Alaska

Alaska
Part 43



Julia berniat ingin melarikan diri. Wanita itu sudah mempersiapkannya dengan matang. Ia pun membuka jendelanya dan menatap ke arah bawah di mana kamarnya terletak di lantai tiga dan otomatis itu sangat tinggi.


Melihatnya saja membuat tubuh Julia merinding. Namun ia tetap nekat dan berusaha untuk mencari jalan alternatif lain. Yaitu pintu buatannya yang sengaja ia desain untuk rencana kabur.


Julia pun berpura-pura untuk keluar dari dalam kamarnya menuju ke dapur seolah-olah ada yang tengah membuatnya sibuk. Orang tuanya serta Julian yang beberapa hari ini berjaga ketat tak menyangka bahwa Julia telah menyiapkan jalan keluarnya.


Bahkan mereka tidak menyadari beberapa hari ini ada orang asing yang masuk ke rumah mereka untuk membantu Julia menyiapkan pintu keluar tersebut.


Kemudian wanita itu pun masuk ke dalam ruangan yang mana terdapat pintu jalan keluar yang telah ia buat. Perempuan itu lalu kemudian melancarkan aksinya tanpa diketahui oleh banyak orang.


Ia sangat bersyukur mereka semua sedang sibuk dengan ponsel masing-masing dan itu artinya ia banyak memiliki ruang untuk bergerak.


Senyum Julia sedikit merekah saat melihat pintu yang ada di depan matanya. Dengan secepat kilat ia pun berlari tanpa mengeluarkan suara. Kemudian ia melewati pintu itu dengan hati-hati.


Julia pun mengunci pintunya dan kemudian menatap ke arah depannya yang langsung berhadapan dengan pagar. Kebetulan sekali area yang ia pilih ini adalah area yang jarang dipantau oleh penjaga rumahnya.


Dengan segenap tekad yang sangat besar, Julia pun lantas memanjat pagar tersebut tidak peduli dengan keselamatannya yang menjadi taruhan. Terpenting wanita itu bisa melarikan diri.


Julia menghela napas panjang dan kemudian tersenyum lebar melihat aksinya kali ini berjalan dengan lancar. Di luar sudah ada taksi yang tengah menunggunya.


Julia pun masuk ke dalam taksi tersebut dan kemudian meminta sang sopir agar segera membawanya pergi.


"Bapak bisa ngebutin dikit? Soalnya saya terburu-buru."


"Oh baiklah Nona."


Lantas Julia pun langsung menatap ke arah rumahnya yang perlahan-lahan semakin mengecil. Hatinya berbunga-bunga karena telah bisa lepas dari rumah tersebut. Dirinya sungguh membenci orang-orang yang ada di dalam rumah itu dan tidak pernah mengerti dengan perasaannya. Kemarin ia berdebat hebat dengan Julian mengenai nasib mereka. Bisa dikatakan saling beradu nasib.


Ia juga tak menyangka jika kakaknya juga dibawah tekanan orang tua mereka. Tapi sangat disayangkan karena ia tidak berpihak kepada Julia alhasil sama sekali tidak peduli bagaimana nasib Julian yang begitu menyedihkan.


Pria itu juga tidak memikirkan nasibnya jadi buat apa ia memikirkan nasib pria itu. itulah yang belum diketahui oleh Julia ketika kakaknya selalu saja memikirkan tentang keselamatannya tapi ia tidak mengetahui.


Julia tersenyum menatap ke arah Alaska yang tengah menunggunya di depan tiang listrik. Ia pun meminta agar sopir tersebut menurunkannya di tempat itu.


"Bapak berhenti di sini saja. Sebentar yah Pak, ini uangnya. Terima kasih karena sudah membantu saya."


Kemudian Julia pun pergi menghampiri Alaska dengan penuh semangat. Sedangkan Alaska sendiri tidak mengerti dengan wajah bahagia yang sedang dipancarkan oleh Julia. Tumben sekali anak ini sangat bersemangat hari ini. Alaska pun bertanya-tanya apa hal yang telah membuat Julia sampai seperti ini.


"Sepertinya kau sangat bersemangat sekali ya, memangnya apa yang telah membuatmu sampai seperti ini?"


Julia pun menarik napas panjang dan lalu kemudian memeluk tubuh Alaska dengan perasaan kasih sayang yang sangat dalam.


"Kau tahu apa yang sudah aku lakukan?" Alaska pun menaikkan satu alisnya seolah-olah mendukung Julia untuk menjawab pertanyaannya sendiri. "Tapi aku tidak ingin mengatakannya. Nanti saja jika masalah sudah selesai maka aku akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu."


Alaska pun terdiam sembari menerka-nerka apa yang telah membuat Julia sampai sebahagia ini. Sepertinya ada sesuatu yang buruk telah dilakukan oleh wanita tersebut. Namun melihat raut wajah dunia yang sangat bahagia ini memangnya sesuatu yang buruk apa telah dilakukan oleh wanita itu sampai sebahagia ini.


Apakah mungkin Julia melakukan hal buruk? Sepertinya tidak juga.


"Kau sama sekali tidak ingin mengatakannya kepadaku?" Julia dengan polosnya menggelengkan kepalanya membuat Alaska pun mendengus kasar. "Baiklah, sepertinya aku tidak dibutuhkan lagi di sini."


Perempuan itu pun terkekeh melihat reaksi Alaska. Alaska malah harus menyimpan rasa takutnya itu dengan sebuah senyuman. Dalam otaknya sedang menerka-nerka apa yang telah diperbuat oleh Julia.


"Sekarang memangnya kau mau apa?"


"Aku mau kita pergi dari kota ini dan hidup berdua."


Alaska langsung membulatkan matanya mendengar keinginan wanita tersebut. Ia pun mengepalkan tangannya dan pura-pura setuju dengan permintaan Julia.


Tapi membuat wanita itu sangat berharap juga adalah tindakan yang salah. Jadi saat ini Alaska benar-benar kebingungan dengan dirinya sendiri.


Julia pun memasang wajah cemberut. Oh Tuhan Alaska ada benarnya juga. Tapi tidak bisa kah keluarga pria itu menerimanya dengan lapang dada.


"Jika seperti itu maka kita ajak juga orang tuamu."


"Apakah sekarang kau sudah gila Julia? Tidak mungkin kita akan melakukan itu yang ada aku akan dituduh menculik anak orang dan lalu kembali masuk penjara."


"Maksudmu kembali?" kaget Julia setelah mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Alaska. Apakah Alaska pernah masuk penjara?


Alaska sendiri pun langsung berubah panik karena kecerobohan dirinya yang tidak bisa menyimpan fakta yang sesungguhnya dan tanpa sadar malah keceplosan.


"Tidak usah dipikirkan Julia. Intinya aku bisa dituduh oleh orang tuamu. Meskipun mungkin sekarang dia tidak mengetahui bahwa kau sudah mengingat kembali ingatanmu yang hilang namun Julian kan sudah mengetahuinya pasti demi mencari mu ia akan mengatakan yang sebenarnya kepada orang tuamu."


Julia pun menghela napas panjang. Benar apa yang dikatakan oleh Alaska dan itu artinya mau bagaimanapun ia akan tertangkap oleh orang tuanya dan kemudian akan menjadikan malapetaka buat Alaska.


"Jujur saja kau ada benarnya. Tapi kita harus seperti apa?"


"Julia ini yang kau maksud? Kau telah kabur dari rumah dan mengajak ku pergi karena besok kau tidak ingin pergi ke Amerika, kan? Maaf Julia ini kabar buruk seharusnya kau tidak tersenyum seperti ini. Aku juga tidak akan pernah pergi denganmu. Mari kita putus. Aku sudah tidak bisa menerimamu sejak kau mengajak ku seperti itu dan menjerumuskan ku ke dalam masalah."


Seketika itu juga wajah Julia langsung kaget mendengar pernyataan terkahir Alaska. Ia pun memandang ke arah laki-laki tersebut dengan tatapan tak percaya.


"Katakan, apa yang baru saja kau bilang itu adalah tidak benar. Alaska! Aku tidak ingin pisah dengan mu dan sama sekali tidak ingin pisah. Bagaimanapun juga aku akan pergi bersamamu."


Julia menangis tersedu-sedu dan memohon kepada Alaska agar membatalkan ucapannya. Ia bahkan sampai berlutut di depan laki-laki tersebut.


Alaska sendiri kaget melihat reaksi Julia yang sangat berlebihan. Ia kemudian mengangkat tubuh wanita itu dan menatap ke arah Julia dengan pandangan serius. Tidak ada bentuk rasa kasihan sama sekali di matanya dan Julia melihat itu semua dengan perasaan sakit yang luar biasa.


"Maaf Julia. Tekad ku sudah bulat. Aku tidak ingin bersama mu. Lebih baik kau kembali ke Amerika."


Setelah itu Alaska pun membawa sepedanya pergi meninggalkan Julia yang masih tergeletak di aspal dengan tubuh yang sudah tidak sanggup untuk berdiri.


"Hiks, hiks, hiks, benar-benar jahat. Aku ditinggalkan di sini sendirian tanpa memikirkan bagaimana perasaan ku saat ini. AKU MEMBENCI MU ALASKA!!"


Julia menangis di pinggir jalan dan menjadi perhatian banyak orang. Ia sangat lemah dan tak bisa berbuat apapun.


_________


Julia berjalan dengan gontai melangkahkan kakinya dengan diiringi perasaan penyesalan dan juga sakit yang sangat dalam. Hari hujan lebat menerpa tubuhnya hingga membuatnya basah kuyup. Namun wanita itu sama sekali enggan untuk memikirkan dirinya sendiri dan melangkahkan kaki nya hingga membuat tubuhnya menggigil.


Ia menangis kencang dan lalu kemudian berteriak di pinggir jalan dengan sangat puas.


"Alaska aku membenci mu! Tapi aku juga mencintaimu."


Julia menatap ke arah jembatan yang sangat tinggi dan berencana ingin melompat dari jembatan tersebut. Lebih baik ia mengakhiri hidupnya dari pada hidup dengan penuh sesak dan rasa sakit yang sangat dalam.


Wanita itu mencoba untuk mengakhiri hidupnya dan hendak menjatuhkan tubuhnya akan tetapi tangan seseorang datang menahannya.


Julia menatap ke arah orang yang menggagalkan aksinya tersebut dengan sangat marah. Tapi, ia malah terkejut saat melihat rupa orang tersebut tersebut.


"Alaska, kau datang untuk berbalikan dengan ku, kan?" Namun setelah itu ia pun menutup matanya tak sadarkan diri.


_____________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.