Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 52



"Iya-iya aku percaya. Nggak usah panik." Renita gemas dengan Randi mencubit ke dua pipinya itu.


"Udah berani ya sekarang." bisik Randi.


Renita mendorong tubuh Randi hampir terhuyung ke belakang. Semua mata yang ada di ruang resepsionis menatap Randi.


"Sialan. Hampir aja aku jatuh." gerutu Randi sedikit kesal.


Renita tak memperdulikan Randi yang hampir terhuyung terus berjalan ke arah lift. Randi langsung mengejar Renita dengan berjalan cepat. Apa daya Renita masuk ke dalam lift duluan ketimbang Randi. Sambil melambai-lambaikan tangan dan pintu lift tertutup.


"Apa cuma aku CEO nggak ada harga diri-nya?" Randi sambil menatap lift yang tertutup.


Sampai di ruangan Randi, Renita melihat sang sekertaris sangatlah cantik dan seksi. Membuat pria akan terpana jika melihatnya, pemandangan indah jika di lihat lagi.


"Seksi sekali. Pantes aja om Randi betah di kantor." gerutu Renita sambil berjalan ke arah sekertaris.


"Maaf kak, bisa saya bantu?" tanya Selly.


"Saya ada perlu dengan kak Bellanca."


"Kakak sudah ada janji?" tanya Selly lagi.


"Sudah." jawab Renita dengan lugas.


Randi yang keluar dari lift berjalan ke arah Renita dan Selly. Randi meraih pinggang Renita membuat Renita berlonjak kaget.


"Astaga. Om." cicit Randi.


"Kenapa nggak langsung masuk aja?" tanya Randi.


"Nggak enak. Orang di tanyain juga. Masak nyelonong aja. Nggak sopan tau om." jawab Renita dengan santai.


"Oke." Randi mencoba mengalah."Kenalin Sell, ini Renita calon istri saya."


"Maaf, nona saya tidak tau. Hampir saja saya melarang nona masuk." Selly mengiba.


"Nggak pa-pa kakak cantik." ucap Renita dengan tersenyum.


Randi dan Renita masuk ke dalam ruangan Randi. Tak jauh dari Randi memberitahukan kepada Selly, jika Renita adalah calon istri Randi. Beberapa karyawan telah mendengar langsung menyebarkan berita ke seluruh devisi. Jika Randi agar segera menikah, tapi mereka tidak tau siapa calon istri Randi.


"Lama banget kalian." gerutu Bellanca.


"Karena tadi." Randi belum selesai berbicara tiba-tiba telah di potong oleh Bellanca.


"Jangan-jangan kalian." Bellanca sudah trevelling otaknya.


"Apa kak?" Randi menyergitkan dahinya sedikit heran kepada kakaknya.


"Kalian abis kencan di toilet ya?" selidik Bellanca.


"Astaga bumil ini. Kalo ngomong udah pedes. Ternyata pikirannya kotor juga." Randi terkekeh."Ngapain juga aku kencan dalam toilet kak. Di ruang pribadi mu saja aku bisa, sekarang juga." ejek Randi.


"Dasar kamu mesum." cibir Bellanca sambil memukul bahu Randi.


"Ya tuhan, kak Andri kenapa bisa jatuh cinta dengan wanita seperti ini si." gerutu Randi sedikit menjauh dari Bellanca.


"Menurut ku, dia adalah wanita yang paling sempurna di mata ku." goda Andri.


"Emb, makasih cinta ku." Bellanca mencium pipi Andri.


"Duh, mulai-mulai. Mata ku terkontaminasi." cibir Randi.


Renita hanya bisa tertawa lepas melihat Bellanca dan Randi mulai saling mengejek.


"Ada lucu Re?" tanya Bellanca.


"Lucu kak. Entah kenapa aku sangat bahagia. Jika bersama kalian. Sangat menghibur ku. Dalam kesepian ini." Renita tersenyum.


Bellanca berjalan mendekati Renita dan memeluknya."Kakak juga sayang sama kamu Re." gumam Bellanca dengan pelan.


"Oia, kak. Sebenarnya aku ke sini mau minta bantuan kalian."


"Ngomong aja Re. Pasti akan kita bantu." sahut Andri.


"terimakasih sebulumnya kak Andri. Sudah mau bantu aku." entah mengapa hati Renita sedikit tenang."Aku ingin mengambil perusahaan peninggalan orang tua ku kak. Yang sekarang di pimpin om Setiawan."


"Kan itu milik keluarga mu kan? kenapa harus di pinta kembali. Tinggal hubungi pengacara saja." Andri binggung.


"Jadi om mu itu hanya di peralat istrinya saja." gumam Andri sambil berpikir.


"Jadi gimana sayang?" tanya Bellanca kepada Andri.


Andri menatap Randi seolah matanya sedang bertanya, apakah Randi setuju dengannya.


"Aku ikut aja kak. Karena aku masih belum berpengalaman. Ku serahkan kepada mu." ucap Randi dengan mantap.


"Oke. Jika kamu mendukung ku. Biar aku yang urus ya Re. Aku nggak mungkin membebani istri ku yang masih hamil. Takut dia stres." Andri menatap Bellanca dengan cinta.


"Yaudah sana kamu pergi ke kantor mu. Biar aku pulang bersama Renita."


Andri pamit pergi dari kantor Bellanca dan Renita turut ikut pergi untuk pulang ke mansion Hendriwan. Sedangkan Randi mulai sibuk dengan berkas-berkas kantor yang mulai menumpuk di mejanya. Di tinggal 2 hari cuti pernikahan Bellanca, Randi mulai pusing dengan berkas di depan matanya. Di tambah masalah baru tentang Renita ingin akuisi perusahaan Setiawan.


Di dalam mobil Renita dengan lihat membawa mobil soportnya. Bellanca sedikit kagum melihat perubahan Renita yang elegan.


"Kak, jangan liatin aku gitu dong." Renita menengok ke arah Bellanca, kembali fokus ke kemudinya.


"Aku suka gaya kamu Re. Elegan. Jangan sampai kamu kalah dengan Sonya." Bellanca mengompori Renita.


"Hahahhaa." Renita tertawa lepas."Kakak, aku antar pulang sekarang atau gimana?" tanya Renita.


"Ke salon yuk. Kaya seru deh kalo kita perawatan Re. Body massage, lalu luluran terus creambath. Ya tuhan." ucap Bellanca dengan antusias.


"Let's go." teriak Renita sambil menambah laju kecepatannya.


Sampai di salon Bellanca di sambut dengan ramah oleh pelayan salon. Bellanca tak perlu mengantri, karena Bellanca anggota VVIP di salon tersebut.


"Selamat nona Bellanca atas pernikahannya. Sekarang sudah menyandang menjadi Nyonya Andri Rahardian." ucap Owner Salon.


"Terimakasih kak." Bellanca tersenyum.


Tak jauh dari Bellanca berdiri ada sosok mata memperhatikan Bellanca. Sonya berjalan mendekati Bellanca dengan tersenyum manis.


"Kak. Eh, Kita bertemu di sini." basa-basi Sonya.


"Kenapa coba? harus ketemu parasit ini di sini. Amit-amit dek jangan kaya orang ini ya." Bellanca mengusap perut buncitnya.


"Eh, ketemu parasit." cicit Bellanca dengan pedas.


Bellanca mah kalo ngomong pedes, kaya abis makan cabe sekebon. (Curhatan otor)


Sonya di hina oleh Bellanca bukannya malu malah tambah menjadi orang yang tidak tau diri.


"Ah, kakak bisa saja bercandanya. Kakak mau perawatan?" tanya Sonya.


"Iya lah perawatan. Kamu kira mau berobat ke dokter." gumam Bellanca.


Bellanca pergi meninggalkan Sonya lalu menarik tangan Renita agar mengikutinya.


"Kakak, pedes banget tadi." Renita sampai heran melihat tinggkah Bellanca.


"Dia muka tembok Re. Mau di hina kaya apa. Nggak bakal sadar." gerutu Bellanca.


"Oh jadi gitu." jawab Renita dengan polos.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu



hay kak jangan lupa mampir ke karya kak R.angels seru lohh!!!!!