
16 Tahun kemudian
Wanita itu menatap gusar ke arah dirinya sendiri yang berada di dalam kaca. Ia sudah berumur dan anaknya juga sudah remaja. Tepatnya itu adalah anaknya dengan Alaska.
Sampai sekarang ia belum memiliki suami sama sekali karena kecintaannya kepada laki-laki tersebut. Bahkan sampai ia rela selamanya tidak menikah.
Sebentar lagi adalah ulang tahunya yang ke empat puluh. Axel anak sulungnya itu mengajaknya untuk pergi berlibur ke Paris.
"Mama, kenapa kau tidak ingin pergi ke Paris? Paris sangat indah."
Julia pun menarik napas panjang dan menganggukkan kepala. Benar apa yang dikatakan oleh anaknya tersebut bahwa Paris sangat indah. Ia sendiri juga sangat mengaguminya. Hanya saja Julia tidak ingin kemana pun dan hanya ingin di Amerika saja.
"Aku tidak akan pergi ke Paris. Biarlah aku di sini saja. Jika kau ingin pergi ke Paris maka aku akan meminta Julian untuk membawamu ke sana."
Ya kebetulan sekali Julian tinggal di Paris bersama keluarganya. Pria itu sudah menemukan pasangan yang selalu ada untuknya walaupun sebenarnya hubungan Julian juga tidak mudah.
"Aku ingin membawa mu ke Paris."
"Aku sudah tua."
"Apakah Bunda masih memikirkan Ayah?"
Axel tahu bagaimana sengsaranya ibunya setelah ditinggal oleh ayahnya. Walaupun sebenarnya dia juga sangat merindukan laki-laki tersebut. Axel hanya mengenal sosok ayahnya melalui foto dan sama sekali tidak pernah melihatnya secara langsung. Padahal Axel ingin sekali melihat ayahnya.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Aku tidak lagi memikirkannya."
"Bunda, jika aku menikah aku ingin wanita yang seperti Bunda dan selalu setia sama seperti Bunda. Ayah sangat beruntung mendapatkan Bunda."
Julia tersenyum kecut. Ya benar Alaska sangat beruntung mendapatkan dirinya. Tapi pria itu sampai sekarang tidak sadar dan terus pergi tanpa kembali dalam hidupnya.
"Ya. Carilah orang seperti ku. Kau jangan seperti ayah mu tapi. Aku tidak ingin kau sama seperti ayah mu."
Axel menghela napas dan menganggukkan kepalanya walaupun sebenarnya takdir juga tidak ada yang tahu.
"Axel selalu ada untuk Bunda menggantikan ayah."
_________
Julia datang ke rumah Julian atas pujukan dari Axel. Terpaksa wanita itu menerimanya karena merasa tidak tega dengan anaknya yang terus memohon seperti itu.
"Julia," ucap Julian yang terkejut melihat wanita itu datang bersama Axel. Pasalnya setelah tragedi jatuhnya Alaska dari pesawat membuat wanita itu sangat trauma dengan pesawat.
"Julian."
Julia pun saling melepas rindu dengan kakaknya itu. Kemudian ia melepaskan pelukannya dan menatap ke arah istri Julian. Ia pun menghampiri Nanda yang kebetulan juga orang Indonesia.
"Nanda," ucap Julia dan kemudian saling berpelukan.
"Sudah lama aku tak melihat mu di sini."
"Sama."
Julia memang sangat akrab dengan Nanda. Ia juga merasa jika Nanda adalah orang yang sangat baik sehingga tidak masalah jika Julian didampingi oleh wanita itu seumur hidupnya.
"Di mana anak kalian?"
"Sepertinya sedang bermain dengan Axel."
Calista itulah anak Julian yang menjadi sepupu Axel. Axel sangat suka menjahili Calista yang beda lima tahun dengannya itu.
"Mereka memang sangat akrab. Menjodohkan dia juga tidak masalah, kan?"
Julia menatap ke arah Nanda dengan membulat. Yang benar saja Axel akan menikah dengan Calista dan ia denban kembarannya akan menjadi ipar.
"Tidak dulu. Jika dengan yang lain bisa kenapa harus dengan sepupu sendiri. Lagipula sangat berbahaya."
Julian menganggukkan kepalanya. Benar apa yang dikatakan oleh Julia tersebut dan ia juga mengkhawatirkan gen cucu mereka nanti yang akan cacat.
"Biarkan anak-anak yang menentukan pilihan mereka sendiri."
Nanda pun menganggukkan kepalanya. Ia menarik tangan Julia untuk ke dapur.
"Ini sepertinya pertama kali kau pergi menggunakan pesawat setelah 16 tahun lamanya. Aku ingin mengajakmu membuat sesuatu. Kita sudah lama tidak seperti ini."
Julia pun sangat bersemangat untuk mengiringi Nanda. Kebetulan ia juga jadi hobi memasak.
____________
Julia menatap menara Eiffel yang sangat indah di malam hari. Wanita itu kemudian mengulas senyumnya dan membayangkan saat ini jika dirinya tengah melihat menara Eiffel tersebut bersama dengan Alaska.
Mereka menua bersama dan terus bergandengan tangan hingga akhir hayat mereka. Tapi siapa sangka jika itu hanyalah sebuah mimpi semu milik Julia. Mimpi yang tidak akan pernah terwujud.
Sementara itu tidak jauh ada seorang bapak-bapak yang sedang menatap menara Eiffel dengan sangat serius. Ia menggunakan pakaian jas dan barang yang serba mewah. Semua orang tahu jika dia adalah salah satu CEO yang terkenal dan juga tampan di salah satu perusahaan di bidang industri, pertambangan, dan lukisan.
Setelah kecelakaan yang ia alami daya ingatnya sangat lemah hingga terkadang ia bisa mengingat masa lalu tapi terkadang ia juga tak mengingat apapun. Anehnya hal itu hanya terjadi kepada ingatannya bersama dengan orang dicintainya di masa lalu. Ia bahkan tidak mengetahui nama wanita itu hanya mengetahui wajahnya dan juga ia masih menyimpan foto kekasihnya.
Pria tersebut berjalan dengan pandangan kosong hingga tak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf."
Ia hendak mengambil foto kekasihnya yang terjatuh akan tetapi wanita yang ditabraknya itu lebih dulu memungutnya.
Julia mengerutkan keningnya saat merasa tidak asing dengan foto ini. Tangannya pun bergetar dan segala spekulasi bermunculan di benaknya. Untuk apa orang ini menyimpan fotonya.
"Foto ini..."
"Apakah kau mengenalinya?" tanyanya dengan semangat.
"Tentu saja. Itu adalah foto ku ketika aku kuliah."
"Kau?" Pria itu seakan tak percaya.
"Sudahlah. Semua orang berbohong."
"Tapi itu betul-betul aku."
Julia pun menunjukkan fotonya yang lain hingga ia pun tak sengaja menunjukkan fotonya yang bersama dengan Alaska.
Tampak pria itu sangat terkejut saat melihat pria yang bersama dengan Julia.
"Kau mengenal pria itu juga?"
Wajah Julia langsung berubah menjadi sedih dan kemudian menundukkan kepalanya.
"Dia adalah ayah dari anak ku. Sekarang dia sudah tiada."
Laki-laki tersebut yang tak lain adalah Alaska sangat terkejut mendengar perkataan Julia.
"Apakah namanya Alaska?"
Julia pun semakin bingung ketika pria itu mengetahui bahwa nama kekasihnya adalah Alaska. Di mana ia mengetahui bahwa itu adalah Alaska.
"Apakah kita saling mengenal? Kenapa kau sangat familiar sekali dengan diri ku dah juga Alaska."
Julia pun berusaha untuk mengorek faktanya yang membuatnya sangat penasaran. Apakah pria tersebut ada hubungannya dengan Alaska.
"Karena aku adalah Alaska."
Kemudian Alaska pun langsung memeluk tubuh Julia dengan sangat erat. Iya tak menyangka bahwa akan bertemu wanita tersebut sekarang.
Sementara itu Julia sungguh masih tidak percaya. Maka dari itu ia pun diam-diam menatap ke arah telinga dan juga leher alas kayak mana terdapat tanda lahir milik pria itu di sana sehingga membuatnya yakin bahwa laki-laki yang tengah memeluknya ini adalah Alaska.
Julia menangis histeris Mereka pun melepas rindu setelah sekian lama berpisah. Sekarang mereka juga hendak memasuki masa tua mereka dan akhirnya bisa bersama lagi di saat harapan itu sangat tidak mungkin.
"Julia. Apa kata mu tadi? Kau sekarang sudah punya anak?"
"Ya aku sudah memiliki anak. Perbuatan kita dulu menghasilkan Axel."
Alaska pun kian memeluk tubuh Julia dengan sangat erat. Rasa rindu yang tidak akan pernah pudar selalu menyertai keduanya.
Setelah pertemuan yang tidak disengaja membuat dua sejoli itu kembali bersatu, Mereka pun menikah secara resmi dan kemudian membangun kehidupan baru di Amerika. Lihat sendiri sudah menyangka bahwa Alaska mampu mengejar cita-citanya dan menjadi salah satu orang terkaya di dunia.
Ia sangat bangga dengan suaminya tersebut. Sekarang Julia benar-benar merasa bahagia setelah melewati ribuan rasa sakit yang terus-menerus menusuknya dari belakang.
"Terima kasih sudah ada untuk ku."
Alaska berucap dan lalu kemudian mengecup kening Julia dengan sangat dalam dan penuh dengan perasaan.
"Aku mencintaimu." Julia dengan sangat tulus mengatakan kalimat itu. Ia benar-benar sangat mencintai Alaska dan bahkan walaupun wajah Alaska sangat berbeda dengan dirinya yang dulu. Tapi pria itu benar-benar orang yang pertama membuat hatinya sangat berbunga-bunga.
"Jika dipikir-pikir tidak akan mungkin kita sampai ke tahap ini. Aku masih tidak menyangka jika kau masih hidup dan berada di samping ku," ucap Julia yang sangat bersyukur dengan Tuhan karena kesabarannya selama ini berbuah dengan baik. Hati siapa yang tidak akan senang karena perjuangannya berujung baik.
"Aku juga masih tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang selalu hadir di dalam mimpi ku. Dulu aku masih bertanya-tanya siapakah orang yang ada di dalam mimpi ku, tapi rupanya itu adalah kau."
Julia pun memeluk tubuh Alaska dengan sangat erat.
"Anak kita sudah besar. Tapi sangat disayangkan sekali Mama masih tidak merestui hubungan kita."
"Tidak masalah suatu hari dia pasti akan menerimanya."
_________
End
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.