
Alaska mengantarkan Julia pulang. Rupanya rumah Julia sebesar ini. Sangat berbeda dari yang dulu dan sekarang telah direnovasi dan lebih indah dari sebelumnya.
"Jika kalian ke luar negeri nanti siapa yang akan meninggalinya?" tanya Alaska kepada wanita itu soalnya sungguh disayangkan rumah sebesar itu ditinggalkan.
"Kenapa kau tiba-tiba memikirkannya? Bahkan aku sendiri saja tidak pernah memikirkannya siapa yang akan meninggali rumah ini setelah kami tidak ada. Ya sudah pasti mama dan papaku berada di luar negeri kalaupun aku di Indonesia aku kan tidak akan tinggal di Jakarta. Tidak usah memikirkan yang tidak penting."
Alaska menggelengkan kepalanya. Ia sangat heran dengan orang kaya yang tidak bisa memikirkan nasib rumah mereka sendiri. Benar-benar sepele ya.
"Kalian orang kaya memang tidak terlalu memikirkan uang."
"Jangan salah, orang tuaku selalu memikirkan uang dan dia pasti memikirkan bagaimana caranya untuk mengatasi rumah ini. Mungkin aku saja yang tidak tahu."
"Ya sepertinya memang kau sendiri yang tidak tahu."
Padahal Julia saat mengatakannya membutuhkan pembelaan dan tak menyangka bahwa Alaska malah mengiyakan kalimatnya. Kemudian Ia pun mendesis marah dan merajuk.
"Nah kan merajuk lagi. Baiklah Julia cantik, Dewi ku, sayangku, maafkan Alaska yang terlalu ceroboh dan selalu menyakiti hatimu," pujuk laki-laki tersebut.
Julia pun menghela napas. Laki-laki tersebut memiliki seribu cara untuk bisa meluluhkan hatinya. Ia benar-benar tengah diperdaya oleh laki-laki tersebut.
"Kau bisa saja. Aku selalu luluh jika kau terus memperlakukan seperti ini."
Alaska pun tertawa dan kemudian mengacak rambut Julia dengan sayang.
"Karena aku selalu mengerti diri mu sayang."
Julia memeluk tubuh Alaska. Pelukannya sangat erat seakan tidak membiarkan laki-laki itu pergi meninggalkannya.
"Julia, aku tidak akan pergi dari mu. Kau tenang saja yah sayang," ucap pria itu dengan lembut membuat hati Julia sangat tersentuh.
"Besok kita harus bertemu lagi. Aku juga akan berusaha untuk meyakinkan orang tua ku agar kuliah di sini saja agar tidak banyak mengeluarkan biaya. Tetap jadi orang kok jika kuliah di sini."
Alaska diam dan tidak ingin mencampuri urusan Julia. Wanita tersebut pastilah memiliki caranya sendiri.
"Dan aku hanya berharap semoga kau berhasil melakukannya," ucap Alaska seraya memberikan salam perpisahan kepada wanita itu. "Baye aku pulang dulu. Pasti orang tuaku sudah menunggu di rumah."
"Baye baye!"
Julia pun melambaikan tangannya kepada laki-laki tersebut yang semakin menjauh dari matanya. Ia pun mengercutkan bibirnya, akhirnya satu persatu orang akan meninggalkannya.
Kemudian Julia pun masuk ke dalam rumahnya dan terkejut melihat ibunya yang tengah menunggu di depan dan sekarang Julia tidak bisa mengelak lagi. Pasti mamanya sudah mengetahui semuanya.
"Kenapa baru pulang semalam ini? Kenapa juga pergi diam-diam? Kau ingin melawanku ya?"
"Mama, kenapa kau sangat kejam sekali sih. Kan aku memiliki perusahaan ku sendiri dan aku ingin mengembangkannya," ucap Julia memohon kepada wanita itu.
"Oh iya perusahaanmu nanti jika kamu sudah kuliah rencananya papa yang akan mengurus. Nanti setelah selesai kuliah baru kau bisa bekerja di situ lagi. Papa berencana ingin menjadikan itu salah satu cabang perusahaannya. Untuk sementara waktu kau tidak usah menggambar karena papa akan mencari pelukis-pelukis handal. Setelah itu barulah ketika sudah selesai kuliah kau akan menghendel sendiri," ucap ibunya kepada Julia.
"Kenapa? Seperti aku tidak bisa mengurusnya sendiri. Asal kau tahu aku mampu mengurusnya. Lagi pula perusahaan itu ada namanya sendiri."
"Baiklah. Karena itu masalahnya, maka mama meminta papa mu tetap dengan nama tersebut."
Padahal Julia ingin memberhentikan rencana orang tuanya tersebut tapi rupanya tidak semudah itu.
"Mama kenapa kau selalu mengatakan jika aku harus berkuliah di Harvard. Aku kan bisa kuliah di Indonesia, banyak kuliah bagus di Indonesia seperti universitas Indonesia, universitas Gadjah Mada. Kenapa kau tidak pernah menginginkan aku kuliah di salah satunya?" Julia sudah tidak tahan untuk membantah orang tuanya.
"Kau selalu mengatakan ini. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyetujui mu untuk berkuliah di Indonesia. Keputusanku ini sudah final dan kau tidak bisa mengganggu gugatanya."
Lagi-lagi Julia kalah dalam persaingan ini. Namun wanita itu tidak akan menyerah semudah itu. Bagaimanapun caranya ia harus bisa melawan orang tuanya.
Mamanya masuk ke dalam rumah dengan langkah yang tengah terburu-buru. Tampaknya orang tuanya tengah menahan kesal yang sangat luar biasa.
Julia pun mengejar ibunya kemudian menarik tangannya. Christy yang sangat kesal sekali lantas menghempaskan tangannya yang digenggam oleh sang anak.
"Sekarang kau masih memanggilku Mama kan? Kenapa kau tega menghianati kepercayaanku. Kau mengada-ngada ya mau kuliah di Indonesia? Kau pikir memasukkan mu ke Harvard dan membiayai mu di Harvard itu segampang itu? Kau kenapa tiba-tiba seperti ini? Jauh lebih bagus Harvard daripada dengan universitas yang ada di Indonesia. Aku tahu semua universitas yang kau sebutkan itu bagus tapi lebih bagus Harvard, kan?" Tidak bisa dipungkiri bahwa apa yang diucapkan oleh ibunya itu ada benarnya juga.
"Kau lupa bawa kau ingin kuliah di Harvard university? Apakah kamu lupa dengan cita-citamu? Kau ingin berkuliah di Indonesia itu ketika kau baru SMA. Apakah kau sudah mengingat masa-masa SMA mu? Tidak mungkin, tidak mungkin secepat ini kau mengingatnya, kan?"
Julia tidak bisa mengatakannya sekarang dan intinya ia harus berakting seolah tidak terjadi apapun selama ini.
"Apa yang kau katakan Mama? Kau terlalu berlebihan. Bahkan aku sama sekali tidak mengingat apapun."
Akhirnya Christy pun bisa lega mendengar anaknya mengatakan itu. Karena ketakutannya selama ini adalah ketika anaknya mengingat kembali masa-masa SMA nya.
"Bagus jika kau sudah melupakannya," ucapkan Ibu bangga.
"Lagi pula apa yang telah kau rahasiakan di masa mudaku? Kenapa sama sekali kau tidak ingin mengatakannya?"
Christy sama sekali tidak menjawab dan menyuruh agar Julia lebih dulu masuk ke dalam kamarnya.
"Tidak usah bertanya yang sudah berlalu. Masuklah ke dalam kamarmu." Julia benar-benar kecewa ketika orang tuanya berusaha untuk menyembunyikan hubungannya dengan Alaska.
Pernah menceritakan masa lalunya yang telah Ia lupakan dulu, namun hanya seberapa dan selebihnya ibunya berbohong.
Saat pertengkaran tersebut terjadi, Julian melihat semuanya. Hanya Julian yang paling tahu di antara mereka yang tidak berpihak pada Julia.
Ia menghela napas dan pergi ke kamar wanita itu. Sepertinya ia harus berbicara dengan Julia.
"Julia buka pintunya."
Julia yang baru saja bisa bernapas dengan bebas tiba-tiba ia mendengar suara kakaknya yang memanggil-manggil dirinya di luar.
Dengan perasaan yang sangat kesal Ia pun membuka pintu itu dan menatap ke arah Julian dengan tatapan tajam.
"Kenapa sih datang lagi ke kamar aku? Aku baru aja pulang. Aku pengen istirahat." Julia ingin menutup pintu kamarnya namun ditahan oleh Julian secepatnya.
"Kau tidak bisa seperti ini Julia," ucap Julian kepada adiknya tersebut. "Kau membohongi Mama lagi kan? Satu lagi kau memaksa Mama untuk kuliah di Indonesia. Sudah ku katakan kau tidak akan bisa memaksa siapapun di sini."
"Ya aku tahu itu. Dan sekarang pergilah jangan mencampuri urusanku."
"Kenapa kau terlalu nekat Julia?" Julia tidak menjawab sama sekali kakaknya tersebut.
Ia benar-benar geram dengan keadaan yang selalu mempermainkan dirinya. Ia pun memandang ke arah kakaknya tidak bersahabat.
"Kenapa memangnya? Bukan urusanmu juga kok Julian."
Julia pun menutup pintunya dan lalu menguncinya. Ia tak membiarkan sama sekali orang-orang akan masuk ke dalam kamarnya sebelum ia bisa tenang. Sedangkan di luar Julian hanya bisa menahan amarahnya dengan susah payah.
"Anak ini benar-benar harus dinasehati. Jika tidak pasti akan selalu melunjak."
Julian pun kembali ke kamarnya dengan perasaan marah. Ia pun mengepalkan tangannya karena tidak bisa meyakinkan adiknya. Seolah-olah ia telah menjadi orang yang sangat gagal.
Sedangkan di dalam kamar Julia, wanita itu menghentak-hentakkan kakinya kesal. Ia menatap karya dirinya yang ada di dalam cermin yang sudah berantakan dengan matanya yang sembab.
"Kenapa semua orang selalu berusaha untuk menyakitiku? Mereka semua tidak berperasaan sama sekali."
Julia mencurahkan semua isi hatinya dengan bercerita kepada angin lalu. Sepertinya sama sekali tidak ada orang yang berpihak kepadanya yang baik itu Alaska sendiri. Setahunya Alaska pasti berada di pihak Ibunya dan menyuruhnya pergi ke luar negeri. Apakah pria itu tidak mencintainya lagi?
Membayangkannya saja hati juga sangat sakit. Tidak mungkin Alaska telah melupakannya dan tidak memiliki perasaan kepadanya.
"Tidak mungkin. Alaska tidak semudah itu untuk melupakanku."
Tiba-tiba kepalanya terasa sangat pening. Julia berusaha untuk beradaptasi dengan dirinya sendiri dan menahan rasa sakitnya tersebut hingga akhirnya ia pun jatuh pingsan.
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.