Alaska

Alaska
Part 13



Sampai pulang ke rumah Julia tidak berbicara kepada Julian. Bahkan ia juga melarang Alaska datang ke rumahnya untuk mengajarinya melukis. Hari ini ia tidak ingin diganggu oleh mereka berdua. Bagi dirinya lebih tenang jika sendirian seperti ini.


Julia juga mengurung diri di dalam kamar dan melamun seorang diri. Julian menatap lukisannya itu dan harinya hancur melihat betapa rapuhnya ia.


Lukisan itu adalah bukti betapa ia selalu dikekang oleh orang tuanya. Julia menatap kertas yang menumpuk di meja belajarnya. Ia harus menyelesaikan semua tugas tersebut. Tidak peduli tubuhnya kelelahan atau tidak. Pasti sang ibu di sana menginginkan harus selalu mengerjakan tugasnya itu.


Ya ketika habis belajar, maka Julia harus mengirimkan bukti bahwa ia telah belajar kepada ibunya. Dan baru begitulah ibunya percaya bahwa ia telah belajar. Ibunya tidak ada di sini saja Julia sudah dituntut sedemikian rupa apalagi jika ibunya telah pulang ke Indonesia.


Julia sudah sangat muak dengan hidupnya. Perempuan itu mengambil hiasan kamarnya yang berbentuk benda pada terlalu kemudian melemparkannya ke arah lukisan tersebut hingga cat yang berada di situ ikut terjatuh dan mengotori lantai.


Tak sampai di situ, Julia juga membuang semua buku-buku yang ada di atas meja belajarnya hingga berserakan.


Julian yang mendengar keributan di dalam kamar Julia lantas berlari ke arah kamar wanita tersebut dalam keadaan gelisah penuh ketakutan. Sebelumnya ia tidak pernah melihat adiknya seperti itu.


Julian berusaha untuk mengendor pintu kamar Julia yang tertutup. Namun akan tetapi Julia tak juga membukakannya dan malah menangis tersedu-sedu.


"Julia buka pintunya! Kau harus mendengarkan ku! Hey ada apa dengan mu? Jika hanya karena masalah tadi pagi maka aku akan minta maaf kepadamu. Julia buka pintunya dek!"


Julia menghilang nafas panjang dan menata ke arah pintu kamarnya yang bergoyang-goyang akibat dikadang keras oleh Julian. Julia mengatakan tangannya dan lalu kemudian menendang pun itu hingga mengejutkan Julian yang ada di luar sana.


"Julia apa yang kau lakukan?"


"Kau tahu aku telah muak hidup. Dunia ini tidak adil untukku. Kenapa harus aku yang dituntut untuk menjadi pintar dan berprestasi di bidang apapun. Sementara kau sama sekali tidak disuruh seperti itu kakak. Lalu ketika aku berusaha untuk memenuhi ekspektasi orang tua kita dan membuatku sampai sakit tapi kalian malah menyalahkanku. Seharusnya kalian menyalahkan mama! Bukan aku!!!" teriak Julia dengan kencang dan lalu kemudian ia pun jatuh ke lantai.


"Aku benci, kau tahu aku membenci hidup ku yang seperti robot ini. Orang tua kita sungguh tidak adil."


Julian yang mendengar paling besar Julia dari luar pun merasa tidak tega dengan wanita itu. Iya juga ikut meneteskan air mata di luar sana dan menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar Julia. Dan di sinilah perannya sebagai seorang kakak harus menenangkan Julia.


Satu hal lagi, ia baru tahu juga Julia memiliki keluhan seperti ini. Pasti wanita itu benar-benar terkekang dalam hidupnya dan tidak bisa melakukan apa yang ia inginkan. Lantas kenapa ya baru tahu perasaan adiknya seperti ini Padahal ia tahu bagaimana protektifnya orang tua mereka kepada Julia.


Namun satu hal yang tak diketahui oleh Julia, Julian juga sama diperlakukan orang tuanya dan dituntut harus bisa memenuhi apa yang mereka inginkan."


