
Alaska menatap Julia yang pergi ke Amerika di depan matanya tanpa bisa dicegah. Padahal hati kecilnya masih tidak ikhlas melepaskan wanita itu. Tapi apalah daya perasaannya begitu sulit untuk dikendalikan dan bahkan sangat menyakitkan bagi dirinya.
Demi kebaikan semua ia rela berbohong kepada keluarga Julia dan juga Julia itu sendiri. Nyatanya perasaannya tidak akan pernah bisa berhenti dari wanita itu. Yang ia inginkan hanyalah Julia seorang. Tapi karena harus berkorban maka akan mengikhlaskan hubungan mereka.
Ia melihat bagaimana orang tua Julia yang berusaha untuk menyadarkan wanita itu yang masih belum saja enggan berbicara. Bahkan ibunya sampai kesulitan untuk membujuk Julia.
Sudah seperti ini barulah Alaska bersalah kepada keluarga Julia. Namun tidak menutupi rasa kemungkinan juga hatinya sudah sangat lega ketika Julia akan kembali ke Amerika sesuai dengan keinginan keluarganya.
"Aku akan tetap seperti ini, terus menyendiri. Hanya karena diri mu seorang. Aku tidak akan pernah menikah dengan siapapun nanti hanya karena diri mu." Tampaknya ini adalah pembalasan yang sangat menyakitkan bagi dirinya. Maka dari itu Alaska tidak akan pernah menyesal mengucapkan kalimat sumpah itu.
Ia tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dengan Julia. Keputusannya sudah sangat final. Memang sudah seharusnya ia yang akan berjuang demi mendapatkan Julia kembali.
Walaupun sekarang Julia telah pergi bersama keluarganya ke Amerika, ia sangat yakin pasti bisa menyusul wanita itu. Makanya dia ikhlas berpisah dengan Julia.
"Aku akan selalu menjadi orang yang sangat peduli dengan mu bagaimanapun caranya."
Alaska menarik napas panjang dan kemudian menghembuskannya perlahan. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika pesawat yang ditumpangi oleh Julia akhirnya lepas landas.
Kemudian hanya tersisa kenangan mereka yang terukir di Indonesia ini. Alaska pun lantas melangkahkan kakinya meninggalkan bandara. Walaupun ia seorang lelaki tapi ia juga terkadang hendak menangis sekencang-kencangnya saat membayangkan betapa sulitnya kehidupan yang harus dilewati.
Alaska pun menghela napas panjang dan berjalan dengan gontai sembari menundukkan kepalanya. Tiba-tiba ia tak sengaja menabrak seorang wanita hingga membuat orang tersebut melenguh.
"Auhhh!"
"Maaf," ujar Alaska dan menatap ke arah orang tersebut yang rupanya mengenal dirinya.
"Ey Alaska, kan?"
"What?"
"Kau benar Alaska. Ah iya aku teman sekelas mu dulu. Bagaimana dengan Julia? Dia baik-baik saja, kan?"
"Aku tidak mengetahuinya," ujarnya cuek dan lalu berusaha untuk meninggalkan orang tersebut.
"Kau ternyata masih sama yah Alaska. Semoga hidup mu lebih baik dari ini."
Alaska tidak perduli dengan apa yang dikatakan oleh wanita tersebut. Perasaannya belum ingin diajak bercanda.
Alaska pun segera buru-buru keluar dari bandara tersebut karena tidak ingin diikuti oleh orang yang mengaku-ngaku teman kelasnya tersebut. Sebenarnya ia tidak tahu apakah orang itu benar-benar sekelas dengannya atau ia yang telah melupakannya.
Tampaknya dia yang telah melupakan teman-teman di kelas yang tersebut karena ia yang kurang pandai sosialisasi. Seolah kehidupan hanya miliknya seseorang.
__________
Julia menatap ke arah awan-awan yang di tepi dirinya. Mengingat tentang Indonesia, membuat hatinya kembali merasa sakit karena perjuangannya selama ini berakhir dengan sia-sia.
Tapi walaupun hubungannya dengan Alaska tidak baik-baik saja, ia tetap mempertahankan saham milik Alaska dan menyeludupkannya tanpa sepengetahuan ayahnya sehingga ayahnya mengelola perusahaan tersebut tanpa rasa curiga.
"Alaska, aku harap diri mu akan bahagia walaupun tanpa diri ku. Aku berusaha untuk membencimu tapi nyatanya aku tidak pernah bisa membenci dirimu."
Julia benar-benar kesal kepada dirinya sendiri yang selalu saja merasa sakit hati saat berusaha untuk menghapus kenangannya bersama dengan Alaska. Entah kenapa daya tarik pria itu kepadanya benar-benar sangat kuat.
"Julia." Ibunya mulai mencoba-coba untuk menyapa dirinya.
Julia melirik ke arah wanita itu dan mengangkat satu alisnya. Ia pun kebingungan apa yang ingin dikatakan oleh ibunya. Dari tadi pagi wanita itu mencoba untuk berbincang kepadanya tapi belum dipedulikan oleh Julia sama sekali karena Ia masih merasa sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh ibunya yang tidak pernah memikirkan bagaimana perasaannya hingga ia sampai depresi seperti ini.
"Apa yang Mama ingin katakan?"
Bak menjadi sebuah keajaiban ketika Julia membalas ucapan ibunya. Bahkan Julian serta ayahnya sendiri tak menyangka dengan balasan yang diberikan oleh Julia tersebut. Mereka sangat senang ketika Julia membalas ucapan ibunya. Tampaknya Julia sudah mulai beradaptasi dengan sekitar.
"Ketika kau di Amerika nanti, kita langsung berobat ya."
"Hm."
Setelah itu pun Julia tidak lagi berbicara. Wanita itu memejamkan matanya sembari membayangkan akan masa lalu yang sangat indah. Dimana masa-masa sebelum dirinya mengenal sebuah masalah. Ketika pada saat itu mereka masih remaja. Sungguh sangat menyenangkan. Kapan masa-masa seperti itu akan terulang lagi dalam hidupnya. Atau tidak akan pernah sama sekali terulang lagi.
Andai dia tahu jika masa depan akan serumit ini maka Julia akan mengingatnya dan menikmati masa mudanya dengan sangat bahagia. Namun, yang namanya masa depan tidak akan ada yang tahu kedepannya nanti selain Tuhan.
Julia pun menghembuskan napas lelah dan kemudian menoleh ke arah jendela pesawat. Ia pun memancarkan senyum manisnya sembari membayangkan Jika dia bisa menikmati keindahan awan-awan di atas angkasa ini bersama denganĀ Alaska. Betapa menyenangkannya jika hal tersebut terjadi kepada dirinya.
Julian yang berada di samping wanita itu terus memperhatikan perempuan tersebut. Ia pun bingung dengan apa yang tengah dipikirkan oleh wanita itu, sebab dari tadi ia selalu saja termenung.
"Apa yang membuatmu sampai seperti ini?"
Julia menolehkan kepalanya kepada kakaknya yang baru saja bertanya kepadanya tersebut. Julia menahan napasnya dan lalu membuang wajahnya. Ia seakan enggan untuk bertatapan dengan pria itu.
Julian menarik napas sabar. Untuk menghadapi Julia memang membutuhkan ekstra kesabaran yang sangat luar biasa. Mengingat jika wanita itu sangat keras kepala dan apalagi sedang dalam keadaan mood yang sangat buruk.
Pasti berbicara dengan Julia hanyalah membawa masalah.
"Kenapa memangnya? Aku tidak boleh punya privasi sendiri sehingga kalian selalu saja bertanya hal-hal yang tidak seharusnya diketahui oleh kalian," ucap Julia to the point membuat Julian seketika itu teridam.
"Baiklah jika itu mau mu. Aku juga tidak bisa menghalanginya. Semoga kau akan baik-baik saja dengan pilihan mu. Tapi jika memiliki masalah datanglah pada ku. Aku siap mendengarkannya."
Entah kenapa Julia menjadi sangat terharu dengan saudaranya tersebut. Ia ingin mengatakan terimakasih kepada pria tersebut, tapi gengsi Julia lebih tinggi dari keinginannya.
________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA