
Julia sudah menulis hidup baru di Amerika. Ia berusaha untuk melupakan segalanya tentang Alaska dan seolah-olah masa lalu itu tidak pernah ada. Sekarang ia mengerti, mamanya ada benarnya juga. Lebih baik ia tak mengingat masa SMA nya dan menciptakan rasa sakit yang baru dan tak pernah bisa dicegah olehnya.
Julia menatap ke arah kampusnya yang sudah berada di depannya. Senyumnya pun terukir dan ia melangkah pasti ke arah kampus tersebut. Ia pasti akan bisa menyelesaikan ini semua dengan baik. Julia harus hidup dengan sesukanya sendiri tanpa di bawah tekanan orang lain.
Kali ini ia tidak ingin mengulangi kesalahannya yang kedua kali. Bagaimanapun Julia nanti tidak akan mengenal yang namanya cinta dalam menuntut ilmu. Ia harus fokus dengan pelajarannya. Cukup kehilangan pria itu beberapa minggu ini telah membuatnya sangat depresi. Ia tak ingin lagi seperti itu walaupun sebenarnya Julia belum benar-benar sudah melupakan Alaska.
Terkadang ada hati kecilnya yang ingin menemui Alaska dan memulai hidup seperti ketika mereka masih SMA. Tapi sangat disayangkan itu hanya khayalannya dan juga berupa rasa sakit yang kembali menghinggapinya. Maka dari itu Julia tidak ingin mengetahui tentang pria itu lagi.
Biarlah mereka sampai seperti ini hingga akhirnya mereka akan bertemu kembali. Dan pada saat itu Julia sama sekali tidak tertarik dengan laki-laki tersebut.
"Julia," panggil Ane saat melihat sahabatnya itu yang sudah pulang dari Indonesia.
"Ane!"
"Bagaimana dengan liburanmu di Indonesia? Apakah sangat menyenangkan? Sepertinya seru. Kapan-kapan aku akan ke Indonesia untuk mengunjungi Bali."
Julia pun menatap ke arah wanita itu dan tersenyum lebar. Rasanya sangat bahagia jika sudah dekat dengan Ane, sebab wanita itu selalu saja membawa kecerahan bagi hidupnya.
"Kau sangat bersemangat sekali Ane, Tapi sayangnya aku tidak ke Bali aku hanya di Jakarta. Banyak sekali yang harus aku urus di Jakarta. Dan juga banyak sekali hal-hal yang tak terduga aku lakukan di sana," ucap Julia sembari mengingat apa yang telah ia lakukan selama dua Minggu liburan di sana.
Tampaknya sangat menyenangkan tapi malah sebaliknya. Dua minggu ya memang sangat benar-benar terkesan bagi hidupnya malah ingin dilupakan oleh Julia begitu saja.
"Ah kukira akan pergi ke situ. Tapi tidak apa, nanti jika aku ke Indonesia kau harus ikut dengan aku dan pasti ke Bali."
"Baiklah. Aku tidak sabar menunggu kapan hari itu akan datang."
Mereka pun tertawa bersama dan lalu kemudian melewati koridor sekolah dengan suara canda dan tawa. Hari ini adalah penerimaan mahasiswa baru. Julia pun menyaksikan dari tingkat atas bagaimana mahasiswa baru tersebut di ospek oleh Kaka tingkat mereka.
Julia merasa sangat bahagia karena dirinya juga seperti itu dahulu. Julia pun menarik napas panjang dan kemudian membuang wajahnya begitu saja.
"Ane, lebih baik kita pergi saja ke kelas. Pasti di sana kita lebih leluasa untuk menikmati waktu."
"Apakah kau sama sekali tidak ingin melihat mahasiswa baru yang tampan-tampan itu? Lumayan buat kita untuk cuci mata. Kan jarang-jarang ada lelaki tampan di universitas kita."
Seketika itu juga wajah Julia langsung terkejut mendengar Ane berkata seperti itu. Ia pun menggelengkan kepalanya dan lalu kemudian tertawa lembut.
"Apa matamu buta? Apakah kau sama sekali tidak bisa menilai bagaimana tampannya teman-teman sekelas kita?"
Julia pun menarik napas panjang dan lalu kemudian menghembuskannya secara perlahan. Wanita itu pergi begitu saja meninggalkan Ane yang tiba-tiba ingin mengikutinya.
"Apakah kau sudah marah denganku?"
"Kau pikirkan bagaimana mungkin aku marah kepadamu."
Ane pun tersenyum lebar. Julia memanglah orang yang sangat baik kepadanya dan tidak bisa marah. Wanita itu apa saja yang tidak tahu bagaimana jika Julia sudah emosi. Hanya saja sampai sekarang ia belum melihat Julia seperti itu. Mungkin ketika melihatnya secara langsung Ane tidak percaya bahwa itu adalah Julia temannya tersebut.
________
Alaska menatap gedung tinggi yang ada di depannya. Ia sedang melakukan ospek sambil melihat ke sana kemari untuk memastikan orang yang tengah dicarinya ada di depan matanya.
Siapa yang menyangka. Seorang Alaska yang hanya dari keluarga sangat miskin mampu untuk kuliah di Harvard dan mengejar beasiswa yang ia inginkan. Mudah saja karena alasan memang memiliki kemampuan yang di atas rata-rata dan bisa dikategorikan orang yang cukup jenius.
Alaska pun sungguh tidak sabar untuk bertemu Julia. Dan mengatakan kepada wanita itu ia tidak berhenti begitu saja untuk mengejarnya. Kata putus yang ia ucapkan kemarin hanyalah sebagai penenang Julia agar wanita itu bisa pulang ke Amerika bersama keluarganya.
Benar saja, Alaska sampai mengusap dadanya saat melihat wanita itu yang sedang berdiri di depan kelasnya. Alasan hendak sekali menghampiri wanita tersebut. Tapi entah kenapa tiba-tiba nyarinya menjadi menciut. Tidak seperti dirinya yang ia kenal.
Namun akan tetapi Alaska tetap berdiri di situ untuk memantau wanita tersebut. Enggak tiba-tiba ada seseorang yang datang dan meminta agar dirinya untuk menyerahkan buku milik Julia kepada pemiliknya.
"Maaf, apakah bisa membantuku sebentar? Aku sudah tidak tahan untuk ke toilet, bisakah kau memberikan buku ini kepadanya?" tanyanya meminta agar Alaska memberikan buku tersebut kepada Julia.
Alaska sendiri tak menyangka ada hal yang tak terduga seperti ini. Namun akan tetapi pria itu menganggukkan kepalanya dan lalu menghampiri Julia. Sebenarnya ia masih ragu untuk menghampiri wanita itu.
Namun ia berusaha untuk mati-matian menahan perasaannya tersebut dan melawan rasa takutnya. Ia harus bisa menunjukkan kepada wanita itu sebuah perjuangan yang tidak main-main yang telah ia lakukan.
Alaska menarik napas panjang dan lalu kemudian menyapa Julia.
"Hey."
Julia sendiri yang tengah melamun terkejut mendengar suara yang mirip dengan Alaska. Apakah ia sedang berkhayal sampai-sampai memikirkan pria tersebut? Lia pun menggelengkan kepalanya dan mengusir bayang-bayang Alaska yang berusaha untuk hadir di kehidupannya.
Merasa tak diherani oleh Julia, Alaska mencoba untuk memanggil wanita itu sekali lagi.
"Ini buku mu, ada temanmu yang memintanya agar memberikannya kepadamu."
Kenapa suara itu semakin jelas? Seolah-olah orang tersebut ada di dekatnya. Julia dengan ragu membalikkan tubuhnya. Matanya langsung membelalak saat melihat Alaska yang ada di depannya.
Ia pun mengucek matanya untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Namun dipikir-mikir tidak mungkin ia salah lihat, kan? Jelas-jelas objek di depannya ini sangat nyata.
"Apakah kau Alaska?" tanya Julia dan memastikan bahwa memang pria itu.
Alaska pun melebarkan senyumnya dan kemudian menyerahkan buku tersebut. Julia masih dalam keadaan bengong menerima buku itu.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Alaska agar wanita tersebut memikirkannya sendiri.
"Tidak mungkin. Pasti aku salah lihat, kau hanya mirip dengannya saja."
"Baik lagi jika kau sudah berpikir seperti itu."
Julia terkejut mendengar Alaska yang mengatakan kalimat tersebut dan kemudian pergi meninggalkannya. Julia memastikan kembali bahwa apakah benar pria itu, tapi sangat tidak mungkin bahwa itu adalah Alaska orang yang dikenalnya.
Untuk memastikannya lebih lanjut Julia pun mengajar laki-laki tersebut.
"Hey, apakah kau benar-benar Alaska?"
Alaska pun berhenti dan lalu kemudian membalikkan tubuhnya. Pria itu tersenyum lebar. Seketika itu mata Julia berkaca-kaca.
"Ja..di itu benar kau?"
________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.