Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Bab 7



"Oh, jadi gitu, Dri. Jadi kalian tidak ada hubungan apa-apa?" tanya Bellanca. Setelah mendengar pernyataan Andri, entah kenapa hati Bellanca begitu tenang tanpa sadar tersenyum sangatlah manis di depan Andri.


Maaf, Nona. Saya belum siap menceritakan semua ini, mencoba jujur kepadamu. Manis sekali senyummu, Nona, batin Andri sambil melamun.


****


Bellanca dan Andri baru saja sampai di rumah, sudah di sambut oleh Randi dengan ke julid-an. "Cie, yang habis ngapain aja berduaan terus, udah di kantor enggak di rumah. Apa enggak bosen kalian berdua itu?" goda Randi.


Bellanca mendekati Randi lalu menyentil jidat Randi dengan keras. "Otakmu perlu dicuci! Terlalu kotor! Kalo nggak gara-gara kamu ninggalin kakak sendiri di rumah. Enggak mungkin kakak pergi bareng Andri! Mana tadi ada Andrew ke rumah tadi pagi. Pasti kamu kan yang memberi tahu Kakak sakit?" selidik Bellanca penuh amarah.


"Iya, Kak. Maaf," ucap Randi langsung berlari secepat kilat, takut diamuk oleh Bellanca. Bellanca langsung mengumpat melihat Randi kabur dari hadapannya.


"Sabar-sabar," ucap Bellanca sambil mengusap dadanya.


"Nona," panggil Andri.


"Iya, kenapa?" tanya Bellanca, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang.


"Saya, pamit dulu, mau pulang ke apartemen," pamit Andri.


"Terima kasih, Dri. Untuk hari ini, dan selalu menjagaku selama tiga tahun terakhir," ucap Bellanca tiba-tiba, tidak ada angin tidak ada hujan.


"Baik, Nona." Bellanca hanya bisa melambaikan tangannya sambil melihat Andri yang sedang menunggunya masuk ke dalam rumah.


Andri hanya bisa mematung melihat kepergian Bellanca masuk ke dalam rumah. Andai Nona tahu isi hatiku, aku hanya takut Nona pergi, jika mendengarkan pernyataan cintaku, batin Andri sendu.


****


Bellanca melihat jam di tangannya, ternyata sudah hampir telat ke kantor. Bellanca melihat Randi yang masih tertidur pulas, ia langsung membangunkannya. "Woy, bangun woy! Kerja woy! Kerja!" teriak Bellanca dengan gaya bar-barnya.


Randi hanya menggeliat di atas ranjang. "Apaan sih Kak! Baru pukul 06.30, masih bisa tidur sebentar." Bellanca tidak sabar dengan jawaban Randi, ia langsung pergi ke kamar mandi mengambil gayung yang berisi air. Randi disiram dengan air dingin ke wajahnya. Randi yang tadinya memejamkan mata langsung membelalakkan matanya.


"Kakak! Basah tahu," teriak Randi, suaranya menggema ke seluruh ruangan.


"Kamu! Jika terlambat ke kantor, Kakak pecat! Kakak 'kan bosnya jadi, you know-lah," ancam Bellanca sambil meninggalkan Randi yang masih duduk di tepi ranjang.


Tak menunggu lama Randi bergegas siap-siap untuk pergi ke perusahaan. Randi buru-buru turun ke bawah untuk sarapan pagi, ternyata Bellanca sudah meninggalkannya sendirian di rumah. Umpat demi umpatan Randi lontarkan untuk sang kakak.


"Ya Tuhan, gini amat punya Kakak," gerutu Randi yang meratapi hidupnya.


Sampai di perusahaan Bellanca menanyakan jadwal hari ini kepada Andri. "Jadwal hari ini apa, Dri?"


"Jadwal Nona hari ini adalah akan bertemu klien, habis itu kita makan siang bersama, Nona. Kita datang langsung ke perusahaan Rahardian," terang Andri.


"Sebelum kita pergi bertemu klien, kamu urus dulu anak manja itu, Dri. Saya sudah pusing. Umur sudah 25 tahun masih tetap begitu," gerutu Bellanca.


"Siap, Nona. Tuan Randi akan saya tempatkan di bagian administrasi," ucap Andri.


