
Hari-hari Alaska tidak ada yang menarik. Pria itu setiap hari meratapi segala perbuatannya yang telah ia lakukan kepada pacarnya sendiri. Ia merutuki dirinya yang bodoh ini, rasa bersalah tidak akan mudah dihilangkan begitu saja dari hati Alaska.
Bahkan pria itu hampir depresi mengetahui takdirnya yang begitu tragis. Dia terus menyalahkan diri sendiri hingga pihak kepolisian akhirnya memutuskan untuk membawa Alaska ke rumah sakit jiwa untuk diterapi.
Selama beberapa bulan ia harus ditangani oleh psikolog hingga akhirnya ia bisa perlahan keluar dari masa lalu yang begitu suram. Namun tetap saja ia tak sepenuhnya berhasil melakukannya, sebab terkadang ia masih teringat dengan segala perbuatan yang ia lakukan kepada Julia.
Sampai saat ini ia belum mengetahui bagaimana kabar Julia. Padahal Ia berharap bisa mendengar kabarnya apakah Julia bisa selamat dari maut atau malah wanita itu sudah tidak ada lagi di dunia. Membayangkannya saja sudah membuat mata Alaska berkaca-kaca.
Laki-laki itu adalah orang yang paling pendiam di dalam penjara tersebut. Ia menjadi sosok yang sangat dingin dan tidak bisa diajak bercanda. Jika terlibat sesuatu ia lebih memilih untuk diam dan tak peduli sama sekali.
Orang-orang yang ada di penjara itu kadang kesal dengan sikap Alaska yang cuek dan dianggap tidak menghargai mereka. Untungnya Alaska bisa menyelamatkan dirinya dari kejamnya jeruji besi.
Alaska juga tak memiliki siapapun di dalam penjara itu karena dia hanya membawa dirinya. Ia juga susah untuk didekati maka dari itu banyak narapidana yang tidak bisa berteman dengannya.
"Kau masih memikirkan wanita itu, lihat kau menjadi depresinya karenanya," ucap salah satu narapidana yang duduk di samping Alaska.
Alaska hanya tertawa miring menanggapinya. Pria itu tak akan pernah mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Bahkan Alaska sama sekali tidak peduli dengan kesehatannya akan seperti apa. Baginya ia depresi sekarang merupakan bentuk hukuman yang diberikan oleh Julia kepadanya.
"Aku depresi itu malah bagus. Setidaknya ada hukuman untukku dari Tuhan. Dia benar-benar sangat parah sakitnya, bahkan aku tidak mengetahui bagaimana kabarnya sekarang. Mungkin orang-orang terdekatnya sudah sangat kecewa kepadaku sehingga tidak ingin mengatakan bagaimana Julia saat ini. Orang tuaku juga tidak ingin menjenguk ku karena perbuatanku ini," ucap Alaska dengan putus asa. Ia tak tahu akan melakukan apalagi Sebab semua yang dilakukannya Di mata keluarga Julia selalu salah. Bahkan ia telah mendonorkan ginjalnya tapi tidak ada penghargaan sama sekali yang diberikan oleh pihak Julia.
Alaska bodoh sekali mengharapkan penghargaan itu di mana memang ia harus mendonorkan ginjalnya untuk Julia. Julia menyelamatkannya dari kematian dan masih memberikan harapan masa depan untuknya padahal yang harus mati dan kecelakaan pada saat itu adalah ia bukan Julia.
"Tampaknya kau benar-benar merasa bersalah. Pantas saja kau terus depresi, orang yang kau lukai adalah orang yang kau sayangi. Mungkin Jika aku berada di posisi mu sekarang ini mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu. Kita akan kehilangan arah di mana kita terus memikirkan bagaimana caranya bisa bersama dengannya lagi atau tidak mengulang waktu itu dan membiarkan kitalah yang tertabrak pada saat itu. Aku paham dengan perasaan mu."
Alaska menganggukan kepalanya. Memang itu yang ia inginkan. Mengulangi peristiwa itu dan dimana dirinyalah yang harusnya tertabrak.
