
Flashback On
Pada saat itu Alaska tidak sadarkan diri dan tak mengetahui bahwa dirinya diselamatkan oleh salah satu nelayan. Kemudian Alaska pun ditolong oleh pihak setempat dan mengetahui bahwa Alaska adalah korban dari jatuhnya pesawat yang bertolak ke Amerika Serikat.
Kemudian pria itu pun dirawat oleh sang nelayan tersebut dan diobati. Hingga perlahan-lahan Alaska pun mulai mengingat akan masa lalunya dan berjuang untuk menyelesaikan kuliahnya di Harvard dengan cara daring karena memang kondisi kesehatannya yang tidak baik.
Alaska namun tidak bisa mengingat tentang Julia pada saat itu dan hanya mengingat orang tuanya yang ada di Indonesia.
Singkat cerita, Alaska pun akhirnya menyelesaikan kuliahnya di Harvard lalu dibesarkan di keluarga nelayan hingga membuatnya pandai berbisnis. Ia juga mudah diterima kerja karena kemampuannya yang sangat luar biasa.
Maka dari itu, ia tak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menjadi orang yang sukses. Alaska pada akhirnya bisa memberikan kehidupan yang lebih layak kepada nelayan tersebut dan lalu kemudian ia bisa pulang ke Indonesia.
Alaska menarik napas panjang dan kemudian menghembuskannya secara perlahan. Hari ini ia akan bertemu dengan salah satu klien. Dari hasil berbisnis ikan Ia pun bisa membangun usaha lukisan.
Sudah banyak lukisan yang terjual, namun kali ini ia telah membuka usahanya secara resmi. Jujur saja orang-orang merasa puas dengan kinerja yang dimiliki olehnya.
Ia juga tak pernah sama sekali mengecewakan pelanggan hingga pada akhirnya usahanya pun sukses dengan hebat.
Alaska memutuskan untuk membangun usaha lain. Dan kemudian mengembangkannya dalam berbagai bidang.
"Alaska, tidak kusangka usahamu sampai sebesar ini."
Rupanya klien tersebut adalah temannya pada saat kuliah di Harvard. Alaska pun menyambut teman lamanya tersebut dengan wajah bersahabat.
"Kau tahu, ini juga ada berkatmu."
Laki-laki tersebut tidak mengerti kenapa Alaska mengatakan kalimat seperti itu karena menurutnya ia sama sekali tidak ada berkontribusi dalam usaha Alaska.
"Apa maksudmu? Apakah kau ingin meremehkanku?"
Alaska pun menggelengkan kepalanya karena ia tidak berani untuk meremehkan teman lamanya tersebut.
"Tentu saja kau cukup membantu. Jika tidak ada dirimu maka usaha ini tidak akan berkembang seperti ini. Klien juga sangat dibutuhkan, bukan?"
"Benar apa yang kau katakan bahwa klien juga berpengaruh. Tapi aku tak menyangka jika kau akan berpikir seperti itu. Baiklah, aku akan memulai berbisnis dengan mu."
Alaska pun membawa teman lamanya tersebut ke sebuah ruangan yang penuh dengan lukisan. Alaska tahu bahwa teman lamanya ini sangat menyukai lukisannya. Bahkan ketika dahulu teman lamanya tersebut suka sekali menemaninya melukis.
Niko pun memperhatikan lukisan itu. Sejenak ia terdiam karena tahu siapa pemilik lukisan tersebut dan itu bukanlah milik Alaska.
"Ini bukan lukisan milik mu."
"Apakah seperti itu? Karena aku kurang tahu juga. Aku menemukannya di cover ku yang tidak jauh hilangnya."
Niko diam dan sepertinya ia pun juga tak ingin mengatakan kebenarannya. Ia memiliki alasannya sendiri karena Niko menyukai Julia.
"Apakah kau tidak ingat sama sekali?"
Alaska menganggukkan kepalanya.
"Memangnya ada apa?"
"Tidak usah dipikirkan karena itu juga tidak penting."
Lalu mereka membahas tentang pekerjaan tersebut dan katanya Niko juga ingin berinvestasi.
Flashback Of
"Niko jahat sekali karena tidak ingin mengatakan yang sebenernya kepada mu."
"Entahlah kenapa sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa ia merahasiakannya."
Julia pun semakin curiga dengan Niko. Setahunya Niko terus mengejarnya walaupun ia tahu bahwa Julia hanya memikirkan Alaska. Apakah karena itu? Jika benar Niko adalah seorang bajingan yang sangat hebat karena telah menipu dirinya.
"Sudahlah. Lagipula kita sudah berkumpul seperti ini. Kenapa harus berpikir hal yang buruk. Intinya kau ada di sini aku merasa lebih nyaman."
Mereka berdua pun saling berpelukan dan mengakhiri cerita dan kisah mereka dengan ending yang penuh akam kebahagiaan.
________
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.