_______


Akhirnya Julian bisa membuka pintu kamar Julia menggunakan pintu serep. Ia melihat tugu rapuh adiknya yang tertidur di balik pintu. Melihat betapa sulitnya kehidupan sang adik membuat hati Julian merasa sangat sakit. Terkadang memang terselip rasa benci yang sangat mendalam kepada orang tua mereka. Ingin rasanya melawan akan tetapi tidak bisa.


Sebab orang tua mereka memiliki kuasa yang tidak bisa ditentang oleh anak-anaknya sehingga setiap perintah yang diberikan oleh orang tuanya maka mereka harus menurutinya. Anak selalu dituntut seperti itu agar menurut kepada orang tua mereka. Akan tetapi orang tua tidak bisa memenuhi tuntutan anaknya.


Julian menghela nafas panjang dan lalu kemudian mengangkat tubuh Julia ke atas ranjang wanita itu. Ia menyentuh kening mulia yang sangat panas dan itu benar-benar membuat Julian merasa khawatir kepada adiknya tersebut.


"Banyak orang mengatakan jika kita memiliki kehidupan yang sempurna hanya karena kita anak orang kaya. Tapi mereka tidak tahu kita juga memiliki kesedihan yang begitu mendalam. Sudahlah, mungkin sudah nasib mereka yang akan seperti ini. "Satu hal yang perlu kau tahu aku tidak akan membiarkanmu tersakiti. Sebagai kembaranmu seharusnya aku bisa menjaga wanita ini. Jangan bersedih hati aku selalu ada di samping mu."


Perlahan mata Julia terbuka dan menatap ke arah kakaknya yang belum menyadari bahwa ia telah terbangun. Julia memandang kosong ke arah kakaknya tersebut seperti tidak ada kehidupan yang memberikannya sebuah manfaat.


"Julian, aku menghargai niat baikmu."


Julian terkejut mendengar suara adiknya itu. Ia memandang ke arah sang adik dan lalu kemudian tersenyum pada wanita itu.


"Kau sudah bangun? Apakah aku terlalu lancang memasuki kamarmu tanpa izin?"


"Sangat lancang," jawab Julia dengan singkat.


"Maaf."


Julian terkece mendengar permintaan maaf dari Julian. Asal kalian tahu sangat sulit mendengar kata keramat itu dari Julian. Meskipun beberapa hari yang lalu curian juga mengatakan kata yang seperti ini.


"Tumben sekali kau langsung meminta maaf. Biasanya kau akan meledekku habis-habisan. Kenapa kau tak seperti orang yang aku kenal?" tanya Julia sembari memicingkan matanya kepada laki-laki tersebut.


"Entahlah. Mungkin karena mood ku hari ini baik dan ingin menjadi kakak terbaik untukmu."


Julia tertawa mendengar ucapan Julian itu.


"Kau tahu kau sangat berbeda. Aku masih merasa asing dengan dirimu yang ini," ucap Julia sembari terkekeh.


Sejenak wanita itu melupakan masalahnya. Ia harus membutuhkan waktu istirahat yang lebih lagi dan menenangkan pikirannya. Untunglah Julian datang tidak untuk merusuh dirinya akan tetapi memberikan sebuah semangat baru bagi Julia.


"Jujur saja aku juga tidak setuju dengan kebijakan yang dibuat oleh Mama. Lari ke Papa pun dia sama seperti mama. Kenapa mereka terlalu mengekang kita."


"Ck, aku doang yang dikekang." Julian hanya dia menatap adiknya itu. Iya juga tidak berniat ingin memberitahukan kepada adiknya bagaimana hidupnya yang sebenarnya.


Mereka memiliki kisah pilu masing-masing dan bedanya hanya Julia yang tidak mengetahui bagaimana kehidupan Julian yang sesungguhnya. Yah walaupun tidak seperti dunia yang lebih dikekang oleh ibunya karena ia adalah anak wanita.


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.