Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 40



"Oke-oke." Kevin tetap terkekeh.


"Kalo lo cuma mau ngetawain gue. Gue matiin aja teleponnya. Terimakasih!" sungut Randi.


"Eh, jangan dimatiin Ran. Sebenarnya memang dari cafe Renita bersama ku. Setelah itu tidak lagi. Dia meminta ku berhenti disupermarket setelah itu menghilang. Tapi dia sempat mengirimi aku pesan dia baik-baik saja katanya." ujar Kevin.


"Terimakasih." Randi mematikan teleponnya.


Tiba-tiba Ferdinan datang,"Wah, kalian sedang apa malam-malam berkumpul??"


"Kita sedang mencari Renita pa." Riana bergelayut di tangan sang suami.


"Ih, mama nih. Sok manja banget." ejek Randi.


Ferdinan mendengar Randi protes langsung meraih pinggang istrinya."Yuk, ma. Tidur sudah malam."


"Sialan papa." gerutu Randi.


"Sudah pada bubar istirahat. Besok pagi pasti papa bisa menemukan Renita." Ferdinan berjalan bersama Riana bergandengan.


Bellanca menoyor kepala Randi."Kakak!" teriak Randi.


"Otak mu itu isinya apa? liat mama papanya romantis malah nggak suka." Bellanca berkacak pinggang.


"Bukan nggak suka kak. Tapi aku ngiri." Randi dengan wajahnya yang muram.


********


Dipagi semua berkumpul dimeja makan. Randi yang tak bersemangat untuk sarapan pagi hanya mengaduk-mengaduk nasi gorengnya. Bellanca melihat sang adik lagi galau merasa kasian.


"Ran," panggil Bellanca.


"Hemm." hanya deheman yang Randi keluarkan.


"Randi anak pinter. Gantengnya kakak aaaaa." Bellanca sambil menjulurkan tangan ingin menyuapin Randi.


"Apaan sih kak." gerutu Randi.


"Aaaaaaa." ulang Bellanca sambil mencubit paha Randi.


"Aaaaaa."


Akhirnya Randi membuka mulutnya sambil kesakitan mengusap-ngusap pahanya. Bellanca menyuapi Randi sampai habis. Sejatinya Bellanca sayang sekali kepada Randi. Bellanca hanya ingin menghibur sang adik agar tidak murung.


"Yeee, abis makannya anak pinter." Bellanca mengusap kepala Randi.


"Hish." sahut Randi.


Ferdinan melihat Bellanca mendominasi anak laki-lakinya hanya bisa terkekeh.


"Papa mah ketawa mulu. Bantuin aku kenapa." rengek Randi.


"Kamu itu sudah besar galau wanita saja bisanya. Mau makan sendiri aja susah mau ngajak anak orang nikah. Yakin sanggup?" goda Ferdinan.


"Sanggup lah pa." sungut Randi.


"Menikah itu bukan masalah ***** saja Ran. Kamu nantinya jadi pemimpin keluarga dari anak-anak mu dan istri mu. Beri mereka contoh yang baik. Kalo kamu tidak bisa merubah kehidupan mu itu. Yang suka ke club malam mabuk-mabukkan nggak jelas. Menghambur-hampurkan uang. Papa nggak akan izinin kamu menikah jika tidak bisa berubah. Sebentar lagi kamu akan mempimpin perusahaan. Jika gagal nggak usah nikah saja." Nasihat Ferdinan.


"Papa ih. Masak Randi nggak nikah kejam bener." lugas Randi.


"Masalah Renita kamu bisa selesaikan sendiri?" tanya Ferdinan.


Randi hanya senyum kecut jika melihat calon masa depannya pergi menghilang.


"Kenapa diem aja?" tanya Ferdinan lagi."Nggak bisa cari?" ejek Ferdinan.


Ferdinan melempar secarik kertas ke arah Randi."Datang saja ke alamat itu. Nggak usah banyak tanya. Jika kamu tidak membawa hasil. Nggak usah pulang Ran. Papa malu liat anak papa soal cinta saja gagal." ejek Ferdinan meninggalkan meja makan.


Randi hanya terbengong melihat tingkah sang papa."Astaga bokap gue. Maksudnya apa sih? peduli? atau mau buang gue dari keluarga." batin Randi.


"Udah sana jemput permaisuri mu." Bellanca menepuk pundak Randi yang masih cengo.


"Randi Hendriwan!" teriak Bellanca.


"Siap, Puteri. Panggeran akan melaksanakan perintah dari sang Raja." goda Randi sambil terkekeh.


*****


Di depan mansion begitu mewah bagi Randi. Mansion sangat terurus di jaga oleh penjaga.


Sebenarnya ini mansion siapa? mengapa Renita disini? atau ini mansion keluarga setiawan. Pikirnya.


"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu? soalnya mas dari tadi melihat mansion seperti orang kebinggungan." ujar Penjaga.


Randi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Saya mau tanya pak. Apa benar ini mansion milik Renita?" tanya Randi tampak ragu.


"Oh, iya benar Tuan. Nona Renita sepertinya masih jogging Tuan. Tunggu saja sebentar lagi pasti pulang." ujar Penjaga.


Randi memilih menunggu dalam mobilnya.


lima belas menit


tiga puluh menit


satu jam


Ya ternyata sudah satu jam menunggu Renita tapi tak kunjung datang mulai risau Randi.


"Mana ini udah jam makan siang. Huh, laper." keluh Randi.


Tiba-tiba matanya berbinar dari kejauhan melihat Renita berlari mendekat ke arahnya. Renita menyeritkan dahi saat melihat Randi berdiri di depan mobilnya. Randi tersenyum membuat Renita dag-dig-dug jantungnya. Sakit? tentu saja mulai berkurang rasa itu.


"Ngapain kesini? udah sana pulang. Males liatnya." usir Renita yang lari ke dalam mansion.


Randi mengikuti Renita dari belakang dan penjaga membukakan gerpang utama mansion. Randi melempar kunci mobilnya ke arah penjaga. Penjaga dengan sigap menangkap kuncinya.


"Pak tolong bawa masuk ya mobil saya." Randi sambil berlari mengejar Renita.


Randi terkesima melihat mansion begitu besar dan elegan.


Sebenarnya kamu orang kaya Re. Mengapa hidup mu begitu miris seperti orang susah. Apa yang terjadi? aku tak mengerti apa yang kamu sembunyikan. Pikir Randi.


Renita berhenti memandang Randi dengan tidak suka."Udah sana Om pulang aja saya sibuk. Nggak ada waktu buat ladenin Om."


"Beri aku kesempatan buat jelasin semua ini Re. Please." Randi memohon sambil menggemgam tangan Renita.


Renita menghempaskan tangan Randi memilih pergi. Randi hanya bisa berdiri di depan mansion cukup lama hampir tiga jam dia berdiri menunggu Renita datang. Ternyata Renita ketiduran dikamarnya setelah kelelahan jogging.


Pukul menunjukkan 14.00 Renita merasa mulai lapar turun ke bawah dan mengingat sesuatu yang lupa. Renita duduk manis di meja makan pelayan memberikan makan siang di meja.


"Makasih, mbak." ujar Renita tersenyum.


"Nona, teman Nona di depan tidak sekalian diajak masuk untuk makan siang?" tanya Pelayan.


"Astaga. Om Randi!" teriak Renita menepuk dahinya.


Renita langsung berlari ke depan mencari ke beradaan Randi. Ternyata orangnya lagi asik ngobrol dengan penjaga.


"Sial! gue udah panik malah dia santai-santai ngopi pula." gerutu Renita berjalan menghampiri Randi.


"Ikut saya om." Renita berkacak pinggang.


"Pak saya masuk dulu ya. Terimakasih atas kopinya." ujar Randi berjalan mengikuti Renita.


"Sok akrab banget sih." gerutu Renita.


Randi menjajarkan tubuhnya menyeimbangkan langkah kakinya mengikuti Renita. Randi meraih pinggang dan berbisik ditelinga Renita.


"Sekarang pinter nyiyirin orang ya. Belajar dimana? pasti kak Bellanca yang ngajarin."


Langsung bulu kuduk Renita terasa meremang. Renita menghentikan langkahnya memutar tubuhnya menginjak kaki Randi.


"Nggak usah macem-macem Om." Melirik dengan tajam.


Bersambung......


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu