Beautiful Crazy Woman

Beautiful Crazy Woman
Epi 54



"Sayang, kamu harus kuat," gumam Robin menatap sang istri masih terlelap dalam mimpinya.


Tiba-tiba Sisi membuka mata,"Papa gimana sayang?" tanya Sisi.


"Papa baik-baik saja. Sekarang yang harus dipikirkan adalah kamu. Kamu hampir saja menghilangkan anak kita," ucap Robin sekidit kesal campur khawatir.


"Maaf tadi aku lupa, jika aku hamil sayang. Mendengar papa siuman aku sangat bahagia," ucap Sisi merasa bersalah.


"Yaudah, sekarang kamu harus hati-hati ya." titah Robin, lalu mencium kening istrinya lagi.


****


Andri membuka pintu kamar inap Winata,"Papa," panggil Andri.


"Kemari lah nak," ucap Winata.


Andri memeluk Winata sangat erat, rasanya ia takut kehilangan sang papa.


"Sisi dimana?" tanya Winata lagi.


"Kakak Sisi di rumah pa harus istirahat. Karena papa akan mendapatkan cucu lagi," sahut Bellanca tak tega membohongi papa mertuanya.


"Benar itu?" tanya Winata terlihat bahagia.


"Benar pa, makannya papa cepat sehat ya. Agar cepat pulang," ucap Bellanca berjalan mendekati Winata.


"Hallo, cucu kakek. Sehat ya di perut mama mu," ucap Winata sambil mengusap perut buncit Bellanca.


Bellanca dan Andri tersenyum, melihat Winata sudah bisa menerima Bellanca sangat membuat mereka bahagia.


"Keadaan Monica bagaimana?" tanya Winata.


"Papa jangan memikirkan Monica lagi, biarkan hukum telah berjalan pa." pinta Andri.


Tiba-tiba pintu terbuka Robin masuk ke ruangan Winata.


"Papa, sudah baik-baik saja kan?" tanya Robin.


"Baik, Sisi sehat kan dirumah?" Winata bertanya balik.


"Baik sekali pa, karena kandungannya sangat lemah. Sisi harus bed rest di rumah." Robin pun tak tega berbohong kepada mertuanya.


Jika Winata mengetahui Sisi di rawat di rumah sakit, karena ulahnya takut Winata jantungnya kambuh kembali.


"Antar saja Bellanca pulang Dri. Biar papa aku yang jagain. Kamu istirahat saja di rumah." titah Robin.


"Apa kakak tidak repot, jika disini sendirian?" tanya Andri.


"Ada Romeo tenang saja. Semua pasti beres." Robin mencoba meyakinkan Andri.


Andri dan Bellanca pun pamit untuk pulang ke mansion Hendriwan. Di perjalanan dalam mobil Andri menggenggam tangan Bellanca dengan lembut, terkadang ia pun menciumi tangan Bellanca.


"Kenapa Andri begitu mencintai ku?" batin Bellanca, entah mengapa terbersit petanyaan aneh.


"Kamu kenapa liat-in aku kaya gitu?" tanya Andri.


"Nggak pa-pa kok," kilah Bellanca lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.


"Nggak percaya," cicit Andri kembali fokus ke kemudinya.


"Kenapa si, kamu cinta sama aku?" akhirnya terucap pertanyaan itu dari mulut Bellanca.


"Kenapa kamu ngomong gitu sayang. Nggak ada alasan untuk mencintai kamu. Jika ada alesan aku mencintai kamu. Jika alasan itu sudah tidak ada lagi, cinta ku pasti ikut pergi." jelas Andri.


Bellanca mendengar penjelasan Andri membuat hatinya terasa tenang.


"Terimakasih my hubby," goda Bellanca lalu mencium pipi Andri.


"Sekarang udah bisa sedikit romantis ya," ejek Andri.


"Aku akan coba pelan-pelan ya. Kamu tau sendiri Aku orangnya cuek. Jadi perempuan dingin kaya kulkas. Aduh ngada bagus-bagus lah," ucap Bellanca belajar mencintai suaminya.


"Di mata aku kamu yang terbaik sayang," gombal Andri.


"Ih kamu." Bellanca merasa aneh.


*******


"Re, anterin aku pulang," rengek Randi.


"Siapa suruh nyusul-in aku di rumah sakit. Om kan bisa pesen taksi online," gerutu Renita.


"Banyak." Renita merajuk.


"Cerita dong sama aku," rayu Randi.


"Om nyebelin," rajuk Renita kembali.


"Ya Tuhan, memangnya aku cenayang. Yang bisa mengerti isi hati perempuan," gerutu Randi dalam hati.


Randi sedikit menghimpit tubuh Renita, padahal mereka sedang di parkiran.


"Om, malu diliat-in orang." Renita mendorong tubuh Randi agar menjauh.


Randi yang hampir terhuyung ke belakang dengan sigap Renita menarik tangan Randi agar tidak terjatuh.


"Kamu makan apa si Re? tenaga kamu kuat banget," gerutu Randi.


"Latihan fisik dong Om," ucap Renita masuk ke dalam mobil.


Randi masih terdiam di luar mobil,"jadi dianterin pulang nggak?" tanya Renita.


"Jadi!" teriak Randi langsung berlari ke dalam mobil.


"Kamu bisa bawa mobil Re?" Randi sedikit was-was.


"Bisa kok, dulu aku diem-diem Om belajar mobilnya. Pulang sekolah ke kursus-an mobil," jelas Renita.


"Banyak juga ya ide bulus kamu," ejek Randi.


"Kalo nggak gitu, aku akan selalu di tindas Om. Untung ada kak Bellanca, aku banyak belajar menjadi wanita kuat," puji Renita.


Sampailah di apartemen Randi, Renita keluar dari mobil.


"Om, aku langsung lanjut pulang aja ya," pamit Renita.


"Memangnya kamu nggak kagen sama aku?" tanya Randi sambil mengerlingkan matanya.


"Kangen si, tapi aku takut nggak mau pulang nanti," goda Renita sambil terkekeh.


"Sebentar aja ya," tawar Randi.


Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam apartemen Randi. Pintu lift terbuka Renita langsung membelalakan matanya.


"Ayo jalan, pintu udah terbuka Re," ajak Randi.


Sedari tadi Randi hanya fokus dengan Renita memainkan rambut Renita, tanpa sadar Sonya sudah di depan pintu apartemen Randi.


"Aku pulang aja ya." Renita akan menekan tombol lift untuk ke bawah.


"Kenapa si Re? cepet banget berubahnya." Randi tampak binggung.


"Males ada parasit, takut ganggu," cicit Renita sambil melirik Sonya.


"Astaga, ku kira apa. Tenang nanti aku usir, oke." Randi mencoba negosiasi.


"Bener ya Om," jawab Renita dengan datar.


Mereka berdua berjalan menuju pintu apartemen, Sonya melihat mereka berdua begitu mesra Sonya merasa panas. Raut wajah Sonya berubah drastis, ingin marah tapi ia juga bukan siapa-siapa Randi.


"Ada apa So?" tanya Randi tanpa melepaskan tangan Renita.


Bersambung....


Happy reading guys,


Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.


Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.


Terimakasih atas dukungan kalian.


1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤


Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55


#salamhalu



jagan lupa mampir ya kak ❤