
"Julia ada apa dengan mu? Hanya karena ledekan itu kau sampai sekarang tidak ingin berbicara dengan ku. Apakah itu sangat sepadan dengan mu? Hey, dengarkan aku, kenapa kau sama sekali tak ingin bicara dengan ku? Baiklah jika kau tak ingin berbicara dengan ku. Aku tidak masalah," ucap wanita itu yang sudah sangat kesal membujuk Julia dari tadi.
Julia juga entah kenapa tiba-tiba menjadi orang yang sangat baperan seperti ini. Tak biasanya wanita tersebut bersikap seperti itu. Siapa juga pria yang telah ia ledeki tersebut? Lagipula pasti Julia juga tidak mengenal pria itu. Tapi entah kenapa wanita itu sangat berlebihan sekali kali ini.
"Hey memangnya dia siapa? Apakah kau mengenalnya? Lagi pula kau juga tidak tahu dia, kan?"
Seketika itu juga Julia langsung berhenti berjalan. Wanita tersebut menatap ke arah Ane dan tiba-tiba raut wajahnya langsung berubah tidak enak.
"Apaan sih. Bisa tidak ku berhenti berbicara? Dari tadi aku hanya mendengar suaramu," ucap Julia yang kesal dan semakin kesal.
Ane hanya ternganga melihat wanita itu yang tiba-tiba marah besar kepada dirinya padahal Ia hanya mengatakan hal yang sangat sepele. Apakah di sini yang paling disalahkan adalah dirinya hingga membuat Julia sampai semarah itu? Biasanya Julia sama sekali tidak pernah marah. Namun entah kenapa bersama dirinya tiba-tiba wanita tersebut menjadi orang yang sangat pemarah.
Tampaknya di sini memang ia yang paling disalahkan.
"Apakah Julia memiliki hubungan dengan pria itu? Wait, bukankah laki-laki tersebut adalah laki-laki yang kemarin memberikan buku kepada Julia, kan? Apakah laki-laki itu telah membuat masalah kepada Julia sehingga Julia tidak ingin mendengar namanya sama sekali?"
Spekulasi spekulasi tiba-tiba muncul begitu saja di benak Julia. Wanita itu benar-benar khawatir dengan dirinya sendiri. Ia berusaha untuk meminta maaf kepada Julia dan menjelaskannya. Rencananya Ane juga akan mencari pria itu dan melabraknya karena telah membuat Julia semarah ini.
"Awas aja pria itu, aku pasti tidak akan pernah memaafkannya. Dia harus menanggung perbuatannya karena telah membuat marah Julia."
________
Ane benar-benar mencari Alaska. Beberapa hari ini tugasnya hanya mengelilingi universitasnya agar bisa bertemu dengan laki-laki tersebut.
Sungguh ia tak menyangka jika Alaska sedang berada di perpustakaan sembari belajar. Ia pikir laki-laki itu tidak sepintar itu namun rupanya saat diperhatikan Alaska memiliki kelebihan yang sangat luar biasa.
"Ternyata dia benar-benar sepintar itu ya? Bahkan soal sesulit itu pun dapat dipecahkannya. Padahal kan dia baru saja menjadi maba?"
Tiba-tiba Ane pun menjadi orang yang sangat insecure melihat Alaska. Ia pun berusaha untuk tersenyum lebar dan kemudian memberanikan dirinya untuk menghampiri Alaska walaupun jantungnya berdetak sangat hebat kali ini.
Tapi ia sangat berharap semoga Riya itu tidak akan marah kepadanya dan welcome begitu saja.
"Hei kau."
Alaska yang sedang mengerjakan soal kimia tersebut pun menatap ke arah Ane yang memanggil namanya tersebut. Alaska menaikkan satu alisnya dan ia bingung siapa wanita itu, tapi entah kenapa ia merasa sangat familiar dengan orang itu.
Alaska berusaha mengingatnya di mana ia pernah bertemu dengannya. Jika diingat-ingat bila tidak salah ia pernah bertemu dengan wanita itu saat perempuan tersebut memintanya untuk membalikan buku Julia. Satu lagi, wanita ini sepertinya adalah sahabat Julia.
"Ada apa perlu mencariku?"
"Apakah kau mengenal Julia?"
Alaska pun semakin tidak mengerti dengan pertanyaan wanita itu. Tapi ia tetap menganggukkan kepalanya.
"Ya aku adalah mantan kekasihnya. Kedatangan ku ke sini juga karena dia." Ane ya mendengar pengakuan dari Alaska itu menutup mulutnya tidak menyangka.
Demi apa Julia pernah berpacaran dengan pria yang ada di depannya saat ini. Sungguh tidak disangka-sangka bahwa Alaska adalah mantan pacar Julia. Tapi jika dilihat-lihat memang pria ini setampan itu, pantas saja jika Julia sangat menyukainya apalagi dia orang yang sangat pintar.
"Lantas kenapa kau selalu membuat Julia marah saat aku membicarakan mu?"
"Aku tidak tahu. Apakah aku Julia? Jika kau ingin tahu jawabannya maka tanyakanlah kepada wanita itu bukan kepada diriku."
Kemudian Alaska pun melanjutkan mengerjakan tugasnya. Sementara itu Ane termenung setelah mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Alaska. Antara percaya dan tidak percaya bahwa ia baru saja mendengar pria itu mengatakan hal tersebut.
"Dia benar-benar sangat kolot sekali. Aku baru pertama kali melihat orang seperti itu."
Kemudian Ane pun meninggalkan Alaska begitu saja. Setelah kepergian Ane, Alaksa menatap ke arah wanita itu dan kemudian menundukkan kepalanya. Semoga saja Julia bisa menerimanya dengan lapang dada dan mengerti dengan apa yang ia lakukan dulu.
__________
Semenjak Julia telah pergi ke Amerika Serikat ia sama sekali tidak pernah mengirim lukisannya ke perusahaan wanita itu. Walaupun di situ juga ada sahamnya. Tapi Alaska cukup sadar diri dan tidak ingin memperpanjang masalah.
Laki-laki tersebut pun berharap semoga usaha yang didirikan oleh Julia tidak berakhir begitu saja apalagi sekarang tengah diurus oleh ayahnya. Ia cukup bangga semisal perusahaan tersebut berkembang pesat karena itu juga ada campur tangannya dahulu.
Saat ini Alaska menyempatkan dirinya untuk melukis ketika memiliki waktu senggang. Beberapa hari ini ia juga terus mengejar Julia dan meminta maaf kepada wanita tersebut. Namun sampai sekarang Julia belum bisa memaafkannya, iya juga tidak menyangka bahwa Julia akan seperti itu kepadanya.
Tapi ya sudahlah, di sini yang salah memang dirinya dan ia tidak pantas untuk mengkomplain apa yang telah dilakukan oleh wanita itu.
Saat sedang menikmati waktunya untuk melukis tiba-tiba ia kedatangan tamu yang tak terduga. Alaska pun berhenti melukis dan menatap ke arah orang yang baru saja datang tersebut dengan kening bertaut.
Akan tetapi senyumnya tidak bisa luntur saat melihat wanita itu. Ia sungguh salut ketika Julia yang selalu menghindarinya tiba-tiba datang kepadanya begitu saja. Bahkan wanita itu sama sekali tidak memiliki rasa malu atas apa yang telah ia lakukan kepada dirinya.
"Ada apa datang tiba-tiba mencariku? Sepertinya ada hal penting yang ingin kau katakan. Duduklah di sini."
Alaska lantas memberikan kursi untuk Julia. Namun wanita itu terus menundukkan kepalanya dan membuat Alaska terkekeh.
"Apakah kau lagi sibuk?" Julia dengan sangat gugup mengatakan kalimat itu. Ia pun menggigit bibirnya dengan perasaan yang berdebar. Pasalnya ia selalu mengabaikan pria itu namun secara mengejutkan Ia tiba-tiba datang kepadanya. Sungguh hal yang benar tidak terduga.
"Ya sedikit. Tapi di sini aku benar-benar keheranan kenapa tiba-tiba tuan putri ini datang? Biasanya kau tidak akan pernah mau ketika aku mendekati mu."
Julia langsung mengerucutkan bibirnya. Wanita itu benar-benar merasa sangat malu untuk saat ini. Bahkan Julia sama sekali tidak bisa berbicara.
Alaska yang melihat tingkah Julia yang seperti itu lantas tertawa pelan. Akan tetapi ya sama sekali tidak meledek Julia. Ia terus memperhatikan wanita itu dengan seksama, hingga Julia pun merasa salah tingkah dengan laki-laki itu.
"Apa yang kau lakukan? Aku benar-benar sangat malu saat ini."
"Tidak usah dipikirkan. Katakan saja apa yang kau inginkan, aku pasti akan memenuhinya."
Julia pun menundukkan kepalanya dan lalu dengan perasaan sungkan menyerahkan kertas tugasnya dan meminta kepada pria itu agar membantunya. Bahkan hanya demi tugas tersebut ia rela menjatuhkan harga dirinya daripada ia tak bisa mengerjakannya sama sekali.
Alaska pun mengambil kertas tersebut dan memperhatikannya. Soal itu cukup mudah baginya dan ia hanya tertawa pelan melihat Julia yang sangat kesal kepadanya karena terus menertawakan dirinya dari tadi.
"Kenapa kau terus tertawa? Apakah ini sangat lucu bagimu? Aku tahu tidak sepintar itu. Tapi kau tidak boleh menertawakan ku juga." Alaska pun menganggukkan kepalanya mantap.
"Ya aku sama sekali tidak menertawakan mu. Baiklah sini aku akan mengajarkanmu."
Alaska pun memberikan soal yang sangat mirip dengan soal milik Julia tersebut lalu mengajarkannya. Kemudian ia menyuruh agar Julia mengerjakan tugasnya itu dengan jalan yang sama dengan soal yang ia berikan tadi.
Julia pun mengerjakannya dengan sangat hati-hati dan ia pun akhirnya bisa memecahkan soal tersebut. Wanita itu merasa sangat lega namun kemudian ia teringat bahwa yang mengajarinya ini adalah orang yang telah dihindarinya beberapa hari ini.
"Terima kasih." Kemudian ala Yulia pun berusaha untuk meninggalkan laki-laki itu secepatnya.
"Hey! Begitukah sopan santun mu, setelah aku mengajarimu kau sama sekali tidak ada menawariku apapun."
Julia terkejut mendengar ucapan Alaska. Jika dipikir-pikir juga Alaska ada benarnya.
"Jadi apa yang kau mau?"
"Bagaimana jika kita keluar dan makan bersama?"
Julia hendak membantah namun pria itu sudah pergi mendahului dirinya sehingga ia pun tak sempat untuk menolak dan terpaksa memenuhi keinginan laki-laki tersebut. Tak pernah terbayangkan olehnya akan seperti ini lagi bersama dengan Alaska.
_______
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.