
"Ada apa So?" tanya Randi tanpa melepaskan tangan Renita.
"Aku bawa sesuatu buat kamu," ucap Sonya dengan lembut.
Renita hanya menatap Sonya dengan sinis, Sonya menganggap Renita tidak ada.
"Sialan ini orang, aku pelototi bukannya takut malah biasa aja. Aku di cuekin," batin Renita yang mulai panas.
"Makasih deh, kita berdua udah makan," tolak Randi.
"Sayang dong, kalo di buang, Ran." Sonya sendu.
"Kan bisa kamu makan, kenapa harus kamu buang." Randi menakan password apartemen.
"Aku masuk dulu ya So. Ayo, sayang." Randi menarik tangan Renita.
Randi dan Renita masuk ke dalam apartemen, Sonya masih setia berdiri di depan apartemen.
"Sialan, gadis itu. Ngapain juga dia ke sini. Seharusnya aku yang di dalam," gerutu Sonya.
Sonya membuang makanannya di kotak sampah, lalu pergi entah kemana.
"Re, kamu minum apa?" tanya Randi.
"Apa aja Om," ucap Renita yang asik dengan ponselnya.
Randi mendekati Renita yang lagi di dengan ponselnya, lalu merebutnya.
"Om jangan dong, aku lagi balesin temen kuliah ku." Renita merajuk.
"Yasudah ini, kalo diajak ngobrol tanggapi dong. Jangan terserah." Randi memberikan ponsel Renita.
Saat ingin memberikan ponsel Renita, tiba-tiba Randi menaikan ponselnya sedikit tinggi.
"Ih, kok dinaikin lagi,'' gerutu Renita.
"Cium dulu," ucap Randi dengan mesum, lalu mendekatkan pipinya ke wajah Renita.
"Astaga, Om mesum sekali!" Renita membuang mukanya.
"Yasudah, aku aja cium kamu." Randi memeluk Renita lalu menghujaninya dengan ciuman.
******
Bellanca sampai di mansion langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Karena merasa kelelahan sedikit kram perutnya.
"Sayang, kamu nggak mandi?" tanya Andri.
"Mau rebahan dulu Dri," jawab Bellanca dengan santai.
Andri berjalan mendekati sang istri,"Kenapa manggilnya nama gitu si," rajuk Andri.
Bellanca menyergitkan dahinya terlihat ia tampak bingung melihat kelakuan suaminya.
"Ada yang salah Dri?" tanya Bellanca dengan polos.
"Tuh kan di ulangi lagi. Panggil sayang atau apa gitu," protes Andri.
"Oh." Bellanca bangkit dari tidurnya, duduk di samping suaminya sambil membuka kancing bajunya.
"Mas, mandi bareng yuk," goda Bellanca.
"Yuk." Andri bersemangat lalu menggendong Bellanca dengan ala bridal style.
Andri menurunkan Bellanca di bathtub dengan hati-hati. Andri menghidupkan air, lalu Andri masuk ke dalam bathtub mencium bibir Bellanca dengan lembut. Tangan Andri sudah meraba-raba tubuh Bellanca, hingga Bellanca menuntut meminta lebih dari itu.
"Mandi bentar ya, nanti kita lanjutkan di ranjang," bisik Andri.
"Mandi dua kali dong," gerutu Bellanca lalu terkekeh.
Mereka berdua pun saling menggosok tubuhnya dengan bergantian. Selesai mandi Bellanca mendekati Andri lalu mencium bibir Andri. Dan mereka berdua berjalan menuju ranjang dengan ke adaan berciuman. Akhirnya mereka bergulat di atas ranjang tanpa lelah.
*********
"Maaf kak, aku telat." Romeo tersenyum.
"Yaudah, kamu tunggu papa dulu ya. Kakak mau temani Sisi." pamit Robin.
"Siap, aku jagain Om Winata dengan baik kak," ucap Romeo sambil hormat.
Romeo mendekati Winata melihat keadaannya berangsur membaik membuat ia tenang. Romeo kembali duduk di sofa mengambil ponselnya lalu membuka pesan dari Sinta, ternyata banyak sekali pesan dari Sinta. Romeo tanpa sadar tersenyum membaca pesan dari Sinta, entah kenapa merasa bahagia.
"Kenapa senyum-senyum sendiri," selidik Sinta, baru saja masuk ke ruangan Winata ingin mengecek kembali.
"Maaf," cicit Romeo.
"Untuk apa?" tanya Sinta sambil berjalan ke arah brankar Winata.
"Baru sempet bales, tadi sibuk jadi lupa liat ponsel." Romeo akting mengiba.
"Oh," ucap Sinta dingin.
