Alaska

Alaska
Part 48



Julia dan Alaska saat ini sedang duduk berdua di taman. Setelah yakin bahwa itu adalah Alaska, perempuan tersebut sama sekali tidak mengatakan apapun sampai sekarang.


"Bagaimana menurutmu? Apakah kau masih marah denganku? Baiklah jika kau tidak senang aku kuliah di sini."


Julia pun menatap ke arah pria tersebut dengan pandangan berkaca-kaca. Bahkan Alaska sama sekali tidak meminta maaf dengan apa yang telah ia lakukan kepada dirinya. Asalkan pria itu tahu selama ini ia sungguh tersiksa dengan rasa sakit yang diberikan oleh laki-laki tersebut.


"Kenapa kok malah pergi ke sini dan berkuliah di Harvard? Bukannya kau ingin berkuliah di universitas Gadjah Mada? Kenapa kau malah ada di sini? Jika hanya karena kau ingin mengejarku, maka aku tidak menyukai caramu ini. Kau bahkan sama sekali tidak bersalah dengan apa yang telah kau lakukan kepadaku."


Alaska pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Bukan maksudnya menyakiti Julia sampai separah itu. Jika ia tidak memutuskan hubungan tersebut maka Julia akan terus berharap dengan sesuatu yang sangat tidak pasti dan membuat orang tuanya marah serta melampiaskannya kepada dirinya. Mungkin yang terkena imbasnya hanya dirinya saja tidak masalah, akan tetapi Alaska ingin melindungi keluarganya.


"Ternyata kau benar-benar marah denganku. Baiklah aku minta maaf atas kejadian itu. Bukan maksudku untuk memutuskanmu begitu saja. Tapi jika tidak seperti itu sampai kapanpun kau tidak akan pernah mengerti dan terus memaksa orang tuamu untuk kuliah di Indonesia. Benar apa yang dikatakan oleh mereka bahwa universitas Harvard lebih bagus daripada yang ada di Indonesia. Aku juga tidak ingin kau menyia-nyiakan kesempatan ini. Maka dari itu biarlah aku yang berjuang untuk masuk ke Harvard."


Jujur saja Julia sangat terharu mendengar ucapan laki-laki itu. Tapi iya sama sekali tidak ingin mengakuinya dan tetap berpegang teguh dengan rasa gengsinya.


"Apakah benar seperti itu? Sepertinya kau adalah orang yang jago mengarang. Bagaimana jika Aku terperangkap pada jebakan mu?"


Alaska langsung memandang ke arah wanita itu yang tak lagi mempercayai dirinya. Lagi pula jika perempuan tersebut tak menginginkannya lagi maka ia akan mengejarnya seperti semula.


"Julia, mungkin apa yang aku katakan kemarin salah. Tapi Itu demi kebaikanmu Julia dan juga kebaikan keluargaku. Aku berharap jika kau akan mengerti dengan kondisi kita."


Julia pun menganggukkan kepalanya. Wanita itu memandang Alaska dengan sangat serius. Setelah Alaska menyakitinya sedalam ini maka wanita itu tidak akan mudah memaafkannya begitu saja.


"Maaf Alaska. Mungkin apa yang kau katakan itu adalah benar, tapi hatiku sama sekali tidak pernah bisa memaafkanmu. Biarkan Aku menyendiri lebih dahulu."


Kemudian wanita tersebut pun pergi begitu saja meninggalkan Alaska yang masih termenung di tempatnya. Ia menganggukkan kepalanya dan lalu kembali ke lapangan. Tidak mendapatkan Julia, berarti bukan dirinya menyerah.


Masih banyak cara untuk meyakinkan Julia bahwa ia bisa menjadi pembimbing wanita itu. Ia juga yakin bahwa Julia tidak semudah itu melupakannya.


"Aku harap kisah kita akan terus seperti ini. Mungkin pahit di awal namun berakhir manis."


_________


Julia pergi ke dalam toilet. Wanita itu sungguh tidak tahan dengan perasaannya sendiri. Ia menangis tersedu-sedu di dalam toilet tersebut. Kenapa pria itu harus ada di depannya dan muncul tanpa ada rasa bersalah sama sekali.


Bahkan Alaska begitu mudah untuk menyakiti hatinya, dan seolah-olah ia ini hanyalah mainan. Padahal pria tersebut tahu bagaimana perasaannya. Pasti Alaska merasakan apa yang ia rasakan juga. Seharusnya pria itu sadar dengan perbuatannya. Namun ya sudahlah, tapi rasa sakit hati ini tidak mudah dihilangkan hanya dengan kata maaf.


Julia benar-benar dilema dengan dirinya sendiri. Akan tetapi wanita itu berusaha untuk tetap tegar dan berdiri teguh.


Ia pun menghapus air matanya dan lalu kemudian keluar dari dalam toilet tersebut. Matanya memang terlihat bengkak, akan tetapi wanita itu berusaha untuk menampilkan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Kenapa kau sampai ke panik ini? Memangnya apa yang telah terjadi denganmu?"


Ane pun menolehkan kepalanya dan terkejut melihat wanita itu yang ada di depannya. Ia menarik napas panjang dan kemudian menghampiri Julia.


"Aku pikir kau ke mana tadi. Bagaimana dengan buku mu? Apakah ada yang memberikannya kepada mu? Aku tadi sudah tidak tahan makanya menitip dengan orang."


"Ya sudah dikembalikan. Kali ini kau sangat salah besar Ane. Aku ingin sekali mencakar-cakar wajahmu itu. Kau tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya."


Ane pun panik saat mendengar Julia memberikan pertanyaan tersebut. Apakah buku yang ia berikan tadi hilang? Atau rusak?


"Memangnya ada apa? Buku yang diberikan kepadamu itu cacat ya? Laki-laki itu benar-benar tidak tahu malu ya, dan sama sekali tidak memiliki amanah."


Julia pun menghela nafas dan lalu kemudian menepuk pundak wanita itu beberapa kali.


"Tidak usah dipikirkan. Lain kali kau tidak usah berinteraksi dengan orang itu."


"Hm." Ane pun menatap ke arah Julia dengan sangat serius. Seketika itu juga ia merasa ada yang aneh dengan Julia.


"Julia, ada apa dengan mu? Apakah kau habis menangis? Lihat wajah mu sangat merah. Mata mu juga sembab."


Julia terkejut dan lalu kemudian menutupi wajahnya seketika. Wanita itu berusaha menggelengkan kepalanya dan meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.


"Aku tidak habis menangis. Mungkin karena aku sakit ya?"


"Kau sakit? Kalau begitu cepatlah ke UKS."


"Tidak usah. Sepertinya bukan penyakit yang serius."


Kemudian Julia akibat-cepat pergi agar tidak ketahuan oleh Ane.


_____


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.