Alaska

Alaska
Part 27



Alaska terus mendatangi beberapa tempat yang pernah dikunjunginya bersama dengan Julia. Hal itu dilakukan olehnya agar bisa melepas kerinduannya yang sudah sangat mendalam kepada wanita itu.


Tidak ada kabar sama sekali dan tak menyangka juga bahwa akan seperti ini. Rasa bersalah dan juga perasaan rindu bercampur satu menjadi sebuah kesedihan yang sangat mendalam bagi Alaska. Tidak ada yang bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini. Benar-benar bercampur aduk dan sukar untuk dijelaskan.


Di taman inilah semuanya dimulai dan juga diakhiri. Mereka masihlah seorang pasangan, tapi sangat disayangkan mereka tidak pernah sadar dengan perasaan mereka masing-masing sebelumnya hingga akhirnya kejadian seperti ini pun terjadi.


"Baru saja kita bersama, namun sepertinya keadaan tidak bisa menerimanya. Mereka memisahkan perasaan kita yang suci ini tanpa memikirkan bagaimana sakitnya kita setelah kehilangan. Apakah itu benar-benar setimpal dengan semua kesalahan yang aku perbuat kepadanya?"


Alaska pun menarik napas panjang lalu kemudian menghembuskannya secara perlahan. Ia menatap ke arah lautan bunga matahari yang hanya tinggal kenangan. Tempatnya masih sama namun kedatangannya tidak lagi Sama. Dulu mereka datang penuh dengan tawa, namun sekarang tidak ada lagi suara tawa itu yang hanya adalah suara tangisannya.


Alaska pun menghapus air matanya. Laki-laki tersebut berusaha kuat dengan keadaan, walaupun ia terkadang harus merelakan perasaannya sendiri yang digerogoti oleh perasaan benci.


Benci kepada diri sendiri, benci kepada takdir, dan benci kepada semuanya. Tampaknya ia benar-benar keterlaluan.


Alaska pun lalu kemudian meninggalkan taman bunga matahari itu dengan perasaan gundah. Jantungnya terus berdegup, dan perasaannya juga sangat tidak enak. Laki-laki itu perlahan tapi pasti melangkahkan kakinya untuk meninggalkan taman itu. Seakan tidak rela sebab ia bisa melihat kenangannya dahulu bersama Julia. Lebih baik dia melupakannya daripada larut terus dalam keadaan sedih seperti ini.


Tapi tidak akan mungkin, dirinya pasti akan terus kepikiran dengan hal tersebut.


Alaska pun meraih sepedanya. Kemudian ia meninggalkan taman tersebut. Ia melewati beberapa bangunan yang dahulu tak lagi sama dengan sekarang. Ia merasakan sangat Dejavu. Pohon-pohon rimbun di sini juga tidak lagi sama. Banyak beberapa diantaranya sudah ditebang untuk memperbaiki akses jalan menuju ke taman tersebut.


Perlahan kilas balik bayangan kebersamaannya kembali. Alaksa menarik napas panjang dan kemudian menghapus air matanya yang jatuh. Ia lemah, benar-benar lemah.


Angin bertiup hingga rambutnya yang panjang dan tak pernah dipotong beberapa Minggu ini pun berkibar. Alaska menundukkan kepalanya dan tampaknya ia harus memotong rambutnya. Ini benar-benar menyulitkannya dan menutupi pandangannya.


Teringat lagi bahwa Julia sangat menyukai rambut panjangnya. Apakah ia harus memotongnya atau membiarkan rambut tersebut? Tapi jika ia menuruti keinginan perasannya maka selamanya ia tidak akan pernah bisa melupakan Julia.


Tentu saja dirinya tidak mengharapkan hal tersebut. Namun lebih baik dia memang tidak melupakannya. Sebab dia sangat berharga dalam hidupnya.


"Julia, bagaimana kau? Apakah kau mendengar ku? Apakah kau merindukan ku? Apakah kau tahu jika aku sudah keluar dari penjara? Apakah kau tahu jika saat ini aku sangat merindukanmu? Hanya kamu, ya hanya kamu yang saat ini aku pikirkan. Tidak ada orang lain, sebab kau hanyalah orang satu-satunya yang paling sangat aku cintai. Mungkin tak ada nama lain."


Alaksa pun memejamkan matanya. Namun di tengah lamunannya, tiba-tiba ia merasakan jika ponselnya berdering.


Alaksa menepikan sepedanya dan lalu kemudian ia pun merogoh saku celananya. Ia melihat jika orang yang menelpon tersebut merupakan ibunya. Alaska mengembangkan senyumnya dan menggeser layar hijau.


"Hallo, Mama?"


"Nak, nanti pulang belikan mama makanan yah. Mama lagi pengen makan sesuatu."


"Okey Ma."


_______________


Julia menatap ke arah kaca rumah sakit. Ia berulang kali ingin mengetahui apa yang terjadi di masa lalunya tapi tidak ada yang sama sekali ingin mengatakan bagaimana masa lalunya dulu.


Wanita itu menghela napas panjang dan lalu kemudian beranjak dari ranjang dan masuk ke dalam kamar. Ia telah melakukan perawatan beberapa belakangan ini dan bulan depan ia akan pulang ke Jakarta. Ia sudah tak sabar ingin pulang ke kampung halaman dan ingin mengetahui bagaimana masa lalunya di sana. Barangkali ia bisa bertemu dengan orang yang bisa menceritakan masa lalunya.


"Julia! Keluar lah! Kau harus makan."


"Sebentar. Aku mau mandi dulu."


BRAKK


Pintu dinuka secara paksa. Julia menatap ke arah orang tersebut yang tengah lancang membuka pintunya. Ia menyipitkan matanya dan kemudian menghela napas panjang.


"Kau! Untung aku tidak buka baju di sini. Sungguh tidak punya privasi. Dasar cabul," ucap Julia yang sangat marah kepada Julian.


"Jam segini baru mau mandi? Mau jadi apa kau? Dasar pemalas."


Mata Julia membulat saat dikatai oleh kembarannya itu. Julia pun tak mempedulikan dan masuk ke dalam kamar mandinya.


Ia pun tak sengaja bercermin dna melihat bekas lukanya di sekitar telinganya. Mamanya mengatakan jika ia telah dioperasi plastik dan memiliki beberapa perbedaan dari dirinya yang dulu. Dan setelah Julia amati pun memang ia sangat berbeda dengan dirinya yang dulu. Bahkan Jukua hampir tak mengenali dirinya yang sekarang.


"Baiklah, wajah baru itu artinya hidup baru," ucapnya sembari terkekeh geli.


Julia pun menbuka pakaiannya dan kemudian membersihkan tubuhnya. Saat berendam ia kembali teringat dengan ingatannya yang hilang. Apakah mereka mengingatnya? Apakah teman-temannya dahulu merindukan dirinya sekarang?


Tidak tahu, itulah jawabannya dan Julia hanya bosa memendam semuanya dalam hatinya tanpa bisa mencari tahu karena orang tuanya selalu saja menghalanginya. Katanya lebih bagus Julia tidak mengingatnya. Itulah yang didengarnya saat tak sengaja menguping. Mereka bahkan tidak berniat sama sekali mengembalikan ingatannya.


"Meteka kejam sekali," gumam Julia dan lalu kemudian keluar dari dalam kamar mandinya setelah membersihkan tubuhnya.


Wanita itu menatap ke arah dirinya yang tampak sudah sangat anggun sekali. Julia meraasa bahagia dengan penampilannya sekarang. Jauh lebih segar.


"Julia buruan turun! Entar makanan bisa dingin gara-gara nungguin kamu cuman!"


Julia menghela napas panjang. Lagi-lagi pria menyebalkan itu. Ingin sekali Julia mencekik lehernya. Dia sangat berisik.


"Kau bisa diam? Sabar. Aku mau Makai baju dulu. Kalau mau makan, makan duluan aja. Gak usah nungguin orang lain," teriak Julia yang sudah terbawa emosi dengan kakaknya itu.


Julia menghembuskan napas gusar dan lalu kemudian duduk di atas ranjang dengan wajah yang sudah sangat bad mood.


_______


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.