Alaska

Alaska
Part 9



"Tampaknya pasien sedang kelelahan dan harus istirahat yang cukup. Selian itu pasien juga mengalami anemia. Sebaiknya pasien harus beristirahat beberapa hari sebelum melanjutkan sekolah."


Dokter menjelaskan pada Julian dan pria itu menatap ke arah adiknya yang memang dari kecil dialah yang paling mudah terserang penyakit. Julian menarik napas panjang dan lalu kemudian mendekati ranjang adiknya.


"Kah terlalu nekat Julia." Julia yang sudah sadarkan diri itu hanya mendengus ke arah Julian.


"Kenapa kau tiba-tiba peduli? Bukankah kau sendiri tahu jika kau paling bahagia kalau aku kenapa-kenapa."


Julian menyentuh tangan adiknya dan menggenggamnya dengan sangat erat. Tampak di wajahnya memancarkan aura positif membuat Julia tak bisa berprasangka buruk kepada Julian.


"Walaupun kau menyebalkan tapi aku tak ingin melihat mu kenapa-kenapa. Lagi pula kita ini kembar." Julian menjelaskan dan hal itu cukup membuat Julia terharu dengan kembarannya tersebut.


Saat menatap ke arah Julian ia tak sengaja melihat Alaska yang ada di rumah sakit juga. Seketika senyum Julia sangat cerah dan ia menyuruh agar Alaska mendekatinya.


"Hey kau ada di sini juga? Bagaimana? Aku telah mengungguli mu dan aku sudah mencukupi syarat untuk menjadi teman dengan mu, bukan?" tanya Julia dengan semangat.


Dalam per sekian detik akhirnya Julian pun paham dengan situasi ini. Ia menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya menatap nyalang ke arah Alaska.


"Oh ini semua karena kalian melakukan taruhan?" tanya Julian seraya melirik tajam ke arah Alaska.


Alaska menghela napas dan menatap keadaan Julia yang terbaring lemah tersebut.


"Bagaimana? Kau baik-baik saja? lagipula ini semua salah ku, aku harus bertanggungjawab."


"Ya kau harus bertanggung jawab dan harus menjadi teman ku."


"Hm," jawab Alaska singkat.


Dalam keadaan seperti ini pun Alaska masih terlihat sangat dingin. Padahal mereka telah sepakat untuk menjadi teman. Memangnya ada pertemanan seperti ini?


__________


Sejak hari itu Julia harus dirawat di rumah sakit, sementara Alaska yang merasa bersalah dan harus bertanggung jawab dengan semua ini dengan sukarela datang ke rumah sakit tempat di mana Julia dirawat. Karena Julia tidak bersekolah sehingga ia sering ketinggalan pelajaran maka dari itu Alaska memiliki alasan untuk menemui Julia untuk mengajari wanita itu materi yang telah dipelajari di sekolah.


Tentu saja Julia sangat merasa senang dengan perhatian yang diberikan oleh Alaska. Tidak biasanya ada pria yang sefrekuensi dengannya dan mau mengajarinya seperti ini. Berkat hal itu Julia tak lagi merasa kesepian dan selain itu ia pun lebih menjadi lebih dekat dengan Alaska.


Alaska saat ini tengah menerangkan rumus matematika tentang peluang kepada Julia. Julia mengamati laki-laki tersebut dengan perasaan kagum.


"Kau benar-benar pintar. Kenapa aku merasa jika lebih paham dijelaskan oleh mu dari pada dengan Buk Tati?" tanya Julia yang berniat ingin bercanda walaupun itu adalah hal yang benar.


Alaska hanya terkekeh mendengar celotehan Julia tersebut. Ia menatap ke arah wanita itu tapi malah terpana melihat Julia yang saat ini tengah tertawa lebar.


"Hey kenapa kau menatap ku seperti itu?"


"Ah tidak apa-apa," ujar Alaska berusaha untuk bersikap normal setelah ia ketangkap basah tak sengaja mengamati wanita itu.


"Ck, kau ini ada-ada saja."


Alaska pun lanjut menerangkan materi tersebut kepada Julia yang mendengarkannya dengan sangat serius. Pertemanan mereka pun mencair begitu saja sehingga setiap harinya mereka terlihat sangat dekat.


"Bagaimana? Apakah kau sudah paham atau belum? Coba kau kerjakan soal ini."


Julia pun mencoba untuk mengerjakan soal tantangan yang diberikan oleh Alaska. Tidak membutuhkan waktu lama berkat kecerdasan yang telah ia miliki, Julia pun menyelesaikan soal itu dengan mudah.


"Bener gak?"


"Hm, ku rasa iya."


________


Saat ini Julia, dan si kembar Julian serta Alaska tengah berada di parkiran. Mereka berencana ingin pergi ke mall untuk menyiapkan bahan kerja kelompok. Kebetulan sekali mereka bertiga satu kelompok untuk menyelesaikan tugas Fisika membuat bel.


Julian kebetulan membawa sepeda dan boncengannya ada Julia. Julia adalah tipe anak yang cukup malas padahal Ia telah memiliki sepedanya sendiri.


"Aishhh kau ini jangan ikut denganku. Kau tahu Julia, kau itu sangat berat. Jadi aku tidak ingin memboncengi mu." Julia yang mendengar pernyataan terang-terangan dari sang kakak lantas sangat marah. Bisa-bisanya kembarannya itu bersikap demikian kepadanya.


"Awas saja, aku pasti akan mengadukannya kepada mama," ancam Julia. Untungnya orang tuanya memang tidak sedang berada di Indonesia. Mereka tengah menjalankan pekerjaan di luar negeri.


"Pengaduan," decak Julian sangat kesal.


Alaska yang berada di tengah-tengah mereka berusaha untuk menenangkan keduanya.


"Kalian kenapa bisa seperti itu, hey kalian itu kembar."


"Diam/Diam!" ucap keduanya bersamaan.


Alaska yang diteriaki seperti itu hanya terdiam dan meneguk ludahnya. Tampaknya mereka benar-benar kembar dan sulit untuk dijelaskan perbedaan keduanya.


"Hem baiklah. Di sini aku yang salah," ucap Alaska sudah pasrah dengan kelakuan keduanya.


"Sudah, sudah, lebih baik kita segera pergi ke mall. Jangan menunda lagi," ucap Julia dan lalu kemudian naik ke boncengan sepeda Alaska.


Alaska sendiri terkejut dengan aksi tiba-tiba Julia tersebut. Namun sedetik kemudian ia paham apa yang telah dilakukan oleh Julia itu. Alaska membiarkan Julia menaiki sepedanya dan lalu kemudian menanjak sepedanya tersebut dan meninggalkan Julian yang berteriak keras kepada mereka.


"****** emang, aku ditinggalkan. Parah banget kalian berdua," ucap Julian dan lalu kemudian mengejar mereka yang sudah sangat jauh.


Julia yang melihat kakaknya itu kalang kabut hanya bisa menertawakannya. Alaska yang melihat penderitaan Julian tersebut juga turut ikut tertawa.


"Parah banget kalian berdua," ucap Julian sembari mendayung sepeda di samping Alaska.


"Makanya jangan telat dong. Begini saja kau telat. Ck, lemah."


"Kau menyalahkan ku?" tanya Julian tak terima dengan cemoohan yang dilontarkan adiknya tersebut.


"Lah emang benar, kan?"


"Kalian ini. Lihat itu di depan kita sudah sampai di mall, jadi berhenti bersikap kekanak-kanakan." Tampaknya yang paling waras di sini hanyalah Alaska sendiri.


Bahkan pria itu sampai lelah mendengar pertengkaran duo kembar tersebut. Ia hanya berharap semoga mereka segera berhenti bertengkar dan fokus dengan kerja kelompok kali ini.


"Alaska, kita berdua saja. Tinggalkan saja dia, dia nyebelin banget."


"Tidak boleh seperti itu. Kita kelompok."


"Yaudah biar dia saja yang jadi kameramen buat videokan."


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.