
"K-k-a-mu." Renita sambil sesegukkan.
"Coba tarik napas. Hembuskan pelan-pelan. Udah lega belum?" tanya Intan.
Renita masih sulit berbicara hanya menggelengkan kepalanya.
"Coba tarik napas. Hembuskan pelan-pelan. Udah mendingankan?" ulang Intan.
"duuutt." suara ketut yang menjawab pertanyaan Intan.
"Astaga Renita. Kamu mah nggak sopan. Berani-beraninya buang gas sembarangan." rajuk Intan sambil menutup hidungnya.
"M-maaf Tan. Kelepasan." ujar Renita tanpa dosa.Renita menutup mulutnya yang hampir tertawa.
"Ketawa tinggal ketawa kali nggak usah ditahan-tahan. Nanti kaya kentut kamu tu ditahan-tahan kelepasan juga kan." ujar Intan.
"Ih aku jadi malu tau tan." sahut Renita.
"Hah, sejak kapan kamu itu punya malu?" ejek Intan.
Akhirnya mereka tertawa lepas Renita mulai bercerita dari a-z tentang masalahnya yang terjadi. Renita merasa lega sudah bercerita kepada sahabatnya itu. Tanpa disadari ada seseorang mendengarkan perbincangan mereka. Siapa lagi kalau bukan Dimas kakaknya intan sahabat Randi.
"Coba kamu hubungi kak Bellanca Re. Dia kan lagi hamil kasian tau banyak pikiran. Nanti kalo kandungan kenapa-kenapa gimana coba? kamu mau tanggung jawab." ujar Intan.
"Siap bos." goda Renita.
Renita akhirnya membalas pesan dari Bellanca.
Kak Bellanca
Tenang kak, aku baik-baik saja. Aku dirumah Intan kakak nggak usah jemput aku. Sementara aku dirumah Intan dulu ya.
Bellanca lagi asik memilih-milih gaun pengatin tampak tak bersemangat.
"Honey, are you ok?" tanya Andri sambil mengusap bahu Bellanca.
Bellanca hanya mengngagukan kepala sambil melihat ponselnya ternyata pesan dari Renita. Wajah Bellanca langsung berseri-seri lega Renita tidak kenapa-kenapa.
"Saya mau gaun yang itu ya." Bellanca menunujuk gaun elegan nan seksi.
"Kenapa Bellanca cepat sekali berubah. Sekarang seantusias itu memilih gaun. Apa gitu mood seorang ibu hamil?" batin Andri.
Andri mendekati Bellanca."Mau dicoba sayang?" tanya Andri.
"Iya aku akan mencobanya." Bellanca tersenyum.
"Kenapa kamu sebahagia itu? perasaan tadi panik mikirin Renita."
"Renita tempat temannya. Jadi aku bisa fokus tentang gaun pernikahan kita."
Bellanca memasuki ruang ganti. Andri tampak gugup menunggu Bellanca keluar dari kamar ganti. Hanya mondar-mandir ke kanan ke kiri. Saat tirai terbuka Bellanca memanggil Andri dengan lembut.
"Sayang, coba lihat."
Andri membalikkan badannya untuk melihat calon istrinya. Yang Bellanca harapkan adalah Andri terpesona tapi apa hasilnya Andri berkata tidak.
"Ganti saya tidak suka. Terlalu seksi dibagian dadanya." ujar Andri kepada pelayan.
Bellanca merubah mimik wajahnya menjadi masam."Ish aku suka Dri."
Andri tau jika Bellanca tidak suka dengan penolakan. Andri mendekati dengan membisikkan ditelinga Bellanca.
"Aku tidak suka milik ku dilihat orang lain sayang." ujar Andri dengan suara sensasionalnya.
Bellanca hanya menelan ludahnya suara Andri begitu seksi yang ia dengar. Yang tadinya ingin marah rasanya Bellanca malah tergoda dengan suara Andri.
"Jangan menggoda ku." Bellanca mencubit pinggang Andri sambil berjalan menghampiri pelayan.
"Ini Tuan salah satu koleksi gaun pengantin terbaru dibutik kami. Ini limeted edision Tuan." ujar Pelayan.
Andri mengambil dari tangan pelayan dan memberikan kepada Bellanca.
"Pasti kamu pakai ini akan cantik sayang."
Tak menunggu lama Bellanca keluar dari ruang ganti. Andri mengnganga melihat kecantikan Bellanca.
******
Randi keluar dari apartemennya dengan mobilnya. Pikiran kalut harus mencari kemana Renita. Randi sudah menelusuri kampus dan tempat kerja Renita tak ada dan tak sengaja bertemu kevin dicave.
"Kamu kenapa ke sini?!" tanya Kevin tak suka ke datangan Randi.
"Aku cari Renita. Apa ada disini?"
"Kamu itu calon suaminya masak nggak tau keberadaan Renita." ejek Kevin
Randi mengepalkan tangan rasanya ingin melayangkan ke pipi Kevin agar diam tak banyak bicara. Tiba-tiba ponselnya bergetar di dalam saku celananya.
"Halo, ada apa Dim? nggak tau apa gue lagi badmood lo malah nelpon." Randi berjalan keluar meninggalkan kevin.
"Lo buat ulah apa lagi Ran? pusing gue liat percintaan lo."
"Lo kenapa bisa tau?" selidik Randi.
"Apa si nggak gue tau tentang lo? hahhaa." Dimas tertawa.
"Sialan lo!" Randi masuk ke dalam mobilnya.
"Sini ke mansion gue. Renita disini. Jangan lupa bagian gue. Rekening gue masih sama. Hahhaa." ejek Dimas sambil tertawa lepas.
Bukan menjawab ucapan Dimas. Randi langsung mematikan telepon lanjut tancap gas menuju mansion Dimas. Dari pintu utama cave Kevin memperhatikan Randi yang telah pergi.
"Ada masalah apa mereka? Randi sampai sekalut itu." batin Kevin sambil melamun.
*****
Dimeja makan Renita makan dengan lahap. Kaya nggak makan seminggu guys.
"Pelan-pelan kali Re. Makannya jangan cepet-cepet nanti kamu kesedak." ujar Intan.
Renita pun tidak menjawab ucapan Intan tetap saja makan. Kadang sambil meneteskan air mata saat makan. Dimas melihat tingkah Renita merasa miris sambil menyandarkan tubuhnya disamping kulkas.
"Ya, tuhan Re. Sering kali kalo ada masalah pasti gini. Randi-Randi beruntung banget bisa dapetin Renita. Kasian banget Renita dapetin kunyuk satu itu." batin Dimas.
Persahabatan Renita dan Intan sudah terjalin SMA. Setiap kali ada masalah dengan keluarga Setiawan. Renita selalu berlindung di kediaman keluarga Intan. Semenjak orang tua meninggal Renita kesepian hanya Intan menjadi teman curhatnya. Selama ini Dimas hanya bisa menjadi pengagum rahasia saja. Menurut Dimas ia tidak pantas mendapatkan Renita gadis baik.
"Renita!" teriak Randi.
Renita mendengar teriakan Randi langsung tersedak."Uhuk-uhuk."
Dengan sigap Dimas memberikan air minum."Pelan-pelan Re."
"Kamu nggak papa sayang?" tanya Randi dengan lembut."Maafin aku. Kamu salah paham dengan kejadian tadi." Randi menggegam tangan Renita.
Renita menghempaskan tangan Randi."Om Randi pulang aja. Jangan ganggu aku lagi. Lagian rencana kita B-A-T-A-L! batal!" teriak Renita meninggalkan Randi.
Kevin syok mendengarkan ucapan Randi."Hah, sayang ?! manis banget itu mulut. Anjir ini kunyuk." batin Dimas.
Randi mengejar Renita apa daya pintu kamar langsung di tutup."Re, kasih aku kesempatan buat jelasin kesalah pahaman ini."
"Bodo' amat." Renita tak peduli.
Dimas melihat Randi dikacangin Renita rasanya ingin tertawa lepas. Baru kali ini melihat Randi dipermainkan oleh wanita. Dari kejauhan Dimas merekam tingkah Randi yang memohon-mohon kepada Renita agar dimaafkan.
"Lumayan bisa buat bahan bullyan." Dimas bermonolog dan menahan tawa.
Bersambung......
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu