
Hari ini Alaska menemani Julia yang mulai belajar untuk membangun bisnis lukisan miliknya, lebih tepatnya bisnis milik bersama karena juga ada saham Alaska di sana. Ia membantu wanita itu mencari klien, sembari menyelam sambil minum air itu artinya ia juga mencari klien untuk dirinya sendiri.
Saat ini ia dan Julia sedang berdiskusi dengan klien mereka. Tidak banyak membutuhkan pujuk rayu akhirnya klien itu dengan sekali lihat langsung menyukai lukisannya dan juga Julia. Bahkan dia membeli dua lukisan sekaligus.
Tentu saja Julia dan Alaska sangat senang karena mendapatkan pundi-pundi rupiah tersebut dari usaha mereka sendiri bukan dari orang tua.
"Usaha lukisan ini adalah hasil kerja keras kita. Dengan kita membuka usaha sendiri di sini nanti akan berguna sampai kita tua kita jadikan itu utama kita." Alaska sependapat dengan wanita tersebut hanya saja ia tak yakin bisa seperti yang dikatakan oleh Julia tadi. Sebab Ia merasa ada keraguan di hatinya karena dia tahu sendiri bagaimana Julian yang bersisi keras ingin membawanya pergi ke Amerika Serikat. Itu artinya mungkin mereka hanya bisa berbisnis dua minggu belakangan ini sebelum Julia benar-benar pergi.
"Aku ACC saja, tapi bagaimana dengan orang tua mu dan Julian apakah dia mengizinkanmu untuk kuliah di sini?" tanya Alaska kepada wanita itu namun Julia langsung murung karena ia belum memikirkan caranya agar dia bisa berkuliah di Indonesia.
"Sampai sekarang aku belum mengatakan kepada mereka. Semoga saja ada keajaiban dari Tuhan, dan kita akan terus bersama seperti ini."
"Semoga saja, karena aku selalu mendukung keputusanmu selama itu baik. Universitas kita juga tidak kalah keren keren kan dari yang di luar negeri?" Julia pun terkekeh mendengar ucapan Alaska tersebut.
Ya Alaska ada benarnya, memang universitas mereka juga tidak kalah keren dengan universitas yang lainnya. Julia tidak menampik hal itu. Tapi orangtuanya saja yang tidak ingin terbuka pikirannya.
"Sudahlah melawan mereka juga tidak ada gunanya juga. Serahkan itu semua kepadaku, lihat saja aku pasti akan kuliah di sini. Kau tunggu aku ya, aku pasti bisa melawan orang tua ku."
Alaska sendiri tidak habis pikir bagaimana Julia yang memiliki pikiran untuk melawan orang tuanya. Ia pun merasa menyesal dan juga bersalah di waktu yang bersamaan karena dirinya, Julia sampai membangkang orang tuanya yang telah mendidiknya dari kecil. Mungkin image Alaska di mata mereka semakin memburuk.
"Julia, kalaupun tidak bisa jangan dipaksakan. Kau harus kuat, Jangan membuatku terlihat buruk di depan keluargamu." Julia langsung terdiam mendengar kata-kata Alaska itu. Alaska ada benarnya juga, ia bisa membuat buruk nama baik Alaska di depan orang tuanya.
"Tapi...."
"Hsyutt!" Alaska pun meletakkan jari telunjuknya di bibir wanita itu. Julia pun bengong dan ia menatap Alaska dengan mata bulatnya dengan tatapannya yang polos.
Kemudian Alaska menaikkan sudut bibirnya. Ia menjauhkan tangannya dan kemudian mengecup bibir wanita itu sekilas.
"Alaska apa yang kau lakukan? Di sini banyak orang tahu!"
"Iya aku tahu Julia."
Mereka pun tersenyum gembira. Kemudian saling berpelukan. Julia dan Alaska telah menyewa gedung yang mana itu dari penghasilannya yang menjual karya-karya mereka sehingga bisa membuat kantor sendiri.
Julian belum mengetahui hal ini. Selain itu juga nama kantor mereka berunsur dar nama keduanya. Julia kerap memposting perusahaan tersebut untuk mempromosikannya kepada khalayak ramai.
"Ternyata capek juga yang mencari klien."
"Sudah aku katakan tidak segampang itu untuk membuka perusahaan. Hanya saja karena kau memiliki koneksi makanya sedikit mudah."
"Mudah apanya, aku sendiri sampai kewalahan."
"Kau tidak tahu bagaimana orang di luar sana yang berjuang dari nol yang lebih sulit dari ini jadi jangan banyak mengeluh. Syukuri apa yang telah kita dapatkan dari ini."
"Hm," ucap Julia dan kemudian memeluk tubuh pria itu dengan malas.
"Semakin mengerti yah."
"Kau ini," sesal Julia.
Alaska terkekeh dan menurutnya sudah menjadi hobi untuk membuat wanita itu kesal kepadanya. Alaska hendak mengangkat tubuh Julia namun tiba-tiba ia merasakan pinggangnya sangat sakit dan pria itu memekik sebentar.
"Akh!!"
"Alaska, jangan dipaksakan. Apa yang sebenernya terjadi?"
Julia sangat panik saat melihat Alaska yang kesakitan. Wanita itu belum mengetahui jika Alaska hanya memiliki satu ginjal karena ginjalnya yang lain ada pada wanita itu sendiri.
"Tidak usah mengkhawatirkan aku," ucap Alaska dan kemudian mencoba untuk duduk di sofa mengistirahatkan tubuhnya. Wajahnya sendiri sangat panik dan jujur saja perasaannya sekarang sangat gugup takut terjadi sesuatu kepada dirinya.
"Kau tidak kenapa-kenapa, kan?"
Alaska menatap ke arah wnaita tersebut yang terus-menerus menangis karena tidak pernah melihat Alaska yang seperti ini.
"Sudah jangan menangis lagi. Aku tidak apa-apa."
________
"Julian, kakak! Bangun!"
Perlahan Julian pun menghentikan matanya dan lalu beradaptasi dengan cahaya lampu yang menusuk netranya. Ia pun memandang ke arah adiknya yang tengah membangunkannya tadi.
"Kau sudah pulang Dek?"
"Kenapa kau tidur di sini Kak? Tumben sekali seorang Julian tidur di sofa. Hayo ngaku kau pasti tengah menungguku, kan?" tanya Julia kepada laki-laki tersebut.
Julian pun mendengus kasar. Ia lupa jika adiknya tersebut sangat narsistik.
"Terlalu berlebihan. Buat apa menunggu mu pulang. Bukannya kau sedang membuat usaha ya?" tanya Julian pada Julia. Perempuan itu terkejut pasalnya ia tidak ada memberitahukan laki-laki itu, tapi dari mana Julian bisa mengetahuinya.
"Dari mana kau tahu?"
"Aku melihat mu setiap hari bekerja dan berusaha menarik investor dan beberapa klien. Selain itu teman-teman ku mengatakannya. Kenapa kau tidak bilang kepada ku? Aku bisa membantu mu. Sebentar, lagi pula kita hanya liburan di Indonesia tapi kenapa kau sampai membuka kantor di Indonesia? Baiklah. Bagaimana jika di Indonesia cabangnya saja? Nanti kakak akan membantu mu mengurus nya." Julia langsung membulatkan matanya mendengar keinginan dari kakaknya tersebut.
Lagi dan lagi pria itu tidak ingin ia tinggal di Indonesia. Kejam sekali pria itu. Ia sangat membencinya.
"Aku akan kuliah di Indonesia."
"Tidak bisa," ujar Julian melawan kehendak adiknya tersebut. Bagaimanapun juga adiknya tidak boleh kuliah di Indonesia.
"Kenapa tidak bisa? Kan aku ingin!"
"Tidak semua apa yang kau inginkan harus dipenuhi."
Julia menatap tajam pria itu dengan pandangan marah. Ia mengepalkan tangannya dan lalu menunjuk wajah Julian. Lihat saja pria itu ia pasti akan kuliah di Indonesia.
"Aku tidak akan pergi ke Amerika Serikat. Aku akan tetap di sini selamanya," ucap Julia yang sangat keras kepala. Bahkan wanita itu tidak segan-segan untuk melawan laki-laki tersebut.
"Memangnya kau bisa? Lihat saja nanti kau tidak akan bisa berkutik dengan pilihanmu itu. Aku akan menyatakan kepada Mama bahwa kau ingin pindah ke sini dan dia pasti akan marah. Setelah itu ia tidak akan mengizinkanmu untuk kuliah di situ."
"Kau jahat sekali. Bukannya membantu ku."
Julia pun menangis dan lalu masuk ke dalam kamarnya sembari menghentakkan kakinya.
Julian lantas menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan gusar. Lagi-lagi ia harus terlibat dengan masalah seperti ini dengan adiknya.
"Kenapa dia tidak pernah bisa mengerti dengan keadaan sih?" Udah cukup Julian kesal sendiri karena harus menahan darah tingginya yang terus meletup-letup beberapa bulan ini.
Sedikit menyesal membawa Julia untuk berlibur di Indonesia. Lihatlah Julia sudah mengingatnya gara-gara ke Indonesia. Walaupun sebenarnya KTP mereka memang warga negara Indonesia.
"Kenapa Julia? Julia? Tidak hanya kau yang selalu sakit kepala saat mengurus masalah ini. Aku juga," tutur Julian yang sedikit menyesal dengan dirinya sendiri.
Ia selama ini bahkan rela mengorbankan segalanya untuk adiknya. Ia terpaksa menjadi ambis juga karena adiknya. Dan banyak hal lagi yang ia lakukan demi adiknya tapi Julia tidak mengetahui semua itu dan menganggap jika orang yang baik istimewa di depan matanya hanyalah Alaska seorang.
Apakah Alaska sebenarnya sudah menjauhi Julia? Kenapa rasanya ia sangat tidak yakin dengan laki-laki tersebut. Tapi meskipun begitu ia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Alaska pasti akan memenuhi janjinya.
"Semoga saja pria itu tidak akan pernah menghianati janji yang dia katakan."
Sedangkan di dalam kamar sana Julia menangis sembari menutup wajahnya dengan bantal. Telepon dari tadi masuk ke ponselnya tapi sama sekali ia tidak ingin berkenan mengangkatnya.
"Kenapa semua orang tidak pernah mengerti dengan perasaan ku? Memaksakan kehendak mereka yang belum tentu sejalan dengan ku. Apakah mereka tidak tahu jika aku akan sakit hati?"
Julia lalu menjauhkan bantal tersebut dari wajahnya dan mengambil tisu kemudian mengusapkannya ke air matanya yang terus-terusan keluar tanpa henti bak aliran sungai yang melimpah.
"Lihat saja, aku pasti akan kuliah di Indonesia dan hidup bersama dengan Alaska. Kami akan membangun usaha bersama."
________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.