Alaska

Alaska
Part 41



Beni sangat terkejut saat melihat tubuh anaknya yang tergeletak. Ia pun berteriak meminta pertolongan yang lain di rumah itu agar segera membawa Julia secepatnya ke rumah sakit.


Saat ini tubuh Julia sangat panas. Mungkin akibat demam tinggi hingga menyebabkan ia pingsan. Julian yang berada di dalam kamarnya mendengar teriakan di bawahan bahwa Julia sedang pingsan, lantas ia sangat panik dan segera terburu-buru turun ke bawah.


"Papa? Bagaimana keadaan Julia? Apakah dia baik-baik saja?"


"Kita harus membawa Julia secepatnya ke rumah sakit karena suhu tubuhnya semakin panas. Sekarang dia juga masih tidak sadarkan diri."


Julian pun menganggukkan kepalanya dan lalu kemudian mengambil alih Julia dari tangan ayahnya ke dalam gendongannya. Sementara itu Christy menangis namun ia sama sekali tidak ingin melihat keadaan anaknya. Mungkin wanita itu masih gengsi untuk menatap anaknya pasca pertengkaran tadi.


"Bagaimana caranya aku bisa membiarkan dia kuliah di Indonesia dengan kondisinya yang sakit-sakitan seperti ini? Julia itu mudah sakit, imunnya juga tidak terlalu kuat. Hanya wanita itu yang terlalu memaksakan diri. Apa yang menyebabkan dia ingin tiba-tiba kuliah di Indonesia?" Christy memegang kepalanya sembari mengurut keningnya.


Ia memandang ke arah suaminya saat ini yang tengah memperhatikannya mengomel-ngomel sendirian. Tampaknya suaminya pun muak kepadanya yang selalu memikirkan masa depan anaknya tanpa memikirkan bagaimana keadaan Julia sekarang.


"Kau masih memikirkan itu? Cepatlah ke rumah sakit menyusul Julian. Apakah kau ingin terjadi sesuatu kepada anakmu?"


Christy pun menggelengkan kepalanya dan memandang ke arah suaminya dengan tatapan tajam. Kenapa tiba-tiba suaminya ini menjadi orang yang sangat cerewet.


"Kenapa memangnya? Dia paling akting cuman. Apa kau tidak tahu kalau dia tadi baru saja bertengkar denganku. Tidak mungkin secepat itu dia bisa pingsan."


Beni sudah sangat muak dengan istrinya. Tangannya terkepal padahal anaknya tengah sekarat tapi sama sekali Christy masih memikirkan tentang kuliah.


"Christy!!" bentak suaminya seraya memandang tajam ke arah wanita itu sebagai bentuk peringatan.


Christy pun menghela napas panjang dan lalu kemudian ia berjalan lebih dahulu dari suaminya. Tampaknya ia ingin mengatakan kepada suaminya bahwa dirinya saat ini tengah marah besar. Tapi sayangnya suaminya itu tidak peduli karena yang paling marah di antara mereka berdua adalah Beni.


"Perempuan itu, padahal anak sudah sekarat seperti itu masih saja memikirkan yang lain. Sok-sokan enggan untuk menemui anak," kesal Beni kepada istrinya tersebut.


Lantas ia pun menyusul istrinya yang sudah masuk ke dalam mobil lebih dulu. Lalu ia langsung mengendarakan mobil tersebut menuju ke rumah sakit terdekat.


Julian sudah membawa Julia lebih dulu. Mungkin juga ia tahu karena jika orang tuanya yang membawa pasti keadaan Julia semakin memburuk. Ia sudah hapal sekali bagaimana sifat ibunya tersebut.


Sesampainya di rumah sakit Julian pun langsung memanggil dokter dengan panik. Para dokter tersebut pun segera datang untuk menangani Julia.


Alaska tak sengaja ada di tempat itu karena membantu ibunya mengecek kesehatannya. Ia sangat terkejut saat mengetahui bahwa Julia masuk rumah sakit.


"Mama sebentar aku ada urusan." Alaska langsung berlari ke tempat di mana Julia dibawa.


Sementara itu Lela terkejut mendengar anaknya yang tiba-tiba ingin pergi apalagi terlihat sangat terburu-buru.


"Kenapa dengan anak itu? Terlihat sangat terburu-buru sekali. Apa yang sedang membuatnya khawatir sampai seperti itu? Semoga dia baik-baik saja." Melihat kecemasan anaknya membuatnya juga turut mengkhawatirkan keselamatan anaknya.


Sementara itu Alaska bisa melihat kehadiran Julian yang ada di depan pintu ruangan di mana Julia dirawat. Ia menatap ke arah pria itu dengan ragu-ragu.


Apakah ia akan keluar dari persembunyiannya dan menemui Julian atau tetap di sini menjadi orang yang sangat pengecut? Tampaknya ia tidak bisa terus berdiam diri saja dan harus menghampiri laki-laki itu.


Namun baru saja selangkah ia melangkah tiba-tiba Christy dan juga Beni datang. Alaska langsung mengurungkan niatnya untuk menghampiri Julian. Ia belum berani untuk menemui kedua orang tua Julia.


