Alaska

Alaska
Part 2



Sampai pulang ke rumah Julia terus merasa penasaran dengan sosok pria tadi. Yang membuat rasa penasarannya membucah adalah karena Julian yang sepertinya sedang berusaha melindungi dirinya dari pria itu. Andai saja Julian tak menyuruhnya menghindari laki-laki tersebut pasti ia tak akan penasaran seperti ini.


Julia menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Dari tadi otaknya terus saja berpikir mengenai pria itu. Sebenarnya ada hubungan apa, mungkinkah dia adalah orang di masa lalunya?


Semakin dipikirkan malah menjadi tambah kepikiran. Julia memutuskan untuk turun dari ranjangnya dan menemui kakaknya tersebut yang sedang berada di ruang tamu. Saat melihat kakaknya itu yang sedang bersantai dengan secangkir kopi dan tv yang menyala di depannya membuat Julia langsung mencibir.


Ia menghampiri kakaknya tersebut dan duduk di sampingnya. Wanita itu memandangi kakaknya yang juga belum sadar dengan kehadirannya. Merasa sangat kesal sekali, Julia lantas memukul kepala pria itu hingga terdengar suara keluhan proa tersebut.


"Apaan sih dek."


"Jelaskan ke Julia, kenapa Julia harus menjauhi pria itu? Memangnya dia siapa? Kan Julia dan dia juga tidak saling mengenal, jadi kenapa aku harus menjauhinya? Jangan membuat aku penasaran Kaka," mohon Julia sembari menggoyangkan tangan kanan Julian.


Julian pun sedikit kesal dengan ulah kembarannya itu. Ia hanya menatap sebentar ke arah adiknya sebelum oa meninggalkan wanita itu.


Julia pun memasang wajah muram. Ia berusaha mengingat siapkah sosok laki-laki tersebut. Kenapa tiba-tiba ia merasa tak asing?


Aneh, pikiran jika ia pernah mengenal pria itu tiba-tiba muncul beberapa detik yang lalu. Julia memegang kepalanya yang berdenyut sakit, wanita tersebut lantas pergi ke dalam kamarnya berencana ingin berisitirahat.


Ia mencari obatnya yang tersimpan di dalam laci. Namun ia tak sengaja menemukan sesuatu. Julia merasa heran dan berusaha menahan rasa sakitnya sambil mengamati barang yang baru saja ditemukan olehnya.


Ya sebuah foto kecil yang berbentuk polaroid yang mana sudah usang dan juga terdapat sobekan. Julia memperhatikannya dengan seksama hingga wanita itu terkejut ketika menyadari jika foto itu merupakan foto dirinya dan juga ada laki-laki yang kemarin ditemuinya. Di situ juga terdapat sang kakak.


Julia semakin dilanda penasaran dan rasa sakit di kepalanya. Ia meringis dan mencari obat hingga ia menemukan keping obat dan langsung memasukkannya ke dalam mulut.


Setelah dirasa aman, Julia kembali memperhatikan foto itu dan ia masih terpana dan seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Jika menanyakan kepada Julian pasti ia tak akan menjawab rasa penasarannya itu. Lebih baik ia pergi ke pasar kemarin dan mencoba mencari pria kemarin.


Keputusan Julia pun sudah final. Ia lantas langsung pergi ke kamar mandi dan berganti pakaian. Semoga pria itu ada di sana dan bisa mengatasi rasa penasarannya. Ia perlu bertemu dan membicarakan sesuatu kepada laki-laki tersebut.


Jujur saja Julia tak tega melihat tatapan pria tersebut yang tengah menahan sesuatu. Tampaknya ada rasa sakit yang mengganjal pada diri pria itu dan hal tersebut lah yang membuat Julia memutuskan untuk mencari tahu siapa sebenarnya laki-laki itu.


Julia pun sudah siapa dengan pakaian rapinya dan wanita itu langsung pergi secara diam-diam dari rumah agar aksinya tersebut tak diketahui oleh Julian.


__________


Julia mendesah panjang. Ia tak menemukan pria kemarin yang membuatnya merasa sangat sedih. Julia berjalan menunduk dan menahan kesedihan tersebut dengan memegang dadanya.


Tak


"Akhh," lenguh Julia saat tak sengaja menabrak dada seseorang.