"Itulah yang saat ini aku rasakan, aku sudah merasa tidak hidup lagi semenjak kejadian itu.Hidupku sudah hancur dan sudah sangat lama."
____________
Julian memandang ke arah adiknya yang belum sadarkan diri. Julia harus dibawa ke rumah sakit Amerika Serikat untuk penyembuhan yang lebih efektif lagi. Semenjak dari kejadian itu sampai saat ini Julia belum juga sadar dari komanya.
Setelah melakukan operasi ginjal, hidup Julia masih memiliki harapan hingga sampai saat ini ia masih bisa bertahan. Namun sayang sekali ia tak bisa sadarkan diri. Wanita itu masih setia menutup matanya dan tidak ingin membukanya.
"Julia, kenapa kau harus memiliki takdir yang buruk seperti ini. Aku benar-benar membenci laki-laki itu. Andai saja aku tak merestui hubungan kalian mungkin tidak akan seperti ini. Akibat kelalaiannya yang tidak bisa menjaga diri mengakibatkan orang lain dalam bahaya. Masalahnya orang lain itu adalah diri mu Julia. Bagaimana mungkin aku bisa merasa ikhlas melihat mu seperti ini," lirih Julian dengan mata yang berkaca-kaca dan pria itu kembali lagi menangis.
Ibunya yang tengah menyempatkan diri pulang dari pekerjaannya itu merasa sangat terharu melihat kedekatan Julian dengan kembarannya. Ia merasa sangat sakit hati karena tidak bisa menjaga Julia dengan baik.
"Aku sudah katakan jangan berteman dengan orang asing. Kalian tidak percaya dengan apa yang aku katakan, tapi kalian sama sekali tidak ada yang percaya kepada ku."
Julian melirik ke belakang dan ia hanya diam saat tahu jika orang itu rupanya adalah ibunya. Ia haya diam sembari menundukkan kepalanya.
"Sudahlah Mama. Aku tidak bisa berpikir sekarang. Menurutku apa yang telah aku lakukan adalah sesuatu yang benar. Mungkin kau masih tidak terima tapi aku memiliki alasan kenapa aku tidak merasa salah sama sekali telah berteman dengannya. Lagi pula dalam kecelakaan ini juga ada kesalahanku yang tidak bisa menjaga Julia dengan baik."
Ibunya hanya memandang anaknya dengan tatapan sinis. Sudahlah, mereka berdua memang tidak bisa diperingatkan, membuatnya lelah. Bagi mereka berdua semua itu adalah benar, mungkin ketika Julia sadar juga ia akan tetap membela Alaska. Tapi bagi seorang ibu yang melihat anaknya seperti itu tentu saja sangat merasa sakit hati.
Sesaat ruangan itu hening tidak ada yang berbicara sama sekali dan tatapan mereka berdua fokus kepada Julia yang saat ini telah terbaring di ranjang hingga tiba-tiba pergerakan tangan Julia membuat mereka berdua terkejut.
Julian dengan cepat memanggil dokter untuk mengecek keadaan Julia. Dokter pun datang dan mengecek kondisi Julia.
Tampak di wajahnya ada senyum yang penuh kebahagiaan. Melihat hal itu Julian bisa menebak jika adiknya semakin membaik.
"Kondisi adik Anda perlahan mulai membaik. Mungkin beberapa jam ke depan ia sudah sadarkan diri. Jadi harapan kita selama ini tidak berakhir sia-sia."
Julian menganggukkan kepalanya dan lalu kemudian dengan semangat ia menghampiri adiknya dan mengecup keningnya dengan sangat lama. Rasa sayang di hatinya tak bisa ditepis. Julia adalah segalanya untuknya.
"Aku pasti akan menyaingi mu dan tidak akan membiarkan tragedi seperti ini terjadi dua kali dalam hidupmu."
Perkataan Julian sungguh mantap. Ia berjanji kepada dirinya sendiri selain berjanji kepada Julia.
__________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.