
Julia terus memperhatikan laki-laki itu yang tengah makan. Rasa rindu itu tiba-tiba kembali muncul di dalam dadanya dan sangat menggebu-gebu hingga membuat dirinya tidak bisa melawannya. Julia berusaha keras meyakinkan hatinya bahwa ia tak lagi mencintai Alaska. Tapi semakin lagi ia berusaha untuk melupakan pria itu maka perasaannya semakin membuncah.
Ia tak mengerti kenapa perasaan ini sangat menyiksa bagi dirinya. Julia berusaha untuk meyakinkan hatinya bahwa ia akan bisa tanpa pria itu, tapi sangat disayangkan ia selalu saja memikirkan pria itu tiap malam.
Julia pun termenung dengan bola matanya yang masih belum teralihkan dari Alaska. Alaska yang merasa ada mengawasinya menatap ke ara Julia yang rupanya dari tadi tengah memandangi dirinya.
Ia tak menganggukan bahwa wanita itu terus menatapnya seperti itu. Tampaknya Julia belum menyadari bahwa ia telah memperhatikan wanita tersebut.
"Julia, hei ada apa denganmu? Kenapa aku merasa bahwa kau tengah melamun. Apa yang telah mengganggu pikiranmu? Katakan saja, jika kau menyukaiku juga tidak apa."
Julia pun langsung tersadar dan lalu kemudian mengedipkan matanya beberapa kali berusaha untuk mendapatkan kesadarannya yang lebih lama lagi.
"Apa yang telah kau lakukan kepadaku?" Alaska pun langsung mengangkat alisnya saat mendengar wanita itu berkata seperti tersebut.
Apakah Julia tidak menyadarinya bahwa wanita itulah yang terus memandangi dirinya dari tadi. Ia saja bahkan tak menyangka kepada wanita itu yang akan memandangnya sangat lama. Apakah Julia memiliki perasaan kepadanya? Jika wanita itu masih mencintai dirinya alangkah bahagianya Alaska saat ini.
Ia benar-benar sangat berharap bahwa wanita itu sadar dengan perasaannya sendiri serta dengan perasaan yang terus Alaska simpan untuk wanita itu.
"Julia, apakah kau mencintaiku? Aku sangat berharap kau masih mencintai ku."
Julia langsung terkaget mendengar perkataan Alaska. Tapi sampai sekarang ia belum mengetahui hatinya dengan pasti jadi ia tak bisa mengatakan apapun saat ini. Wanita itu hanya melemparkan senyum getir dan kemudian menggelengkan kepalanya.
"Aku sama sekali tak pernah mencintaimu. Jangan terlalu kepedean, karena kepedean itu juga tidak baik." Julia terus mengelak perasaannya yang sesungguhnya. Padahal sangat jelas terlihat sekali jika wanita itu sangat merindukannya, tapi entah kenapa ia salah saja gengsi dan tidak ingin mengakuinya.
"Kau bahkan sama sekali tidak ingin mengakui perasaan mu sendiri. Aku katakan saja bahwa kau tak seharusnya menyiksa batin mu."
Julia pun menarik napas panjang dan kemudian menatap ke arah Alaksa dengan sangat serius. Alaska menurutnya keras kepala. Dari tadi dia mengatakan bahwa dirinya tidak walaupun sesungguhnya apa yang telah Ia ucapkan itu merupakan sebuah kebohongan yang sangat nyata.
"Alaska, aku sekali tidak mengerti dengan dirimu. Dari tadi aku mengatakan bahwa aku tidak merindukanmu sama sekali, tapi kenapa kau selalu membantah ucapanku dan mengatakan bahwa aku merindukanmu?"
Alaska pun hanya bergidik bahu. Namun pria itu tiba-tiba berubah menjadi sangat serius ketika menatap dirinya. Julia sendiri sangat terkejut ketika pria itu menatapnya seperti itu hingga membuat jantungnya rasanya sangat berdebat tidak karuan.
"Apakah kau tidak mengerti sama sekali mengenai perasaanmu itu? Perasaanmu adalah milikmu, tapi kau tidak mengerti bagaimana hatimu ingin bertindak. Tanyakan kepada dirimu sendiri dan jawablah dengan jujur apakah kau merindukanku?"
Tiba-tiba tubuh Julia panas dingin. Pipinya pun bertemu merah saat mendengar Alaska yang menyuruh untuk meyakinkan perasaannya. Tanpa pria itu suruh pun ia sudah sangat hafal bahwa dirinya sebenarnya mencintai pria tersebut tapi memanglah ia yang tidak ingin yang mengakuinya.
Alaska menarik nafas panjang, dari detak jantung dan juga tatapan gelisah Julia sudah membuktikan bahwa wanita itu telah berbohong kepada dirinya. Tapi entah kenapa Julia sama sekali tidak ingin mengakui perasaan hatinya tersebut.
"Baiklah aku mengaku sekarang. Aku memang merindukanmu dan juga masih mencintaimu. Aku hanya ingin menghukum mu dan membuatmu juga merasa sedih bagaimana ketika aku tidak bisa memaafkanmu. Tapi aku ternyata salah, justru dengan seperti itu aku makin tersiksa dengan perasaanku sendiri."
Alaska tidak tahu harus bersikap seperti apa. Namun yang pasti saat ini jantungnya berdetak kencang dan senyumnya tidak bisa luntur. Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun mengaku. Inilah yang ia dengar dari wanita tersebut.
"Jadi kau masih mencintaiku, kan? Aku juga sudah berjuang dan tidak ingin kau yang berjuang untukku. Maukah kau menjalin hubungan dengan ku lagi?" Julia pun menarik nafas panjang lalu kemudian menganggukkan kepalanya tanpa ada keraguan sama sekali.
"Bagus."
Alaska kemudian meraih tangan Julia dan menggenggamnya dengan sangat erat. Penantian dan perjuangan dirinya ternyata tidak berakhir dengan sia-sia. Mendapatkan wanita itu sudah, tinggal mendapatkan cita-citanya saja yang belum. Tapi yang pasti Alaska akan berjuang sampai ke titik penghabisannya untuk memperjuangkan cita-citanya tersebut dan membahagiakan Julia.
"Aku pasti akan membahagiakanmu dan berjuang untukmu bagaimanapun caranya. Kau adalah segalanya bagiku, terima kasih karena telah hadir dalam hidupku."
Julia menganggukkan kepalanya dan tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Ia benar-benar sangat terharu dengan Alaska yang terus menunggu dirinya dan bahkan berjuang sampai menyusulnya untuk kuliah di Harvard.
"Tidak usah dipikirkan, hatiku dan perasaanku ini hanyalah milikmu."
Julia pun mengembangkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya dengan semangat.
Tiba-tiba Alaska mendekati dirinya dan berbisik. "Aku ingin sekali mencium mu, tapi sayang sekali di sini adalah tempat yang sangat ramai."
Seketika itu kata Julia membulat dan langsung memukul tangan laki-laki tersebut yang sangat tidak masuk akal ketika berbicara.
"Apakah kau sudah gila? Yang benar saja kau ingin melakukan itu kepadaku.. Aku tidak akan pernah memaafkanmu bagaimanapun caranya jika kau melakukannya di tempat umum."
"Kau ini, aku kan hanya bercanda tadi."
___________
Setiap hari hubungan mereka sangat berjalan dengan lancar. Sama sekali tidak ada kendala hingga membuat keduanya menghabiskan hari-harinya penuh dengan kebahagiaan.
Tiba di mana hari yang paling mereka hindari. Di mana Alaska dan Julia ketahuan oleh Julian tengah menjalin hubungan. Julian sangat terkejut ketika melihat Alaska bahkan nekat sampai ke Harvard untuk mengajar Julia.
Seperti saat ini Julia sedang menatap ke arah kakaknya dengan takut-takut. Akan tetapi Julian tak bisa berucap sama sekali karena sudah kehabisan kata-kata. Ia benar-benar sangat tidak habis pikir dengan kedua pasangan ini.
"Bisa dikatakan aku sangat salut dengan perjuanganmu itu. Tapi aku juga berpikir bahwa kau adalah orang yang sangat konyol."
Alaska menatap ke arah Julian dengan sangat serius dan meyakinkan laki-laki itu bahwa dirinya pasti bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Julian, kau tahu kan apa yang aku rasakan kepada adikmu. Aku bahkan berjuang untuknya, dan aku juga akan berjuang mengenai hidupku dan juga untuk membahagiakan Julia bagaimanapun caranya, baik itu secara materi dan juga rohani wanita itu. Aku harus membuatnya bahagia dan kau tahu jika aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan."
Julian pun merasa sangat terharu dengan sahabatnya. Setelah melewati banyak sekali bencana, dan ia selalu berpikir mengenai Alaska. Tapi jika dipikir-pikir Alaska memang sangat cocok untuk adiknya apalagi penuh dengan kerja keras.
"Aku sangat salut kepadamu. Kau pantas mendapatkan apa yang kau inginkan. Aku juga tidak bisa melarang apa yang ingin kau lakukan kepada adikku, yang hanya bisa kulakukan adalah merestui hubungan kalian."
Seketika itu wajah Julia dan juga Alaska berupa sangat bahagia. Mereka menatap satu sama lain Dan hampir saja ingin berteriak di tempat orang ramai ketika mendengar Julian yang mulai luluh dengan hubungannya.
"Apakah aku tidak salah dengar?"
"Hm, ya aku merestui hubungan kalian."
Julian pun tertawa tidak percaya. Ia benar-benar sangat bahagia dengan restu tersebut.
"Terima kasih."
"Hm."
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.