Ia hanya memperhatikannya dari kejauhan hingga dokter pun datang dan menyatakan jika Julia hanya tensinya turun karena ia jarang tidur dan juga makan yang tidak teratur sehingga menyebabkan ia demam.


Julian merasa sangat bersalah, benar kehadirannya di dalam hidup wanita itu hanya membawa bencana bagi Julia. Sepertinya Julia Jadi kurang tidur karena dirinya dan juga tidak makan teratur karena dirinya.


Alas kapan meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang sangat berat sembari memendam perasaan bersalah yang sangat mendalam.


"Maafkan aku curia karena selalu membuatmu dalam bahaya."


Tak terasa air matanya pun jatuh saat memikirkan Julia. Tidak ada hal yang paing membuatnya sakit hati jika tidak tentang Julia.


"Kenapa kau Alaska? Apakah telah terjadi sesuatu kepada mu? Kau menangis Nak?" Alaska pun menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatirkan aku. Apakah kau sudah memeriksakan diri mu?" tanyanya dengan sang ibu sembari mengambil obat ibunya.


"Kau tidak ingin menceritakannya?"


"Tidak," jawab Alaska dengan sangat singkat membuat ibunya tak lagi bertanya. Tampaknya mood anaknya sedang dalam keadaan tidak baik.


______________


Julia membuka matanya dan ia terkejut saat menyadari jika dirinya sedang dirawat di rumah sakit. Wanita itu bertanya-tanya kenapa dia bisa dirawat di rumah sakit.


Tapi setelah dipikirkan lebih jauh lagi rupanya ia sempat pingsan karena merasa kepalanya sangat sakit. Julia tidak tahu apa masalahnya pada saat itu dan sekarang pun ia masih bertanya-tanya apa yang menyebabkan kepalanya sangat sakit.


Bahkan sekarang pun ya susah untuk beradaptasi dengan cahaya. Akan tetapi dunia berusaha untuk tetap bangun dan menahan rasa sakit yang luar biasa tersebut di kepalanya.


"Di mana Julian ya?" Tanya Julia yang lebih mirip dengan sebuah keluhan.


Tak berselang lama Julian pun datang menghampiri wanita itu dan lalu kemudian duduk di dekatnya. Ia juga sangat bersyukur bahwa adiknya telah membuka matanya walaupun saat ini ia ingin sekali mengumpati adiknya yang tidak bisa menjaga diri.


"Kapan kau pingsan?"


Julian pun menyerahkan makanan kesukaan Julia pada wanita itu. Dia mengambilnya dengan wajah yang cemberut.


"Aku pingsan ketika kau baru saja pergi. Semua salahmu. Andai saja aku tidak menangis waktu itu mungkin aku tidak akan pingsan. Jadi Jangan menyalahkan aku lagi,"Julia yang sangat kesal kepada kakaknya tersebut.


"Oh baiklah jika seperti itu. Kau sendiri ya mengatakannya. kau sedang berusaha mencari pasal dengan kakakmu? Jika ada apa-apa jangan minta bantuanku lagi ya."


Pilih memandang ke arah Julian dengan tatapan serius. Demi apa kakaknya hanya marah gara-gara masalah ini? Julian benar-benar hebat ia sangat tidak menyangka dengan laki-laki tersebut.


"Kau terlalu berlebihan. Mass begitu saja langsung marah. Ck, sudahlah. Kau memang sukar untuk diajak bercanda. Mungkin kau Sudja tidak seperti dulu lagi." Ada tampak penyesalan di wajah Julia dan lalu ia hanya fokus dengan makanan yang sedang disantapnya dan lalu membuang wajahnya yang tengah menahan rasa sakit akibat Julian yang tidak mau Berbicara dengannya.


Julian memang tak mengatakan apapun dan hanya memperhatikan Julia makan tanpa ada niat ingin berbincang dengan wanita itu setelah pertengkaran mereka.


Sampai Julia habis menyantap hidangannya ia pun sampai sekarang tidak mau Berbicara dengan wanita itu. Sedangkan Julia yang tahu akan batasannya pun tidak berniat untuk mengajak Julian berbincang dengannya. Alhasil ruangan itu pun senyap dan tidak ada sama sekali yang mau membuka suara lebih dulu.


Julia melihat dengan sangat jelas orang-orang yang tengah membenci dirinya. Mungkin ini juga karena perbuatannya yang tidak ingin mendengarkan orang lain. Padahal semua larangan-larangan yang diberikan oleh Julian adalah demi kebaikan wanita itu sendiri.


"Julia kau sudah sadarkan diri?" tanya sama ayah dan lalu menghampiri Putri kesayangannya. Untuk Syahrini ayahnya belum masuk ke dalam list orang yang marah kepadanya.


Tapi ayahnya juga tidak bisa diremehkan karena ia juga tetap pasti mempertahankan dirinya untuk kuliah di Harvard.


"Hm?"


"Kau hanya makan ini saja? Kau tidak makan buah sama sekali."


Julia menggelengkan kepalanya dan memandang ke arah ayahnya yang hendak memarahi Julian. Julian yang tahu bahwa dirinya akan menjadi sasaran amarah ayahnya pun langsung pergi. Julia merasa tidak tega dengan kakaknya tersebut.


"Aku yang tidak ingin makan buah dan salahkan kakak."


_______


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.