Sinta mengecek keadaan Winata baik-baik saja, ia berjalan ke arah pintu untuk keluar ruangan. Tapi Romeo mencekal tangan Sinta dengan lembut.
"Temani aku disini." Romeo memohon.
"Aduh, nanti aku di cuekin lagi disini," sindir Sinta.
"Enggak kok aku janji," rayu Romeo.
Mereka berdua tak sadar jika dari kejauhan Winata memperhatikan. Saat Sinta memutar arah menghadap Winata, ia pura-pura memejamkan matanya. Karena Winata tidak mau merusak momen Sinta dan Romeo.
"Yaudah, aku temani. Aku keruangan ku dulu, soalnya ini waktunya pulang. Aku mau mengemasi barang-barang ku," pamit Sinta.
"Aku ikut," ucap Romeo mengikuti Sinta.
*****
"Iya maaf," cicit Randi.
Renita berdiri,"Biar aku aja yang buat minumannya."
Randi mengikuti Renita ke dapur, Randi hanya duduk di mini bar di dekat dapur.
"Ini di minum." Renita memberikan jus buah.
"Sini duduk." Randi memberi kode dengan tangannya.
Renita duduk di mini bar, kursi ia tarik."Tinggi sekali kursinya," gerutu Renita.
"Pelan-pelan Re," titah Randi.
"Om nggak kesepian tinggal disini sendirian?" tanya Renita sambil meminum jusnya.
"Kapan kamu siap?" Randi bertanya balik.
"Siap apa," jawab Renita dengan polosnya.
" Jadi istri aku lah Re." Randi mencubit hidung Renita dengan pelan.
"Oh." Renita belum sadar.
"Hah, apa Om," lanjutnya.
"Nikah Re, nikah," ulang Randi.
"Tunggu aku selesai kuliah ya," rayu Renita.
"Lama, Re. Keburu aku tua," terang Randi.
Renita tertawa menurutnya ucapan Randi sangat lucu.
"Kalo aku nanti di ambil Sonya gimana?" canda Randi.
Renita langsung terdiam dari tawanya, tiba-tiba merubah mimik wajah menjadi muram.
"Yaudah sana nikah sama Sonya," ucap Renita menahan tangisnya dalam hati.
"Bercanda Re, jangan marah ya," rayu Randi.
Tiba-tiba Renita menangis tersedu-sedu, sakit rasanya dan sesak di dada.
"Om, nggak tau ya tadi. Sonya mendorong ku di toilet. Saat kak Bellanca nggak ada," ucap Renita sambil menanggis.
"Dikiranya aku cenayang apa? ngerti isi hati perempuan. Pantes aja dari kemarin jutek banget. Ini masalahnya, cemburu sama Sonya," batin Randi.
"Cup-cup, jangan nangis ya." Randi memeluk Renita.
Randi menyeka air mata Renita, lalu mencium keningnya. Dan memeluknya kembali, cukup lama Randi memeluk Renita. Begitu Renita tenang Randi melepaskan pelukannya.
"Jangan dilepas, masih pengen dipeluk," ucap Renita dengan mengerucutkan bibirnya.
"Maaf ya."
"Untuk apa?" Renita melepaskan pelukannya.
"Karena aku tidak bisa menjaga mu dengan baik." Randi mengacak pucuk rambutnya.
Renita hanya tersenyum melihat Randi tak tega ingin marah. Sebenarnya bukan kesalahan Randi jika Sonya mencintainya. Karena cinta tidak dapat kita tentukan, harus mencintai siapa? atau latar belakang seseorang.
Tiba-tiba bell apartemen berbunyi,"Tunggu sebentar ada orang di luar."
Randi melangkahkan kakinya menuju pintu, lalu membukanya.
"Party!" teriak Dimas dan Thomas.
"Sialan dua kunyuk ini datang tak diundang. Ganggu aku sama Renita," batin Randi.
"Kamu orang ngapain? udah sana pergi," usir Randi.
"Siapa Om?" Renita menghampiri Randi.
"Hai Re," sapa Dimas.
"Masuk kak, ngapain didepan pintu." titah Renita.
"Kamu memang baik Re," ucap Dimas.
"Kalian bawa kue tart, siapa yang ulang tahun?" tanya Renita.
Bersambung....
Happy reading guys,
Jagan lupa memberi like,komentar,vote & hadiah.
Stay tune terus ya guys,jangan lupa tekan tanda favorit agar kalian tidak ketinggalan.
Terimakasih atas dukungan kalian.
1 like pun sangat berarti untuk ku ❤❤❤
Jangan lupa follow ig dewi_masitoh55
#salamhalu
Jangan lupa mampir ya kak♥️