Julia mengangkat wajahnya dan ia melihat jika orang tersebut adalah orang yang kemarin. Seketika senyum Julia langsung cerah.


"Kau?"


"Ada apa Nona? Apa yang membuat mu sangat senang sekali? Maafkan saya yang tak sengaja menabrak mu tadi."


"Ck, sudahlah. Aku yang salah karena berjalan tidak melihat-lihat lagi," ujar Julia saking antusiasnya bisa menemukan pria itu.


Ia menarik tangan laki-laki itu ke sebuah restoran yang ada di samping mereka. Alaska sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu.


Selama ini Alaska menahan dirinya dalam diam dan mengamati Julia dari jauh. Bahkan ia sengaja ke tempat ini kembali setelah menghabiskan malamnya di kos-kosan kecil dengan penuh kerinduan kepada Julia.


Semalaman pikirannya hanya dipenuhi oleh Julia dan sama sekali tak ada nama lain yang bermain menyusup ke dalam otaknya.


"Julia," gumam Alaska tanpa sadar.


Alaska tak bisa banyak bicara lagi dan membiarkan Julia dengan celotehannya. Rupanya wanita itu masih sama seperti dahulu.


Alaska terus mengamati apa yang dilakukan oleh Julia hingga tatapannya terpana melihat wanita itu yang tengah mengeluarkan sebuah foto dan meletakkannya di depan.


Alaska mengamati foto tersebut dan ia tak bisa berkata-kata melihat foto tersebut. Itu adalah foto yang mereka ambil di pantai pada liburan hari itu sebelum tragedi naas tersebut terjadi.


"Apa kita saling kenal?" Alaska langsung memandang ke arah Julia dengan bibir terbuka.


Entah kenapa saat ini mulutnya kelu dan tak bisa berbicara walau hanya sepatah kata. Seperti ada magnet yang menahannya untuk terkatup.


"Hey!" serunya pada Alaska hingga membuyarkan lamunan Alaska.


"Ya?"


"Kau mengenal ku, bukan? Ceritakan apa hubungan kita, kau sepertinya orang terdekatku. Ku mohon beri tahu aku masa lalu ku, karena semua orang tidak ada yang ingin menceritakan masa lalu ku. Apakah setragis itu? Aku benci dengan kehilangan ingatan ini."


Alaska langsung terkejut mendengar apa yang baru saja dinyatakan oleh Julia. Kenapa ia baru tahu jika Julia kehilangan ingatan. Ia ingin protes kepada keluarga Julia yang tidak memberitahukannya. Tapi siapa dia sehingga harus mengetahui seluk beluk kehidupan Julia?


Mungkin menyembunyikan lebih lama dan berbohong kembali adalah jalan terbaik demi kebaikan Julia. Ia tahu orang tua Julia juga tidak akan ikhlas dengannya.


"Maaf, sepertinya kami hanya mirip. Tapi aku tidak mengenal mu."


Julia berkaca-kaca mendengar ucapan Alaska. Apakah Alaska sama seperti orang terdekat lainnya yang selalu saja menolak untuk menceritakan masa lalunya.


"Kau berbohong. Aku tahu itu."


"Tapi aku tidak berbohong," ucap Alaska dan menyesap jus pesanan Julia lalu pergi begitu saja.


Julia menatap ke arah punggung pria itu yang berjalan ke luar restoran. Julia menangis pilu melihatnya.


Namun tiba-tiba kepalanya terasa berat dan Julia merasa jika itu adalah titik terendah dalam hidupnya. Ia berteriak saking sakitnya dan tiba-tiba bayang-bayang masa lalu muncul begitu saja seolah tengah memberikan jawaban untuk Julia.


Julia memandang ke arah Alaska yang hendak membuka pintu restoran. Ia tersenyum lebar seraya menatap ke arah pria itu.


"Alaska aku mengingat semuanya!"


Alaska sontak berhenti melangkah. Pria itu merasa jika tubuhnya bergetar dan secara perlahan ia membalikkan badannya.


Mata Alaska yang penuh dengan kerinduan dan mata Julia yang juga menatap sama seperti Alaska.


"Kau!"


"Ya pada saat itu kita masih duduk di SMA."


Julia seolah tengah mengulang kembali ingatannya yang terlihat seperti sebuah cerita.


_______


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA.