
"Sonya, ada apa?" tanya Randi.
"Orang tamu itu harusnya disuruh masuk Ran."
"Oke, maaf. Yuk masuk." Randi menggaruk tengkuknya tidak gatal.
"Aku kesini mau kasih kamu kue buatan aku sendiri." Sonya tersenyum.
Sonya mulai celingukan mencari keberadaan Renita. Ia mulai penasaran siapa sebenarnya Renita.
"Kamu cari apa So? celingukan gitu."
"E-eenggak Ran. Mau cari toilet aja. Kebelet nih tiba-tiba."
"Oh, itu kamu lurus aja belok kiri aja ya." Randi sambil menunjuk arah toilet.
Renita didalam kamar penasaran siapa tamu yang datang pagi-pagi ke apartemen Randi. Saat Sonya berjalan menuju toilet Renita mengintip lewat pintu kamar tamu.
"Wanita yang tadi pagi. Kakak cantik. Siapa ya tadi namanya? aduh aku lupa. Ngapain dia kesini?" batin Renita.
Saat Renita menutup pintu kamar. Randi dan Sonya mengobrol membahas masalalu. Deg, tiba-tiba hatinya terasa sakit yang dirasakan oleh Renita."Kenapa sesakit ini? melihat mereka begitu akrab." Renita bermonolog.
"Ran, kuenya dimakan dong." Sonya menjulurkan kue ke mulut Randi. Lalu Randi melahapnya dengan cepat.
"Enak sekali kue buatan kamu. Kamu memang pintar jika membuat kue So." puji Randi.
Renita sangat cemburu melihat adegan suap-suapan Randi dan Sonya. Renita tidak menyadari jika ia sedang cemburu. Tiba-tiba membanting pintu dan menutupnya. Randi dan Sonya sontak kaget apa yang dilakukan Renita.
"Suara apa Ran? ada orang lain selain kita. Atau itu pembantu kamu? kurang ajar sekali membanting pintu seperti itu." ejek Sonya.
"Oh, itu ..." belum sempat Randi menjawab Renita keluar dari kamar. Berjalan lurus tanpa berpamitan kepada Randi dan Sonya. Randi yang binggung melihat tingkah Renita langsung mengejarnya.
"Re, kamu kenapa? mau kemana kamu?" Randi mencoba menahan Renita.
"Pikir aja sendiri. Aku capek mau pulang ke mansion. Urusin aja wanita itu." Renita mendorong tubuh Randi agar menyingkir.
"Re, tunggu Re." Randi berlari mencoba mengejar Renita. Apa daya pintu lift sudah tertutup. Akhirnya Randi menemui Sonya lagi didalam apartemennya.
"So, aku pulang mansion dulu ya. Kamu pulang dulu. Lain kali aku cerita sama kamu." Randi bergegas meninggalkan apartemennya.
Didepan pintu apartemen Randi wajah Sonya sudah memerah. Rasa kesal diusir dari apartemen Randi begitu saja. Demi wanita biasa tidak seperti dirinya begitu glamour.
"Sebenarnya siapa wanita itu? Randi begitu pedulinya sampai mengejar wanita itu. Aku harus cari tau. Selama ini Randi selalu dikejar-kejar wanita. tapi ini sebaliknya." gerutu Sonya.
Di dalam perjalanan Renita meneteskan air mata. Tapi ia enggan mengakuinya."Kenapa sesakit ini melihat Om randi dengan wanita itu." batin Renita sambil memegangi dadanya.
"Maaf Non, kita mau kemana ya?" tanya supir taksi.
"Ma-aaf pak, antar saja saya ke jalan kamboja." Renita tersadar dari lamunannya.
"Sudah mbak nya. Jangan menangis nanti cantiknya ilang lo."
Lalu Renita tersenyum,"bapak bisa saja."
"Tuh kan, Mbaknya memang cantik jika tersenyum." goda Supir taksi.
Didalam mobilnya Randi melaju dengan kencang menuju mansion. Randi terus berpikir kenapa dengan Renita. Apa dia sedang cemburu melihat dirinya dengan Sonya.
" Ya, tuhannn!" teriak Randi merasa kesal dengan dirinya sendiri.
Renita sampai didepan pintu gerbang utama mansion. Berjalan menuju pintu utama mansion. Bellanca melihat Renita yang sedang tidak baik-baik saja dari kejauhan. Langsung menghampiri Renita dan memeluknya.
"Re, are you ok?" tanya Bellanca.
Renita membalas pelukan Bellanca. Hanya anggukan yang Renita berikan kepada Bellanca.
"Ayo, cerita sama kakak. Jangan bohong. Kakak tau kamu pasti ada masalah." Bellanca menarik tangan Renita menuju taman belakang.
"Aku binggug kak. Mau memulai dari mana?"
Renita mulai bercerita tentang masalahnya dari uang kuliah yang kurang. Berkerja diclub malam sampai tidur diapartemen Randi.
Randi sampai dimansion mulai masuk ke dalam dan mencari Renita."Ma, Renita mana?" wajah Randi mulai panik.
"Mama sama papa dari tadi disini. Tidak melihat Renita pulang. Iya kan pa?" tanya Riana.
"Kamu itu buat masalah apa lagi Randi?" Ferdinan menatap Randi.
"Bukan apa-apa pa. Masalah anak muda biasalah." Randi berlari menuju kamarnya meninggalkan Ferdinan dan Riana.
"Itu tu anak mu ma. Setiap kali papa ajak bicara. Pasti kabur." gerutu Ferdinan.
"Papa ini, buat sama-sama kok anak mama aja." Riana berkacak pinggang meninggalkan Ferdinan.
Ditaman belakang Renita dan Bellanca sedang berbincang-bincang."Sudah tidak usah bersedih Re. Soal Sonya nanti kakak bantu mencari solusi untuk hubungan kalian. Memang setau kakak Sonya itu suka sama Randi dari SMA. Tapi Randi yang nggak peka. Dulu Sonya sering berkunjung ke mansion. Untuk mencari perhatian Randi. Tapi Randi tidak pernah menyukai Sonya. Hanya menggap Sonya sahabat saja." Bellanca mencoba menenangkan Renita."Kamu ini cemburu Re".
"Aku kak?" Renita sambil menunjuk dirinya sendiri."T-tidak mungkin."
"Lalu apa jika tidak cemburu?" tanya Bellanca sambil tertawa.
Renita dan Bellanca masuk ke dalam mansion. Randi yang berdiri diatas tangga.
"Aku cari-cari malah ini bocah ketawa-tawa sama kakak ku sendiri. Padahal udah panik nyari-nyari." batin Randi merasa tertipu.
Renita dan Bellanca menaiki tangga sampai dilantai 2. Ya, tepatnya Randi sedang berdiri melihat Bellanca dan Renita berjalan. Hanya melawati Randi begitu saja. Meraka berdua acuh dengan Randi mengagapnya tidak ada. Randi hanya mengepalkan tangannya.
"Mereka berdua senggaja tidak mengagap ku? Sialan!" batin Randi.
Randi mengejar Renita dan Bellanca."Re, tunggu."
Renita malah memilih masuk kedalam kamarnya meninggal Randi didepan pintu kamar. Bellanca melihat sang adik sedang diacuhkan oleh seorang wanita. Sedih, kasian melihatnya tapi ingin tertawa. Karena Randi belum pernah memohon seperti itu terhadap wanita.
"Sabar ya, good luck." Bellanca menepuk pundak Randi sambil tertawa."Kakak tau rasanya sakit tak berdarah."
"Kakak! sebrnarnya adik mu siapa? kenapa kamu tak membela ku."
"Kamu tau kesalahan mu?" tanya Bellanca untuk memastikkannya.
Randi hanya menggelengkan kepala. Bellanca menepuk jidatnya,"Kenapa mahluk adam tidak mengerti perasaan kaum hawa."
"Kak, aku bukan cenayang yang mengerti isi hati wanita."
"Tadi diapartemen ada siapa selain Renita?"
"Sonya kak."
"Lalu?" tanya Bellanca lagi.
"Tadi aku nggak ngapa-ngapain kak. Dia cuma apartemen ngasih kue buatan dia. Lalu menyuapi ku kue itu agar menyecipinya. Jadi Renita cemburu ya?" tanya Randi tampak berpikir.
"Pikir aja sendiri." Bellanca pergi karena kesal dengan Randi tetap tak menyadari kesalahannya.
Bersambung...
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu