rambut panjang Renita.
Renita hanya menggangukkan kepalanya."Hati-hati om."
Randi masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya lama kelamaan menghilang si pelupuk mata. Renita masuk ke dalam mansion merebahkan badannya di sofa. Pikirannya melayang entah ke mana walaupun raganya sedang beristirahat. Tiba-tiba di depan mansion ada suara gaduh. Terdengar suara penjaga dengan suara wanita berteriak-teriak berusaha masuk mansion. Renita bergegas keluar mansion mencoba mencari sumber itu. Siapa lagi jika bukan Siska saudara sepupu yang selalu iri dengan Renita.
"Heh! wanita sialan! Enak lo ya sekarang tinggal di sini sekarang." teriak Siska sangat geram.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu