
Julia dan Julian kembali ke rumah. Mereka tidak menyangka jika orang tuanya sudah berada di depan pintu menyambut kedatangan Julia serta kembarannya Julian. Kedua sosok itu tak mengerti mengenai tatapan ibunya yang sangat penuh amarah.
Kemudian ia pun memberikan ponselnya kepada Julia sehingga wanita itu dengan bingung mengambil ponsel milik ibunya. Ia pun menatap beberapa foto dirinya dan juga bukti-bukti hubungannya dengan Alaska.
Julia bak tersambar petir saat melihat bukti-bukti tersebut. Sementara Christy sangat marah kepada dua anaknya yang merahasiakannya darinya. Ia tak habis pikir dengan kedua orang itu yang bersekongkol untuk mengkhianatinya.
"Apakah kau sudah puas sekarang? Kau lihat apa yang telah kau lakukan kepada orang tuamu ini? Kau sama sekali tidak peduli denganku. Apakah kau ingin aku marah-marah seperti ini terus-menerus? Semua orang di rumah ini tidak ada yang peduli bagaimana perasaanku. Kalian bertiga dengan teganya malah menyembunyikannya dari ku. Kalian ini mau menjadi apa? Dan apakah aku tidak penting?" tanya Christy sangat menggebu-gebu dan penuh dengan rasa benci yang sangat dalam.
Julia sama sekali tak bisa berkutik. Wanita itu menggigit bibirnya dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja walaupun sebenarnya hatinya sangat takut kepada ibunya.
Ia pun menundukkan kepalanya dan sudah sangat siap jika harus disemprot oleh orang tuanya. Tak lama Ia pun mendapatkan tamparan yang sangat keras dari ibunya.
"Mama!" teriak Julian dan Beni melihat tingkah laku istrinya tersebut yang sama sekali tidak bisa menghargai keputusan yang diberikan oleh Julia.
"Sudahlah. Kalian memang tidak peduli lagi dengan ku. Untuk apa aku ada di sini. Lagipula kalian tidak peduli jik aku pergi atau tidak dari rumah. Kalian tidak membutuhkan aku lagi." Kemudian Christy pun meninggalkan mereka semua.
Julia berusaha untuk mengejar ibunya akan tetapi tangannya ditahan oleh Julian dan kemudian memberikan isyarat dengan menggelengkan kepala.
Julia pun menarik napas panjang dan kemudian menundukkan kepalanya. Kenapa akan serumit ini. Ia pun jadi bingung dan juga merasa sangat bersalah dengan ibunya.
"Mama pasti sakit hati sekali."
"Tidak usah memikirkan dia. Pikirkan dirimu sendiri."
Julia memandang ke arah ayahnya yang baru saja angkat bicara tersebut. Lagi pula ia tidak bisa berbuat apapun karena semua ini telah terjadi dan hatinya juga mantap telah memilih Alaska. Jadi tidak ada alasan lain kenapa dirinya untuk peduli dengan ibunya. Biarkan ibunya sendiri merasakan bagaimana sakitnya ketika orang tidak ada sama sekali yang peduli dengannya. Itulah yang dirasakan Julia, dan di mana posisinya Ia hanya sendiri pada waktu itu.
_________
1 Bulan Kemudian.
Alaska akhirnya sudah menyelesaikan tugasnya di Indonesia dan ibunya juga sudah ditangani dengan baik. Karena kondisi di Indonesia yang sudah semakin membaik membuat dirinya untuk kembali lagi ke Amerika. Tadi ia telah menelpon Julia bahwa dirinya akan segera pulang dan wanita itu juga sudah tidak sabar menunggu di bandara. Padahal perjalanan masih lama tapi wanita itu sangat excited sekali.
Alaska kemudian memandang ke samping di mana hari sudah sangat malam. Akan tetapi tiba-tiba ada kabut dan juga hujan lebat sehingga membuat pesawat susah untuk dikendalikan.
Selain itu berdampak buruk juga bagi penerbangan. Pesawat tiba-tiba oleng dan orang-orang yang ada di dalam pesawat itu sangat panik. Kericuhan kericuhan pun terjadi sehingga membuat alasnya sendiri tidak mengerti dan ia juga ketakutan.
Akan tetapi keadaan semakin darurat dan tiba-tiba saja pesawat hilang kendali dan kemudian terjatuh. Alaksa tak bisa berbuat apapun dan tiba-tiba air matanya jatuh. Laki-laki tersebut berusaha untuk mengingat kenangannya kembali bersama Julia. Apalagi ini di detik-detik terakhir hidupnya.
Laki-laki itu menguatkan perasaannya yang semakin emosional. Entah kenapa hatinya sangat sakit sekali ketika membayangkan wajah Julia yang sangat kecewa ketika ia tidak bisa menepati janjinya kepada wanita itu.
Kilasan balik atau cuplikan masa lalu yang begitu menyedihkan dan hanya tinggal kenangan. Alaska berharap Julia bisa melupakan cuplikan tersebut agar dirinya tidak terbebani oleh masa lalunya. Akan tetapi ia tak bisa menghubungi wanita itu dan mengucapkan kata terakhirnya untuk Julia.
Tapi yang pasti sampai saat ini ia masih merindukan wanita itu dan berharap bahwa ia akan hidup bahagia dengan orang yang akan dicintainya.
"Semoga kau mendapatkan orang yang bisa membuatmu bahagia. Aku berharap kau bisa melupakanku."
Harapan yang hanya bisa membuatnya terus tersenyum. Walaupun sangat disayangkan ia tidak bisa mendampingi perempuan tersebut. Tapi perasaan yang sampai detik terakhirnya masih tetap sama kepada Julia. Ia adalah orang yang sangat setia dan seharusnya Julia bisa mengerti keadaannya saat ini.
__________
Bak disambar ribuan listrik, Julia tak bisa berbuat apapun dan tubuhnya menegang. Ia menatap ke arah Julian yang dari tadi terus menemaninya di bandara. Air matanya jatuh dan tak bisa berkata apapun saat mendengar kabar bahwa pesawat yang ditumpangi oleh Alaska terjatuh.
"Apa aku tidak salah dengar Julian? Apakah benar yang aku dengar itu? Katakan Julian bahwa itu hanyalah bohong. Alaska baik-baik saja kan? Tidak terjadi apapun dengan Alaska kan?"
Julian pun menggelengkan kepalanya karena ia sendiri belum mengetahui kondisi pastinya. Julia langsung histeris dan berteriak seperti orang gila di bandara tersebut.
Julian berusaha untuk menenangkan adiknya. Tapi usaha yang ia lakukan itu berakhir sia-sia karena Julia semakin mengamuk. Julian pun panik dan kemudian memeluk tubuh Julia untuk menenangkan wanita itu.
Tapi tetap saja Julia tidak bisa terima akan ending hubungannya dengan Alaska. Pria tersebut menggelengkan kepalanya dan sangat yakin bahwa Alaska pasti akan selamat.
"Hiks, Alaska. Kenapa dia tidak menepati janji? Seharusnya dia Sudja sampai tapi pria itu berbohong kepada ku. Aku sakit hati. Hiks."
Tiba-tiba Julia pun menutup mata. Julian yang melihat hal tersebut langsung kaget dan kemudian panik bukan main. Pria itu pun langsung mencari rumah sakit terdekat untuk mengecek kondisi adiknya.
Saat ini Julian sedang menunggu hasil dari kesehatan Julia yang telah dicek oleh dokter. Tak lama dokter pun keluar dan Julian langsung menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana kondisi adik saya? Apakah dia baik-baik saja? Tidak terjadi apapun kan kepada adik saya."
"Tidak terjadi maslah yang besar. Hanya saja adik Anda tidak boleh kelelahan dan harus lebih banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi dan vitamin. Selain itu adik Anda harus makan dengan teratur. Saat ini kandungannya sangat lemah sehingga ia juga harus banyak berisitirahat."
Julian pun terkejut dan langsung menjadi orang linglung saat mendengar bahwa adiknya tengah mengandung.
"Maksud dokter adik saya hamil."
Dokter tersebut pun mengangguk dan Julian langsung syok dan terduduk di kursi ruang tunggu tersebut.
"Tidak mungkin."
__________
Sudah 2 minggu Julia sama sekali tidak ingin bicara dan wanita itu seperti telah kehilangan hidupnya saat mendengar kabar bahwa Alaska dinyatakan hilang dan tubuhnya tak bisa ditemukan.
Julia tak lagi memiliki gairah hidupnya saat mengetahui bahwa ia tak akan lagi bersama dengan Alaska seperti dulu. Apalagi ketika ia mendapatkan kabar bahwa dirinya hamil anak laki-laki tersebut. Julia benar-benar tak menyangka bahwa kisah hidupnya akan serumit ini. Iya kira ada jalan yang lebih mudah untuknya.
"Alaska, kau berbohong kepadaku. Bahkan kau telah menghianati janji yang kita buat sendiri. Kau benar-benar pengecut dan tidak pernah memikirkan perasaanku. Sekarang di perutku sudah ada anak mu, apakah kau sama sekali tidak menginginkannya?"
Julia pun menangis dan berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri. Ia memeluk tubuhnya dengan perasaan penuh dengan trauma.
Tiba-tiba Julian masuk ke dalam kamar adiknya dan kemudian memeluk tubuh adiknya dengan sangat erat.
"Hey tenanglah. Keadaan pasti akan berpihak kepada mu."
Julia memandang ke arah kakaknya tersebut dan kemudian menggelengkan kepalanya. Ia sudah sangat hapal bahwa akan selalu berada dalam kesulitan.
"Apakah kau tahu jika aku benar-benar ingin mengakhiri hidup ku. Aku sudah tidak kuat lagi dengan ini dan rasanya aku anjay membenci apa yang terjadi kepadaku."
Alaska yang mendengar hal tersebut tentu saja tidak setuju dan menggelengkan kepalanya. Seharusnya Julia bisa menghargai hidupnya.
"Kau tidak boleh melakukan itu. Alaska bahkan sampai mendonorkan ginjalnya untuk mu demi kau bisa hidup. Tapi kau malah ingin bunuh diri."
Julia terkejut dengan pengakuan kakaknya. Ia pun menatap Julian dengan sangat serius.
"Apa yang kau bilang barusan? Katakan lagi."
Julian merutuki dirinya yang salah bicara. Tapi lebih baik ia jujur sekarang.
"Sudahlah aku keceplosan. Alaska mendonorkan ginjalnya karena kau sangat kritis pada saat itu dan juga harus mendapatkan pendonor ginjal karena ginjal mu rusak. Alaska pun menebus rasa bersalahnya dengan mendonorkan ginjalnya. Selain itu ia juga dipenjarakan oleh ibu selama tiga tahun. Saat bertemu dengan mu dia baru saja keluar dari penjara."
Julia terkejut dengan fakta yang baru saja ia ketahui. Ia langsung menangis histeris dan juga menyesal.
"ALASKA, HIKS! MAAFKAN AKU!"
_______
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA