
"Sudah sayang, jangan gitu sifat adik mu dari dulu memang seperti itu." Riana mencoba menangkan Bellanca. Ferdinan masuk ke ruang kerjanya. Kini tinggal mereka bertiga Andri sudah pergi ke kantor menyusul Randi. Tiba-tiba perut Bellanca mual lagi seperti diaduk-aduk. Lari ke kamar mandi bawah. Riana melihat khawatir mengikuti Bellanca dari belakang.
"Hoek-hoek," ulangnya beberapa kali.
"Bellanca!" teriak Riana. Begitu khawatir melihat anak perempuannya muntah-muntah terus.
"Aku nggak apa-apa ma. Mungkin hanya masuk angin. Dari kemarin seperti ini." ucap Bellanca memijat pelisnya.
"Yakin? cuma masuk angin?" Riana mencoba memastikan. Karena filling seorang ibu tidak pernah salah. Riana berpikir jika Bellanca pasti hamil tapi tidak menyadarinya.
Bellanca hanya mengganguk,"ma aku ingin istirahat dikamar. Mama sama Renita ya." Bellanca pergi ke atas.
Dengan penasaran Riana mencoba mengintrogasi Renita. Seberapa besar Renita mengetahui masalah ini."Mama boleh bertanya?" ucap Riana dengan lembut.
"Mama ingin bertanya soal apa? ngomong aja ma." Renita sudah berbidik ngeri jika dia ditanyai tentang masalalu menyedihkan. Ya, setelah kedua orang tuanya tiada meninggalkannya selama-lamanya.
"Kamu sering melihat, calon suami Bellanca ke mansion?" Riana ragu bertanya lebih dalam.
"Kan tadi ikut makan kita bersama ma." Renita dengan polosnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi jika waktu sudah menandakan waktunya bekerja dicave."Maaf ma, waktunya aku kerja. Jika tidak ada lagi Renita berangkat dulu ya." Renita mencium tangan Riana.
Riana melihat Renita pergi menghilang dibalik pintu. Riana nampak berpikir,"siapa yang Renita maksud? Randi tidak mungkin. Andri? hah, serius ini. Selama ini andri memang pria yang baik. Selalu menjaga Bellanca 3 tahun terakhir."
"Mama ini ngomong sendirian aja. Ajak papa dong. Pasti papa temenin." goda Ferdinan.
"Ih papa seneng bener godain mama. Pa, mama sudah tau siapa calon mantu kita." ujar Riana.
"Mama tau dari mana? dari Randi? kan dia bilang surprise." tanya Ferdinan.
"Dari Renita tapi mama ragu. Kan dia belum lama disini." ujar Riana.
"Jadi siapa ma?" Ferdinan sangat penasaran.
"Lihat nanti malam saja pa." Riana meninggalkan Ferdinan.
"Mama!" teriak Ferdinan mengikuti sang istri masuk dalam kamar.
Diluar gerbang pintu utama mansion mobil sport warna hitam telah terpakir cantik. Kevin melambai-lambaikan tangannya Renita mulai mendekat.
"Loh, kamu ngapain Vin ke sini?" tanya Renita.
"Jemput kamu lah pakek tanya." Kevin membukakan pintu mobil."Silahkan masuk tuan putri.
"Apaan si Vin kamu, sok manis banget. Aku bukan wanita-wanita yang diluar sana. Gampang kamu gombalin." Renita terkekeh geli melihat Kevin sok romantis.
Kevin merubah mimik wajah menjadi masam. Renita melihat gemas tingkah Kevin langsung dicubit pipinya."Uluh-uluh, ngambek." goda Renita.
Saat renita ingin melepas tangannya dipipi Kevin. Kevin menahannya,"aku serius." Tatapan cinta pun terlihat dimata Kevin. Renita yang tak enak hati langsung menarik tangannya dengan cepat.
"Ayo, jalan." ujar Renita. Tak ingin menjawab pertanyaan Kevin karena takut menyakiti sahabat sekaligus bosnya."Ayo." Ulangnya dengan tersenyum sangat manis.
Diperjalanan menuju cave begitu hening dalam mobil. Renita enggan berbicara rasa canggung mengingat kejadian tadi."Apa-apaan si Kevin! melakukan hal seperti ini. Apa dia benar-benar menyukai ku? jika ini berlebihan aku akan keluar kerja. Karena menurut ku sahabat lebih penting dari pada cinta." batin Renita.
"Re," panggil Kevin."Re," ulangnya.
"Hah," Renita dengan cengo.
"Sudah, sampai. Ayo turun." ujar Kevin.
Merasa begitu malunya Renita buru-buru keluar mobil. Ia cepat-masuk cave menaruh tas ke dalam loker lalu berkerja. Beberapa jam kemudian.
"Kamu mau pulang?" tanya Kevin.
Renita yang keluar dari cave, kevin sudah menunggunya. Renita pura-pura tidak melihat kevin memilih terus saja berjalan. Tangan Renita yang dicekal Kevin langsung terhenti berjalan dan membalikkan badan.
"Kamu marah?" tanya kevin.
"Entah? rasanya aneh tiba-tiba kamu seprti itu." ujar Renita yang nambak binggung.
"Aku benar-benar menyukai mu Re. Apa kamu tidak pernah merasakan? jika perilaku ku kepada mu itu berbeda selama ini?" ucap Kevin mencoba meyakinkan. Kevin memegang tangan Renita dengan erat penuh harapan cinta yang ingin dibalas.
"Maaf Vin, aku enggak bisa balas cinta kamu." Renita menghempaskan tangan Kevin.
"Ok, jika mau kamu gitu. Aku akan tetap menunggu mu jatuh cinta sama aku." ucap Kevin penuh penekanan.
Dari kejauhan Randi melihat adegan pegang-pegangan tangan membuat panas hatinya terasa terbakar. Ingin marah tapi dia siapa bagi Renita. Ya, baguslah Ran jika tau diri. Ok skip.
Randi keluar dari mobil,"Renita!" teriak Randi yang sudah tidak tahan melihat mereka berpelukan.
Pov Renita
"Sudah, aku pulang dulu. Oiya, sampai kapan pun kamu akan tetap jadi sahabat ku." ucap Renita dengan tegas.
Tiba-tiba Kevin berjalan ke depan memeluk Renita."Terimakasih, buat selama ini." bisik Kevin ditelinga Renita. Renita mematung menerima pelukan dari Kevin. Renita tak membalas pelukan Kevin. Hatinya rasanya biasa saja tak berdebar sama sekali.
Pov selesai
Kevin langsung melepas pelukannya. Mendengar seseorang berteriak kepada mereka. Renita memutar badan,"om." ujar Renita.
Randi yang sudah terbakar api cemburu langsung menarik tangan Renita."Om, sakit om!" teriak Renita kesakitan.
Randi yang tak mau mendengarkan teriakan Renita terus menariknya menuju mobil."Masuk." Ujar Randi.
Kevin tak melawan Randi. Karena dikira Kevin, Randi itu omnya Renita. Didalam mobil Renita menatap tajam Randi."Om kenapa sih? tarik-tarik Renita? sakit tau!" ucap Renita dengan geram.
"A-aku?" sambil menunjuk dirinya sendiri."Enggak papa kok. Cuma pengen jemput kamu pulang. Ini udah malem enggak baik berdua-duaan. Bukan muhrim."
"Kita juga bukan muhrim kali om. Atau om berharap lebih?" ucap Renita penuh dengan ketegasan.
Randi yang mendengar pernyataan Renita menelan ludah."Salah ngomong kayanya aku." batin Randi. Yang berpikir mencari alasan ia tidak mau mengakui rasa cemburunya.
"Tapi aku beda, aku tidak pernah ingin mencelakai mu. Aku malah ingin melindungi mu. Dan aku hanya menggap mu saudara saja. nggak usah GR." Randi mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ih, om. Banyak alasan. Nyebelin!" Renita memalingkan mukanya keluar jendela mobil.
Randi bergegas melajukkan mobilnya. Diperjalanan Randi curi-curi pandang. Melihat Renita wajahnya sangat masam. Saat sampai dimansion Renita keluar dari mobil tanpa menunggu Randi. Dia berlari memasuki mansion dan menaiki tangga. Langsung cepat masuk dalam kamar dan membaringkan badannya dengan terlentang. Ia tatap langit-langit kamar.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu