Alaska

Alaska
Part 1



Matanya berkaca-kaca menatap wanita yang setelah sekian lama hilang dari pandangannya. Air matanya hendak jatuh tapi segara ditahan oleh pemiliknya karena ia merasa dirinya adalah seorang pria dan tak pantas untuk menangis. Walaupun laki-laki adalah manusia tapi tetap ia berusaha berpura-pura kuat di depan wanita ini.


Setelah tiga tahun lamanya tidak bertemu membuat rasa rindu yang semakin dalam ini terbalaskan hanya dengan menatap wajahnya yang lugu sama seperti tiga tahun yang lalu sebelum wanita itu pergi dan dia juga pergi untuk meninggalkan wanita itu.


Selama tiga tahun ia tak memandang dunia dan ketika bisa menghirup udara bebas lagi rupanya ia menyadari hanya dengan waktu tiga tahun saja perubahan yang nyata sangat terlihat jelas. Ini semua adalah karena berkat manusia yang berusaha memperbaiki segalanya dan membuat dunia menjadi lebih maju.


Dari tadi dirinya tak bisa mengalihkan pandangan dari wanita itu. Ia merasa pangling dan seolah-olah jatuh cinta untuk kedua kalinya. Perasaan ini sama seperti ia pertama kali merasakan jatuh cinta kepada wanita tersebut.


Entah keberanian dari mana Alaska berjalan maju dengan melangkah pelan walau hatinya sungguh tak percaya jika ia masih berani menemui wanita itu.


Ia berhenti ketika telah sampai di belakang wanita itu. Tangannya bergetar ketika melihat wanita tersebut dengan jarak yang sangat dekat. Tiba-tiba ia menjadi pria yang bisu bahkan untuk menyapa saja ia tak bisa membuka mulutnya.


Alaska hanya termenung sebelum akhirnya wanita tersebut membalikkan tubuhnya dan terkejut melihat Alaska yang ada di belakangnya. Perempuan tersebut mengerutkan keningnya, tapi ia berusaha biasa saja dan berpikir mungkin orang itu ingin mengambil alih tempatnya.


"Silakan Kak," ucap Julia dengan senyum manis yang tak lepas dari wajahnya.


Tapi persangkaannya salah, Julia merasa sangat gugup saat melihat laki-laki tersebut terus memandang ke arahnya. Ia tak mengerti kenapa pria tersebut terus memandangi dirinya dengan tatapan seperti itu? Apakah ada yang salah dengannya?


Dengan segenap rasa, Julia memperhatikan penampilannya dan ia seketika menjadi bisu saat tak melihat keanehan apapun padanya. Tapi, kenapa pria itu terus memandanginya.


"Maaf Kak, apakah ada yang salah pada diri saya?"


"Julia," lirihnya dengan tak percaya melihat wanita di depannya itu tengah berbicara kepadanya. Seolah kejadian di hari ini adalah kejadian yang paling bermakna dalam hidupnya.


Sedangkan Julia menahan rasa bingung kenapa laki-laki tersebut tahu namanya. Ia sendiri bahkan tak mengetahui siapa pria itu. Apa kebetulan saja pria itu mengenalnya.


"Kau mengenal ku?" tanya Julia antusias.


Alaska tak sanggup menahan sakit di dadanya. Setelah sekian lama apakah wanita itu melupakannya begitu saja? Kenapa dia tak mengenal Alaska lagi. Apakah semudah itu wanita tersebut melupakan segalanya? Tapi apa boleh buat Alaska tak memiliki hak yang besar untuk mengatur hidup wanita itu.


"Apakah kau sama sekali tidak mengenal ku?" tanya Alaska dengan bibir bergetar.


Laki-laki itu mengepalkan tangannya dan berharap jika jawaban yang keluar dari mulut wanita itu dapat menenangkan hatinya. Tampaknya kepalan itu sangatlah kencang hingga kuku tangannya sampai melukai telapak tangannya.


Julia menggelengkan kepalanya dan hal itu sudah cukup memukul mundur Alaska. Ia sudah lama tak berjumpa dengan wanita ini jadi apa yang terjadi padanya Alaska tidak mengetahuinya.


"Maaf sepertinya saya salah orang."


Setelah mengatakan kalimat tersebut, Alaska langsung pergi begitu saja dan meninggalkan Julia yang kebingungan setengah mati. Ia memandang ke arah Alaska dengan bibir terbuka.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia sangat aneh sekali. Padahal dia mengenalku, kenapa anehnya seolah-olah aku melakukan suatu kesalahan kepadanya," ucap Julia menggelengkan kepalanya.


Julia menarik napas panjang dan memasukkan kedua tangannya dalam saku baju. Tiba-tiba ada orang yang datang menarik tangannya dan membuat Julia terkejut.


Wanita itu menatap ke arah pria tersebut yang merupakan Julian. Seketika itu juga Julia merasa kesal dan menghempaskan tangannya.


"Sini dompet ku, kau membawanya. Aku mau membeli boneka itu," ucap Julia menuntut agar kembarannya tersebut menyerahkan dompetnya.


Sedangkan Julian masih terdiam dan seperti wajahnya saat ini sangat gugup. Seakan-akan ada yang tengah disembunyikan oleh laki-laki tersebut.


Julian menatap ke arah keramaian orang yang ada di pasar tersebut. Dan benar saja ia menemukan laki-laki itu. Tatapannya sangat dingin tapi tersembunyi sebuah senyum manis di wajahnya. Pakaiannya lebih rapi dari pada pakaiannya yang dulu.


Laki-laki tersebut tengah memandang ke arahnya dan seolah tengah memantau Julia. Seketika itu juga napas Julian memburu dan pria itu naik pitam. Dari tatapan tak bersahabat yang ia lemparkan kepada Alaska seketika membuat pria itu paham dengan isi hati Julian.


Julian dengan cepat menarik tangan Julia dan membuat kembarannya tersebut merasa sangat marah karena Julian bertindak kepadanya dengan sesuka hati.


"Julian apa yang kau lakukan! Kenapa kau menarik ku, aku ingin membeli boneka itu. Lihat Bapaknya sangat sedih aku tak jadi membelinya!" Julian tak perduli dan terus menarik Julian menjauhi keramaian tersebut.


Sepertinya ia tak rela Alaska bertemu dengan adiknya lagi. Jika bisa ia akan menjauhkan Julia dari Alaska ke tempat yang tak bisa dijangkau oleh pria itu.


"Jangan membantah, ingat jika bertemu dengan pria yang memiliki goresan di wajahnya tadi, kau harus segera pergi darinya. Dia sangat berbahaya."


Julia terkejut dengan ungkapan Julian itu. Seketika ia memandang ke arah keramaian di mana pria tadi menghilang dari pandangannya. Ia tak menyangka jika pria itu orang jahat, tapi kenapa wajahnya terlihat sangat lugu dan menyimpan sesuatu yang sangat menyakitkan pada dirinya. Lagi-lagi Julia ragu dengan kakaknya.


"Aku tidak percaya. Kau sok kenal, bahkan kau pasti tak tahu namanya."


"Siapapun namanya dia tidak penting."


Julia mengercutkan bibirnya dan terpaksa harus pasrah ketika diseret oleh Julian. Dalam hatinya tak henti-hentinya mengumpati Julian yang bersikap berbeda pada saat ini. Entah apa kesalahan pria tadi sampai membuat kakaknya kesal seperti ini.


Sementara Alaska yang tengah bersembunyi berusaha untuk sedikit tabah. Raga itu nyata ada di depannya, tapi entah kenapa ia merasa wanita itu tak sedang berada di depannya. Ia merasa tak bisa berbincang dan menyentuhnya.


"Lebih baik kau memang tak mengenal ku lagi dari pada kau ingat dan membenci ku selamanya."


Dengan hati yang lapang ia tersenyum lebar walau sebenarnya ia penuh dengan luka.


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.