"Satu lagi, buat dia tidak mengakui jika dia adik saya. Biar dia belajar mandiri, biar karyawan lain tidak berpikir negatif." Bellanca berdiri berjalan ke arah jendela kaca.


"Siap, Nona. Akan saya laksanakan, Nona ada masalah?" tanya Andri sambil melihat Bellanca sedang melamun. Bellanca hanya menggelengkan kepala dan tersenyum kaku.


Bellanca bergeming sulit sekali untuk bercerita. "Jika Nona ada masalah, saya siap menjadi pendengar yang baik," lanjut Andri penuh keyakinan. Bellanca langsung membalikan badannya lalu memeluk Andri dengan erat.


"Biarkan saya pinjam bahumu sebentar saja, Dri." Bellanca menangis tersedu-sedu. Andri hanya bisa mematung, karena terkejut apa yang dilakukan Bellanca. Lama-kelamaan Andri membalas pelukan Bellanca. Jantung Andri berdegup kencang, Bellanca mendengar suara jantung Andri langsung memundurkan tubuhnya.


"Terima kasih." Bellanca kembali duduk di kursinya. Andri pergi meninggalkan Bellanca sendirian.


"Bodoh! Dasar bodoh! Apa yang aku lakuin sih!" Bellanca mengumpat dirinya sendiri.


***


"Selamat pagi Randi," Andri menyapa. Andri memberi berkas-berkas agar Randi mempelajarinya.


Gila banyak bener kerjaannya, ini pasti kerjaannya Macan Betina, batin Randi.


"Siap, Tuan," jawab Randi.


Andri mendekati Randi lalu membisikkan sesuatu. "Sabar, ya. Anggap saja, ini adalah pembelajaran baru untukmu, agar paham."


Randi hanya tersenyum, karena banyak karyawan yang memperhatikan mereka berdua. Setelah selesai memberi tahu tugas Randi, Andri pun keluar dari ruangan administrasi. Bergegas menghampiri Bellanca yang sudah menunggu. Andri sangat peka sekali saat Bellanca ingin masuk ke dalam mobil, ia bukakan pintu belakang. Namun kenyataannya, Bellanca memilih membuka pintu depan. Andri sedikit terkejut dengan tingkah Nona bosnya.


Bellanca di dalam mobil sedang memperhatikan Andri. "Dri, bagaimana caranya aku mengusir Andrew dari hidupku? Sedangkan, Papa sering kali membahas pertunangan itu. Muak rasanya. Aku tidak tahan dengan semua ini." Tanpa disadari air mata Bellanca menetes di pipinya.


Tiba-tiba Andri menghentikan mobilnya, lalu ia berkata. "Nona, saya akan membantu Nona, jangan khawatir saya akan selalu untuk Anda." Andri mengusap air mata di pipi Bellanca. Bellanca langsung salah tingkah, ia langsung memalingkan wajahnya ke arah luar jendela karena malu.


"Pertemuan kita dengan perusahaan Rahardian kira-kira memakan waktu yang lama atau tidak?" Bellanca sambil membuka berkas yang akan dipresentasikan. Andri langsung memundurkan tubuhnya ke posisi awal.


"Kita akan bahas proyek baru, Nona, lamanya atau tidak tergantung pemimpin perusahaannya," jawab Andri.


Flashback on


"Halo Kak, perusahaan kita mau kerjasama dengan perusahaan Hendriwan 'kah? Aku minta tolong jaga rahasiaku, Bellanca tidak boleh tahu. Jika aku salah satu anak pemilik perusahaan Rahardian." Andri penuh permohonan.


"Memangnya kenapa?" tanya Sisi penasaran.


"Aku belum siap, jika identitasku diketahui oleh Bellanca," terang Andri.


"Bisa diatur, Sayang. Nanti Kakak yang bertemu Bellanca. Jadi kamu jangan khawatir ya. Kenapa kamu bersembunyi? Ada masalah?" Suara sisi di balik telepon.


"Aku diam-diam menyukainya, Kak. Aku takut dia kecewa setelah mengetahui aku telah berbohong kepadanya," jawab Andri.


"Oke, Kakak bantu."


Telepon pun dimatikan oleh Andri, tiba-tiba Andri berpikir lalu ia berharap jika suatu hari nanti dia ketahuan seorang anak konglomerat. Bellanca dapat menerimanya, apa mungkin akan mengusir Andri dari kerjanya. Alasan Andri melakukan itu karena menghindari perjodohan dengan Monica sedari kecil udah dijodohkan oleh kedua orang tua mereka berdua. Sudah 3 tahun Andri tidak pulang kerumah.


Flashback off


Sesampainya di perusahaan Rahardian, Bellanca turun dari mobil dengan dibukakannya pintu mobil oleh Andri. Bellanca bersiap menemui Sisi di ruang rapat. Saat mereka bertemu berjabat tangan, acara presentasi pun sudah selesai.


Beberapa jam kemudian. "Terima kasih, Bellanca atas kerja samanya. Semoga rencana kita untuk membuat bisnis ini lancar. Bagaimana jika kita makan siang bersama, Bell?" tawar Sisi.


"Boleh, Nona Sisi, kita mau makan di kantor atau di luar?" tanya Bellanca.


"Duh, jangan Nona dong, enggak enak tahu, Bell. Umur kita tidak terpaut terlalu jauh. Kakak aja panggilnya, eh, itu sekretaris kamu, Bell? Tampan juga," goda Sisi.


Wah, saingan baru nih, besok-besok apa perlu Andri nggak usah ikut, tapi siapa nanti yang nemenin aku?


"Kenapa, Kak? Kakak mau aku kenalin? Dia single loh." Bellanca sedikit canggung.


"Aku? Aku sudah punya suami Bellanca. Kalian kelihatan sangat serasi jika berjalan bersama sebagai pasangan," goda Sisi.


Bellanca hanya tersipu malu, Andri mendekati Bellanca yang sedang asik mengobrol dengan Sisi. "Dri, kita makan dulu, habis ini kita balik lagi ke kantor," ucap Bellanca. Saat Bellanca menundukkan kepala asik bermain ponsel. Sisi mengedipkan mata mengarah ke ponsel. Agar Andri membuka ponselnya.


My sister


Jadi ini wanita yang kamu suka? Kakak suka, dengan dia.


Andri tidak membalas pesan Sisi, Andri hanya tersenyum saat melihat Sisi. Akhirnya mereka bertiga makan siang dia sebuah restoran mewah. Setelah itu Bellanca pamit kepada Sisi untuk kembali ke perusahaan.


"Kak, aku pergi ke kantor dulu ya, kapan-kapan kita bertemu lagi," Bellanca mencium pipi kanan kiri Sisi.


Dalam perjalanan menuju ke perusahaan, Bellanca berkata. "Dri, Kak Sisi orangnya seru ya? Andai aku punya Kakak seperti itu. Keburu punya Adik nyebelin banget, kapan Randi bisa dewasa?" ucap Bellanca.


"Ambil saja, saya ikhlas, Nona." Tanpa disadari Andri telah keceplosan, seolah jika Sisi adalah kakaknya.


"Maksud kamu? Seolah-olah kamu Adiknya?" tanya Bellanca binggung.


"Maksud saya, jika saya Adiknya pasti saya menyetujuinya, Nona," jawab Andri sedikit gugup.


"Oh, gitu," jawab Bellanca, lalu ia masuk ke dalam perusahaannya.


"Ke mana bisa keceplosan gini sih." Andri bermonolog.


***


Bellanca duduk di singgasananya bersama berkas-berkas yang menumpuk. Bellanca mengambil telepon dan memanggil Andri untuk ke ruangannya. Suara ketukan pintu telah terdengar.


"Masuk!" teriak Bellanca.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya Andri.


"Tugas yang telahku berikan kepadamu, tempo lalu sudah ada kabar tentang Vira Herlambang?" Mata Bellanca tetap tertuju ke laptop tanpa beralih ke Andri.


"Belum, Nona. Nanti saya akan menghubungi informan saya, Nona. Mungkin, besok pagi Nona akan mendapatkan informasinya," ucap Andri dengan tegas. Andri pamit keluar ruangan.


bersambung..........


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komen,vote & hadiah.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu